Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 172


__ADS_3

"Tuan Muda... Anda salah mengartikan kalimat saya... Maksud say...."


Sebelum Gaby melanjutkan kalimatnya, Zac sudah memotongnya.


"Tadi ku suruh membuatkan ku sarapan kan." Kata Zac tanpa menengok ke belakang dan sibuk memakai dasinya.


Gaby pun merasa sedih dan berbalik, ia takut Zac akan menilainya murahan, seolah ia ingin merayu Benjove.


Gaby akhirnya berkutat di dapur, ia akan membuatkan Zac sarapan pagi.


"Tungguu... Jadi... Dia mau sarapan apa. Aku... Lupa kalau aku... Tidak bisa masak.." Gaby meremas kepalanya dan geram.


"Aaaaargggg.... Kenapa bekerja sesulittt iniiiii....!!!" Teriak Gaby.


"Apa kau gila." Kata Zac yang tiba-tiba sudah di belakang Gaby.


"Errr.... Tuan Muda, apa yang ingin anda makan pagi ini?"


"Buat saja sandwich, aku tak ingin sarapan berat." Kata Zac duduk dan membuka laptopnya.


"I... Iya Tuan... Baiikkk..." Kata Gaby loyo.


"Bagaimana cara membuatnya." Bisik Gaby pada diri sendiri.


Gaby pun mengambil beberapa telur dan roti, ia mengambil juga beberapa cabai yang ada di kulkas dan juga papripa.


Gerak gerik Gaby begitu mencurigakan, membuat Zac melirikkan matanya dan mengernyitkan kedua alisnya.


Zac perlahan mendekat di belakang Gaby, melihat Gaby tak bergerak hanya memutar-mutar telur, ia tak tahu cara membukanya.


Kemudian Gaby hendak memukulkannya ke atas meja marmer di dekat kompor.


"Eeeittttt.....!!" Zac seketika menahan tangan Gaby dari belakang.


Gaby sontak melihat ke arah belakang dan mendongakkan kepala, Zac benar-benar tinggi, dan berdiri tepat di belakang Gaby serta memegang tangan Gaby mencegah Gaby untuk memukulkan telur itu pada meja marmer.


"Kau benar-benar gila." Kata Zac.


Gaby tersenyum canggung, ia tak mengerti kenapa Zac mengatainya gila.


Zac memijit dahinya.


"Kau bersiap saja, waktumu 30 menit dari sekarang, aku akan sarapan di pesawat, jika kau yang masak sepertinya aku masih menyayangi nyawaku." Kata Zac.


"30 menit?" Gaby mendelik. Matanya membulat penuh.


"Kenapa dengan matamu." Kata Zac.


Gaby kemudian menyipitkan kedua matanya.


Zac, sedikit merasa gemas di dalam hatinya melihat reaksi cepat Gaby yang langsung menyipitkan mata.


"Tapi saya bahkan mandi selama 45 menit, itu sudah yang paling cepat bagi saya."


"Siapa suruh kau lamban, dan apa saja yang kau lakukan sejak tadi!" Kata Zac.


"Bukankah saya menyiapkan semua keperluan Tuan Muda? Jadi saya...."


"Kau mau bilang ini salahku? Siapa yang bangun siang! Seharusnya kau bangun pagi menyiapkan dirimu sendiri, setelah kau sudah siap, baru kau menyiapkan semua keperluanku. Paham." Kata Zac dingin dan melepaskan tangan Gaby.


"Waktumu tinggal 25 menit!" Kata Zac mengingatkan.


Gaby yang sadar hanya melamun karena sedang loading.

__ADS_1


"24 menit!" Kata Zac lagi.


Kemudian Gaby tersentak dan bergegas ke kamarnya untuk bersiap-siap.


Zac kembali duduk dan fokus pada laptopnya, ada beberapa hal yang harus ia kerjakan salah satunya ia akan mengakuisisi perusahaan GIANT grup, itu adalah perusahaan terbesar di AS, karena perusahaan itu memiliki hutang yang sangat banyak pada Benz group.


"Ayah terlalu lunak padanya, ataukah ayah memang sengaja membiarkannya." Kata Zac.


Kemudian Zac mengambil ponselnya dan menghubungi Traver.


"Traver, ada apa dengan Giant, dia memiliki hutang yang sangat banyak pada Benz group, tapi ayah mendiamkannya." Tanya Zac.


"Sebenarnya Tuan Ben berharap banyak pada perusahaan Giant, Tuan Ben memberikan kesempatan pada perusahaan itu untuk memperbaiki dan mengevaluasi kerugian yang mereka alami, namun sepertinya Tuan Ben juga tidak memiliki keinginan untuk mengakuisisinya entah alasannya apa."


"Siapa pemilik Giant?" Kata Zac.


"Pemiliknya sudah meninggal Tuan, dan sekaramg ada di bawah pewarisnya Gloria, membuat Giant semakin terpuruk." Kata Traver.


"Kita kesana untuk mengakuisisinya dan dapatkan perusahaan itu. Hubungi Clarissa untuk mengirimkan semua berkas nya ke email." Perintah Zac.


