Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 121


__ADS_3

Ben memapah Daisy hendak keluar dati Bar. Namun, tiba-tiba Kieth Brawn menghalangi langkah kaki Ben, dan berdiri di hadapan Ben.


"Dia bilang tidak mau dan tidak percaya lagi padamu." Kata Kieth.


Ben menaikkan sebelah alisnya.


"Dia mengatakan kesepian, artinya kau gagal membuatnya bahagia, dan seharusnya kau tidak terus memaksanya agar dia berada di sisimu."


"Mau mu?" Tanya Ben dingin dan ketus.


"Kau tidak boleh membawanya pergi." Kata Kieth dingin dan lantang.


"Lalu kau yang akan membawanya pergi, dan meniduri istriku?!" Kata Ben suara nya meninggi beberapa oktaf dan mendelik.


"Aku tidak akan menidurinya, tapi aku janji akan membuatnya bahagia, daripada membuatnya kesepian."


Ben tertawa sinis, tawa yang pendek.


"BUUUAAGGGG!!!!"


Tiba-tiba kaki besar dan panjang Ben menendang tubuh Kieth, membuat Kieth roboh dan tubuhnya menghancurkan beberapa meja serta kursi.


Ben kemudian mengangkat satu kursi dengan tangan kirinya.


"Sepertinya kepalamu harus di jernihkan." Kata Ben.


Ben lalu memukulkan kursi tersebut ke atas meja marmer Bar.


"BRRRAAKKK!!!"


Kursi itu remuk dan menyisakan potongan kayu.


"Kau mau main-main denganku kan, ayo kita bermain." Kata Ben.


Tangan kanannya masih memeluk Daisy, dan tangan kirinya sudah memegang kayu patahan kursi.


Kieth berdiri dan maju hendak memukul, kepalan tangan Kieth besar dan dengan lebih cepat Ben memukul kepala Kieth.


"BUGGG!!!"


Kieth meremas kepalanya, ia tak menyangka gerakan Ben begitu cepat meski memakai tangan kiri, dan tangan kanannya sibuk memeluk Daisy.


Kieth mengedipkan matanya berulang-ulang kali, menghilangkan keburaman dan pandangannya yang kabur di kedua matanya.


Setelah pandangannya jelas, darah mengalir di pelipisnya dan turun membasahi pipi.


Kieth berjalan maju, dan hendak menyerang dengan menggunakan meja kecil, lalu melemparkannya pada Ben.


"BRRAAKKK!!!!"


Ben menghindarinya, dan meja itu mengenai botol-botol alkohol yang di pajang, membuat botol-botol alkohol itu pecah dan alkoholnya berhampuran.


"Sialan!" Kata Kieth.


"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, tapi sekali lagi kau menyerang, tamat riwayatmu." Kata Ben memandang dingin pada Kieth.


Tekanan, dan intimidasi Ben membuat Kieth menciut dan anehnya ia memilih mundur. Memang sedadi awal Kieth ragu untuk melawan, ia hanya terbawa emosi dan suasana untuk sesaat, kini ia sadar, bahwa dirinya harus mundur dan pergi.


Hanya dengan kalimat dingin dan pandangan tajam, Kieth merasakan aura Ben sudah berubah, pantas saja dia di sebut mafia kejam, pschyo, dan gila.

__ADS_1


Daripada berurusan dengan nya, Kieth lebih memilih pergi, dan melindungi reputasinya.


Kemudian Ben pun menggendong Daisy keluar dari Bar, untuk membawa Daisy pulang, namun sebelum itu Ben sudah memberikan kartu namanya, agar pemilik Bar dapat meng klaim kerugian padanya. Ben akan mengganti semua kerugian yang telah ia timbul kan, dan pada kerusakan di Bar.


Mobil mewah melaju kencang melewati jalanan raya yang besar dan lebar di malam itu, sesekali Ben menatap Daisy yang pingsan di bawah jas besar miliknya.


Tangan kekar Ben meremas stir kemudi dengan erat, dan rahangnya mengeras pertanda ia sangat marah.


Dalam perjalanan ke mansion, Ben menghubungi Traver.


"Bereskan kekacauan." Ben memijit pelipisnya dengan tangan kanannya.


"Ya Tuan."


"Aku sedikit membuat kerusakan di Bar, berikan konpensasi sesuai permintaan mereka."


"Baik Tuan."


"Lalu, sadap dan retas semua yang Daisy kerjakan, gunakan, dan berikan semua pengawal rahasia yang akan mengikuti Daisy tanpa Daisy tahu."


"Akan saya kerjakan Tuan."


Ben kemudian menutup panggilan telfonnya, dan menekan gas lebih dalam agar mobilnya melaju dengan kencang, hingga sampailah dia di mansion Ben keluar lalu memutari mobil dan membuka pintu sebelah untuk mengeluarkan Daisy.


