Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 148


__ADS_3

Traver mengangguk pelan, ia tahu Rudolf sedang mengenang masa-masa bahagia dan kelucuan tingkahnya pada Ben yang dingin dan kaku.


Rudolf selalu ingin menggoda Ben, namun berkat Rudolf jugalah kehidupan mereka menjadi sedikit mencair tak terlalu kaku dan serius.


Rudolf selalu bisa membuatblawakan-lawakan yang tak membosankan, apalagi meski Ben diam, ia juga merasakan jika Rudolf memang harus tetap di sisinya karena ben sudah menganggap Rudolf kakaknya sendiri.


"Aku tahu siapa yang telah membunuh Marry Anne." Kata Rudolf.


Traver melihat ke arah Rudolf, dan wajah serta rahangnya menegang.


"Melihat wajahmu, aku tahu kau menyadari bahwa adikmu juga ada di sana." Kata Rudolf menunjuk Traver dengan cerutunya.


Traver menegang, ia harap-harap cemas apakah Rudolf ada di pihak Marry Anne.


"Marry Anne... Dia adalah ular berbisa, aku bisa saja membunuhnya saat dia mengaku bersedih dan kehilangan Suaminya, karena kau telah menembaknya, meski saat itu aku dan Ben belum terlalu kenal, tapi aku sudah mengawasi Ben sejak lama.


"Anda mengetahui bahwa Marry Anne berbohong, dan menyebabkan semua kekacauan itu?" Tanya Traver.


"Apa yang tidak ku ketahui, hanya saat ini saja, aku tidak tahu Ben dimana." Kata Rudolf menaikkan kedua bahunya dan menghisap cerutunya.


"Jadi, siapa yang membunuh Marry Anne tuan.." Tanya Traver harap-harap cemas.


"Adikmu jelas menyuntikkan gagal organ ke tubuh Marry Anne, namun sebelum itu, dia sudah di tusuk oleh seseorang."


Traver menelan ludahnya.


"Sebelum kalian datang, di sana ada Ansella dan Mena, tapi saat kalian sudah datang, Casey menyusul."


Wajah Traver menegang.


"Ansella?" Tanya Traver.


"Tak terpikirkan oleh kalian bukan? Menurutmu siapa yang kemungkinan membunuh Marry Anne." Kata Rudolf.


"Ansella? Itu tidak mungkin Tuan. Jika Mena? Anda bilang dia menyuntikkan gagal organ. Lalu, Casey? Dia datang terakhir."


Rudolf melihat ke arah Traver.


"Seperti nya Ansella ingin bergabung dengan Daisy, dia yang telah membunuh Marry Anne." Kata Rudolf.


Traver mundur dari tempatnya berdiri beberapa inch.

__ADS_1


"Tapi untuk apa?" Tanya Traver.


"Entahlah, aku tidak tahu." Kata Rudolf.


"Tapi bagaimana anda bisa mengetahui semua itu?" Tanya Traver.


"Kau pintar Traver, aku tidak yakin kau tidak tahu bagaimana aku bisa mendapatkan informasi ini." Kata Rudolf tersenyum dan tertawa lucu melihat ekspresi Traver.


"Apakah drone? Tanya Traver.


"Aku menggunakan Drone mini, uji coba itu ku lakukan sejak saat Marry Anne datang ke Negara K, aku menaruh Drone Mini di rumahnya, cukup banyak." Kata Rudolf.


"Tapi, mereka semua memakai pakaian ninja saat menyerang Marry Anne, bagaimana anda bisa tahu siapa mereka." Kata Traver.


"Drone yang memutar video, mereka sekaligus bisa menyambungkan pada data-data yang kami miliki, dari bentuk tubuh, panas tubuh, dan semua bentuk tubuh mereka hingga dirasa memiliki kecocokan dan kemiripan dengan data kami, satu lagi, para pengawal begadang menerbangkan capung kecil untuk mengambil sample DNA dari mereka semua, tanpa mereka menyadarinya."


"Bagaimana anda memiliki ide brilian dan teknologi yang canggih ini." Tanya Traver.


Rudolf tersenyum.


"Bukan aku, tapi Ben, dia yang menciptakannya."


Traver semakin kebingungan.


"Belum, sepertinya dia lupa bahwa dia memiliki alat-alat itu, aku menggunakannya tanpa sepengetahuannya, alat-alat itu di buat sejak lama." Kata Rudolf.


