
Sekali lagi Zay hanya bisa mematung, tentu saja rasa bersalah yang besar dan rasa ketakberdayaannya lebih mendominasi dirinya, ia tak percaya bahwa dirinya lah penyebab kekacauan ini.
Zay merasa menyesal karena dirinyalah ayahnya tergeletak tak bergerak dengan tubuh penuh bersimbah darah.
Carlos perlahan mundur sedikit demi sedikit, para medis berdatangan untuk mengurus luka tembakan Ben.
Daisy sedikit demi sedikit bergerak, ia tertatih berdiri dan di bantu oleh Zac.
Perlahan Daisy maju dengan kedua kakinya.
"Bawa aku Carlos dan bebaskan anakku..." Pinta Daisy, dengan mata sembab dan wajah lelah, tubuhnya di penuhi dengan darah.
"Daisy..." Panggil Derreck, namun Derreck pun juga bingung apa yang harus ia lakukan.
"Tidak!!!" Teriak Zay tiba-tiba.
"Jangan coba-coba berperan sebagai ibu untukku!!! Pergi dan jangan pedulikan akuuu!!!" Teriak Zay.
"Maafkan ibu sayang, anakku... Zay, jika selama ini ibu tidak bisa memberikan apa yang kau mau, maafkan ibu jika selama ini ibu menjadi seorang penakut untuk membelamu saat ayahmu memperlakukanmu dengan keras. Tapi, ibu selalu menyayangimu..."
"Tidak perlu berkorban untukku!!! Kau hanya harus mengurus ayah.... Kali ini selamatkan ayah, jika tidak aku akan menyesal seumur hidupp... Aku mohon selamatkan ayah, ibuu...." Kata Zay menangis meraung tak berdaya dalam cengkraman Carlos.
"Baiklah itu keputusanmu Zay, mari kita pulang." Kata Carlos berbisik di telinga Zay sembari mencekik dan menodongkan pistol pada kepala Zay.
"Zaayyyy...." Panggil Daisy menangis dan terduduk di lantai.
Zac menggenggam erat tangannya. Mengepal dan tak bisa berbuat apapun karena ia harus melindungi ibunya, ia tak ingin gegabah dengan bergerak menembaki pengawal Douglas serta ada Carlos yang sedang mengancam nyawa adiknya, karena juga masih ada ibunya yang harus dalam perlindungan.
Carlos perlahan pergi dan meninggalkan Restoran mewah itu dengan membawa Zay sebagai sandranya.
"Zay... Paman akan menolongmu percayalah pada kami!!!" Teriak Derreck.
Zay menggelengkan kepalanya.
"Aku pantas mati." Kata Zay menangis dan menghilang dari ruangan bersama Carlos.
Zay sadar dialah penyebab kekacauan itu, dan Zay sangat terpukul akan semua kebenaran yang terungkap, apalagi ayahnya masih rela tertembak demi melindungi dirinya yang sudah membangkang dan membentak sang ayah.
Tak berapa lama kedatangan Gavriel yang di tunggu-tunggu pun akhirnya tiba.
"Astaga..." Gavriel mendadak merinding dengan semua yang ia lihat.
Darah Ben begitu banyak.
"Lakukan transfusi sekarang!!!" Teriak Gavriel.
"Ada apa sebenarnya!!!" Kata Gavriel pada Derreck dan melihat ke arah Daisy yang masih mematung tak berdaya.
Kemudian pandangan Gavriel tertuju pada seseorang yang sangat ia kenal.
__ADS_1
"Kakak..." Sahut Gavriel.
"Kenapa... Kenapa... Kau..." Gavriel sontak terduduk di lantai.
"Halo adik..." Kata Douglas tersenyum dingin dan sangat seram.
Sebuah kejutan lagi yang membuat semua orang bahkan tak bisa mempercayai bahwa Douglas Scoot adalah Kakak dari Gavriel.
Semua orang melihat ke arah Gavriel dan juha Douglas, namun kali ini mereka sadar bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk melanjutkan drama kakak beradik mereka ataupun meminta penjelasan dari Gavriel, karena kondisi Ben kian kritis.
Tangan Gavriel mendadak gemetar.
"Dokter Gavriel! Kita harus segera melakukan penanganan, denyut nadi kian melemah!!!" Teriak salah satu dokter yang datang bersama Gavriel.
Gavriel langsung tersadar, ia pun mendadak bangkit dan langsung mengangguk.
"Kita lakukan di ambulance sampai kita tiba di Rumah Sakit." Kata Gavriel.
Kemudian semua medis menggangkat Ben dan membawa Ben ke Rumah sakit, semua orang pun ikut, Gavriel berjalan sembari menatap kakaknya.
"Kau masih saja menjadi seorang babu, dan sebagai anjing pesuruh." Kata Douglas.
Gavriel menahan diri, dan tak menggubris kalimat menyakitkan itu.
Hingga Traver kemudian pergi perlahan dengan masih siaga bersama Mena dan juga Casey.
"Tuan Gavriel bawa Tuan Ben ke rumah sakit khusus keluarga Haghwer agar kami bisa berjaga seketat mungkin." Kata Traver.