Ben menggendong Daisy masuk ke dalam Mansion, saat itu pukul 10 malam, dan para pelayan belum beranjak untuk beristirahat di kamar mereka, alhasil mereka semua sontak terkejut apa yang telah terjadi pada Nyonya mereka.


"Mena!!" Teriak Ben dengan marah dan kesal.


Teriakan Ben menggelegar di semua ruangan Mansion.


Semua pelayan serta pengawal sadar, bahwa Ben tidak dalam suasana hati yang baik.


"Siapkan bak mandi aku harus memandikan istriku." Perintah Ben dengan berjalan cepat.


"Baik Tuan." Mena berlari lebih dulu dan lebih cepat dari Ben.


Hingga Ben masuk ke dalam kamar mandi, bak air hangat sudah siap, Mena juga sudah menunggu di luar kamar.


Ben melepaskan pakaian Daisy, dan kemudian membaringkan Daisy di bathup.


Saat itu Daisy masih pingsan, Ben juga menyusul membuka pakainnya, sebab pakaiannya sangat berbau busuk akibat muntahan Daisy.


Ben dengan telaten memandikan Daisy, mengeramas rambut Daisy dengan lembut dan hati-hati.


Butuh waktu satu jam lebih, Ben memandikan Daisy agar menghilangkan bau dari tubuh istrinya, belum lagi Ben juga harus membersihkan dirinya juga.


Setelah selesai, Ben membawa Daisy ke kamar dan memakaikan dress tidur, dengan hati-hati dan penuh perhatian.


Terakhir, Ben mengeringkan rambut Daisy, setelah selesai Ben mencium kening Daisy dan mendesahkan nafasnya pelan.


Saat itu amarah Ben masih juga belum reda, pria itu keluar dan hendak memanggil Traver.


Namun, ternyata Traver sudah menunggu di depan kamar.


"Tuan Ben." Kata Traver.


"Bagaimana?"


"Pemilik Bar itu... Meminta untuk bertemu anda."

__ADS_1


"Siapa namanya dan kenapa meminta bertemu denganku, berikan saja konpensasinya." Ben berjalan menuju ruangannya dengan langkah cepat.


Traver ragu untuk memberitahu.


"Kau tak dengar pertanyaanku." Kata Ben masih melangkah cepat dan kini sudah berada di depan ruangannya.


"Marry Anne." Kata Traver kemudian dengan wajah serius.


Ben seketika menghentikan langkahnya, ia juga berhenti menggerakkan tangannya untuk membuka pintu ruangan kerjanya, kemudian berbalik menatap Traver yang ada di belakang Ben.


"Kau tidak menyadarinya, jika dia ada di Negara K?" Kata Ben menatap wajah Traver dengan bengis.


Traver menelan ludahnya karena keteledorannya.


"Saya sudah mengatakan jika anda tidak akan menemuinya." Kata Traver.


"Lalu dia bilang apa, biar ku tebak, dia menolak, dan akan mendatangi Daisy."


"Maafkan saya Tuan." Kata Traver.


Ben marah dan menarik krah baju Traver dengan tangan kanannya.


"Jika mereka saling bertemu, aku akan membunuhmu." Kesal Ben, rahang Ben bergerak-gerak, mengeras, dan urat nya menonjol.


Ben menatap Traver dengan mata mendelik penuh amarah.


"Saya akan membuat Nona Marry Anne pergi dari Negara K."


"Maka lakukan sekarang juga!" Teriakan Ben menggelegar di seluruh ruangan.


Ben kemudian mendorong Traver hingga Traver mundur beberapa langkah.


Mena melihat perilaku Ben, baru kali ini Ben begitu marah pada Traver.


"Sebenarnya siapa Marry Anne? Kenapa aku tidak tahu." Kata Mena.


Ben masuk dan diikuti oleh Traver, kemudian Traver menutup pintu ruangan kerja Ben.


Ben duduk di kursinya dan memikirkan semuanya, kejadian hari ini ini begitu beruntun, dan tak bisa dia perkirakan.


Kenapa Daisy harus pergi ke Bar itu, dan membuatnya harus bertemu dengan Marry Anne.


"Tuann..." Panggil Traver untuk yang ke tiga kalinya.


Ben hanyut dalam pikirannya sendiri, ia tenggelam dalam kenangan-kenangan di masa lalu, membuatnya tak menyadari jika Traver telah memanggilnya berkali-kali.


"Ya..." Kata Ben kemudian yang baru sadar dari. kunjungan masa lalunya.


"Apakah saya harus membunuh Nona Marry Anne. Jika anda bilang Ya, saya akan lakukan malam ini juga." Kata Traver.


Ben menatap Traver dengan bimbang.


"Aku akan pikirkan, aku harus menemani istriku dulu, kau juga tidurlah." Kata Ben berdiri dan menepuk bahu Traver.


Saat Ben berjalan, ia tiba-tiba berhenti dan berbalik melihat ke arah Traver.


"Jangan lakukan kesalahan apapun lagi." Ancam Ben.


"Baik Tuan." Kata Traver.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2