Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 282


__ADS_3

Hal yang paling Gavriel benci adalah kegagalan dalam medisnya sendiri. Gavriel selalu serius untuk hal kedokteran.


"Baiklah... Aku akan menaruhnya di loyang, entah 5 atau 3 detik, kita tak pernah tahu, yang jelas langsung buang itu ke luar. Apakah di luar sudah Clear?" Kata Gavriel.


Gaby sendiri hanya diam dan terus berdoa ia tak mau membuyarkan konsentrasi Gavriel dalam mengemban tugasnya.


"1..."


"2..."


Gavriel pun mengangkat chip tersebut, suara gesekan chip dan daging sangat menyayat hati, seperti sebuah gesekan yang becek dengan darah dan mengiris urat di sampingnya.


Perawat langsung sigap memberikan loyang dengan tangan gemetar, ia pun takut ia juga gugup, namun sebelum pekerjaan di mulai dia sudah tahu resikonya, semua hidupnya telah di dedikasikan untuk medis, jika chip tersebut meledak maka seluruh yang ada di ruangan tersebut pasti lah akan mati semua.


"3... !!"


"Buang sekarang!!!" Teriak Gavriel sembari meletakkan Chip tersebut di loyang yang perawat sudah siapkan dan sodorkan.


Sang perawat berlari dengan cepat para Dokter-Dokter yang lain juga langsung menarik ranjang pasien dan peralatan untuk berpindah ke dalam ruangan yang lain. Mereka berusaha menyelamatkan pasien.


Sedangka Gavriel tidak mungkin meninggalkan perawat tersebut sendirian, Gavriel dengan cepat berlari lebih cepat dan mengambil Chip tersebut lalu melemparkannya ke luar dimana itu adalah lahan yang memang susah di siapkan untuk membuang Chip.


Dalam 5 detik chip itu harus di lempar ke luar, atau semua orang akan mati.


Setelah Chip di lemparkan, tak ada reaksi, namun Gavriel masih dalam posisi siaga, anehnya seharusnya chip itu meledak karena sudah aktif, namun beberapa saat kemudian barulah Chip tersebut menyala warna merah.


"BUUMMM!!!" Sebuah ledakan ringan namun juga dapat membinasakan satu ruangan akhirnya meledak di luar.


Gavriel terduduk lesu di lantai dan bernafas dengan jantung yang beradu kecepatan dengan 5 detik tersebut ternyata di luar prediksinya, kurang lebih 1 menit Chip itu kemudian meledak.


Sedangkan di luar ruangan, Ben, Zac serta yang lainnya melihat ledakan tersebut, mereka memang sudah menyiapkan tempat untuk membuang chip tersebut agar ledakannya dapat di minimalisir.


"Apakah ledakan di luar itu menandakan operasinya lancar?" Tanya Moran.


"Astaga... Apa jadinya jika chip itu... Astaga... Malang sekali nasib anak itu, kenapa Gia sangat tega pada anaknya sendiri!" Kata Daisy tubuhnya mendadak lemas, ia tak bisa membayangkan jika itu adalah Zay.


Tak berapa lama, Gavriel pun keluar, ia melepaskan masker serta sarung tangannya.


Semua orang mendadak mendekat pada Gavriel meminta penjelasan dan kabar baik.


"Untungnya operasi berjalan lancar, Gaby sedang tidur. Karena dia syock, aku memberikannya obat penenang agar dia bisa istirahat, aku cukup terkejut dia mampu menahannya hingga dewasa, chip itu seharusnya menganggu aktifitasnya. Apakah selama ini dia tidak mengeluh lengannya sakit?" Tanya Gavriel pada Zac.


Zac menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Dia tidak pernah mengeluhkan tentang apapun. Hanya saja, akhir-akhir ini dia merasa terus menerus menyalahkan dirinya, dia juga malu, karena ibunya menyebabkan banyak masalah." Kata Zac.


Gavriel menghela nafas, dan mengangguk tanda mengerti.


"Ayah... Beberapa dokter akan tetap di sini menjaga Gaby, aku harus pulang karena ada sesuatu yang juga harus ku lakukan, jadi aku akan kembali besok, Gaby akan baik-baik saja sekarang." Kata Gavriel pada Moran.


"Gavriel, dia keponakanmu, dan dia cucu ku, kau tahu dia sangat berharga untukku." Kata Moran.


"Aku tahu. Aku tahu kau selalu menginginkan seorang cucu." Kata Gavriel.


Kemudian Gavriel pun berpamitan diikuti Ben dan juga Daisy yang juga pergi kembali ke mansion, di kawal oleh Traver.


Karena keadaan sudah membaik dan ketegangan sudah mengendur, Moran bisa bernafas lega, dan Zac kemudian menemui Gaby yang sudah di pindahkan ke kamar.


