
Saat itu Rudolf langsung merobek pakaiannya, dan turun dari bukit hendak menyelamatkan Zac.
Rudolf menutup hidungnya dan mengikatnya dengan kain tersebut.
Dengan cepat Rudolf menahan nafas, ia memapah Zac yang mulai terangsaang.
Sedangkan Aaron pun, memegangi kaki Rudolf dan menciuminya, saat Rudolf hendak berjalan, tiba-tiba Aaron menggesekkan benda miliknya.
"Siaalan!!!!!!" Teriak Rudolf.
"BUUGGHHH!!!"
"BUUGGGHHH!!!"
"Dasar anjing gila!!! Kau menggesek-gesekkan kemaluaanmu pada kaki ku, aku ini masih normal, segila-gilanya aku terangsaang aku tetap mencari wanita!!! Brengsekk!!!" Teriak Rudolf.
"Ayo Zac kita pergi." Kata Rudolf memapah Zac.
"Paman... Tolong Ayahku, dia pasti sudah masuk dalam rencana Gia." Kata Zac terengah.
"Iya aku akan menolongnya." Kata Rudolf memapah Zac.
Merasa Rudolf hanya mengiyakan saja Zac menjadi naik pitam.
"Paman!!! Lupakan aku dan cepat tolong ayahkuu!!!" Zac mendorong Rudolf.
"Ugghh...!!!" Zac mulai tak bisa menahan diri.
Rudolf menarik nafasnya dalam.
"Ibu akan marah besar, jika dia tahu ayah melakukan sesuatu dengan Gia, aku tidak mau keluargaku hancur!" Kata Zac.
Kali ini Zac menangis, ia tak ingin melihat ayah dan ibunya saling membenci dan keluarganya menjadi hancur.
"Aku mengerti Zac, tapi ayahmu tidak selemah itu." Kata Rudolf memapah Zac lagi.
"Ayoo kita ke mansion dulu." Kata Rudolf dengan suara yang berat karena memapah Zac.
"Ugghh... Tapi... Aaaghh... Ayah... Dia tak ada di sana, dia pasti.... Sudah... Di bawa pergi oleh wanita ular itu." Kata Zac.
"Mari kita percaya pada Ben, dia tak pernah mengecekan kita semua." Kata Rudolf.
"Tuan Zac... Saya hendak menghubungi Nona Gaby dan Nyonya Daisy, tapi... Ternyata Nona Gaby sudah ada di sini..." Kata Traver.
Zac melihat ke arah dimana Traver melihat, dan benar saja itu adalah Gaby.
"Gaby... Bagaimana kau bisa kemarii..." Tanya Zac tertatih.
Dengan cepat Gaby lari dan memeluk Zac, ia menangis sesenggukan.
"Assstagaa... Kau memelukku sangat erat, aku jadi ingin memakanmu sekarang... Tapi... Di sini banyak sekali orang." Kata Zac.
"Aku sudah ada di sini sejak tadi, dan hanya memperhatikan."
"Sejak kapan?" Tanya Zac.
"Sejak, ibu ku menggunakan sumpit dan meniupkan jarum pada Tuan Ben, tapi Tuan Ben mampu menghindar. Aku juga sudah tahu semuanya, bahwa ibuku meracuni ayahku. Kakek Moran yang telah memberitahuku."
"Itu baguss... Tapi, sekarang... Ayo kita ke mansion, aku tidak fokuss...Aku hanya fokus padamu saja, dan ingin memakanmu." Kata Zac.
"Bertahanlah Zac." Kata Rudolf.
Kemudian mereka membawa Zac dan pergi kembali ke Mansion. Para pasukan pun kembali dan Rudolf mengatakan tidak ada yang boleh mendekati asap terlaknat itu, karena jika semua pasukan menjadi gila akan runyam kebelakangnya.
Sedangkan di tempat lainnya.
__ADS_1
Gia sudah berhasil membawa Ben ke mansionya, ia memapah dengan usaha yang besar, karena tubuh Ben yang besar, berulang kali, Ben hendak ambruk dan berulang kali Ben yang selalu ingin menyentuh Gia, ia terus menerus memukulkan kepalanya sendiri dan memukul dinding jalan di ruang bawah tanah.
