
Kemarahan itu memuncak dalam darah, dada, dan kepalanya, Douglas kalap hanya dengan Gia menyebut nama yang baginya haram untuk di dengar di telinganya selama ini.
"Siapa? Benjove Haghwer katamu? Dia terdampar di pulau milikku dan kau yang menyelamatkannya dari kematian?" Douglas mengulangi cerita dari Gia yang ia dengar.
Gia mengangguk pelan karena tubuhnya tak kuasa menahan setiap siksaan yang Douglas berikan.
"Brengseekk... !!!" Kata Douglas.
Dengan amarah yang memuncak, dada yang bergemuruh, kepala yang berdenyut panas, dan jantung yang semakin memompa cepat, Douglas kemudian menggigit paha Gia, gigitan itu begitu kuat.
"AAAHH... Sakiit... Ku mohoon... Hentikaan..." Kata Gia lemah.
Douglas tak mendengarkan, ia lalu menggigit di tempat lainnya, naik ke atas perut, dan menggigit kedua payudaraa Gia secara bergantian, dan terus seperti itu. Berulang-ulang.
"Saakiitt... Ku mohonn... Hentikaan..." Kata Gia mengulangi kalimatnya lagi.
Douglas memompa tubuhnya dengan sangat kasar, sangat cepat, hingga tubuh Gia terguncang-guncang tak terkendali.
"Brengsekk... Brengseek... Badjingaan..." Geram Douglas. Kalimat Douglas hanya berisi tentang umpatan kasar.
Douglas mulai tak bisa mengontrol amarahnya, pria itu kemudian menarik tubuh lemah Gia yang sudah tak bisa bertahan untuk duduk di atasnya.
Douglas kemudian menggigit lagi bahu milik Gia.
"Aaahh... Sakiit... Kenapa... Tak kau bunuh saja aku... Aku ingin mati saja... Aku sudah tak tahan... Bebaskan aku... Kau selalu seperti ini padaku...." Pinta Gia sembari menangis.
"Mati? Enak sekali... Hanya dengan ijinku lah kau harus mati atau hidup, kau sendiri yang memutuskan menikah denganku maka terimalah ini semua, kau mau harta kan? Kau mau hartaku kan? Mari kita saling menguntungkan. Jika kau mau hartaku, kau juga harus sanggup melayaniku." Kata Douglas geram dan dengan terengahh engahh merasakan kenikmatan yang meremas dan menagihkan benda miliknya, sekujur tubuh Douglas telah berkeringat, seluruh ototnya telah menegang.
Dengan kasar Douglas membanting tubuh Gia di atas ranjang, memompa lebih dalam dan cepat, hingga tubuh Gia berantakan, bergerak naik dan turun dengan cepat, pada akhirnya Douglas menggeram begitu kencang, menaburkan cairannya di dalam milik Gia, dan menekan masuk lebih dalam hingga menyudutkan tubuh Gia ke atas.
Saat itu juga Gia pingsan, bukan hal sekali Gia mendapatkan perlakuan seperti itu, jika perasaan atau mood Douglas sedang tidak baik, atau Gia melakukan kesalahan yang tidak di sukai Douglas, Gia selalu mendapatkan hukuman seperti itu.
Sampai pernah pada akhirnya Gia harus mendapatkan perawatan selama satu minggu penuh, karena setiap hari Douglas bermain kasar dan dia mengatakan bahwa itu adalah hukuman bagi Gia jika Gia tak melakukan keinganannya dengan benar, atau apa yang Douglas katakan dan perintahkan.
*****
Tengah malam di AS
Pukul 2 dini hari, ponsel milik Zac bergetar.
Drrtt... Drrtt...
Zac saat itu belum tidur dan masih berkutat dengan pekerjaannya, untuk menghilangkan stress di pikiran tentang masalah penyakit Impoteenn yang dia derita.
Dengan tanpa melihat dan meraih menggunakan sebelah tangannya, Zac membuka ponselnya yang ada di sebelahnya.
Namun, matanya membulat dan melebar dengan sempurna, ketika ia membuka pesan yang masuk.
__ADS_1
Itu adalah foto adiknya yang berciuman dengan pria seumuran ayahnya.
Zac dengan segera membuang berkas di tangan kirinya dan beralih fokus pada foto yang dia terima.
"Siapa pengirimnya." Kata Zac memeriksa.
"Aku tidak mengenal nomor ini." Kata Zac lagi.
Dengan cepat Zac menghubungi ayahnya.
"Nomor yang anda tuju...."
Nomor Ben tidak aktif, Zac berulang kali menghubungi ayahnya namun tak berhasil, lalu ia berfikir untuk menghubungi sang ibu, namun jari nya berhenti tak melanjutkan, ia ingat bahwa Traver akan bertemu dengan ayahnya.
