Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 136


__ADS_3

Ben menenangkan Daisy yang di penuhi air mata, kedua pipinya basah.


"Kau memimpikan aku apa sayang?" Tanya Ben dengan menangkupkan kedua tangannya di pipi Daisy.


Daisy menggelengkan kepala.


Ben tersenyuk dan mencium bibir Daisy dengan lembut.


"Kau memimpikanku hal cabull kan..." Goda Ben.


"Bukaann... Dasar...!!!" Daisy memukul dada Ben dengan kedua tangannya.


"Terus apa?" Tanya Ben.


"Aku memimpikanmu selalu tertembak, di situasi yang sangat mengerikan, banyak asap, dan kebakaran, ada banyak sekali orang mati, dan kau juga salah satunya karena tertembak." Kata Daisy tegang.


"Bhaahahah... Hahahaa....!!!" Ben tertawa keras.


Baru kali ini Ben tertawa begitu keras dan lepas.


"Kenapa kau justru tertawa, mimpi itu terlihat begitu nyata Ben..."


Ben menahan tawanya.


"Aku tidak akan mati semudah itu." Kata Ben membelai kepala Daisy dengan kedua telapak tangannya yang besar.


"Jangan sombong begitu!!! Kau bukan dewa atau malaikat, kau tetap akan berdarah jika terluka."


Ben tertawa kecil lagi.


"Aku serius Ben!!!" Daisy melotot.


"Iyaa... Aku juga serius sayang... Tidak semudah itu orang lain membunuhku. Apalagi sekarang aku punya beberapa orang yang penting dalam hidupku yang harus ku lindungi."


"Berjanjilah kau tidak akan pernah terluka!" Kata Daisy.


Ben tersenyum.


"Ayo berjanji dulu padaku!!!"


"Baik-baik aku tidak akan terluka."


"Tidak akan pernah terluka Ben!!! Kalimatnya harus komplit!"


"Iyaa... Sayangku... Aku tidak akan pernahbterluka, aku selalu hidup untuk menjaga dan melindungi kalian. Apa janji dan sumpahku ini bisa menenangkan mu sekarang?"


"Sedikit..." Kata Daisy.


"Lalu apa yang bisa menenangkanmu sepenuhnya?" Tanya Ben.


Tangan kanan Ben membelai naik dan turun paha Daisy, kemudian dengan telunjuknya, Ben terus naik dan menyingkap handuk kimono Daisy.

__ADS_1


Perlahan, telunjuk itu bergerak dengan lembut dan masuk melalui sela-sela selangkangaan Daisy, menyingkap dari sisi kiri underware lalu masuk ke dalam bagian sensitif Daisy.


Daisy menelan ludahnya dan matanya menatap lekat-lekat mata Ben, mereka saling pandang dan Ben tersenyum ketika jarinya menyentuh bagian sensitif Daisy, mata Daisy mulai menutup dan pelukannya semakin erat di leher Ben.


Ketika Ben semakin mempercepat jarinya di bagian itu, Daisy mulai lemah dan menyandarkan kepalanya di bahu Ben, pelukannya semakin erat, dan sebuah erangaan pelan pun keluar.


"Nggghh.... "


"Kau basah..." Bisik Ben di telinga Daisy dan kemudian mengulum pelan telinga itu.


"Itu karena kau..." Kata Daisy lemah.


"Jadi, aku akan membuatmu mandi..." Bisik Ben lagi.


Kemudian Ben merebahkan tubuh Daisy di atas meja.


Wajah sayu Daisy tak mengerti, sedangkan Ben perlahan menarik ikatan tali handuk kimono milik Daisy, dan membuka handuk itu.


Terlihatlah tubuh mulus Daisy tanpa di tutupi apapun.


"Aaahh... Benn... Ini memalukan..." Kata Daisy menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya, dan merapatkan kakinya.


"Tidak... Ini cantik. Kau selalu menjadi yang tercantik di dunia ini."


Ben kemudian membuka kedua paha Daisy, dan sedikit menunduk, dan mengarahkan mulutnya pada bagian sensitive milik Daisy, seketika tangan yang menutupi dada berpindah meremas rambut Ben.


Kedua kaki Daisy terangkat dan terbuka dengan sendiri, dagu Daisy naik dan matanya terpejam, mulitnya menga-nga dan merasakan bagaimana nikmatnya permainan lidah dan mulut Ben.


Daisy tidak bisa lagi mengontrol tubuhnya yang menggelinjangg manja, ia pun mencapai pada puncaknya dan gemetar seperti tersetrum.