"Sialan... Kau Gia atau Daisy!" Geram Ben.
Tubuh kekar Ben sudah sangat panas, berkeringat dan sangat seksi.
Sesampainya di lantai atas, Gia langsung membaringkan Ben di atas ranjang.
"Astagaa... Kau berat Ben, tapi aku sangat menyukainya, bagaimana jika kau tidur di atas tubuhku Ben... Aku pasti semakin gila." Gia kemudian membuka kancing baju milik Ben.
Dengan cepat Ben mencengkram tangan Gia sekencang mungkin. Hingga Gia kesakitan.
"Kotor." Kata Ben.
Kemudian Gia tersenyum.
"Aku memang kotor Ben, tapi kau seharusnya menjadi milikku, bukannya kembali pada istrimu. Aku lah yang telah menyelamatkanmu. Kau hidup karena aku, dan Daisy justru mengambil dirimu, kau seharusnya mati jika tak ada aku. Istri bodohmu itu tak tahu apapun! Aku lah yang seharusnya memiliki mu, karena aku telah menyelamatkanmu dari kematian!" Kata Gia.
Gia membuka pakaian kemeja hitam milik Ben, dan begitu melihat bagaimana tubuh kekar berotot Ben, Gia sudah tak sabar ingin mencicipinya, dan semakin membuatnya terpikat.
"Aku memikirkan ini sejak lama Ben, aku ingin menyentuhmu seperti ini..." Kata Gia membelai tubuh Ben yang kekar dan berotot.
"Sialaaan..." Geram Ben tak bisa berkutik dan terus menerus tangannya mencengkram ranjang.
"Tak perlu di tahan Ben, atau kau akan gila selamanya." Kata Gia memprovokasi.
"Aku akan membunuhmu!" Geram Ben.
"Benarkah? Ayo lakukan Ben." Kata Gia menyandarkan kepalanya di atas dada Ben.
Namun, tiba-tiba saja, rambut gia di tarik mundur oleh seseorang. Saat itu pintu memang tidak di tutup, dan pengawal milik Gia sudah habis, mereka mati, dan sisanya melarikan diri.
"AAAAAA.... Sialaaann!!! Siaaapa yang berani!!!" Teriak Gia.
"Tentu saja istrinya!!!" Teriak Daisy lalu melemparkan Gia dan Gia pun membentur kursi.
"Bagaimana? Bagaimana? Itulah gunanya cincin, kau tak lihat Ben memakai cincin kawin." Kata Daisy dingin.
"Apa maksudmu..." Tanya Gia.
"Sejak kedatangan si sialan Marry Anne aku tak mau kecolobgan lagi, dan sebelum peperangan ini di mulai Mena telah memasang GPS di cincin milik Ben." Kata Daisy.
Gia menggigit giginya sendiri hingga berderit.
"Aku akan membunuhmu, kau menyalahi aturan, tidak ada mafia yang boleh memasuki Mansion milik Mafia lainnya di Pulau Kematian!!!" Teriak Gia.
Gia pun mengambil botol sampanye dan memecahkannya.
"PYAAARRR!!!" Pecahan itu muncat kemana-mana bahkan airnya mengalir di tangan Gia.
Gia langsung mengacungkan botol yang sudah meruncing ke hadapan Daisy.
"Sayangnya itu berlaku untuk Mafia, aku bukan mafia, aku istri mafia yang suaminya kau culik dan akan kau perkosaa." Kata Daisy.
"Mena!" Panggil Daisy.
Kemudian Mena masuk.
"Ya Nyonya."
"Aku ingin memberikan dia pelajaran, tangkap dan ikat dia di kursi itu." Kata Daisy.
"Dengan senang hati." Kata Mena.
"Kau... Kau pelayan sialan!!! Kau menyamar ke mansion ku!!! Kau harus mati Menaa!!!" Teriak Gia.