"Jadi..." Tanya Traver tak sabar.


"Jadi, alat-alat itu sebenarnya belum selesai di uji coba, dan saat itu terhenti karena Ben selalu sibuk hingga akhirnya Ben bertambah sibuk dengan Daisy, jadi aku melanjutkannya sendiri dan uji coba pertama kami berhasil, pada kasus Marry Anne."


"Jadi, benar, saat itu saya berkelahi dengan adik saya?" Tanya Traver.


"Benar." Kata Rudolf santai dan membuang cerutunya.


"Tapi kenapa Mena? Apakah dia bergerak sendiri atau kah Nyonya Daisy yang mengutusnya." Tanya Traver.


"Itu masih menjadi pertanyaanku, Mena bergerak atas kemauannya sendiri, ataukah Daisy yang memerintahkannya." Kata Rudolf menjawab rasa penasaran Traver.


Tak berapa lama seorang pengawal pun datang.


"Tuan Rudolf, sebaiknya anda istirahat terlebih dahulu, karena ini sudah larut." Kata pengawal itu.

__ADS_1


Semua pengawal mendirikan Camp-Camp dan sudah siap berjaga.


"Yaahh... Mari kita mandi dan selesaikan lagi esok hari." Ajak Rudolf.


Traver mengangguk.


Saat Rudolf berdiri, ia mendekat pada Traver.


"Jangan marahi adikmu, jangan terlalu keras padanya juga, jika dia bertindak atas dasar kemauannya sendiri atau dia di perintahkan oleh Daisy itu semua menjadi sama saja, karena sejujurnya Mena sekarang sudah berada di pihak Daisy bukan lagi di pihak Ben. Mena telah menemukan tuannya sendiri." Kata Rudolf menepuk bahu Traver dengan pelan.


Traver mengangguk pelan.


Mereka pun menuju Barak Camp, untuk membersihkan diri dan kemudian beristirahat.


******


Namun, di pulau sebelah, seseorang sedang sibuk turun dari pesawat dan kini duduk di dalam mobilnya dengan perasaan penuh kecemasan.


Di lain pihak lagi, Gia yang menunggu sudah tak sabar, meski begitu tak serta merta membuat Gia pergi dan pulang kembali ke desa, tentu saja ia harus bermalam di kota tersebut, karena Gia tak mau nantinya saat ada di perjalanan ia di datangi oleh pria-prai yang ingin melakukan kejahatan-kejahatan malam.


"Semoga kau baik-baik saja Ben... " Kata Gia.


Udara semakin dingin dan menusuk ke seluruh kulit serta tulang belulang Gia, ia menggigil dan tak tahan lagi, kedua tangannya memeluk tubuhnya dan menggosok gosoknya dengan cepat, saat kakinya akan beranjak untuk berpindah tempat mencari kehangatan suara rendah yang dalam memecah kedinginan dan ketakutannya malam itu.


"Gia?" Panggil seseorang, itu adalah pria dengan suara seksi yang rendah.


Gia menoleh ke belakang dan terlihatlah seorang pria berwajah tampan dan mempesona dengan hidung sedikit memerah karena udara yang sangat dingin menerpanya begitu keras.


Gia lalu mengedipkan matanya, angin menerpa rambutnya dan mengibasnya, ia menelan ludah yang kering dalam mulut dan tenggoronkannya.


"Kau Gia?" Tanya Carlos lagi.


"Be... Benar... Itu saya... Tapi bagaimana anda langsung tahu dan mengenali saya? Apa anda adalah orang yang saya hubungi?" Kata Gia.


"Itu tidak penting, jadi dimana pria itu." Kata Carlos.


"Ada di desa, butuh waktu 1 jam lebih untuk kesana, tapi saya memutuskan untuk menginap di sini karena tidak ada penerangan apapun menuju desa itu. Saya akan pulang besok ketika sudah terang."


"Ikut denganku dan tunjukkan arahnya." Kata Carlos.


"Apa?" Tanya Gia menelan ludah lagi.

__ADS_1


Carlos tak menjawab ia hanya berbalik dan melangkah pergi, sedangkan Gia memandangi punggung Carlos kemana ia akan pergi, terlihatlah mobil-mobil berderet begitu banyak, dan orang-orang memakai jas serba hitam serta memakai kacamata hitam.


Bersambung


__ADS_2