Zac melihat Gaby tertidur pulas, wajah polos yang tak mengerti apa itu dunia mafia, dan tubuh kecil yang lemah, membuat Zac sedih, kenapa Gaby harus menjalani kehidupan yang menyakitkan, di khianati oleh ibu kandungnya sendiri, dan di siksa oleh ayahnya sendiri secara verbal dan non verbal.


Zac menggenggam tangan mungil Gaby dan kemudian menciumnya.


"Aku akan selalu melindungi mu Gaby. Apapun yang terjadi, aku akan ada di sisi mu." Kata Zac mengecup tangan itu.


******


Gavriel sudah kembali ke Mansion dan ia langsung mencari dimana Zay.


Zay memang selalu mengatakan bahwa ia benci berada di mansion keluarga Haghwer, sehingga membuat Zay selalu tinggal di luar dan menetap di luar.


Gavriel berlari menaiki anak tangga, dan mencari dimana Zay berada, ternyata saat itu Zay sedang menonton tv dengan memakan begitu banyak cemilam dengan menaruh masker di wajahnya.


Gavriel yang merasakan rindu menggebu karena tugasnya mengoperasi Gaby, dan membuatnya ingin cepat bertemu dengan Zay, karena ia tak mau mati atau tak mau chip itu meledak, sontak langsung tertawa melihat tingkah Zay.


"Astaga... Aku benar-benar sudah gila, jatuh cinta pada anak kecil ini." Kata Gavriel kemudian mendekat pada Zay.


"Kau pulang!" Kata Zay sumringah dan membuang masker yang menempel di wajahnya lalu memeluk Gavriel dan Gavriel pun menggendong Zay yang sudah nemplok seperti monyet di tubuh Gavriel.


"Hahaha... Kau sesenang itu?" Tanya Gavriel.


"Tentu saja... Aku kesepian di sini..." Kata Zay.


"Tunjukkan padaku, jika kau senang melihatku." Kata Gavriel.


"Cup... Cup...Cuppp....!!" Zay menciumi pipi Gavriel berulang kali.


Gavriel tertawa dengan tingkah Zay, yang nemplok seperti lem padanya dan menciuminya.

__ADS_1


"Astaga.... " Gavriel menjatuhkan dirinya dan Zay di atas ranjang dan kemudian memiting pergelangan tangan Zay.


"Kau main-main denganku..." Kata Gavriel dengan tatapan penuh cinta.


"Hahahha... Aku tidak pernah main-main aku memang gemas." Kata Zay.


Gavriel kemudian mengecup leher jenjang Zay dengan lembut dan menghisapmya pelan, membuat Zay yang cengingisan merubah mimik wajahnya menjadi serius.


"Ssst...." Zay mendesaahh sedikit ketika Gavriel memasukkan jarinya ke dalam baju dan masuk lebih dalam lagi untuk menyentuh bagian tonjolan payudara Zay dengan menggunakan satu jari Gavriel.


"Gav... Tidak... Jangan lakukan dulu... Emmhhh..."


"Kenapa..." Tanya Gavriel berbisik.


"Aku... Aku... Sedang ada tamu bulanan." Kata Zay.


Gavriel kemudian tersenyum dan menaruh kepalanya di leher Zay.


"Kau mendadak lemas dan tak bersemangat." Kata Zay.


"Tidakk... Aku menertawai diriku sendiri, aku sangat bersemangat, dan tidak tahubkau sedang bulanan." Kata Gavriel.


"Maafkan aku Gav..." Kata Zay melingkarkan kedua tangannya di leher Gavriel.


"Jadi boleh aku bertanya?" Tanya Gavriel.


"Apa?"


"Tentang jumpa pers." Kata Gavriel.


"Aaa... Itu... Kenapa?" Tanya Zay.


"Kapan kau akan lakukan itu?" Tanya Gavriel.


"Besok pagi, aku sudah menghubungi para wartawan aku akan mengatakan semuanya bahwa aku dan Gege tidak memiliki hubungan apapun dan kami tidak akan menikah." Kata Zay.


"Aku akan menemanimu." Kata Gavriel.


"Tentu... Tapi... Sebaiknya aku sendirian, aku tidak ingin wartawan menyerangmu Gav, kau tahu kan mereka selalu mengatakan hal-hal yang kejam, aku takut kau terluka." Kata Zay.


"Baiklah jika itu mau mu... Tapi... Katakan dengan mantap dan lantang, bahwa kau tidak ada hubungan apapun dengan Gege Vamos." Kata Gavriel.


Zay mengangguk dan tersenyum, kemudian Gavriel memeluk Zay dengan mesra.

__ADS_1


Kali ini Gavriel sudah mantap akan memperjuangkan perasaan dan hubungannya dengan Zay, ia tak akan mengalah, setelah pertarungannya dengan chip yang akan meledak, Gavriel tahu betapa ia sangat ingin bersama dengan Zay.


Bersambung~


__ADS_2