Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 248


__ADS_3

Tengah malam dimana seisi mansion tengah beristirahat, dan para pengawal sedang berganti shift, Mena keluar dari kamarnya dan memeriksa beberapa tempat dan ruangan yang menurutnya mencurigakan, sembari ia memasang alat-alat perekam dan di sisi lain Mena juga harus mencari sinyal, karena di ruangannya sinyal sengaja di blokir agar tidak ada sinyal apapun. Itu bertujuan agar Mena tak bisa menghubungi siapapun.


Jika pun di luar ruangan kamar Mena terdapat adanya Sinyal, Mena tak mungkin juga menghubungi Traver di dalam Mansion, karena ia tahu, bahkan dinding mansion pun bisa jadi dapat menjadi mata-mata dan mendengar percakapannya.


Mena mencoba bersikap biasa saja, ia keluar menggunakan pakaian tanktop berwarna hitam dengan jaket sulaman dan rok plisket sepanjang lutut, layaknya pakaian gadis-gadis desa. Beberapa pengawal bertanya padanya.


"Mau kemana?" Tanya pengawal itu.


"Aku ingin mencari angin, dan kebetulan aku dari desa, aku terbiasa tidur dengan mendengar jangkrik atau serangga yang menghasilkan suara, aku ingin mencari serangga atau hewan-hewan itu" Kata Mena memperlihatkan toples plastik berukuran sedang.


"Di sini tidak ada jangkrik atau serangga." Kata Pengawal itu.


"Tidak apa-apa, aku akan tetap coba cari, jika tidak ada aku akan masuk." Kata Mena tersenyum.


"Jangan memegang atau masuk ke sembarang ruangan, ada beberapa ruangan yang tidak boleh di masuki." Kata pengawal itu lagi.


"Tenang saja, aku mencari jangkrik, jangkrik tak mungkin ada di dalam ruangan kan." Kata Mena.


Di taman belakang, Mena melihat-lihat beberapa bangunan aneh, pondok-pondok kecil yang terawat dan di jaga oleh pengawal, di sana ada beberapa pengawal yang mendatangi Mena dan kemudian Mena berjalan pelan.


"Ada apa." Tanya pengawal itu.


"Aku mencari jangkrik atau serangga-serangga yang bisa berbunyi, aku tidak bisa tidur." kata Mena.


"Oh white Noise." Kata salah satu pengawal lagi.


"Ya..." Kata Mena.


Kemudian mereka berbincang sebentar tentang kesulitan tidur jika tak mendengar sesuatu yang mereka yakini akan bisa membantu tidur, tanpa sadar pengawal itu juga berbagi pengalamannya karena memiliki gangguan tidur juga mereka asik mengobrol, dan Mena berhasil menempelkan di beberapa pintu pondok-pondok selembar demi selembar plastik bening untuk mengambil beberapa sidik jari.


Tak hanya itu Mena juga berhasil menempelkan kamera-kamera kecil serta perekam suara di beberapa tempat.


Setelah mengobrol Mena kembali pergi dengan alasan mau mencari jangkrik, di tempat yang gelap dan mungkin adalah tempat aman, Mena memeriksa sinyal, dan ternyata di sana ada.


Dengan cepat Mena menghubungi Traver, tak berapa lama sambungan terhubung, kemudian Mena memberitahu apa yang sedang Gia rencanakan jika ingin menyerang Keluarha Haghwer untuk mendapatkan Ben, Mena juga mengatakan pada Traver jika ternyata Vanya Belando sudah mati di bunuh. Semuanya Mena katakan, bahkan tentang Gia yang meracuni Douglass, dan tentang Moran Murder yang sedang di sandera.


"Aku juga melihat, beberapa daftar kelompok mafia-mafia yang dia rekrut. Semua mafia menengah krbawah itu di janjikan kekuasaan, dan mereka berasal dari pelosok-pelosok. Aku pikir akan sangat merepotkan berurusan dengan sebegitu banyak mafia dari pelosok, mereka gila, jika sebanyak itu apakah kita mampu mengatasinya. Lalu, besok pagi Gia akan melakukan barter tahanan, dia akan menukar dengan Gaby." Kata Mena.


"Aku akan sampaikan pada Tuan Ben, kau tetap berhati-hati." Kata Traver.

__ADS_1


"Baik. Aku akan tutup teleponnya." Kemudian Mena hendak memasukkan ponselnya lagi ke dalam underware nya namun ketika ia berbalik sudah ada Heiden di belakang.


Sontak Mena terkejut dan menahan nafasnya, tanpa pikir panjang Mena menyelipkan tangannya di belakang tubuhnya dan menjatuhkan ponselnya perlahan di semak-semak agar tak bersuara.


Heiden masih menatap Mena tanpa banyak kata dan wajah datar.


"A... Aku... Anuu... Maksud saya..." Mena mendadak gagap.


"Apa yang kau sembunyikan di belakang." Kata Heiden lalu melihatnya.


Tubuhnya melewati tubuh Mena, tubuh mereka sedikit menempel, telinga mereka saling juga cukup dekat.


Heiden sedang ingin memeriksa semak-semak, namun dengan cepat Mena justru memutar wajahnya, sehingga bibirnya mencium telinga Heiden.


Sontak Heiden membeku, ia menelan ludah.


