
Melihat Ansella mulai menegang, dan cemas, meski ia masih bersikap setenang mungkin, namun sorot mata Ansella tak bisa membohongi Gavriel, kemudian Gavriel menarik kursi dengan pelan.
"Jadi itu benar? Kau pelaku nya?" Tanya Gavriel.
Ansella menelan ludahnya, ia berfikir apakah Gavriel dapat ia percaya.
"Aku... Tidak mau Daisy hancur." Kata Ansella.
"Kenapa? Bukankah kau membencinya, akan bagus untukmu jika Daisy hancur dan tak bahagia."
"Bukan begitu, aku tidak seperti itu lagi."
"Lalu kau seperti apa sekarang?"
"Awalnya aku hanya takut saja pada Tuan Ben, setelah kejadian di masa lalu bagaimana dia begitu bengis dan kejam, setelah itu waktu berlalu cepat, dan aku tahu dari Daisy dimana ibuku berada, pada akhirnya aku meminta tolong pada Daisy, ternyata Tuan Ben dan Tuan Traver tidak membunuh ibuku, padahal ibuku adalah wanita tamak dan rakus, sekarang aku baru sadar aku seperti ini karena ibuku yang mendidikku dengan cara yang salah, bahkan ibuku sendiri berani merampok anaknya, ia merencanakan pembunuhan untuk anaknya yaitu aku, jadi aku berfikir apa yang aku lakukan untuk Daisy tidak ada artinya sama sekali di banding dengan yang ia rasakan ketika hidup bersama kami, Daisy harus tetap mempertahankan rumah tangganya dengan Tuan Ben. Sebenarnya hanya itu yang bisa ku lakukan untuk membalas budi pada Daisy."
Gavriel tak bisa lagi melanjutkan introgasinya, pada akhirnya ia mengalah dan paham bahwa Ansella benar-benar telah menjadi seseorang yang baru.
"Aku akan pesankan makanan." Kata Gavriel.
Namun sebelum Gavriel pergi, Ansella segera menyela.
"Kenapa kau tidak melaporkanku?"
Gavriel diam dan berfikir sejenak.
"Aku... Tidak berhak melaporkan kau, karena jika buka kau, maka aku yang akan membunuhnya." Kata Gavriel.
Ansella terkejut dengan pengakuan Gavriel, namun tanpa mengatakan panjang lebar lagi, Gavriel pun pergi meninggalkan Ansella yang masih tertegun.
Ansella tak bisa menarik garis merahnya, bagaimana Gavriel akan membunuh Marry Anne.
******
Di Maladewi tepatnya, Ben sedang tertidur pulas di sofa ruang keluarga.
Saat itu matahari bahkan sudah naik, namun Ben tak kunjung bangun, Daisy akhirnya melihat kenapa pria yang bahkan bisa betah dan kuat tanpa tidur kini dia justru begitu nyaman dengan tidurnya.
Daisy menyedekapkan tangan dan melihat Ben yang tidur dengan telungkup, kepalanya miring, dan wajahnya seperti bayi yang sedang bermimpi karena tidur dengan pulasnya.
__ADS_1
Daisy berjongkok dan memandang wajah Ben dengan seksama, apakah Ben baik-baik saja.
"Kurasa dia benar-benar tidur dengan pulas." Kata Daisy.
Kemudian Daisy berdiri dan hendak pergi, namun Ben dengan cepat menarik tangan Daisy dan membuat Daisy duduk di sampingnya.
Ben memeluk Daisy, pria itu melingkarkan tangannya di perut Daisy.
"Aku merindukanmu..."
"Ya... Itu harus, jika tidak aku akan curiga kenapa kau acuh dan tak merindukanku." Kata Daisy.
"Kenapa kau pergi dari Mansion?" Suara Ben serak dan dalam karena masih di bawah kesadaran, ia sedikit mengantuk.
"Kau tanya Kenapa? Ya tentu saja untuk liburan, ini adalah tempat liburan paling indah."
"Apa kau sudah tak marah lagi?"
"Tentu saja masih."
"Tapi, kau mau bicara denganku."
"Apa anak-anak senang ada di sini?"
"Tentu saja, tapi kakek dan neneknya mengajak mereka pulang, aku akan ke rumah kedua orang tuaku."
