
Siang hari di dalam perjalanan pulang, mobil melaju dengan beberapa iring-iringan pengawalan ketat, Ben baru saja menyelesaikan rundingan bersama para petinggi Mafia untuk mematangkan rencana mereka.
"Tuan... Ada laporan Nona Daisy di datangi oleh seorang pria tua yang mengaku sebagai ayahnya."
Ben tak melihat Traver dan masih melihat ke arah luar jendela.
"Selidiki." Perintah Ben.
"Baik Tuan."
Tak butuh waktu lama dan iring-iringan mobil masuk ke dalam gerbang besar, lalu berjalan pelan menuju halaman Mansion.
Ben turun dan langsung masuk, dengan di sambut berderat pelayan yang menundukkan kepala.
Pria itu langsung menuju kamar dan mendapati Daisy sedang duduk di sana dengan beberapa mainan baru nya.
Ben melihat itu dan berdiri di samping Daisy.
"Astaga Tuan, saya tidak mendengar anda masuk." Kata Daisy sembari berdiri.
"Kau menyulam?" Kata Ben melihat sulaman Daisy.
"Saya hanya sedang belajar tuan, kebetulan saya melihat salah satu pelayan ada yang pintar membuat sulaman dan saya penasaran apakah saya bisa." Kata Daisy.
"Itu terlihat bagus untuk seorang pemula." Kata Ben.
Kemudian mereka saling diam.
Drrrt... Drrtt.... Drttt...! Ponsel Ben bergetar.
"Hm?" Kata Ben menempelkan ponselnya di telinga.
"Ya... Kerja bagus... Suruh nanti malam untuk datang... Berikan pakaian yang layak." Perintah Ben.
Daisy mendengar itu wajahnya langsung menciut dan pucat.
"Apa ada orang yang kau temui tadi pagi?" Kata Ben.
"Sebenarnya..." Daisy tahu, ia tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari Ben.
"Saya tahu, bahkan dinding di sini pun dapat berbicara dan melaporkan apa saja pada anda." Kata Daisy mengepalkan kedua tangannya.
"Kau sudah tahu kenapa kau merahasiakannya. Aku tidak menyangka bahkan Mena tidak melapor. Lain kali jangan sembrono, kau tidak akan pernah tahu semengerikan bagaimana di luar sana ketika kau sudah berada di dekatku, banyak musuhku ingin menghancurkan apapun itu yang bersangkutan dengan diriku." Kata Ben.
"Tapi dia ayah saya!" Teriak Daisy.
"Aku tahu... Traver sudah mengkonfirmasi nya, dia benar-benar ayahmu, tapi seandainya dia bukan ayahmu melainkan musuhku dan berbuat jahat padamu? Bagaimana?"
Daisy hanya diam dan terduduk di kursinya.
__ADS_1
"Nanti malam aku mengundangnya ke mansion. Kau senang?" Kata Ben.
"Benarkah?" Mata Daisy berbinar melihat pada Ben.
"Traver yang akan menjemputnya." Kata Ben lagi.
"Te... Terimakasih banyak Tuan." Kata Daisy.
"Hanya ucapan terimakasih untuk semua yang sudah ku lakukan untukmu? Apa itu sebanding?" Tanya Ben.
"Lalu... Apa yang anda minta?"
"Kenapa kau harus bertanya?" Ben langsung menggendong Daisy menuju tempat tidur, lalu membaringkannya di sana.
Mata mereka saling memandang dan mengunci, tangan Ben perlahan membuat kancing baju Daisy.
"Sa... Saya pikir anda marah." Kata Daisy.
"Kapan?" Kata Ben sembari mencium leher Daisy.
"Ta.. Tadi malam. Anda hanya diam. Apakah anda marah karena saya, mengacaukan rencana anda, membuat anda bertengkar dengan teman anda?" Kata Daisy.
Tangan Ben menjalar turun, baju Daisy telah terbuka setengah, dan tangan kekar berotot itu meremas sebuah gundukan kenyal membuat Daisy menggigit bibir bawahnya.
"Aku hanya khawatir, mereka akan tahu keberadaanmu, aku takut mereka berbuat sesuatu pada mu." Kata Ben mengecup gundukan kenyal itu lalu mengulumnya masuk ke dalam mulutnya, menghisap hingga dalam dan tangan satunya meremas gundukan kenyal satunya.
"Nggghhmmm...." Daisy mencengkram lengan kekar milik Ben.
"Aku takut... Sesuatu terjadi padamu... Entah mengapa aku... Sangat takut." Kata Ben tangannya berpindah menarik underware dari balik dress bermotif bunga milik Daisy.
"Sa... Saya akan baik-baik saja dan aman di sini." Kata Daisy.
"Maka dari itu jangan melakukan hal yang ceroboh dan sembrono lagi. Apa kau mengerti?" Kata Ben mengigit aerola milik Daisy.
"Ssshhh.... Aaah...." Daisy menggeliat.