Tak sampai di sana Mena justru merayu Heiden, apapun caranya, ia ingin mengalihkan fokus Heiden agar tak memeriksa semak-semak.


"Tu.. Tuan... Maaf.. Saya tidak sengaja, itu karena A.. An... Anda terlalu dekat." Kata Mena merayu, dan berakting gugup.


Heiden kemudian tersadar dan hendak memeriksa semak-semak lagi namun dengan cepat Mena justru merangkul Heiden.


"Kenapa?"


"Karena sejak pertama kali melihat anda, saya selalu merasa gugup dan jantung saya ingin meledak. Anda sangat keren dan berkharisma."


"Aku tidak punya pacar."


"Kalau begitu bolehkah saya mencium ada sekali lagi. Saya janji ini untuk yang terakhir kalinya." Kata Mena berakting malu-malu.


Heiden kemudian mundur ia mengurungkan untuk memeriksa semak-semak namun tangan besar dan kekarnya justru beralih menangkup di rahang Mena.


Perlahan Heiden mendekatkan wajahnya, Mena adalah gadis yang cantik, jujur saja pada saat itu Mena yang hanya memakai pakaian tanktop dan rok plisket sebatas lutut, membuat Mena semakin bertambah seksi.


Mena maju dan mencium Heiden, bak gayung bersambut, Heiden pun membalas ciuman Mena, dengan lembut mulut mereka saling mengecup dan dan saling mengulum satu sama lain, Mena merangkulkan tangannya di leher Heiden, dan Heiden memeluk pinggul Mena.


Semaki lama ciuman itu semakin panas, Heiden menarik tubuh Mena semakin mendekat padanya, ia pun melepaskan jaket Mena kemudian Heiden membelai paha Mena dan menaikkan rok Mena.


Perlahan jemari Heiden masuk ke dalam underware milik Mena dan membelai pelan area sensitif Mena.

__ADS_1


"ENNGHHHH....!"


Ini adalah pertama kalinya Mena merasakan sesuatu pada tubuhnya, awalnya ia hanya ingin mengalihkan fokus Heiden, namun ia justru tenggelam dalam rencananya sendiri.


Mena hanyut dalam ciuman yang dalam, tangan Heiden masuk dan membelai area sensitif milik Mena lagi lebih dalam. Seketika Mena meremass rambut-rambut Heiden.


"Mmmhhbbb...." Mena mengerangg sembari masih berciuman dengan Heiden.


Kemudian Mena tersadar mereka masih di luar.


"Saa.. Saya.. Pikir... Tidak baik jika pengawal memergoki kita." Bisik Mena.


Pikiran Mena kini terbelah, ia ingin mengajak Heiden pergi agar Heiden melupakan sesuatu yang ada di semak-semak dan itu adalah ponselnya, pikiran kedua, Mena memang sedang terangsaang oleh permainannya yang merayu Heiden, karena ini adalah pertama kalinya ia merasakan hal seperti itu.


Kemudian Heiden melihat salah satu pondok kecil yang tidak dijaga ada di sekitar mansion, itu adalah tempat bersantai, Heiden pun mengajak Mena ke sana.


Pondok kecil itu awalnya di bangun oleh Douglas untuk anak perempuannya yaitu Gaby, yang sering menyendiri membaca buku.


Di dalam pondok itu ada ranjang kecil dan sofa, lalu ada kolam yang begitu banyak di huni ikan hias.


Heiden membuka kunci dengan sidik jarinya, dan mereka pun langsung masuk, dengan tidak sabar Heiden langsung mencium Mena ketika pintu di tutup.


Itu adalah malam yang panas, pertama kalinya Mena terhanyut oleh sesuatu yang asing namun nikmat dan mengundang ingin yang lebih.


Heiden mengarahkan kaki mereka ke ranjang, dan mereka pun berbaring di sana.


Dengan perlahan Heiden menyingkap rok milik Mena dan menarik underware Mena.


Kemudian Heiden langsung menghisap bagian milik Mena, sontak Mena terkejut dan merasakan pikirannya melayang, otaknya mendadak kosong, itu adalah sensasi baru baginya.


"OOOHHHHH....!!!!" Pekik Mena dan meremass kepala Heiden.


Saat itu Mena masih memakai pakaiannya dan roknya masih belum di lepaskan , perlahan Heiden menaikkan pakaian Mena dengan masih menghisap milik Mena, setelah tanktop dan braa milik Mena naik ke atas dada, Heiden meremass dan membelai buah dada itu dengan lembut.


Sekali lagi, Mena merasakan sensasi baru dalam selama hidupnya, ia langsung mengejang dan merasakan tubuhnya kaku namun kenikmatan menjalar di setiap sel syarafnya membuatnya ingin lagi, sehingga pikirannya mendadak kosong yang ada hanyalah keinginan lagi untuk terus melanjutkannya.


Dalam hati Mena, bagaimana rasanya bisa seenak ini, bagaimana bisa ia baru merasakan hal seperti ini, bagaimana bisa Mena tak tahu ada rasa yang seperti ini.


Mena ingin lebih, dan Heiden pun juga ingin lebih, pria itu pun juga baru kali ini merasakan sensasi yang mendesak dari balik celananya. Selama ini Heiden hanya hidup di balik bayang-bayang Gia untuk membangun rencana impian Gia.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2