
Ben melepaskan pelukan Marry Anne dan berjalan ke meja lalu membuka kotak laci, Ben kemudian mengeluarkan buku cek.
"Kau butuh berapa. Tulis sendiri dan jangan pernah kembali ke Negara K, aku tidak berbuat apapun karena kau adalah istri Rafael."
"Kau pikir aku mata duitan Ben... Lagi-lagi kau menilaiku seperti itu."
"Sudah cukup Anne... Aku akan mengganti semua total kerugian di Bar milikmu."
Marry Anne membuang nafasnya.
Ben kemudian menulis angka-angka di atas cek tersebut dan menandatanganinya, ia pun meletakkan cek itu di atas meja, di depan Marry Anne.
"Kau bisa membeli Bar baru dengan itu." Kata Ben.
Gigi Marry Anne bergemeretak. Namun, ia juga tidak bisa menahan diri untuk mengambil cek dengan nominal sebesar itu.
Pada akhirnya, Marry Anne mengambil cek nya.
"Aku akan ambil uangnya, tapi aku tetap akan kembali ke sini, kau adalah milikku sekarang Ben, kau tidak boleh menikah dengan wanita lain dan memiliki anak, karena seharusnya kau di takdirkan menderita dalam rasa bersalah selamanya karena membunuh suamiku, dan kau harus menemaniku sampai seumur hidupku." Ancam Marry Anne.
Kemudian Marry Anne pun pergi meninggalkan kantor Ben, namun selang beberapa menit kepergian Marry Anne, Traver masuk dengan gegabah, wajahnya pucat pasi.
Ben berdiri dengan wajah kaku, dan penasaran, karena ia tahu ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.
"Saya mendapatkan telfon dari Mena Tuan, Nyonya Daisy mengemasi barang-barang dan pergi membawa Tuan muda dan Nona muda."
"Pergi? Kemana!" Tanya Ben.
"Seperti nya bukan hanya pergi biasa, tapi meninggalkan Mansion." Kata Traver.
Ben langsung menyambar jas nya, ia berlari sembari memakai jas, tak peduli dengan keadaan sekitar.
Ben yang berlarian, membuat semua pegawai melihat ke arah Ben, mereka menerka-nerka apakah yang sedang terjadi.
Traver sendiri sudah menugaskan seorang pengawal untuk mengambil mobil, dan sudah siap di depan perusahaan.
Traver membuka pintu mobil untuk Ben, dan pengawal itu keluar di gantikan oleh Traver.
Mobil pun melaju dengan cepat.
Dalam perjalanan, Ben mencoba menghubungi Mena, namun tak ada jawaban.
"Dimana Mena! Kenapa dia tak menjawab ponselnya!" Kata Ben geram.
Setelah mobil mengebut, akhirnya sampai lah mereka di mansion.
Ben langsung keluar dari mobil, ia berlari dan menaiki anak tangga 3 sekaligus, dengan terburu-buru Ben langsung menuju kamar anak-anaknya, mereka tak ada, Ben memeriksa pakaian anak-anaknya, dan beberapa mainan juga tidak ada.
__ADS_1
Kemudian Ben berlari berpindah ke kamarnya, ia memeriksa pakaian Daisy, dan ternyata ada satu almari yang kosong.
Ben menguyap kepala dan menendang almari itu.
"BRRAAKK!!!" Tendangan yang keras.
Ben kemudian keluar dan memanggil para pelayannya.
"Traver kumpulkan semua pelayan!!!" Teriak Ben.
Traver bergegas mengumpulkan mereka, tak butuh waktu lama dan mereka sudah berdiri di hadapan Ben dengan saling pandang ketakutan.
"Dimana istri dan anakku." Tanya Ben lagi.
"Kami sudah bertanya Tuan ketika Nyonya pergi membawa anak-anak dan banyak sekali koper, katanya akan liburan."
"Liburan?" Tanya Ben.
"Ya Tuan, Nyonya mengatakan ingin liburan bersama keluarganya di Maladewi."
"Benarkah?" Tanya Ben keheranan.
"Traver periksa Maladewi, dan pesawat pribadi yang terparkir di bandara manapun."
"Baik Tuan."
"Tuan... Benar, Nyonya pergi ke Maladewi bersama anak-anak, dan juga keluarganya."
"Siapa saja."
"Semuanya Tuan, orang tua Nyonya Daisy dan juga Tuan Derreck bersama Casey..." Kata Traver.
"Perintahkan pengawalan ketat di Maladewi, pastikan mereka selamat sampai di sana." Kata Ben.
Ben mengangguk paham, ia pun pergi ke ruangannya.