"Apakah Ayah memanggil Traver karena masalah ini?" Kata Zac.
Dengan tergesa-gesa Zac berdiri, dan menyambar mantelnya, ia berlari keluar dari apartmen.
"Tuan Zac... Mau kemana." Tanya Casey saat Zac sudah berada di lobby bawah.
Zac berhenti sejenak, dengan tergesa-gesa tak ingin terlalu lama, ia memerintahkan Casey menghubungi Traver.
"Hubungi Traver sekarang juga, tanyakan padanya apakah dia bersama ayahku sekarang." Perintah Zac.
"Baik Tuan Zac."
"Apa ada masalah." Tanya Traver
"Apa kau sedang bersama Tuan Ben sekarang?" Tanya Casey.
"Ya, kenapa?"
"Sedang ada dimana?"
"Di ruang bawah tanah, apartmen milik Tuan Ben." Jawab Traver.
"Baik." Kata Casey menutup ponselnya.
"Tuan Zac, Traver ada di ruang bawah tanah apartmen Tuan Ben, mereka sedang bersama." Kata Casey.
Zac mengangguk.
"Hubungi Paman Dereck untuk datang." Kata Zac.
"Baik Tuan"
Kemudian Zac pun bergegas menuju apartmen ayahnya, dengan mengendarai mobilnya sendiri, di belakangnya para pengawal pun mengendarai mobil dengan kawalan yang ketat.
__ADS_1
Mobil-mobil melaju dengan cepat, tak butuh waktu lama, mereka sudah berada di apartmen Benjove.
Zac mematikan mobilnya, ia tak ingin membuat kegaduhan sehingga ibunya terbangun dari tidur.
Dengan terburu-buru dan langkah kaki yang cepat dan panjang, Zac langsung menuju ruang bawah tanah.
Pintu pun di buka oleh sang pengawal, saat Zac masuk, Ben dan juga Traver terkejut.
"Zac... Ada apa?" Tanya Ben.
Saat itu Ben dan Traver sedang mengatur rencana di atas meja bundar.
Zac maju dan mengeluarkan ponselnya, ia melemparkannya di atas meja bundar itu.
"Kau mengirim adikku ke luar negeri, dan tak boleh pulang sebelum adikku mencapai kedudukan serta kekuasaan yang kau inginkan di luar negeri, sekarang di menjadi seperti itu! Pacarnya seumuran denganmu!!!" Teriak Zac.
Ben melihat ponsel milik Zac tanpa mengambilnya, ia sudah tahu foto apa itu.
"Seandainya kau lebih memanusiakan kami!!! Zay tidak akan mencari kasih sayang pada orang yang lebih tua!!! Dia lebih cocok menjadi ayahnya, dia seumuran dengan mu!!! Apa kau puas sekarang!!! Anakmu menjadi seperti itu!!! Dia mencari kasih sayang dari orang yang salah!!!" Teriak Zac lagi.
"Zac... Kita bicara perlahan, ayah akan berusaha semaksimal mungkinn.."
"Apa usaha ayah!!! Mengirim kami ke luar negeri lagi dengan jarak yang lebih jauh!!!"
"Bukaan... Kelak kau akan mengerti apa yang ayah lakukan ini adalah demi kebaikan kalian."
"Persetan dengan kebaikan atau keburukan!!!" Teriak Zac.
"Aku sudah menghubungi pria yang ada di dalam foto itu, kami sudah melakukan kesepakatan." Kata Ben.
"Lalu apa yang akan kau lakukan...." Kata Zac mengancam.
"Kita semua akan makan malam membahas tentang hubungan mereka, tanpa kekerasan tanpa senjata, kita akan membahasnya, besok malam, semua akan hadir dalam acara tersebut." Kata Ben pada Zac penuh pengertian.
"Zay tidak bisa di hubungi, aku mendapatkan informasi anonim, jika dia juga terlibat sindikat internasional penjualan obat terlarang." Kata Zac.
"Untuk itu juga ayah akan membahasnya saat acara makan malam itu." Kata Ben.
"Jadi siapa yang mengirimkan foto itu padaku, apakah pacarnya." Kata Zac.
Ben memalingkan matanya, ia berfikir apakah harus menceritakan siapa sebenarnya orang yang sedang menjadi pacar Zay.
"Sepertinya pacar Zay sengaja mengirimkan itu pada anda Tuan Zac." Kata Traver.
"Untuk apa? Uang? Kekuasaan?" Tanya Zac.
Traver terdiam, ia melihat ke arah Ben. Apakah Traver harus mengatakannya atau tidak, seolah Traver meminta persetujuan Ben.
__ADS_1
Bersambung