
Saat Ben dan Daisy sedang membicakan masa kecil Ben, Gavriel tiba-tiba masuk bersama perawat.
"Aku tidak mengganggu kan?" Tanya Gavriel.
"Tidak." Kata Ben berdiri.
"Aku membawa perawat, untuk memeriksa kondisi Daisy lagi, dan aku juga harus mengobati luka mu Ben." Kata Gavriel duduk di sofa.
Kemudian Ben pun duduk di sofa bersama Gavriel, seperti biasanya hanya Gavriel yang boleh mengobati Ben.
"Maaf." Kata Ben.
"Ya?" Tanya Gavriel sembari membersihkan lutut Ben yang berdarah.
"Aku sudah menuduhmu."
"Menuduh tentang yang mana? Anak yang ada di dalam kandungan Daisy? Atau tentang perasaanku pada Daisy?" Tanya Gavriel.
Ben kemudian melihat ke arah Gavriel, dan juga melihat ke arah Daisy, saat itu Daisy sibuk di periksa oleh perawat hingga tak menyadari pembicaraan apa yang sedang Ben dan Gavriel bahas.
"Kau benar-benar memiliki perasaan pada Daisy?" Tanya Ben.
Gavriel tersenyum canggung sembari menempelkan beberapa alkohol menggunakan kapas dan penjepit.
"Sejujurnya siapa yang tidak akan terpikat oleh Daisy, dia memiliki wajah yang cantik, kepribadiannya juga menarik, tapi aku tahu diri dan sadar diri, Daisy adalah kekasihmu, jika saja kau benar-benar melepaskannya, aku tidak keberatan menjaga dan merawatnya."
Ben diam.
"Ya semua pria pasti akan langsung terpikat dengan Daisy, aku pun setiap hari rasanya seperti jatuh cinta lagi dan lagi terhadapnya." Kata Ben kemudian.
"Lalu apa kalian sudah berbaikan. Melihat perjuanganmu membawa Daisy, pasti ada sesuatu yang ada di pikiranmu Ben. Sebelumnya kau berniat membunuh bayi itu."
"Dia anakku. Daisy tidak meminum obatnya. Dan aku yakin dia anakku, setelah melihat gambar dari buku perkembangan kehamilan, ada rasa berdebar dan perasaan yang aneh. Tapi instingku mengatakan dia anakku."
"Kau sudah melihat hasil USG nya ternyata." Kata Gavriel mengangguk pelan.
"Aku sudah melamar Daisy, aku akan menikah dengannya." Kata Ben.
Gavriel seketika berhenti mengobati luka Ben, dan cukup terkejut.
"Itu bagus." Kata Gavriel melanjutkan mengobati Ben.
"Kau terkejut? Apa kau kecewa? Daisy berbaikan denganku?" Tatapan mata Ben berubah menjadi buas.
"Bagaimana bisa? Aku hanya terkejut karena kau yang awalnya selibat tak ingin menikah memutuskan untuk membina rumah tangga, kau yang tak suka terikat akan sesuatu hal, sekarang memutuskan ikatan janji seumur hidup." Kata Gavriel.
"Aku ingin berubah demi Daisy dan anakku. Tentunya aku tidak mau anakku lahir tanpa seorang ayah." Kata Ben.
Gavriel tak menjawab, ia hanya diam dan fokus pada luka Ben, tangannya sibuk mengoleskan salep luka.
"Sudah selesai di obati." Kata Gavriel.
__ADS_1
Tak berapa lama Traver pun datang, pria itu membawakan keperluan Ben.
"Tuan saya membawakan pakaian anda."
Ben mengangguk.
Gavriel berdiri dan hendak pergi.
"Kalau begitu aku permisi. Suster apa kau sudah selesai?" Tanya Gavriel.
"Ya dokter, perkembangan Nona Daisy bagus, saya pikir mood nya harus di pertahankan, dia harus bahagia." Kata perawat itu tersenyum.
"Ya... Itu tergantung orang-orang yang ada di sekelilingnya." Gavriel menjawab dingin.
"Daisy... Selamat atas pernikahanmu, semoga semuanya lancar dan kau bahagia." Kata Gavriel dengan tersenyum.
"Terimakasih."
Setelah Daisy tersenyum, Gavriel pun memutuskan untuk pergi dari ruangan itu.
Ben berdiri dan mencium kening Daisy.
"Bukankah sikap Gavriel agak aneh?" Tanya Daisy.
"Apanya?"
"Dia seperti sedang murung dan sikapnya dingin, apa dia sedang menjaga jarak??"
Ben juga merasakan jika sikap Gavriel mendadak dingin setelah Ben memberitahu jika dirinya akan menikah dengan Daisy.
"Gavriel jatuh cinta? Dengan siapa?" Tanya Daisy penasaran.
"Entahlah. Dia tak mau memberitahukan namanya." Kata Ben berbohong dengan tersenyum.
Ben tahu, ketika ia dan Daisy bertengkar, Gavriel memiliki harapan untuk mendapatkan Daisy, Ben juga tahu ketika ia gelap mata masalah kehamilan Daisy akan ada kehancuran dalam hubungannya dengan Daisy, dan Ben tahu Gavriel berharap dapat bersama dengan Daisy.
