
Saat itu Daisy mencari-cari Mena, dan akhirnya ia menemukannya di halaman Mansion.
"Apa yang sedang mereka bicarakan." Kata Daisy.
Daisy melihat Mena sedang mengobrol serius bersama Traver, dengan langkah cepat Daisy mendatangi Mena.
"Mena... Aku mencari-cari dirimu." Daisy menarik lengan Mena.
"Oh... Nona Daisy." Kata Mena.
"Kalian sedang membicarakan apa?" Tanya Daisy.
"Ahh... Itu, saya memberitahu Traver.... Oh... Tunggu dulu... Nona Daisy, apakah anda sakit lagi? Wajah anda sangat pucat." Kata Mena.
"Ti... Tidak aku tidak apa-apa... Ayo ikut denganku, ada sesuatu yang harus ku katakan padamu." Kata Daisy.
"Baik Nona." Kata Mena.
Daisy mengajak dan menggandeng Mena dengan buru-buru, sedangkan Traver banya berdiri, diam terpaku, pikirannya penasaran, ada hal aneh terjadi.
Traver seperti binatang buas yang bisa mengendus sesuatu kejanggalan meski semua hal di tutupi dengan sangat rapat.
Kemudian Traver pergi ke ruangan bawah tanah, tampat keamanan Mansion.
Sedangkan Daisy sudah bersama Mena di dalam kamarnya.
"Apa kau mengatakan pada Traver jika aku di rawat di rumah sakit?" Tanya Daisy.
"Tidak Nona. Kenapa?" Tanya Mena.
Daisy diam sejenak.
"Mena... Aku mohon, kali ini bantu aku lagi. Jangan katakan apapun mengenai aku di rawat di rumah sakit, apalagi pada Ben." Kata Daisy.
"Tapi kenapa Nona?"
"A... Aku hanya takut, jika Ben khawatir, kau tahu kan dia selalu berlebihan jika itu menyangkut diriku." Kata Daisy berbohong, namun sikapnya sangat canggung.
"Ya Nona." Kata Mena akhirnya setuju.
Daisy mengangguk.
"Kau boleh pergi." Kata Daisy.
Kemudian Mena menunduk dan pergi. Daisy duduk di tepi ranjang dan mengambil obatnya, ia pun meminumnya satu demi satu.
Setelah meminum obat-obat itu, Daisy merasa mualnya berkurang.
Daisy menarik nafas panjang dan merebahkan dirinya, ia pun tertidur.
Di tempat lain, Ben bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan.
Saat itu Traver sudah menyiapkan mobilnya.
Ketika melewati kamar Daisy, Ben ragu apakah ia harus masuk dan berpamitan, namun kemudian Ben mengurungkan niatnya dan langsung pergi ke perusahaan.
Ben bergegas pergi bersama Traver.
Hari pun semakin siang, dan Daisy masih tidur di atas ranjang, para pelayan bertanya-tanya karena Daisy begitu sering tidur dan sangat lama, mereka khawatir dan bertanya-tanya pada Mena.
Namun, Mena menjelaskan jika itu adalah efek obat yang di berikan dari dokter agar Daisy bisa istirahat.
Saat Mena masuk ke dalam kamar Daisy, dan melihat Daisy tidur dengan nyenyak sebuah pikiran juga terbesit di dalam kepala Mena.
__ADS_1
"Apakah... Nona Daisy sebenarnya menutupi sesuatu." Kata Mena.
Perlahan Mena mendekati ranjang Daisy, ia hendak memeriksa obat apa yang Daisy konsumsi, hampir saja dan sedikit lagi Mena mendapatkan obat-obat tersebut, namun tiba-tiba Daisy terbangun.
Dengan mata masih sipit dan mengantuk Daisy melihat Mena mendekat.
"Mena..." Panggil Daisy.
"Y... Ya Nona." Kata Mena terkejut ia tak mengira jika Daisy akan bangun.
"Dimana Ben?" Tanya Daisy masih dengan wajah mengantuk dan mata sipit.
"Ada di perusahaan Nona." Kata Mena.
Daisy diam sejenak.
"Sore ini ayo temui dokter Gavriel. Aku akan menghubungi nya lebih dulu." Kata Daisy.
"Baik Nona Daisy."
"Kau keluar lah, aku harus mandi dulu."
"Ya Nona." Kata Mena dan kemudian ia keluar tanpa bisa memastikan obat-obatan apa yang Daisy minum.
Sedangkan Daisy kemudian menyimpan obat-obatan itu lagi.
******
Di perusahaan, Ben duduk di kursi kebesarannya dan sedang memeriksa beberapa dokumen, saat itu salah satu staff pangkat tinggi memberikan proposal kepada Ben.
Dengan pena berwarna merah, Ben mencorat coret setiap usulan dan rencana proposal tersebut.
