
Nafas Gaby ngos-ngos an dan tubuhnya terasa sangat panas.
Zac menggigit lembut bahu Gaby, dan menimbulkan sensasi yang tajam.
"Ooghhh...." Suara Gaby merdu dan membuat Zac semakin bersemangat.
Zac meremas dan mengulum payudaraa Gaby secara bersamaan, hingga kadang mengecup kesana dan kemari membuat suara kecap kecup yang menambah hasrat mereka.
"Tuan Zac... Hmmhh... Berhenti.... Berhenntii...." Pinta Gaby kemudian.
Kecupan Zac hendak semakin turun, dan Zac memutari perut Gaby dengan lidahnya, seringkali Zac menyesap perut Gaby dan membuat tanda di sana.
"Tuan Zac saya mohoonn... Berhentiii...." Gaby meremas bahu Zac.
Zac pun berhenti dan kemudian menatap Gaby yang terlihat kelelahan.
"Berhenti?" Kata Zac kemudian.
Gaby diam dan melihat Zac dengan mata sayunya.
"Seharusnya sebelum mendatangiku, kau sudah memikirkannya terlebih dulu. Kau tahu aku orang yang seperti apa? Aku monster untukmu Gaby." Kata Zac.
Mata mereka saling menatap, Zac melihat mata Gaby yang sayu dan bibir Gaby yang membengkak dan merah karena ******* Zac yang dalam dan kuat.
Kemudian Zac membelai leher Gaby, dan mencengkramnya lembut, leher jenjang yang putih dan indah itu, ada di cengkraman satu tangan Zac.
Kemudian Zac menyesap bibir Gaby lagi, hingga berbunyi kecupan, menyedotnya dan melepaskannya.
"Kau sendiri yang memutuskan mendatangiku dan tinggal denganku, bahkan tak memikirkan hubungan keluarga kita yang panas, kau nekat dan melarikan diri dari keluargamu, jadi meskipun nantinya kau mengatakan untuk berhenti, atau kau mengatakan tidak mau, aku tidak akan pernah berhenti. Seperti yang pernah ku katakan padamu, kau akan menjadi tahanan ranjangku."
Mata Gaby membulat, ia menelan ludahnya.
"Apa... Apa yang anda maksud dengan tahanan ranjang anda..." Kata Gaby terkejut.
"Saya kesini untuk bekerja dan meminta perlindungan pada anda. Memang benar saya menyukai anda tapi saya... Saya... Belum siap untuk...."
Gaby kebingungan, ia meremas kedua lengan kokoh Zac dengan tatapan terkejut dan bingung. Apa yang harus ia katakan pada Zac, ia benar-benar belum siap dan takut, karena Gaby masih saja teringat malam itu, ketika malam yang begitu menyakitkan di bagian sensitifnya saat Zac mencoba berkali-kali mendorong benda miliknya untuk memasuki bagian sensitifnya.
Tangan Zac yang mencengkram lembut leher Gaby, kemudian turun bermain kembali pada 2 dada yang besar dan padat serta menantang, ia meremas dan memelintir secara bergantian, sembari melihat ekspresi apa yang akan Gaby buat.
"Ehmmbbb.... Hhhaaahh.... Hmmmm...." Gaby memejamkan matanya, kedua alisnya mengerut, dan sesekali menggigit bibir bawahnya yang sudah bengkak.
"Tuan... Berhentiii..." Pinta Gaby yang kwalahan dan meraih pergelangan tangan Zac yang kokoh.
"Tuan Zac... Berhentiii... Saya mohonnn...." Kata Gaby terengah kembali ketika Zac menyesap bagian dada Gaby.
"Berhenti?" Zac akhirnya berhenti lalu memandang wajah berantakan Gaby yang sudah merah karena hasrat nya juga kian naik.
__ADS_1
"Sayaa... Takut... Saya..." Kata Gaby kembali ingin menjelaskan bahwa itu menakutkan baginya.
"Tok... Tok... Tok...!!" Namun sebelum Gaby menjelaskan seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
Zac dan Gaby saling pandang. Kemudian Zac turun dari ranjang tanpa memakai kemejanya, dan menyelimuti Gaby.
Zac berjalan menuju pintu hanya memakai celana panjangnya dan membuka pintu, ternyata itu adalah Charles.
"Nyonya Gia menghubungi ingin berbicara pada Nona Gaby, katanya ini darurat." Kata Charles melirik sedikit ke dalam.
"Perhatikan kemana matamu melihat." Kata Zac dingin.
Charles menjadi kikuk.
"Jangan sakiti Nona Gaby. Jangan terlalu keras. Dia gadis polos dan lugu." Kata Charles.
Zac diam dan menatap dingin serta tajam pada Charles.
"Jangan memikirkan hal fulgar tentangnya atau ku potong kepalamu. Lagi pula aku bukan pria masokis." Kata Zac dingin.
Kemudian Zac menutup pintu dan kembali pada Gaby.