"Jika kau melakukan tindakan sembrono lagi, Mena lah yang akan menanggung akibatnya."
Ben menaikkan seluruh pakaian Daisy dan membuangnya. Kini Daisy tampil telanjaang di depan Ben. Pria itu kemudian menyangga tubuhnya menggunakan kedua lutut dan membuka ikatan dasinya, lalu membuangnya. Tak sampai di situ Ben kemudian membuka kemeja hitamnya dan membuangnya juga.
Tangan kekar nya pun meraih gaspernya, suara klik saat pria itu membuka gasper adalah suara seksi yang ada di telinga Daisy.
Ben membuka nya dan mengeluarkan sesuatu yang sudah mengeras di sana.
"Sepertinya ini akan berlangsung lama." Kata Ben memperingatkan.
"Ken.. Kenapa Tuan?"
"Aku sudah lama tidak memakanmu...." Kata Ben melemparkan celana nya ke lantai.
__ADS_1
"Ta.. Tapi... Tu... Tunggu Tuan..."
Ben langsung membuka kedua paha Daisy, dan menghisap sesuatu di sana.
"Hhaaaahh.... Ngghhh.... Aahhhhh.... Tu... Tuann..." Daisy melengkungkan tubuhnya.
"Ini menyegarkan, rasanya manis dan lezat." Kata Ben kemudian melanjutkan menghisapnya lagi.
Pria itu memegang kedua pantatt Daisy dan menaikkannya hingga mulut dan lidahnya masuk lebih dalam lagi, membuat Daisy meremas sprei dan mencengkramnya, bulir-bulir keringat mulai bermunculan, suaranya mulai tak bisa di kendalikan, tubuhnya menggelinjang ke sana dan ke sini mengikuti irama hisapan Ben dan lidah Ben yang menggali dan memutari, yang bergerak cepat dan bergetar, membuat Daisy semakin lama semakin tenggelam dalam sensasi yang sangat dahsyat, sebuah kedutan yang berkali-kali ada di bagian sensitifnya pun akhirnya jebol membuat tubuh Daisy mengejang dan gemetar, tubuh mungil dengan kulit putih yang bening dan bercaya itu merona merah merasakan orgasmee nya dan setruman dahsyat dari permainan mulut dan lidah Ben.
"AAHHhh.... Ngghhh.... Ooohhhh...." Daisy berteriak dan meremas kepala Ben, dengan kedua kakinya berada di atas punggung lelaki itu bergetar seperti seluruh tubuhnya tersetrum oleh listrik.
Ben menghisap seluruh cairan yang Daisy telah keluarkan, hingga tanpa sisa, kemudian pria itu perlahan naik dan mengecup setiap inchi tubuh Daisy, hingga sampailah ia di dua gunung kenyal yang menantangnya.
"Aku benar-benar lapar." Kata Ben.
Ben kemudian mengangkat tubuh Daisy duduk di atas paha kekar berototnya dan menuntun Daisy untuk memasukkan miliknya ke dalam.
"I... Ini... Terlalu besar..." Kata Daisy.
"Dia sudah sering masuk." Kata Ben.
Akhirnya ujung nya masuk.
"Oohh...." Daisy mendongakkan kepalanya.
Ben kemudian menurunkan tubuh Daisy, membuat benda keras milik Ben seluruhnya masuk.
"AAAAAHHHHHH.....!!! Sangat Dalam..." Kata Daisy menjerit.
"Enak bukan..." Bisik Ben dan menggigit telinga Daisy sembari memeluk tubuh Daisy.
Kemudian Ben mulai membuat Daisy naik turun, Daisy yang duduk di atas paha Ben, ia pasrah dan merangkul punggul Ben lebih erat, rambut panjang Faisy naik turun seperti sutra yang lembut, sedangkan Ben berulangkali menghisap 2 gundukan yang naik turun di hadapan wajahnya secara bergantian.
"Oohhh... Tuan.... Sa... Saya... Ohhhhhh!!!! Aaaahhh!!!!" Teriak Daisy, tubuhnya kembali mengejang dan kaku, pertanda ia telah mengeluarkan cairannya lagi.
Kemudian Ben mengganti posisi, membuat Daisy menungging lalu Ben memasukkannya lagi.
"Aahhh....!!!" Daisy kembali merintih.
Ben mempercepat gerakannya, kali ini Daisy merasa bahwa Ben lebih lembut daripada yang pernah Ben lakukan pada posisi seperti ini sebelumnya.
Waktu itu Ben di liputi rasa marah dan melakukannya dengan kasar, namun meski begitu, lembut ataupun kasar tetap saja Daisy bisa merasakan orgasmee.
"Kau lebih menyukai yang mana?" Kata Ben dengan suara berat sembari masih membuat pinggulnya maju dan mundur dengan sangat cepat.
"Lembut? Atau kasar?" Kata Ben.
bersambung
__ADS_1