
Malam itu setelah Zac selesai melakukan pertemuan dengan semua komandan pasukannya, yang di temani Yaron dan Charles, Zac kemudian pergi menuju kamar Gaby.
Dalam perjalanan ia menuju kamar Gaby, ada banyak pikiran di kepalanya.
Traver telah memberikan informasi rencana Gia dan menyampaikan pesan dari Ben bahwa Ben meminta Zac untuk menarik mundur semua pasukannya yang ada di Negara Timur Tengah.
Untuk menarik pasukan Zac tidak bersedia, karena Zac memiliki niat untuk melebarkan sayap kekuasaannya. Namun, untuk informasi bahwa Gia menggunakan Gaby sebagai alat untuk membunuhnya dalam waktu 3 hari itu adalah hal yang sangat keji.
Kini, yang ada di kepala Zac hanya ingin membuat Gaby, tak bisa bangun dalam 3 hari ini, agar saat peperangan berlangsung Gaby tak bisa menyaksikan nya.
Apalagi Zac begitu marah, karena Aaron telah menyentuh Gaby.
Zac berjanji, ia akan merobek dan mengiris mulut Aaron dalam pertempuran nanti.
Sayangnya untuk masalah Video Zay yang akan mempertaruhkan mental sang adik, Ben tidak memberitahu rencana apa untuk mencegah Gia menyebarkan video tersebut.
Zac membuka pintu kamar, di sana terlihat Gaby sedang duduk di kursi dan di depan meja ia telah menyuguhkan secangkir teh dengan teko mewah.
Zac tersenyum kecil dengan wajah dingin, ia lalu menutup pintu itu dan menghampiri Gaby yang duduk di kursi.
"Aku buatkan minum." Kata Gaby.
Kemudian Zac mencengkram rahang Gaby dengan lembut.
"Kau benar-benar..." Zac tak melanjutkan kalimatnya ia kehabisan kata.
"Kau tak mau minum?" Tanya Gaby.
"Kau sudah mandi dengan bersih?" Tanya Zac.
"Sudah." Jawab Gaby.
Kemudian Zac duduk di kursi dan menyilangkan kakinya, lalu ia menaruh sikunya di gagang kursi, dan menggosok bibirnya menggunakan jarinya.
"Aku akan minum jika kau juga minum." Kata Zac.
Gaby terkejut dengan kalimat Zac, namun dendam dan amarah Gaby sangat dalam, pikirannya kini pendek, tak apa jika ia mati namun Zac juga mati, yang penting balas dendamnya tercapai.
Kemudian Gaby mengambil satu cangkir lagi, dan menuangkan teh itu lagi, dengan pelan Gaby menyodorkan teh itu pada Zac, dan satu lagi untuknya.
"Aku akan minum." Kata Gaby lalu mengangkat cangkir itu dan siap menenggaknya.
Namun dengan cepat, Zac melemparkan cangkir yang ada di tangan Gaby.
"PYAARR!!!" Gaby terkejut.
Zac kemudian membuka teko lalu mencium baunya, meski samar, ia tahu itu adalah racun mematikan.
__ADS_1
Zac kemudian membawa teko itu dan membuang semua isinya ke wastafel, Gaby berdiri dan mengejar, melihat apa yang di lakukan Zac, Gaby sadar Zac sudah tahu rencananya.
"Butuh hidup dan mati berkali-kali, untuk bisa membunuhku. Kau harus belajar sesuatu Gaby, aku bukan lawan yang imbang untukmu. Jika kau masih berniat membunuhku, jangan gunakan racun itu." Kata Zac memandang Gaby.
Kemudian Zac keluar dan mengambil lagi belati perak yang Gaby bawa, lalu Zac menyodorkan pada Gaby.
"Ambil." Kata Zac.
Gaby gugup, apa rencana Zac sekarang.
"Aku jauh lebih senang, jika di bunuh dengan menggunakan senjata daripada kau racuni aku."
Dengan tangan gemetar Gaby mengambil belati itu, setelah memegangnya, Zac maju dan menggenggam tangan Gaby, lalu mengarahkan ke jantungnya.
"Tusuk dengan seluruh kekuatannmu." Kata Zac dengan tenang dan dingin.
Gaby menelan ludahnya, tangannya benar-benar gemetar, bagaimana bisa, pikirannya kacau, satu hari ia bertekad ingin membunuh Zac, namun hari ini Zac bahkan telah menyerahkan diri untuk di bunuh kenyataannya Gaby justru merasa takut.
Dengan tangan gemetar, Gaby masih berusaha untuk menusuk Zac.
"Gunakan seluruh kekuatanmu." Perintah Zac.
Gaby masih gemetar, dan tangannya justru terasa lemas.