__ADS_1
"Sayangnya saya belum ingin mati." Kata Mena.
Mena maju dan berlari naik di atas meja lalu menendang Gia.
"BRRRUUAAKK!!!"
Gia terlempar ke meja dengan sekali tendangan melayang dari Mena.
"UGghh... Uhuggh....!!!" Darah keluar dari mulut Gia.
"Ikat dia Mena, aku akan memberikannya pelajaran." Perintah Daisy.
"Baik Nyonya."
Mena pun kemudian mengikat Gia di kursi dengan ikatan yang kencang.
"LEPASKANN!!! DASAR WANITA RENDAHAN!!! KALIAN SEMUA WANITA RENDAHAN!!!"
Setelah terikat. Daisy mendatanginya.
"Kau keluar dan tutup pintunya." Kata Daisy.
"Baik Nyonya."
Setelah Mena keluar, Daisy mengambil botol obat perangsang yang sama yang di berikan Gia pada suaminya. Botol obat yang mengeluarkan asap perangsang.
"Aku dengar ini yang membuat suamiku menjadi seperti sekarang? Traver bahkan heran, bagaimana obat ini bisa bekerja pada Ben." Tanya Daisy.
Gia diam saja dan mendengus kesakitan.
"Mari kita lihat akan seperti apa dirimu jika kau sendiri menghirup ini."
"Hahahah Kau bodoh!! Aku sudah memakan pil penangkal, itu tak akan berpengaruh padaku!!! Hahahhah!!! Dasar bodoh!!! dari dulu kau itu bodoh!!!" Kata Gia.
"Kau tidak tahu? Aku juga lulusan kedokteran terbaik di sekolahanku, hanya saja aku tidak pernah melanjutkannya, kau tidak sekolah tapi kau pintar, tapi juga bodoh, aku tahu semua obat-obatan Gia." Kata Daisy.
Kemudian Daisy mengeluarkan suntikan dan ampul kecil.
"Bagaimana dengan ini? Kau pasti tahu bukaan.. Ini obat apa? Atau kau hanya tahu obat-obatan dari herbal seperti yang kau racik?" Kata Daisy.
"Aa... Apa itu..." Tanya Gia takut.
"Benar, ternyata kau hanya mampu meracik obat-obatan Herbal." Kata Daisy.
"Ini adalah obat racika Dokter Gavriel, penetral obat yang masuk dalam tubuh, sekaligus perangsang paling ampuh yang selalu di berikan untuk Ben. Sebelum kesini aku mendapatkannya di brangkas milik Traver." Kata Daisy.
Kemudian Daisy mengambil obat ampul itu menggunakan suntikan.
"Kau tahu Gia, jika gelembung masih ada di dalam suntikan, kau bisa mati, tapi aku tidak ingin kau mati dulu, aku ingin kau merasakan siksaan dariku..." Daisy menyuntikkannya pada Gia.
"Sssh...!!" Gia bergidik ketika jarum masuk ke dalam lengannya.
"Mari lihat bagaimana kau bisa menahannya dengan obat perangsang ini, kau menggunakan cara licik pada suamiku, maka aku membalas seperti caramu, dan kau bisa menikmati tontonan gratis saat aku menyembuhkan suamiku...." Kata Daisy kemudian berjalan menuju ranjang.
Saat itu Ben masih saja mencengkram ranjang dengan tangan-tangan kekarnya yang berotot, ia tak ingin salah menyentuh, ia takut berhalusinasi, dan justru membuat kesalahan fatal, otaknya terus di paksa terjaga agar ia sadar, beberapa kali ia memukul dirinya sendiri. Ben tak ingin mengecewakan Daisy.
"Beenn..." Daisy mendekat pada Ben dengan pelan.
Ben membuka matanya.
"Kau... Kau kah itu... Kau Daisy?" Tanya Ben.
"Ya aku benar-benar Daisy."
Ben melihat ke arah lain, dan melihat Gia yang sudah teler dengan perangsang yang baru saja di masukkan, wajahnya juga babak belur.
__ADS_1
Bersambung~