Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 51


__ADS_3

"Karena sudah sampai di sini, dan aku juga tidak ingin semuanya sia-sia, aku tidak ingin kembali dengan tangan kosong, maka beri aku 1 Milyar. Aku akan menghilang dari kehidupan Daisy, seperti dulu, jika kau memberikanku uang sebanyak itu, aku akan lakukan apa maumu.." Kata Antonio.


"1 Milyar? Ku kira kau meminta lebih banyak." Kata Ben.


"Oh.. Tidak.. Tunggu-tunggu... Karena kau sangat kaya, dan percaya diri, aku minta 3 Milyar! Ya, 3 Milyar cukup untuk ku."


"Traver, berikan uangnya." Perintah Ben dengan datar dan tanpa ekspresi. Kemudian Ben menyesap whiskeynya lagi.


Di ruangan itu Traver sudah menyiapkan koper berisi uang, ia mengambilnya dari laci lalu meletakkanya di atas meja tepat di hadapan Antonio.


"4 Milyar, ada di dalam koper." Kata Traver.


Mata Antonio mendelik, mulutnya seperti kepedasan, ia menarik nafasnya berulang kali, bibirnya monyong melihat uang sebanyak 4 milyar ada di hadapannya.


"Kau puas." Kata Ben dengan tatapan tajam.


"Saya sangat puas... Senang berbisnis dengan anda Tuan Ben."


"Lalu pergilah, kau menjijikkan." Kata Ben.


Kemudian Antonio menutup koper itu dengan tergesa-gesa ia berdiri dan buru-buru pergi, pintu yang terbuka lebar sedari awal membuat Antonio berlenggang begitu saja.


"Jika kau butuh uang seharusnya kau bilang saja padaku."


Suara itu tiba-tiba menusuk telinga dan jantung Antonio. Perlahan Antonio berbalik dan melihat Daisy berdiri di samping pintu besar.


"Da... Daisy..." Antonio mendelik dan gugup.


Mendengar nama Daisy di ucapkan oleh Antonio, Ben kemudian menaikkan satu alisnya, ia percaya Daisy telah mendengar semua pembicaraan mereka.


"Padahal, aku sudah sangat bahagia, hatiku sangat berbunga, karena akhirnya aku memiliki sosok ayah yang selama ini tidak pernah aku miliki. Akhirnya kau kembali, akhirnya kau mencariku, meski naluri ku mengatakan jika kau datang karena sesuatu, kau datang karena melihat berita tentangku, aku masih saja mencoba menolak kebenaran itu, dan mempercayai impian konyolku bahwa kau datang karena kau benar-benar mencari dan merindukanku." Kata Daisy meneteskan air mata, kedua tangannya mengepal.


Daisy melihat dirinya yang sangat bodoh, bahkan ia memakai baju yang sembarangan, ia lupa tak memakai alas kaki, takut ayah nya terlalu lama menunggunya dan akhirnya pergi lagi meninggalkannya.


"Kembalikan uangnya dan hidup dengan usahamu sendiri." Kata Daisy air matanya mengalir deras tak terbendung.


"Diam!! Dasar anak durhaka!! Tahu apa kau tentang usaha, dan bertahan hidup, kau hanya anak kecil yang tak tahu apapun!!!" Kata Antonio.


"Tahu apa aku? Kau berkata aku anak kecil yang tak tahu apapun? Yang kau sebut anak kecil ini, sejak usia nya 7 tahun telah bekerja menjadi tukang buruh cuci, yang kau sebut anak kecil ini telah menanggung seluruh biaya istri dan anak mu yang jahat itu. Yang kau sebut anak kecil ini selalu menerima pukulan dari ibu tirinya yaitu istrimu, dan anakmu!!! Lalu kau masih mengatakan bahwa aku anak kecil yang tak tahu apapun!!!"


"Diamlah aku pusing!!! Aku akan pergi jika aku menganggumu!!!"


"Lalu kenapa kau harus datang kemari!!! Dari dulu aku menganggapmu sudah mati, karena telah meninggalkanku bersama orang-orang jahanam itu dan seharusnya sekarang aku juga tetap menganggapmu sudah mati, itu akan lebih baik." Kata Daisy.

__ADS_1


"Persetan!!! Aku sudah mendapatkan uangnya, terserah kau mau bilang apa!!! Aku tidak butuh ceramah dan khotbahmu, apalagi keluh kesahmu!!! Dasar tak berguna." Kata Antonio.


"Kembalikan uangnya!!!" Teriak Daisy sembari menangis, dengan cepat Daisy merebut koper berisi uang dari tangan ayahnya.


"Dasaarr anak durhakaa!!! Enyahlahh!!! Tidak punya sopan santun!!! Kembalikan uangku!!!"


Ben kemudian berdiri dan mendatangi Daisy serta Antonio, Ben melihat kaki Daisy yang telanjangg, kedua tangan Daisy menggenggam erat koper berisi uang, Daisy memeluk koper itu dengan gemetar karena amarah.