******
Malam itu, Marry Anne sedang duduk di sofa kamarnya dan meminum sedikit demi sedikit alkohol.
Di depannya, ia memandangi cek yang Ben berikan padanya.
Sejak pertemuan pertamanya dengan Ben, di masa lalunya itu, Marry Anne selalu terobsesi dengan Ben, namun ternyata yang menyukai Marry Anne justru sahabat karib Ben, dia adalah Rafael.
Dalam situasi yang lain, Marry Anne memiliki tujuan, ia akan menikah dengan Rafael agar bisa lebih dekat dengan Ben.
Namun, setelah perjalanan pernikahannya berlangsung 1 tahun, Ben tak juga bisa ia rayu, secara diam-diam. Pada akhirnya Marry Anne putus asa, ia pun menggunakan Rafael sebagai alat agar tujuannya berhasil.
__ADS_1
Dalam perang kekuasaan di masa itu, Marry Anne membaca pesan Ben dari ponselnya, saat ada di persimpangan jalan Rafael harus masuk ke jalan jalur yang di tandai dengan X merah untuk membawa sandera musuh ke lokasi.
Namun dengan sengaja Marry Anne menjatuhkan ponsel milik Rafael ke dalam gelas berisi air, membuat Rafael tak bisa membaca pesan dari Ben.
Marry Anne pun kemudian memberikan informasi yang salah pada Rafael, bahwa Rafael harus menggunakan jalan di jalur Y merah dalam tanda di perjalanan dan mengakibatkan Traver salah menembak sasaran yang Traver kira adalah musuh.
"Pettzz!!!" Tiba-tiba ketika ingatan Marry Anne sedang mengingat masa lalu lampu kamarnya mati.
Ada sinar cahaya remang-remang lampu jalanan di ujung rumah, sinar lampu itu masuk dari jendela kamar yang tirai nya di buka.
Namun, tiba-tiba ada sosok yang muncul dengan pakaian serba hitam, memakai topi hitam dan masker.
Marry Anne terperanjat jatuh ke lantai karena terkejut, gelas alkoholnya juga terlepas dari tangannya dan membuat gelas itu jatuh lalu pecahannya menyebar di lantai.
"Si... Siapa kau!!!" Marry Anne melotot.
"Siapa aku?" Tanya seseorang yang berbalut pakaian serba hitam.
Wanita yang berpakaian serba hitam kemudian mengeluarkan belatinya, dia juga memakai sarung tangan hitam, mungkin untuk menghilangkan jejak dan sidik jarinya jika terjadi sesuatu.
Marry Anne mengesot hingga membentur dinding.
"Kau... Kau wanita!! Kau seorang wanita, siapa kau sebenarnya!!" Teriak Marry Anne.
"Kau tidak perlu tahu aku siapa, karena aku datang hanya untuk melakukan pekerjaan."
"Siapa yang menyuruhmu!!! Apa kau akan membunuhku!!!" Teriak Marry Anne.
"Hmm... Bagaimana ini... ? Coba kau tebak... Apakah aku akan membunuhmu..." Suara wanita itu halus dan menyodorkan belati besarnya di pipi Marry Anne.
Marry Anne sontak gemetar, ia tak bisa bergerak lagi, tubuhnya merinding dan sangat gemetar. Suhu tubuhnya pun mulai kedinginan karena ketakutan yang menjalar di otaknya akan bayangan kematian.
"Kau mau uang? Apa yang kau butuhkan! Aku bisa memberikan semua yang kau mau! Apartmen, hotel? Aku akan berikan tapi jangan membunuhku." Pinta Marry Anne.
"Waw... Sepertinya kau orang kaya ya..." Kata wanita itu.
"Pacarku, pacarku adalah Benjove Haghwer... Dia mafia yang kejam, kau akan menyesal melakukan ini!! Benjove akan memburu kau dimanapun kau berada!!" Marry Anne mendelik.
"JLEEEBBB!!!!" Wanita itu menusukkan belatinya di perut kiri Marry Anne.
Darah merah kehitaman meleleh dari perutnya dan mengalir membanjiri lantai.
"Kebetulan sekali kau adalah pacarnya, aku sangat membenci Benjove Haghwer sampai rasanya kebencianku akan selalu merayapiku hingga aku mati, jadi jika kau pacarnya seharusnya dia akan tersiksa jika kehilangan dirimu." Kata wanita itu.
"AAKKK... UKHH....!!!" Marry Anne kesakitan, darah keluar begitu banyak.
Tangan Marry Anne memegang belati yang masuk menancap di perut Marry Anne dan tangan Marry Anne menggenggam tangan wanita itu, berharap wanita yang menusuknya melepaskan tangannya.
__ADS_1
Bersambung