"Astaga... Kau sangat membuatku bergairaah sayangg..." Ben melepaskan baju dan celananya.


Kemudian mengangkat tubuh Daisy yang pasrah dan lemah, Ben pun menggendongnya dan memasukkan benda keras miliknya pada Daisy, hanya dengan sekali dorong.


Daisy sontak memeluk Ben dengan erat, dan mendesaahh.


"Aaahh...."


"Ini akan menjadi panjang, mungkin kita akan terlembat menjemput anak-anak." Bisik Ben.


"Lakukan Ben..." Kata Daisy tak sabar dan meremas kepala Ben.


Ben kemudian bergerak pelan dan semakin cepat, lalu dengan tubuh penuh peluh keringat Daisy pun berteriak tak tahan dengan semua yang Ben lakukan.


"Ngghh... Ohhh... Aahh... Benn... Teruskan... Teruskaann... "


Ben tersenyum dan membawa Daisy ke ranjang, ia pun menidurkan Daisy dan menarik laci meja, Ben mengambil pengaman dan menggigitnya, lalu Ben mengeluarkan benda keras miliknya dari dalam diri Daisy dan dengan cepat memasukkannya lagi.


"Ahhh..." Desaah Daisy setiap kali Ben menusuknya.


Tubuh Daisy bergerak naik dan turun, kedua gunungnya juga mengayun naik turun dengan cepat, ketiak Ben memompa tenaganya.

__ADS_1


Kedua gunung itupun menarik perhatian Ben, membuat tangannya gatal, ia pun memegangnya dengan erat dan meremasnya.


Beberapa kali Ben juga melumaat bibir Daisy, keringat sudah mengucur di tubuh mereka berdua membuat kulit mereka yang saling bersentuhan semakin licin.


"Aahh... Oohh... Ngghhh aahh... "


Suara Daisy memenuhi ruangan kamar yang kedap suara, membuat Ben semakin di bakar semangatnya.


Tubuh Daisy mengejang dan merasakan puncaknya, bagian sensitive nya meremas milik Ben, dan saat itu juga Ben juga mengalami klimakss yang luar biasa.


Setelah beberapa menit, tubuh Daisy tenang, Ben mencabut miliknya dan membuang pengaman yang sudah berisi sperm miliknya, Ben hendak mengambil pengaman lagi dan akan meneruskannya hingga ia puas, namun seseorang tiba-tiba mengetuk pintu berulang kali dan tentu saja siapa lagi yang berani mengetuk kamar Ben selain Traver.


"Tokk... Tok... Took....!!!"


Ben mendecakkan lidahnya dan mencium Daisy, ia tak peduli.


"Tuan... Paulo Redges menembakkan misil, dan mengenai sebelah barat daya pulau, memang jauh dan suara serta getarannya tak terdengar, tapi sepertinya targetnya adalah pulau Maladewi." Kata Traver di balik pintu kamar Ben.


Saat itu Ben berhenti, dan menahan tubuhnya di atas tubuh Daisy.


Dengan segera Ben turun dari ranjang, menyambar mantel yang ada di atas sofa, dan memakainya.


Ben pun keluar dari kamar, dan kemudian membuka pintu, terlihat Traver berdiri di depan pintu dengan wajah cukup cemas.


Daisy yang masih lemah, sebisa mungkin memakai tenaga nya dan memakai mantel, ia pun ikut keluar untuk menemui Traver.


"Ada apa?" Tanya Daisy.


"Paulo Redges sepertinya mulai melakukan penyerangan nyonya." Kata Traver.


"Bagaimana dengan Mena?" Tanya Ben.


"Sedang dalam perjalanan kemari Tuan."


"Kalai begitu, kau akan mengantar Daisy, lindungibdia, bawa pengawal sebanyak mungkin dari sini, saat Mena datang dia akan membantuku."


"Aku tidak akan pergi tanpamu Ben." Kata Daisy.


Ben kemudian menangkupkan salah satu telapak tangannya di pipi Daisy.


"Aku akan menyusul, aku janji."


"Kita akan pergi bersama." Kata Daisy lagi ngotot.


"BOOOMMM!!!" Samar-samar suara Bom pun terdengar, meski itu masih memiliki jarak yang lumayan jauh namun sudah di pastikan targetnya adalah Pulau Maladewi.


Daisy terkejut dengan suara bom yang kecil itu dan berlari masuk ke dalam kamar, matanya memandang jauh pada laut yang terbentang.


Sedikit demi sedikit beberapa kapal pun terlihat, itu adalah kapal penyerang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2