Ben pernah di posisi mencintai, dan yang di cintai nya tak memiliki perasaan yang sama, perasaannya hanya akan tenang jika orang itu ada di dekatnya.
Dan kini Gavriel sedang merasakan itu, Gavriel rela cintanya tak terbalas oleh Daisy, asalkan dia bisa menjaga dan bersama Daisy. Namun, nyatanya Ben mengetahui fakta lebih cepat bahwa anak yang di kandung Daisy adalah anaknya.
"Aku akan ganti baju dulu." Kata Ben.
Daisy mengangguk.
Saat Ben mengganti bajunya di luar, dan Daisy duduk dengan santai. Seseorang masuk ke dalam ruangannya.
Saat melihat wajah yang tak asing itu Daisy merasa jantungnya ingin meledak.
Wajah cantik dengan kulit putih yang masih kencang, meski usianya tak lagi muda.
"Nyonya Beatrice." Kata Daisy suaranya sedikit tertahan di lehernya.
__ADS_1
Beatrice berjalan dengan sedikit demi sedikit dan perlahan maju mendekat.
Tubuhnya gemetar dan tangan-tangannya juga bergetar.
Di saat itu juga Ben sudah kembali, namun pria itu mengurungkan niatnya masuk dan hanya memantau dari luar, pintu kamar terbuka sedikit ia ingin mengawasi apa yang akan wanita itu lakukan pada kekasihnya.
"Aku... Aku... Tahu... Sejak awal aku sudah merasakannya... Saat Derreck mengenalkan mu sebagai Sunny. Tapi... Tanpa sengaja aku melihat dokumen itu di tablet Mark, aku tahu itu adalah kau... Hanya saja aku sangat takut... Jika aku bicara dan mengatakan firasatku, aku takut aku akan kehilangan dirimu... anakku..." Beatrice tersungkur di tubuh Daisy dengan menangis terisak.
Mata Daisy merah, kemudian bulir-bulir air mata akhirnya terjatuh di pipi Daisy.
"Nyonya..."
"Aku ibumu... Apa kau tahu? Akulah ibu kandungmu..." Kata Beatrice.
"Aku tahu tapi..."
"Kau tahu... Apa kau juga sudah mengetahui seluruh kisahnya? Kau pasti dendam dan marah padaku... Aku tidak bermaksud membuangmu anakku... Aku hanya ingin menyelamatkan hidupmu... Maafkan ibumu ini..." Kata Beatrice berlinang air mata.
"Aku tidak pernah membencimu... Ibu...." Kata Daisy akhirnya memanggil Beatrice dengan ibu.
"Oohh... Kau menyirami dada yang kering selama puluhan tahun dan dada yang sakit ini dengan panggilan mu anakku... Katakan lagi... Panggil aku ibu lagi..." Kata Beatrice memohon dengan air mata bercucuran.
"Ibu... Bolehkah... Aku memelukmu..." Kata Daisy.
"Tentu saja... Itulah yang selama puluh-puluh tahun ingin sekali ku lakukan padamu.... Anakku... Daisy ku..." Kata Beatrice memeluk Daisy dengan erat.
"Kau anakku... Aku lah yang memberikanmu nama Daisy... Maafkan ibumu yang lemah ini..."
Daisy menggelengkan kepala.
"Kau tidak lemah, berkatmu aku hidup sampai sekarang." Kata Daisy menangis dan memeluk ibunya.
"Tapi... Bagaimana ibu tahu aku ada di sini?"
Beatrice menghapus air matanya, dan duduk di kursi.
"Ceritanya cukup panjang, dan aku bertengkar dengan Mark. Aku tidak sengaja menemukan dokumen di tabletnya. Saat itu aku sangat takut, aku pikir Mark akan membunuhmu. Tapi ternyata Lewis mengatakan jika Mark tidak dapat menyentuhmu sedikitpun karena kau adalah kekasih Benjove. Lalu aku bertanya pada Derreck, dan akhirnya dia memberitahu jika kau ada di sini. Aku sangat khawatir." Kata Beatrice.
Daisy tersenyum sembari menghapus air matanya.
"Aku... Berhutang nyawa pada Isabel, dia pelayan pribadiku, tanpanya, mungkin aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan mu lagi." Kata Beatrice menangis lagi.
Daisy memeluk Beatrice dan menenangkannya.
"Kau ibuku, dan almarhum Isabel juga ibuku. Aku senang memiliki 2 ibu."
"Jadi, ceritakan semua tentangmu, semuanya, aku tidak sabar ingin mendengarnya, tapi sebelum itu, Derreck mengatakan jika kau hamil, aku akan menjadi nenek dan dia akan menjadi paman. Aku bahagia dan tidak sabar, tapi...." Tiba-tiba senyuman dan tawa Beatrice memudar.
"Kenapa ibu?"
"Tapi, apa Ben tidak berencana menikahimu?" Tanya Beatrice.
__ADS_1
Daisy tersenyum, ia tak sabar ingin memberitahukan kabar baik itu.
Bersambung