Antonio maju hendak menampar Daisy, namun Ben menahan tangan Antonio dan mendorongnya hingga tubuh Antonio tersungkur ke lantai.


"Apa ini!!! Dasar tidak sopan pada orang tua, kau berani mendorong ku!!! Kau berjanji memberikanku uang, dasar pembohong!!" Teriak Antonio.


"Yaahh... Kenapa kau tidak menjaganya dengan baik. Apa dunia sudah sangat terbalik, bagaimana seorang ayah yang telah menelantarkan anaknya justru mengatakan soal sopan santun. Kau sudah membuangnya, dan kau tidak ber hak memukulnya kau tak punya hak apapun atas Daisy yang sudah kau buang dannkau telantarkan." Kata Ben.


Antonio marah, giginya saling berderit, dan ia mengepalkan tangannya.


"Traver bawa dia keluar. Sepertinya aku tidak di ijinkan memberikannya uang." Kata Ben melihat koper berisi uang di dekap erat oleh Daisy.


"Baik Tuan."


"Tidakk!!! Dasar pembohong!!! Berikan uangku atau aku akan selalu menghantui kalian!!! Aku tidak akan merestui kalian!!!"


Traver menyeret Antonio pergi.


Ben melihat Daisy masih menangis sembari memeluk koper yang berisi uang.


Kemudian Ben menggendong Daisy, dan membawanya ke atas, menuju kamar.


"Kenapa kau tidak pakai alas kaki, kaki mu terlihat pucat, dan kedinginan." Kata Ben.


Daisy hanya diam di dalam gendongan Ben, sembari memeluk koper berisi uang di dadanya.


Setelah sampai di kamar, Daisy duduk di sofa, Ben masih memperhatikan Daisy yang masih memeluk koper berisi uang tersebut.


"Kau suka uangnya?" Kata Ben penasaran.


"Apa Tuan?"


"Kau memeluknya dengan erat."


"Ahh... Maaf Tuan." Kemudian Daisy meletakkan koper berisi uang itu ke atas meja.


"Jika kau suka, kau bisa memilikinya."

__ADS_1


"Tidak Tuan, saya... Tidak suka uang. Sebenarnya, saya yang bodoh. Padahal, saya sudah tahu, dia pasti mencari saya karena melihat berita itu, dan yang paling dia inginkan hanyalah uang, tapi... Saya terlalu senang, karena saya memiliki ayah yang mencari saya, saya membutakan diri saya sendiri, saya menolak kebenaran bahkan itu yang saya rasakan, saya sangat terobsesi memiliki sosok ayah yang bisa melindungi saya, saya tahu semua yang ia inginkan hanyalah uang, bahkan dia tega menjual saya, saya tidak tahu bahwa fakta saat Samantha menjual saya pada Geraldo, tak lepas dari campur tangan ayah saya juga." Daisy menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia menangis terisak.


Ben kemudian menepuk pelan punggung Daisy.


"Saya bahkan berlari tanpa memikirkan alas kaki, karena saya takut dia akan pergi lagi, jika saya terlalu lama, tapi saya mendengar kalian berbicara dan kebenaran yang saya rasakan di balik kebutaan yang saya buat sendiri seolah menusuk balik impian konyol yang saya bangun, saya kembali tersadar bahwa saya memang bodoh."


Ben menepuk punggung Daisy lagi dengan pelan.


"Kau tidak butuh sosok ayah yang bisa melindungimu." Kata Ben.


"Tapi... Aku penasaran padamu Daisy..." Lanjut Ben.


Kemudian Daisy membuka matanya yang merah, sembab, dan berair menatap mata Ben.


"Apakah kau juga akan berlari seperti itu padaku? Tanpa memikirkan apakah kau memakai alas kaki atau tidak? Apa kau nanti juga bisa seperti itu padaku?" Kata Ben.


Daisy diam


Ben kemudian menghapus air mata Daisy, dengan kedua ibu jarinya yang menyeka kedua pipi Daisy.


"Aku... Akan pergi beberapa hari Daisy, kau tetaplah di mansion dan jangan pergi kemanapun. Mena akan menjagamu." Kata Ben.


"Pergi?"


Ben mengangguk.


"Pekerjaan ku tidak pernah mudah, dan aku harus membereskan sesuatu yang menganggu, aku harus memotong rumput liar sebelum rumput itu tumbuh besar."


"Lalu, kapan anda kembali?"


"Entahlah, aku harap tidak akan lama."


"Anda harus pulang dengan selamat Tuan." Kata Daisy.


"Tentu, itu pasti." Kata Ben.


"Berjanjilah pada saya..."


Ben menyunggingkan sudut bibirnya, dan mengelus pelan kepala Daisy.


"Aku berjanji, aku akan kembali secepat mungkin." Kata Ben.


Kemudian Ben menggendong Daisy dan membaringkannya di ranjang.

__ADS_1


"Selamat tidur, istirahatlah." Kata Ben.


bersambung


__ADS_2