
Mata nanar Gloria menatap pada Daisy. Ben kemudian mendekat pada sang istri dan memeluknya dari samping.
Sedangkan Zac masih berdiri terlihat canggung.
Tak berapa lama terdengar suara password pintu di pencet, dan terbukalah pintu.
"Tuan Zac, orang tua anda ada di..." Traver melihat kekacauan yang ada di dalam Apartmen.
Gloria yang setengah telanjangg dengan wajah penuh jus jeruk, dan Ben yang memeluk Daisy menyamping, lalu Zac yang menatap dingin pada Traver.
"Maaf kan saya Tuan Zac..." Kata Traver.
"Terlambat." Kata Zac pelan dan dingin serta dengan tatapan mengiris.
"Traver ambilkan selimut untuk nyonya ini. Aku kurang nyaman melihatnya telanjangg di hadapan kami." Kata Daisy.
"Baik Nyonya Daisy."
"Aku masih lajang dan masih muda, kau lah yang sudah nyonya-nyonya, dasar nenek-nenek tua beranak!!!" Bentak Gloria.
Zac kemudian mendorong tubuh Gloria hingga tangan besarnya mencengkram leher Gloria dan membentur dinding, membuat Gloria sesak, Zac menekan leher Gloria pada dinding.
"Jangan pernah meneriaki ibuku." Kata Zac dingin dengan mata tajam.
Gloria mendadak ngeri dengan perubahan cepat wajah Zac.
Tak berapa lama Traver datang dan memberikan selimut pada Gloria.
"Ayo duduk, agar kita nyaman untuk mengobrol." Ajak Daisy duduk lebih dulu.
Kemudian di susul Ben dan juga Zac.
Gloria pun juga ikut duduk di sofa dan menaikkan satu kakinya di atas paha kakinya yg lain.
"Jadi... Jelaskan kenapa kau merayu anakku." Kata Daisy menyedekapkan tangannya dan duduk dengan postur tubuh tegak.
"Hahh...." Gloria tertawa sinis.
"Merayu katamu? Aku tak pernah merayunya." Lanjut Gloria dengan angkuh.
"Untuk wanita seperti dirimu? Anakku tidak akan pernah terpikat, bahkan jika itu hanya sehelai rambutmu. Kau juga bahkan merayu suamiku." Daisy menatap buas Gloria.
"Aku dan anakmu memiliki kesepakatan, dan untuk Tuan Ben, ku akui, aku jatuh hati padanya, tapi dia menolakku berkali-kali." Kata Gloria mengedipkan satu matanya menggoda Ben.
Seketika Ben membuang muka dengan gaya dinginnya.
Daisy kemudian menatap pada Zac, sedangan pria muda yang tampan itu hanya menunduk di depan pandangan mata ibu nya, karena merasa malu dan bersalah, ia juga merasa telah membelah kepercayaan sang ibu.
"Bereskan semuanya." Kata Daisy menatap Ben.
Ben menggendikkan kedua matanya naik, seolah menanyakan apa yang di maksud sang istri.
"Bereskan." Kata Daisy kemudian memberika isyarat mata melemparkan pandangan nya pada Gloria.
"Baiklah." Kata Ben.
"Tidak." Zac menyahut dengan cepat kemudian berdiri.
"Nona Gloria permainan kita selesai, anda harus mengaku kalah." Kata Zac.
__ADS_1
"Tapi... Kita belum..."
"Anda sudah mengakui bahwa saya hebat." Kata Zac percaya diri dan menekan Gloria.
Gloria pun menciut, ia memang audah merasa hanya dengan sentuhan jemari Zac saja, perasaan dan fikirannya telah memiliki insting tajam jika Zac, adalah pria kuat.
"Baiklah... Aku mengakui kejantanan anda..." Kata Gloria berdiri dan membenarkan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Kalau begitu, saya akan mengirimkan berkas-berkas terkait akuisisi perusahaan, anda cukup menandatanganinya melalui sekretaris pribadi anda, jika anda datang dan kita bertemu, jangan harap anda bisa lepas dari genggaman saya." Kata Gloria.
Kemudian Gloria melihat ke arah Daisy.
"Saya pamit... Nyonya Daisy." Kata Gloria dengan mencibir kesal.
Daisy menarik nafasnya, ia masih mencoba dan masih terus berusaha meredam emosinya yang setiap kali memuncak ketika mata Gloria selalu menggoda suaminya.
Langkah Gloria pelan, setiap hentak kakinya menimbulka bunyi khas di telinga. Itu adalah suara heals yang begitu menggoda, seorang gadis yang berwajah cantik dengan tatapan polos melihat ke arah Gloria.
Gloria pun meringis sinis melihat gadis itu, dan doa adalah Gaby.
Gaby menelan ludahnya, melihat Gloria menutupi tubuhnya menggunakam selimut, kemudian beralih melihat Zac dimana kancing kemejanya sudah sedikit terbuka.