Kemudian Gavriel mengangguk pelan.
Daisy sudah masuk ke dalam mobil ambulance, dan kemudian di susul Gavriel namun sebelum Gavriel masuk, Zac menahan tangan Gavriel.
"Paman harus menjelaskan semuanya kenapa paman memanggil Douglas kakak."
Gavriel mengangguk pelan dan menepuk bahu Zac pelan kemudian masuk ke dalam ambulance.
Traver menarik mundur para pengawal agar mereka tetap memberika kawalan ketat hingga ke rumah sakit, semua jalan di turup agar ambulance bisa langsung melaju tanpa kemacetan.
Ketika dalam perjalanan, Traver masih diam dan tak berkata apapun.
Sepuluh menit, 20 menit hingga akhirnya iring-iringan tiba di Rumah sakit.
Saat itu semua pengawal berlari memberikan kawalan, Daisy juga berlari mengikuti para perawat membawa Ben.
Namun, pada akhirnya Ben masuk ke ruangan yang tak boleh di masuki kecuali para dokter.
Daisy melemah, tubuhnya lunglai, Zac dengan cepat memapah ibunya untuk duduk.
Derreck sendiri berdiri tak tenang, sesekali ia mondar mandir dan kemudian bersandar di dinding dengan membenturkan kepalanya berulang kali.
__ADS_1
"Ibu.... Maaf, aku tidak berguna." Kata Zac memeluk ibunya.
Daisy hanya diam seperti manusia tak berjiwa.
Namun kemudian, Daisy mengambil tangan Zac dan menggenggamnya.
"Zac, jika kau benar-benar menyayangi ibu... Jangan lakukan hal bodoh lagi." Kata Daisy.
Zac melihat dengan wajah terkejut.
"Jangan lanjutkan perasaanmu pada gadis itu, sampai kapanpun ibu tidak akan pernah merestuinya." Kalimat Daisy dingin dan penuh penekanan tanpa boleh di bantah dengan intonasi suara yang tebal.
Zac menahan nafas dan kemudian menggenggam erat tangan kedua ibunya.
"Kau mau berjanji pada ibu?"
Zac kemudian menganggukkan kepalanya, pikirannya menerjang jauh apakah ia harus maju melanjutkan keinginannya agar terbebas dari penyakit impottennya, karena hanya Gaby yang dapat membangkitkan dirinya, ataukah Zac harus memilih menjadi anak berbakti yang tak mau menyakiti hati ibunya.
"Wanita itu... Meski dia telah berubah menjadi kaya, dia tetaplah rubah, dari dulu dia memang rubah. Dengan suara lantang dan sangat berani, wanita itu meminta ibu untuk melepaskan ayahmu dari ibu, dia meminta agar Ben menjadi miliknya. Sebagai imbalannya karena telah merawat dan menyelamatkan Ben." Kata Daisy.
Zac diam sejenak. Kembali lagi bayangan dan ingatannya masih sangat jelas, saat ayahnya maju dan memberikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi dirinya.
Dan kini Zac sadar, apa yang ayahnya berikan, entah itu pelatihan atau pendidikan militer yang keras, belum bisa dan belum membuatnya sekuat dan secepat ayahnya.
Bagi Zac, ayahnya tetap mafia terhebat dengan kecepatan insting dan kecepatan gerakannya yang sangat akurat.
Namun, yang Zac sesali adalah, selama ini ia hanya mengira bahwa pelatihan serta pendidikan yang keras itu sebagai obsesi sang ayah pada dirinya.
Kini, Zac mengerti, arti dari kerasnya didikan sang ayah, bahkan hingga sampai sekarang belum bisa membuat Zac dapat mengungguli ayahnya.
Zac merasa sangat muak pada dirinya sendiri yang selalu menuduh sang ayah bahwa ayahnya tak menyayanginya, bahwa ayahnya hanya ingin menyiksa dan membuatnya menderita, padahal maksud dari ayahnya adalah agar Zac dapat menjadi kepala rumah tangga yang hebat dan tangguh, agar Zac dapat melindungi semua orang yang berharga di keluarga Haghwer.
"Ibu... Aku janji akan menjadi seperti ayah, aku akan melindungi ibu. Segera, aku akan menyelamatkan Zay. Bagiku gadis itu tidak lebih dari sejengkal jari yang tak berarti." Zac kemudian memeluk ibunya dengan erat.
Daisy menangis di pelukan Zac.
Tak berapa lama Mena datang membawakan pakaian untuk Daisy yang berantakan penuh darah yang sudah mengering.
"Nyonya mari saya bantu membersihkan diri, agar anda lebih nyaman menunggu, Tuan Ben telah di tangani dokter Gavriel, tidak akan terjadi apa-apa." Kata Mena.
"Jangan lupa sediakan makanan untuk ibuku." Perintah Zac.
"Baik Tuan Muda."
"Daisy, bersihkan dirimu, darahnya mulai mengering, jika terlalu lama akan susah untuk hilang." Perintah Derreck.
Daisy pun mengangguk pelan dan berdiri di papah Mena menuju kamar.
Bersambung
__ADS_1