"Kau tahu, aku hanya tidak ingin membuatmu semakin terluka, sehingga aku menutupi semua kebusukan ibumu, karena kau sangat percaya padanya, tapi jika kau benar-benar sangat dendam padaku, maka aku memberimu kesempatan untuk segera membunuhku, karena jika tidak, maka kau akan melihat bagaimana monster ini akan meluapkan seluruh amarahnya. Bunuh aku sekarang." Perintah Zac.
Gaby menangis, ia harus bisa melakukannya, itu adalah tugas yang ia harus lakukan, dan waktunya hanya 3 hari.
"Lakukan Gaby." Desak Zac lagi.
Pikiran Gaby semakin kacau, ia kalut, tubuhnya gemetaran, air matanya mengalir.
"LAKUKAN SEKARANG!!!" Teriak Zac.
"AAAARRGGHHHH!!!!! AKU MUAK!!!" Teriak Gaby.
"KLAAANGGGG!!!"
Belati itu jatuh, dan Gaby meremas kepalanya, ada banyak suara di dalam kepalanya, namun Gaby tak cukup berani untuk membunuh.
"Kau lihat, butuh keberanian yang lebih untuk bisa membunuh, karena membunuh itu tidak mudah." Kata Zac menarik Gaby.
Sontak Gaby terkejut, air matanya sudah mengalir deras, dan matanya sudah basah, ia tak bisa lagi memberontak, tubuhnya telah lemas.
Zac melemparkan tubuh Gaby di atas ranjang, sejujurnya Zac begitu marah karena ingatannya pada Aaron yang telah menyentuh Gaby terus saja mengusiknya.
Zac langsung membuka kemejanya, ia melemparkannya sembarang, lalu kedua lutut kuatnya menekan ranjang.
__ADS_1
Gaby melihat dengan pasrah, toh dirinya tak memiliki keberanian untuk membunuh, pikirnya membunuh adalah hal yang mudah meski dendamnya begitu dalam dan bergejolak.
Dengan kasar, Zac merobek pakaian tidur Gaby dan membuangnya.
"Aaarg!!!" Gaby terkejut, baru kali ini ia melihat Zac yang begitu kasar saat di atas tempat tidur.
"Kau tahu, aku bukan pria penyabar." Kata Zac
Dengan kasar pula Zac menurunkan underware milik Gaby, dan membuangnya.
"Selama ini aku hanya menahannya agar kau tak terluka, tapi bagaimana ini, kau justru terus menerus memancing kemarahanku."
"Zaac... Kau membunuh ayahku..." Kata Gaby menangis.
Zac kemudian menyumpal mulut Gaby dengan ciumannya yang kuat, kedua tangannya kemudian meremass payudaraa milik Gaby dengan tenaga yang cukup kasar.
"NGGHHH!!!"
Zac kemudian mengisap kedua buah dada yang besar dan sintal serta kenyal itu dengan kasar.
"Ngghhh.... Sakittt... Zaaac.... Kumohon... Lakukan dengan lembut." Pinta Gaby.
Zac tak peduli, ia terus membuat bekas-bekas merah di kedua buah dada Gaby dengan sangat kasar.
Hingga berulang kali, Gaby mencakar punggung Zac, karena itu terasa sakit namun juga mengundang gairah di seluruh tubuhnya.
Setelah beberapa lama, Zac menatap Gaby yang sudah berantakan, ia melihat kedua buah dada Gaby sudah begitu memiliki banyak bekas merah miliknya, dan membuat buah dada itu seperti membengkak.
"Kurasa aku sudah menghapus jejak si brengsek itu." Kata Zac.
Setelah itu Zac menciumi perut Gaby dengan lembut, sangat lembut, dan membuat bekas merah dengan hisapan pelan, Zac semakin turun dan turun hingga sampailah ia di kedua paha putih Gaby.
Dengan pelan dan lembut Zac menghisapnya.
"Ingat? Aku akan membuatmu meminta, untuk di masukki, karena kau mengatakan membenci apa yang kita lakukan." Kata Zac kemudian menghisap bagian selangka milik Gaby.
"OOOoohhh.... " Gaby meremas sprei dan matanya terpejam.
Zac kemudian melebarkan kedua paha Gaby lalu memjilat sesuatu yang sudah menggiurkan baginya, dengan lembut dan pelan Zac mulai menjulurkan lidahnya dan menjilat pelan, sentakan hebat di rasakan tubuh Gaby yang menerima rangsaangan itu.
"Aaahhh...."
Zac kemudian memasukkan satu jari tengahnya, dan Gaby menjerit.
"ZAAACCC!!!"
Tak hanya itu, Zac memainkan jarinya dan lidahnya secara bersamaan.
__ADS_1
Gaby mulai gila dengan perlakuan itu, Gaby tak bisa lagi berpikir jernih, kini otaknya kosong, yang ada di benakknya hanyalah terus mengikuti alur dimana hasratnya akan bermuara.
Bersambung~