Tinta merah itu seperti darah, dan layaknya sedang melukai tubuh si staff yang setiap kali membawa proposal tak berguna bagi Ben.
"7 Tahun Tu... Tuan..."
"7 tahun dan kau masih sangat bodoh, apa perusahaanku hanya untuk kau gunakan untuk mengeluarkan tinjaamu!" Kata Ben dengan wajah gelap.
"Aa... Apa?" Kata staff itu dengan wajah ketakutan.
"Kau pikir aku tidak tahu? Kau selalu pergi ke kamar mandi saat jam kerja. Apa waktu yang di berikan untuk bekerja kau buang sia-sia dengan mengeluarkan tinjaamu di sini."
"Bu... Bukan begitu Tuan..."
"Kemasi barang-barangmu!!" Kata Ben melemparkan dokumen itu.
"Maa... Maaafkan saya Tuan." Kata orang itu membungkuk dan pergi.
Setelah orang staff pergi, Traver memberikan tabletnya.
"Selain merokok di kamar mandi, dia juga mengkorupsi uang santunan, lalu membawa beberapa properti-properti kecil milik perusahaan." Kata Traver.
"Haaah... Sampah!!!" Kata Ben.
Ben kemudian memutar kursinya dan melihat pemandangan dari balik jendela besarnya yang membentang ke seluruh ruangan.
Ben mengeluarkan ponselnya dan melihat alat pelacaknya, ia memeriksanya.
Wajah Ben menegang ketika ia melihat alat pelacak yang ia pasang ke ponsel Daisy menunjukkan perjalanan ke suatu tempat.
"Kemana dia akan pergi." Kata Ben lirih.
Kemudian tak berapa lama alat pelacak itu mati.
__ADS_1
Sudut bibir Ben terangkat naik.
"Kau mematikan ponselmu agar aku tidak bisa melacakmu? Kau pikir aku bodoh Daisy? Kau benar-benar meremahkan kekasihmu." Kata Ben menutup ponselnya nya.
Ben memandangi kawasan gedung yang ada di hadapannya, jalanan yang ramai seperti semut yang berbaris, Ben bermain dengan isi kepalanya sendiri.
"Traver..." Kata Ben.
"Ya Tuan..."
"Ada yang aneh dengan Daisy... Apakah, dia benar-benar berniat membalas dendam padaku? Apakah dia kembali padaku adalah kebohongan? Pada akhirnya apakah dia akan melanjutkan balas dendamnya padaku?" Kata Ben.
"Saya akan memeriksanya Tuan." Kata Traver.
Ben menarik nafas pelan.
"Tidak perlu." Kata Ben.
Traver terkejut, saat itu Ben hanya memandang lurus ke depan dengan wajah sedih.
"Biarkan saja dia, kita hanya cukup melihat apa yang akan dia lakukan ke depannya." Kata Ben.
Traver mengangguk pelan.
******
Daisy sudah sampai di rumah sakit milik Gavriel, dan Mena menunggu di luar ruangan periksa Gavriel.
Saat itu Daisy sudah berbaring di atas ranjang periksa.
Gavriel duduk dengan melihat wajah pucat Daisy.
"Jadi, kau sudah memutuskan akan melakukan USG?" Kata Gavriel.
Daisy mengangguk ragu.
"Pemeriksaan USG sangat penting, jadi aku senang kau memutuskan dan melakukannya." Kata Gavriel.
Kemudian Gavriel mengoleskan gel dingin ke perut Daisy, dan mulai memeriksa.
"Kau bisa melihatnya melalui layar tv di atas dinding." Kata Gavriel.
Saat itu Daisy hanya memejam kan matanya dan perlahan melihat layar tv di hadapannya yang menempel di dinding.
"Apa itu..."
"Itu janinnya, memang masih kecil, namun perkembangan janin sangat cepat, dia akan membesar seiring waktu." Kata Gavriel.
"Kau ingin mendengar detak jantungnya?" Tanya Gavriel.
"Aa... Apakah ada?"
Gavriel tersenyum dan kemudian memutar untuk mengeraskan volumenya.
"JEDRUG.. JDRUG.... JDRUG!"
"A... Apakah itu...." Daisy menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menangis, air matanya tak henti-hentinya keluar, ia menangis tersedu.
"Itu... Anak Ben..." Kata Daisy dengan leher tercekat.
"Ya... Anak Ben sangat sehat. Dia pasti akan tangguh seperti ayahnya." Kata Gavriel tersenyum
Daisy terus-terusan menangis, ia ingin sekali mengabarkan pada Ben, namun niat itu akan ia telan dan kubur, karena Ben tak pernah menginginkan seorang bayi, Daisy takut akan kemarahan Ben.
__ADS_1
Bersambung