
Saat itu Traver membawa Gia ke ruangan bawah tanah, dan Traver masih menahan diri agar ia tak memukul Gia karena beberapa kali Gia mencoba menyentuhnya dan memeluknya.
"Traver, aku cukup cantik bukan?"
Traver masih diam dan menyeret Gia.
Setelah sampai di ruang bawah tanah ada begitu banyak tahanan pria yang masih bergelimpungan dan menggeliat serta pemandangan yang begitu mengenaskan dan menjijikkan.
Gia membulatkan kedua matanya.
"Kau terkejut? Itu semua hasil dari asap perangsang yang kau ciptakan, maka kau harus menanganinya."
"Jangan katakan kau akan masukkan aku ke sana!" Teriak Gia.
"Tentu saja." Kata Traver membuka pintu tahanan dan melemparkan Gia masuk.
"Tiddaaaaaaakkk!!!" Teriak Gia.
Saat itu juga Gia langsung menjadi serbuan para pria yang tidak lagi bisa mengontrol diri mereka.
Traver yang melihat memiliki wajah datar dan dingin, namun Mena tidak, ia merasakan ngeri ketika Gia menjadi rebutan sana dan sini, di tarik sana dan di tarik sini.
"Bagaimana dengan Nyonya Daisy?" Tanya Traver.
"Sudah kembali ke Kota Z bersama Tuan Ben." Jawab Mena dengan perasaan jijik dan ngeri, saat itu Gia menjadi mengenaskan karena di serbua begitu banyak pria yang terangsaang.
"Pergilah. Aku akan berjaga di sini sementara waktu." Kata Traver tahu adiknya tidak akan tahan.
"Aku yakin kau menikmati pemandangan itu." Kata Mena kemudian pergi.
Traver hanya diam, pandangannya tertuju pada ruang tahanan lain, ada pria yang sendirian di sana. Itu adalah Aaron Vince.
Pria itu, tak jauh lebih mengenaskan, dia cacat. Wajahnya sudah banyak sekali robekan, bahkan mulutnya terlihat bergelantungan, kedua kakinya tak dapat berjalan karena telah Zac pitong uratnya.
"Tuan Zac memang tidak berniat membunuh Aaron, dia berniat membuat Aaton tersiksa seumur hidupnya dengan keadaan seperti itu. Tuan Zac lebih kejam dari pada aku. Jika itu aku, setelah ku siksa habis-habisan aku pasti membunuhnya. Namun, jika Aaron tetap di biarkan seperti itu, seumur hidupnya hanya akan mengalami kesakitan dan penderitaan."
Di luar Mansion, Mena sudah menuju helikopter yang terparkir di depan. Mena tahu, kakaknya memang memiliki sifat dan watak yang aneh, begitu mengerikan dan sangat berbahaya.
Namun, tak berapa lama, ketika Mena sudah mencapai halaman dan dekat dengan helikopter ia akan pergi, Traver sudah menyusul Mena dengan langkah kaki yang cepat.
"Kau tidak jadi menunggu di sana? Ada apa? Apakah ada yang serius?" Tanya Mena.
"Kita harus kembali ke Mansion, karena Tuan Gavriel akan di pindahkan ke Rumah Sakit." Kata Traver.
Mena mengangguk dan mengikuti Traver, mereka memakai Helikopter bersama menuju mansion dimana Gavriel masih di rawat oleh para dokter.
__ADS_1
Helikopter mengudara dan langsung menuju mansion milik keluarga Haghwer yang ada di Pulau Kematian.
Di sana Mena dan Traver turun, menuju ruangan perawatan. Terlihat Zac, Rudolf, dan Gege Vamos sudah menunggu di depan kamar Gavriel.
"Tuan Zac." Kata Traver.
"Siapkan pengawalan, karena Yaron akan membawa Gaby pulang. Aku akan ikut satu heli dengan Paman Gavriel."
"Saya pikir anda akan menginap beberapa hari ini Tuan." Kata Traver
"Aku tidak merasa senang di sini, karena ribuan orang mati di pulau ini. Aku tidak ingin di bilang honeymoon di pulau yang memiliki banyak mayat." Kata Zac.
Rudolf menahan tawanya.
"Yaa.. Bilang saja kau takut hantu Zac. Hahahaha... Kau takut saat sedang asyik-asyiknya, ternyata yang sedang kau tiduri adalah hantu. Ahhahahahh!!!" Rudolf tertawa terbahak-bahak.
"Paman... Yang oaling ku takutkan di duni ini bukan hantu, tapinpria tua yang masih jomblo dan belum menikah." Balas Zac.
"Sialan kau dasar anak tengik!!!" Kata Rufolf bercanda ingin memeiting Zac, namun Zac menghindar dan tak berhasil.
