
Zac ingin membuat gaby lebih nyaman, akhirnya Zac memutuskan untuk pindah tempat yang lebih baik.
Zac kemudian mengangkat tubuh Gaby, lalu ia meletakkannya di atas ranjang, perlahan Zac melucuti pakaian Gaby hingga sudah tak ada yang tersisa.
Zac dengan gentle juga melepaskan pakaiannya, saat itu barulah Gaby melihat bagaimana bentuk tubuh Zac.
Berotot dan begitu indah, dengan tubuh itu semua wanita pasti akan bertekuk lutut.
Tubuh yang indah dengan otot yang sempurna, dengan lengan yang keras dan kuat, dengan tangan yang besar dan kuat. Itu semua bagaikan lukisan sempurna.
Wajah Zac serius, pria itu mulai memberikan stimulasi lagi, namun wajah Gaby yang polos dan tak berdaya berkali-kali menyelimuti pikiran Zac.
Berulang kali pertanyaan muncul di benak dan pikirannya.
Apakah aku akan menyakiti gadis polos yang tak berdaya ini?
Apakah, aku benar-benar ingin melempiaskan pada gadis polos ini hanya untuk birahii dan gairahku yang belum pernah ku rasakan.
Perlahan Zac mendorong benda miliknya untuk masuk, namun wajah Gaby yang meringis kesakitan membuat Zac ragu.
Air mata mulai menetes namun beberapa kali Zac mencoba mendorong dan menyebabkan kesakitan luar biasa, pada akhirnya air mata Gaby mengalir deras di tepi mata nya, wajah kesakitan itu berulang kali membuat Zac gusar.
"Saakiitt...." Kata Gaby sembari kedua tangannya meremas sprei.
Wajah kesakitan Gaby dan tubuh Gaby yang menegang kaku, membuat Zac kemudian membelai kepala Gaby.
"Rileks..." Kata Zac menenangkan.
"Ini terlalu besar, itu tidak akan bisa masuk." Kata Gaby menangis.
Zac pun merasakan, bahwa miliknya susah untuk masuk, bahkan ujungnya saja terlalu susah, hingga ia merasakan bahwa bendanya seolah olah akan patah.
Zac menelan ludahnya, ia melihat Gaby menangis menahan kesakitan.
"Tuaan... Apakah sudah masukkk... Ini menyakitkan...." Kata Gaby menangis.
Zac melihat miliknya yang bahkan kepalanya saja belum bisa masuk, dan belum bisa menembus, Zac melihat kedua kaki Gaby telah gemetar hebat.
Ego dan keinginannya memang kuat untuk bisa merasakan apa yang akan terjadi selanjutnya pada benda miliknya jika masuk ke dalam sana, ia pastilah akan merasakan melayang dan begitu nikmat namun ada hal lain yang mengusik jiwanya. Naluri dan hatinya bertolak belakang.
Zac pikir, ia harus berhenti.
"Aku bukan hewan." Kata Zac.
Pria itu mundur, menarik benda miliknya yang bahkan belum bisa memasuki lubang kenikmatan milik Gaby.
Benda miliknya sudah pasti telah berdenyut-denyut panas tak kuasa ingin segera di manjakan.
Zac mengambil keputusannya, ia melihat bagian sensitif milik Gaby telah mengalami pembengkakan dan kemerahan.
Gaby pun membuka mata sayu nya.
"Tuan Muda...." Tanya Gaby lemah.
"Aku punya cara lain, ku pikir kau belum waktunya menerima ini."
__ADS_1
"Apa... Maksud... Ucapan anda..." Tanya Gaby.
"Tetap diam..."
Zac kemudian menaruh tangannya lagi di benda miliknya, dan mulai menggerakkannya sembari melihat wajah serta tubuh telanjjang Gaby.
Beberapa menit berlalu, hingga Gaby melihat setiap otot, urat dan wajah Zac semakin menonjol dan tegang, semua seperti bekerja untuk memompa gerakan dan gesekan.
Lenguhan kasar Zac membuat geli telinga Gaby dan merangsang kembali tubuhnya.
Namun, tentu saja Gaby malu untuk mengakuinya, ia menutupi wajahnya dengan sebelah tangan.
Zac kemudian mengambil tangan mungil Gaby menggunakan sebelah tangannya dan mengenggamnya, sedang tangan satunya masih sibuk dengan benda keras miliknya.
"Mmm... Jangan... Tutupi wajahmu..." Kata Zac sembari melenguh kasar, dan dalam.
Tentu saja suara itu membangkitkan gairah Gaby, ia tak tahu kenapa Zac berhenti di pertengahan jalan, dan memilih untuk melakukannya sendiri.
Zac menutup matanya, gerakan nya semakin cepat dan lihai, otot lehernya menonjol, otot-otot dadanya pun membusung, sebuah hentakan hebat kemudian muncul dari tubuhnya, sesuatu keluar dari sana dan menyembur dengan cepat serta kencang ke wajah dan tubuh Gaby.
"Haaarggg... Haaahh.... " Suara yang dalam dan seperti auman muncul dari dalam tenggorokan Zac.