Zac tahu ada seseorang yang sedang memperhatikannya, matanya kemudian tertuju pada Gaby yang berdiri di ambang ruangan.
"Gaby..." Kata Zac pelan.
"Siapa Zac?" Tanya Ben.
"Aahh... Sekretarisku sudah bangun."
"Sekretaris? Kau membawanya?" Tanya Ben.
"Ide bagus. Aku juga ingin membuat perhitungan dengan seseorang." Kata Daisy berdiri dan pergi.
Ben melenguh dan ikut berdiri lalu menyusul istrinya.
Setelah saling berpamutan, beberapa menit kemudian Daisy dan Ben telah meninggalkan apartmen.
Zac menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di pintu, pikirannya melayang dan sekelebat melihat raut wajah Gaby.
Dengan terburu-buru Zac me datangi kamar Gaby, dengan sedikit ragu Zac mengetuknya.
"Tok...Tok..."
Tidak ada jawaban.
Zac kemudian mengetuk lagi.
"Tok... Tok... Tok..."
Masih tidak ada jawaban, Zac pun menarik diri, ia berpikir untuk pergi, namun ketika Zac berbalik, pintu terbuka.
"Anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Gaby dengan dingin.
"Ya... Aku... Itu... Apakah kau sudah baik-baik saja? Perutmu bagaimana? Aku beberapa hari tidak berada di apartmen, karena banyak pekerjaan? Itu... Datang bulanmu apakah sudah membaik."
"Oh... Ya itu sudah berlalu, saya sudah selesai, dan tidak datang bulan lagi, hanya 3 hari saja, dan perut saya sudah tidak sakit, itu berkat anda yang menaruh dokter untuk merawat saya, terimakasih banyak Tuan atas semua kebaikan anda." Kata Gaby menundukkan kepala dengan sopan.
Zac terdiam dan mengangguk.
__ADS_1
"Jika tidak ada yang anda butuhkan saya akan masuk kembali." Lanjut Gaby.
"Ada." Jawab Zac dengan cepat.
Gaby menunggu perintah, dengan masih berada di belakang pintu kamarnya memegangi handle pintu, separuh tubuhnya tertutupi pintu.
"Buatkan aku kopi." Kata Zac.
"Kopi?" Tanya Gaby.
"Ya... Aku tunggu sekarang juga." Perintah Zac dan berlenggang pergi.
Kemudian Gaby keluar dari kamar dan menuju dapur, saat itu Zac berpura-pura memainkan ponselnya, namun matanya selalu melirik ke arah Gaby, pria itu terus memperhatika setiap geraka Gaby.
Beberapa saat kemudian kopi telah selesai.
"Ini Tuan Muda Zac." Kata Gaby menaruh secangkir kopi di atas meja kaca di hadapan Zac.
Zac melirik kopi tersebut.
"Minum kopi tanpa kudapan terasa sepi, tolong buatkan aku sesuatu."
"Apa?" Tanya Gaby.
"Apa saja boleh." Perintah Zac.
"Selera anda tinggi, saya tidak dapat membuatkan kudapan, saya akan memesankan anda." Kata Gaby.
Kemudian Gaby menuju telepon, dan dengan cepat mencari buku nomor telepon, untuk menghubungi bagian resepsionis.
"Halo, hubungkan bagian dapur." Perintah Gaby.
"Baik, tunggu sebentar..."
Namun, belum sempat resepsionis, menyalurkan teleponnya ke bagian dapur, telepon yang ada di genggaman Gaby, di ambil oleh Zac dan Zac menutupnya.
Gaby melihat ke arah Zac dengan tatapan terkejut.
Namun, Zac sendiri justru menarik lengan Gaby.
"Apa yang ada di dalam dirimu? Kau buka tipe ku, kau juga tidak special."
"Ap... Apa maksud anda Tuan Muda?" Tanya Gaby.
"Ada sesuatu yang aneh dengan diriku, kau... Apa yang sudah kau lakukan padaku." Kata Zac menatap tajam pada Gaby.
"Sa... Saya tidak mengerti apa maksud pembicaraan anda." Kata Gaby dengan suara bergetar.
"Aku... Selalu menginginkanmu... Entah mengapa... Yang ada di kepalaku tentangmu hanyalah fikiran kotor." Kata Zac.
Kedua mata Gaby membulat penuh.
Zac kemudian mencengkram kuat kedua lengan Gaby dan mendorong Gaby hingga menempel pada dinding.
Kemudian, sedikit demi sedikit Zac ingin mencium Gaby, jika saja saat itu Zac tak dapat menahannya, sebuah ledakan gairahh akan membuatnya hilang kendali.
"Sa... Saya... Tidak mau lagi... Tolong jangan permainkan saya..." Pinta Gaby menangis.
Bersambung
__ADS_1