
Melihat Daisy sudah memanas Ben kemudian melepaskan kemejanya sembari memcium Daisy agar tubuhnya tetap panas.
Ben kemudian mengangkat tubuh Daisy ke atas ranjang yang besar dan lembut, Ben melihat wajah sayu Daisy.
Dengan tangan kekarnya, Ben melepaskan ikat pinggangnya dan membuangnya sembarang.
Melihat tubuh polos Daisy di tambah wajah sayu yang merah karena sentuhan Ben, kepala Ben semakin berdenyut ingin merasakan bagaimana rasanya jika miliknya menerobos dan bersemayam di dalam Daisy.
Apakah itu akan muat? Apakah Daisy dapat merasakan kejantannya yang besar tanpa merasakan sakit?
Yang Ben lakukan sekarang adalah, membuat tubuh Daisy semakin panas, dan membuat Daisy semakin melayang agar merasa ingin di puaskan.
Ibu jari yang besar milik Ben menyentuh bibir Daisy dan kemudian turun kebawah, tangannya menekan dada Daisy yang terlihat menantang.
"Kau tau betapa menggodanya dirimu saat ini." Kata Ben.
Daisy tidak menjawab apapun, ia hanya memasang ekspresi pasrah karena ia mulai kehilangan akalnya akibat sentuhan Ben.
Jemari Ben terus turun hingga di atas pusar Daisy dan memutarinya dengan lembut. Daisy mengernyitkan dahi dan menutup mulutnya dengan punggung tangannya, sedangkan tangan satunya meremas bantal di bawah kepalanya.
Jemari Ben menyentuh lembut paha Daisy, sesekali Ben mengecup paha mulus Daisy dan membuat Daisy berulang kali tersentak kaget dan juga merasakan sensasi baru dalam dirinya.
Ben kemudian membuka lebar kaki Daisy membuat Daisy menutup wajahnya karena malu. Namun, Ben kemudian membuka tangan Daisy.
"Perlihatkan wajahmu, jangan menutupinya."
"Sa... Saya... Malu... Bi... Bisakah saya mandi lebih dulu." Pinta Daisy. Daisy tahu apa yang pria itu inginkan darinya. Daisy tahu, menjadi tahanan membuatnya sadar bahwa hari-harinya hanyalah untuk melayani pria yang kini ada di atasnya.
"Aku yang akan memandikanmu." Kata Ben.
Kemudian Ben melihat area sensitif milik Daisy dan menciumnya.
"Aahh...." Desahaan Daisy keluar.
Tidak sampai di situ, Ben menjilatnya dan membuatnya sangat basah, ia memasukkan lidahnya hingga benar-benar masuk ke dalam.
"Oohhh... Tuan... Ituu... Itu... Terlalu dalam." Tubuh Daisy naik dan tersentak, ia merasakan tegangan kenikmatan menyebar ke dalam sel-sel syaraf paling terkecil tubuhnya.
"Dimana aku harus memandikanmu? Apakah di sini?" Kata Ben sembari menyedot dan menyesap sekuat tenaga.
__ADS_1
"Aahhh... Aaahh... Ohhhh... Tu... Tuannn... Aahh.... Ber... Berhenti..." Daisy tidak tahu lagi apa yang ia rasakan, kepalanya seperti melayang entah kemana dengan sensasi yang mengejutkan baginya. Yang Daisy tahu, itu sangat nikmat dan ia menikmatinya.
"Berhenti? Tapi tubuhmu berkata lain, dia tidak mau aku berhenti." Kata Ben.
Kemudian Ben memasukkan satu jari nya ke dalam dengan pelan.
"Ini sangat sempit, bisa-bisa kau akan menelan dan meremas milikku." Kata Ben.
Jari tengah Ben bergerak pelan dan semakin lama semakin mempercepatnya, hingga Daisy tidak bisa lagi mengikuti akal sehat dan moralitasnya, semuanya ia tinggalkan entah dimana, dan mengeluarkan desahhan serta rintahan yang indah di telinga Ben.
"Oohh... Ahahhhh... Tu... Tuann...."
Ben semakin mempercepatnya hingga tubuh Daisy menggelinjangg dan menegang pertanda bahwa ia telah mencapai orgassme pertama.
Nafas Daisy memburu bersama dadanya yang naik turun. Wajahnya sayu dan tubuhnya mulai di banjiri dengan keringat.
Ben mencabut jari nya dan terlihat cairan bening mengalir, kemudian Ben menyesapnya ke dalam mulutnya.
Ben kemudian berdiri di atas Daisy menggunakan kedua lututnya dan membuka celananya, sesuatu yang besar dan panjang sudah berdiri tegak. Daisy menatap dengan ketakutan.
Daisy mundur dari Ben namun dengan cepat Ben menangkapnya dan ada di atas Daisy.
"Ingat siapa dirimu, jika kau menghindar satu senti saja, kau tidak akan bisa menanggungnya." Ancam Ben.