Dengan cepat kedua mata Ben membulat, tubuhnya menegang, dan rahangnya mengerat, pikirannya melayang, apakah mereka sedang mempersiapkan untuk membawa istri dan anak-anaknya pergi? Itulah pertanyaan yang berputar di kepala Ben.
"Kenapa mereka membawa anak-anak kita?" Tanya Ben membulatkan matanya dan wajahnya semakin tegang.
Pikiran Ben mulai kacau.
"Tentu saja karena mereka masih rindu, tapi pekerjaan mereka menumpuk, jadi mereka ingin berada di dekat anak-anak sambil bekerja."
Ben membuang nafasnya pelan, ia merasa lega.
"Kenapa? Apa kau pikir aku akan pergi membawa anak-anak dan membiarkanmu?"
Ben diam, karena tebakan Daisy benar.
__ADS_1
"Aku tidak menceritakan apapun pada orang tua ku tentang masalah kita, karena aku pikir aku tak ingin ada orang lain yang ikut campur dalam urusan rumah tangga kita."
Ben diam, dan merasa sedih, dengan cara berfikir Daisy yang menjadi lebih dewasa, Ben tahu, Daisy masih muda namun ia menarik masa muda Daisy dalam cengkraman dan penjaranya.
"Aku tidak akan pergi Ben, karena jika kau akan meninggalkan ku dan ingin bersama dengan wanita itu, aku memutuskan untuk ada di depan wajahmu terus menerus, karena dengan adanya aku, aku akan terus menyiksamu, jika kau sudah tak menyukaiku aku pun tidak akan pernah berhenti ada di dekatmu dan terus menganggumu, agar kau tersiksa, itulah cara balas dendam ku padamu." Kata Daisy.
"Aku tidak pernah bosan denganmu."
"Ya... Tapi tetap saja kau punya kekasih gelap kan."
"Itu salah paham sayang, aku akan jelaskan semuanya."
Ben pun akhirnya bangun dan ia duduk di samping Daisy.
Ben mulai mengingat-ingat bagaimana Ben bisa mengenal Marry Anne.
"Aku mengenal Marry Anne karena Rafael menyukai wanita itu, tapi aku tahu dia bukan wanita yang tulus pada Rafael, sudah berulang kali, Marry Anne selalu menggoda dan merayuku. Pada akhirnya, karena dia tak berhasil merayuku, dia menikah dengan Rafael, agar bisa lebih dekat dengan ku, tentu saja dia masih tidak dapat merayuku, aku hanya tidak mengatakan pada Rafael, karena dia pasti akan terluka, namun semakin hari, aku semakin muak, dan pada akhirnya Marry Anne mengubah pesan ku pada Rafael dengan sengaja, Traver tahu dan aku juga tahu jika itu Rafael, aku mengatakan pada Traver untuk jangan menembaknya, namun Traver tetap melakukan menembak Rafael, karena Traver juga sudah muak dengan Marry Anne, dan dari sanalah Rafael memintaku bersumpah untuk menjaga Marry Anne sebelum dia mati."
Ben menceritakan tentang sumpahnya dan janjinya pada Rafael yang spontan, dan kini justru merugikannya.
Daisy mendengar dengan seksama.
"Aku tahu Marry Anne sengaja, aku dan Traver tahu, jika itu semua rencana Marry Anne, namun aku tak bisa mengatakan itu semua di hadapan orang yang sedang sekarat, aku juga sudah berjanji pada Rafael."
Daisy membuang nafasnya.
"Mungkin di matamu aku pria kejam jika aku mengatakan ini. Sebenarnya aku sudah merancang hari dimana kematian Marry Anne, namun ternyata ia lebih cepat menemui mu Daisy, rencana itu pun akhirnya meleset, lalu aku ingin membuat rencana lagi, tapi semalam ia sudah mati, aku sedang menyelidiki siapa yang telah membunuhnya." Kata Ben.
Daisy menelan ludahnya.
"Jika kau menemukan pembunuhnya apa yang akan kau lakukan."
"Tergantung, siapa yang membunuhnya."
"Apa kau akan membunuhnya juga, karena telah membunuh kekasih gelapmu." Kata Daisy.
Ben tertawa pelan, dan memeluk Daisy.
"Aku akan berterimakasih padanya." Kata Ben.
__ADS_1
Bersambung