Itu adalah puncak dimana Zac merasakan nya, pertama kali, selama hidupnya, itu adalah pengalaman pertamanya dapat merasakan sesuatu yang luar biasa sebagai pria sehat.
Hentakan demi hentakan tubuhnya mengeluarkan cairan miliknya yang menyembur kuat.
Setelah selesai, Zac kemudian menyangga tubuhnya dengan menggunkan kedua tangannya di sisi-sisi tubuh Gaby.
Nafasnya naik turun tak berirama, keringat menetes dan membanjir.
Zac tak percaya ia melakukannya, ia tak percaya bisa melakukan nya, ia bahkan mengira apakah itu benar-benar nyata.
Tak berselang lama Zac mencium kening Gaby, tentu saja Gaby tak tahu maksud dan tujuan pria itu menciumnya.
"Awal yang bagus." Kata Zac.
"Ya Tuan Muda?? Maksud anda?" Tanya Gaby.
Zac mengatur nafasnya yang masih sedikit naik turun, dengan detak jantung yang cepat, pria itu kemudian mengambil tisu dan membantu membersihkan wajah serta tubuh Gaby.
"Jika aku mengatakanya apa kau akan percaya dan tidak akan menyebarkannya." Kata Zac mengelap perut Gaby.
Cairan yang Zac keluarkan cukup banyak, itu adalah pertama kalinya ia mengalami hal seperti itu, dan menurutnya itu adalah pelajaran dan pengalaman yang cukup baik.
"Saya tidak akan mengatakannya pada siapapun..."
"Mulai hari ini, mau atau tidak kau akan menjadi tahananku." Kata Zac.
"Apa?"
"Kau adalah tahanan ranjangku."
"Saya... Tidak mengerti, saya tidak mau... Kenapa harus saya."
"Karena hanya kau yang bisa."
__ADS_1
"Maksud anda apa? Saya masih tidak mengerti!" Gaby menarik diri dari Zac dan mundur.
"Bersihkan dulu tubuhmu, aku akan mandi, setelah itu kita akan bicarakan ini." Zac turun dari ranjang dan menuju kamar mandinya.
Gaby pun menarik selimut untuk menutupi dirinya.
Dalam pikirannya ia tak mengerti apa yang sebenarnya Zac inginkan. Sekretaris atau tahanan ranjang yang akan memuaskan nafsunya?
"Tahanan ranjang? Aku? Apakah ini semacam pelecehaan Sekss?" Tanya Gaby.
"Apakah aku seharusnya melarikan diri?" Kata Gaby.
"Tapi aku tak ingin kembali ke rumah, orang tuaku hanya akan mengatur perjodohan lagi."
Gaby kemudian berdiri dengan menggunakan selimut untuk tubuhnya, namun ia tiba-tiba saja tak dapat menyangga tubuhnya, ia terjatuh di lantai.
"Ada apa dengan kakiku? Kenapa terasa lemas?" Tanya Gaby pada dirinya sendiri.
Zac yang melihat dari arah kamar mandi, kemudian keluar menggunakan handuk yang di lilit di pinggangnya, tubuh berotot yang seksi dan sempurna membuat mata Gaby terpesona.
"Kau jatuh?" Tanya Zac.
"Saya tidak tahu, kaki saya lemas." Kata Gaby.
"Kau baru pertama kali merasakan orgasmee, dan itu berlangsung beberapa kali, tentu saja kaki mu akan lemas, karena syaraf yang ada di seluruh tubuhmu mengencang dan mengendur setelah merasakan kenikmatan."
Mendengar penjelasan Zac, membuat wajah Gaby memerah.
Tanpa pikir panjang, Zac kemudian menggendong Gaby.
"Tuan Zac...!!!" Pekik Gaby.
"Tidak perlu malu atau canggung, kau juga sudah membantuku tadi, jadi aku akan membantumu untuk mandi."
"Jangan... Saya malu..."
"Aku sudah melihat semuanya, aku juga sudah menyentuh semuanya, hanya belum ku masukkan saja milikku." Kata Zac sembari berjalan menggendong Gaby.
Gaby menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sesampainya di dalam kamar mandi, Zac memasukkan Gaby ke dalam Bathup.
"Aku akan mandi menggunakan shower, jika kau sudah selesai kau bisa memanggilku, aku akan menggendongmu keluar." Kata Zac.
"Te... Terimakasih, maaf merepotkan anda."
Tanpa menjawab Zac pergi ke dalam kamar mandi shower yang terbuat dari kaca tembus pandang, untuk membersihkan tubuhnya.
Di bawah siraman air, senyuman tipis mengembang di bibirnya.
"Jadi... Begitukah rasanya?" Kata Zac lirih.
"Aku ingin lebih, itu masih kurang." Kata Zac kemudian mengusap rambut dan wajahnya dari siraman air shower.
Mata Zac tertuju pada Gaby yang berendam di dalam bathup.
"Kau... Masuk dalam penjaraku. Gaby." Kata Zac tenang dan dalam.
__ADS_1
Bersambung