Tubuh Daisy gemetar, namun kemudian Ben menarik Daisy untuk duduk di atas pahanya, tubuh mereka kini saling berhadapan, lalu dengan rakus Ben menghisap lagi kedua dada berisi milik Daisy.
Ben meremass dan memelintirrnya secara bergantian, kadang secara bersamaan Ben juga menghisap dan mengulummnya hingga dengan kekuatan yang cukup dalam membuat Daisy meremas punggung Ben dan mendongakkan kepalanya, ia merasakan sensasi sengatan kenikmatan dalam tubuhnya.
Permainan Ben yang sangat fulgar membuatnya tidak lagi memikirkan ketakutannya, yang ada hanyalah gairahh yang ingin ia tolak namun tak mampu dan kalah dengan serangan kenikmatan.
Ben memeluk tubuh Daisy dan kemudian secara bersamaan ketika Ben masih menghisap dada Daisy, Ben membaringkan Daisy, tangan kekar Ben meluncur ke bawah dan membuka kedua paha Daisy, kali ini Ben ingin memasukkan dengan menggunakan 2 jarinya apakah itu akan berhasil, namun ternyata bagian intim Daisy masih sangat rapat dan sempit, Ben terus mengusap dan mempercepat gerakan jari-jarinya di bagian intim Daisy di barengi dengan hisapan serta remasan di dada, membuat Daisy tidak lagi memikirkan sekitar.
"Aaahhh .... Oghh.... Ngghhh...."
Semua desahann itu membuat Ben senang, dan bersemangat, hingga 2 jarinya pun akhirnya bisa masuk dan ia gerakkan dengan cepat di dalamnya.
"Aahhhh.... Ohhhh.... Tu... Tuannn... Apa yang anda lakukan...." Kata Daisy.
"Apa yang aku lakukan? Aku sedang membuat jalan agar milikku bisa memasukimu Daisy." Kata Ben.
__ADS_1
"Aagghh... Oohhh... Tu... Tuannn saya akan...."
Tubuh Daisy menegang lagi dan melengkung ke atas, itu adalah orgasme kedua yang sangat kuat dan saat itu lah Ben melakukan nya, itu kesempatannya saat Daisy merasa begitu panas dan mencapai kenikmatan puncak.
Ben perlahan memasukkan miliknya, namun kenikmatan yang membuat Daisy melayang tiba-tiba menjadi sebuah rasa sakit yang perih dan seperti sedang di robek.
"Tuann.... Sakiittt!!!"
"Tahan sedikit, ini bahkan belum masuk." Kata Ben.
"Ti... Tidak... Ini menyakitkan....A Agghhh...!!!"
Ben langsung melesat dan menghentakkan dengan satu kali dorongan."
"AAARRGGHHHH!!!" Daisy menjerit dan menangis secara bersamaan, ia merasakan panas, perih, dan seperti robekan yang menyakitkan.
Daisy tidak sadar jika jemari-jemari serta kuku-kukunya menekan punggung Ben hingga menimbulkan goresan.
"Ini... Sangat sakitt..." Rintih Daisy.
"OOOHH DAMN!! Kau benar-benar menelannya dengan baik, bahkan aku seperti akan klimakss hanya dengan memasukkannya, kau meremasnya dengan keras. OHH... ****!!!" Ben kini hanya diam dan membenamkan kepalanya di samping kepala Daisy.
Setelah menenangkan diri, Ben mulai mengangkat wajahnya dan melihat Daisy yang gemetar, ia merasakan sakit yang luar biasa, air matanya sudah mengalir dan membanjiri pipinya.
Ben kemudian mencium mata Daisy dan bibir Daisy dengan lembut, kedua tangannya mengelus wajah Daisy. Kemudian Ben menjilati air mata Daisy dengan pelan.
Ben mulai lagi, akan membuat Daisy memanas lagi, dengan cara memprovokasinya di bagian dada.
Daisy sangat sensitif di bagian itu. Ben belum bergerak, ia masih membenamkan dirinya dan bermain-main dengan dada Daisy.
Daisy menggigit bibirnya berulang kali dan Ben menciumnya dengan sangat dalam, sedangkan tangannya bergerilya kesana kemari.
Kemudian jari Ben turun dan menekan bagian intim Daisy agar membangkitkan gairahh Daisy kembali.
Perlahan Ben memutarnya lalu sedikit demi sedikit memutarnya dengan lebih cepat, Ben melihat ekspresi Daisy yang mulai berubah, ia tahu bahwa ini lah saatnya harus bergerak perlahan.
Sembari memutar bagian intim Daisy, Ben mulai bergerak pelan.
Daisy merintih antara perih dan juga enak. Daisy mulai kebingungan dengan rasa itu, apakah itu perih sakit, ataukan kenikmatan?
__ADS_1
Namun, semakin Ben bergerak sedikit demi sedikit, kini Daisy semakin bisa merasakan ritme dan irama yang membangkitkan naluri gairahnya.
beraambung