Saat itu juga seorang dokter keluar.
"Tuan-Tuan... Semua nya sudah siap, Dokter Gavriel harus segera di bawa ke rumah sakit." Kata salah satu Dokter.
Setelah beberapa saat, para dokter mendorong Gavriel keluar dari kamar dan menuju helikopter.
Semua harus ekstra hati-hati karena luka di perut Gavriel sangat dalam.
Saat itu Gaby juga sudah berada di atap dengan menahan sedikit perih bagian sensitifnya dan rasa lemas kaki-kakinya. Gaby harus bersikap normal dan biasa saja, karena di sekelilingnya hanya ada para pria.
"Gaby, naiklah ke helikopter dengan Yaron,setelah urusan selesai aku akan pulang." Kata Zac.
Gaby mengangguk pelan.
Kemudian Zac melihat kalung yang masih Gaby pakai, kalung pemberian Aaron, dengan kekuatannya Zac menarik kalung tersebut dan kemudian melemparkannya jauh, kalung itu di buang jauh-jauh.
Kemudian Zac melihat luka jahitan di lengan Gaby, Zac berjanji akan mencari cara bagaimana mengeluarkannya bom atau pelecak tersebut dari tubuh Gaby, Namun Zac harus bertemu dengan Gia. Perlahan Zac mengelus luka jahitan itu dengan ibu jarinya.
"Tuan Zac... Semua siap." Kata salah satu pengawal.
Sebuah helikopter berukuran sangat besar dan panjang ada di atap dan baling-baling nya sudah berputar pelan.
"Gaby naik lah lebih dulu ke helikopter." Kata Zac menunjuk helikopter yang lebih kecil dan memiliki logo Z.
Gaby mengangguk dan setelah Gaby naik bersama Yaron, Zac pun naik di helikopter lain yang lebih besar yang akan membawa Gavriel.
__ADS_1
Zac naik lebih dulu dan diikuti dengan para dokter yang menaikkan Gavriel.
Zac menarik nafasnya dan membuangnya kasar, ia melihat kondisi Gavriel yang bahkan tak tahu apakah Gavriel sadar atau koma.
Gege Vamos sendiri menggunakan helikopter miliknya sendiri, dan semua helikopter tersebut kemudian mengudara secara bergantian lalu terbang menuju Kota Z.
Tak butuh waktu lama, perjalanan cukup dramatis membawa Gavriel karena kondisi Gavriel yang tidak stabil.
Helikopter akhirnya mendarat pelan di atap Rumah Sakit milik Gavriel, di sana Ben sudah menunggu dan berdiri dengan mantelnya yang berkibar ke belakang karena terkena angin.
"Zac turun lebih dulu, dan membantu penurunan Gavriel."
Lalu di ikuti yang lainnya.
"Kau sudah beritahu Zay?" Tanya Ben.
Zac kemudian melihat ke arah Gege Vamos.
"Aku belum memberitahunya, nanti sampai mansion akan ku beritahu, biarkan Zay tenang dulu." Kata Gege Vamos.
Ben mengangguk pelan.
Perlahan mereka semua pun mengikuti para dokter akan kemana membawa Gavriel.
"Tuan Ben... Dokter Gavriel kehilangan banyak sekali darah, saya tahu dan minta maaf, ini memang tidak seharusnya di katakan oleh seorang dokter, namun saya minta anda harus bersiap kapan saja, jika sesuatu terjadi pada Dokter Gavriel."
"Kau mengatakan Gavriel akan mati!" Kata Ben meraih jas putih milik sang dokter dan mencengkramnya.
"Bu.. Bukan begitu Tuan Ben. Kami, bahkan, semua dokter di sini akan melakukan yang terbaik untuk Dokter Gavriel, selain Dokter Gavriel adalah pimpinan kami, beliau juga sosok ayah bagi kami di sini. Tapi, kami hanya ingin menyampaikan hal yang paling parah, karena Dokter Gavriel terlalu banyak kehilangan darah." Kata Dokter itu.
Saat itu juga Zay sudah berdiri dengan meneteskan air mata, mendengar kalimat sang dokter.
"Dia tidak akan mati!" Teriak Zay.
Semua mata tertuju pada Zay, bagaimana Zay bisa tahu, Gavriel sampai di rumah sakit, dan mereka semua pun bergantian melihat ke arah Gege Vamos.
Gege Vamos sendiri tak tahu bagaimana Zay bisa tahu.
Gege Vamos berjalan mendekati Zay secara perlahan.
"Aku tahu jika aku tidak mencari informasi sendiri, kalian semua akan menyembunyikannya dariku!" Kata Zay.
Dan ternyata Zay, mencari tahu dari para pengawal.
Bersambung~
__ADS_1