"Ibumu ingin bicara." Kata Zac sembari berlalu menuju walk in closet mengambil kaos putih lalu memakainya.
Gaby membuka selimut dan hendak membenarkan pakaiannya, namun Zac memberikan sebuah kaos putih.
Gaby menerima dan mengganti bajunya, kemudian perlahan ia turun dari ranjang dan keluar.
Zac mengikutinya dari belakang, mereka menemui Charles.
Saat itu Charles masih mengobrol melalui ponselnya.
"Charles..." Panggil Gaby.
"Nona Gaby, ini... Nyonya." Kata Charles menyerahkan ponselnya.
"Halo ibu?" Kata Gaby.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Gia dari ujung telepon.
"Ibu, aku baik-baik saja bagaimana dengan ibu?" Tanya Gaby khawatir.
"Ibu baik Gaby.. Ibu hanya sedikit lelah, tidak perlu khawatir pada ibu, tapi ibu hanya ingin mengabarkan, bisa kah kau pulang saja nak? Jika kau terus di sana dan melanjutkan hubunganmu dengan Anak muda itu semuanya akan menjadi lebih sulit... Maafkan ibu anakku.... " Kata Gia membujuk danenahan air matanya.
"Tapi..."
"Jika kau tidak pulang, ayahmu akan melakukan peperangan besar-besaran, ayahmu juga akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghancurka keluarga Haghwer, ibu dengar, Ayahmu sudah bekerja sama dengan Aaron Vince. Sedangkan Aaron Vince meminta imbalan untuk menjadi suami mu. Ibu juga melihat Vanya Belando, ibu tak terlalu mengenalnya namun, dia ingin bergabung dan akan mengambil Benjove menjadi miliknya." Kata Gia.
__ADS_1
"Ibu... Tapi ibu baik-baik saja kan?"
"Aku baik hanya sedikit lelah, ayahmu tak akan membunuh ibu."
"Ibu... Aku... Akan menanyakan pada Tuan Zac... Masalah.."
Ponsel langsung di rebut oleh Zac dengan santai.
"Nyonya Gia, saya tahu suami anda yang menyuruh anda mengatakan itu sebagai peringatan. Saya tahu anda tidak mengenal siapa Aaron Vince dan Vanya Belando, saya juga ingin mengatakan sesuatu pada suami anda, saya yakin Tuan Douglas ada di samping anda." Kata Zac dengan tenang dan datar tanpa rasa takut sedikit pun.
"Tuan Douglas, saya Zac dan bukan lagi Zac Haghwer. Keluarga Haghwer tidak ada hubungannya dengan masalah ini, mereka pun tidak akan menyetujui hubungan saya dengan anak anda, bahkan jika ibu saya mengambil sikap untuk melakukan peperangan pada saya untuk memisahkan saya dengan anak anda, saya sudah siap untuk konsekuensi tersebut. Jadi seharusnya anda faham kepada siapa anda harus melakukan penyerangan dan peperangan, dan seharusnya anda juga sudah faham sebesar apa tekad saya hingga berani menentang keluarga saya sendiri." Kata Zac dan menutup ponselnya.
Gaby meremas kedua jemari tangannya, dan melihat pada wajah serius Zac.
"Nona Gaby anda kembali ke kamar lebih dulu, saya akan berbicara pada Zac." Kata Charles.
Gaby melihat ke arah Zac, kemudian Zac mengangguk pelan bahwa Gaby harus ke kamar.
Gaby pun pergi.
Zac duduk di sofa.
"Kau memanggil Gaby, Nona. Kenapa tidak memanggilku Tuan." Kata Zac.
"Ku pikir kita teman." Kata Charles.
Zac menyunggingkan ujung bibirnya.
"Aku punya pasukan, meski tidak banyak namun sepertinya cukup untuk menambah kekuatan kita."
"Kenapa tak kau suruh mereka kemari, kau lihat mansion di kepung." Kata Zac menyilangkan kakinya dan menyedekapkan tangannya dengan santai, sembari mendelik pada Charles.
"Ku pikir kau tak akan setuju dan tak akan mau, karena pasukan itu milik ayah ku, Rei Brandon. Menilik dari masa lalu Ayahku yang telah berbuat jahat pada ibumu." Kata Charles.
"Bukankah kau anak haram yang lahir di luar nikah, bagaimana kau bisa memimpin mereka." Kata Zac.
"Eerr..." Charles menggaruk rahangnya dan mengingat-ingat.
"Mereka tidak memiliki pemimpin, dan banyak dari para pasukan pensiun, jadi mendengar aku adalah keturunan keluarga Brandon, mereka terlihat senang." Kata Charles.
Zac mengangguk.
"Ku harap kau tidak akan seperti ayahmu, jika kau berkhianat bahkan ke ujung neraka akan ku kejar." Kata Zac.
Charles mengangguk paham.
Bersambung~
__ADS_1