"Tapi Tuan, kenapa anda justru akan mengakuisisi perusahaan yang sudah rugi dan akan pailid. Bukankah itu hanya akan membuat kita menyuntikkan dana yang sangat besat." Kata Traver.


"Giant adalah perusahaan raksasa yang masih di gemari masyarakat, ku pikir yang seharusnya di bersihkan adalah orang-orang di dalam perusahaan itu agar Giant terbebas dari para parasit menjijikkan, hanya sekali lihat neraca pemasukan dan pengeluaran, aku sudah bisa pastikan mereka melakukan korupsi besar-besaran."


"Baik Tuan, saya mengerti." Kata Traver.


Setelah selesai dengan Traver Zac menutup ponselnya, kemudian ia melihat jam tangannya.


"Ck..." Zac mendecak, ia tak sabar lagi dan berdiri.


Zac berjalan menuju kamar Gaby.


"BRUUKK!!!"


"BRRUKKK!!!"


"Kenapa diam saja!" Kata Zac.


"BRUUKK!!!"


"BRRUKKK!!!"


Zac menendangi nya lagi.


"Hei.... Apa kau mati!!!" Teriak Zac.


Masih tidak ada jawaban.


Zac mulai cemas apakah ada sesuatu yang terjadi.


"Aku akan masuk!!! Hanya untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja." Kata Zac.


Kemudian Zac masuk dan melihat kamar Gaby kosong.


"Kau masih di kamar mandi?" Tanya Zac.


"BRUKKK!!!" Zac menendang pintu kamar mandi.


"Kau di dalam?" Tanya Zac.


"Tuan Mudaa..." Gaby menyahut.


"Kenapa lama sekali, waktumu sudah habis dari tadi." Kata Zac.

__ADS_1


"Maafkan saya... Sepertinya saya dalam masalah." Kata Gaby.


"Apa masalahnya, cepat keluar dan jangan membuat drama!!!"


"Ini saya... Saya.. Saya... Bagaimana saya katakan... Huuuu... Uuuuu....!!!" Gaby kebingungan bagaimana cara menyampaikannya pada Zac dan malah menangis.


"Astaga... Kenapa kau malah menangis!!!" Teriak Zac kesal.


"Tuan Muda... Apakah anda mau membantu saya, sekali ini saja... Apakah bisaa? Saya akan memberikan sisa hidup saya, atau bahkan seluruh hidup saya hanya untuk mengabdi pada anda..."


"Apa maksudmu..."


"Saya akan melakukan apapun yang anda minta asal anda dapat membantu saya..."


"Katakan saja dan jangan berbelit-belit...!!!" Teriak Zac.


"Saya... Saya... Sedang berdarah..."


"Apa!!! Berdarah!!! Apa kau jatuh!!!" Zac menempelkan tubuhnya di pintu, Zac kebingungan ia harus masuk atau bagaimana.


"Maksud saya... Saya... Sedang datang bulan, dan saya tidak memiliki persedian tampon, bisakahhh... Bisaaakahhh anda membelikannya untuk saya..." Kata Gaby meminta dengan memelas.


"Apa!!! Kau memang gila!!! Tak waras!!!" Teriak Zac.


"Tuan Muda... Saya mohon, saya akan menyerahkan seumur hidup saya untuk mengabdi pada anda... Saya mohon sekali ini saja... Sekaliiiii saja... Bantu saya."


"Kau... Kau ini.... Memang benar-benar.... !!!" Zac tak bisa berkata-kata lagi.


"Tuan Muda... Saya tidak bisa keluar dari sini, karena ini hari pertama, saat hari pertama saya selalu sakit perut dan darah selalu sangat banyak, saya tidak bisa keluar sendiri untuk membeli tampon, pasti...."


"Tidak perlu kau jelaskan secara mendetail bodoh!!!" Zac berteriak.


Nafas Zac cepat, dan jantung Zac berdebar karena kekesalan dan emosi yang naik hingga ubun-ubun.


"Saya... Minta maaf..."


"Haiishh!! Tunggu di sini dan jangan kemana-mana!!! Awas kalau kau bohong lagi!!!" Zac pun keluar.


Di luar apartmen, ia melihat Traver dan banyak pengawal sudah berjaga.


"Tuan Zac anda mau kemana..." Tanya Traver.


"Tunda penerbangan, aku akan ke minimarket sebentar,..." Kata Zac agak canggung.


"Baik Tuan." Kata Traver.


Ketika Zac berjalan keluar bangunan, ia kembali lagi ke dalam.


"Traver, minimarket terdekat dimana..." Tanya Zac.


"Tepat di depan Apartmen seberang jalan ada minimarket Tuan." Kata Traver.


"Oke." Kata Zac dan bergegas pergi.


Zac sedikit berlari di bawah sinar matahari pagi yang sedikit hangat, saat itu jalanan cukup ramai karena sudah banyak orang beraktifitas.


"Sialan." Kata Zac kesal.


Banyak sekali wanita entah muda atau sudah lanjut usia meneriaki Zac dan melambai, mereka sangat terpesona dengan ketampanan pria muda yang memiliki tubuh tinggi ideal itu.


Wajah tampannya yang begitu bersinar seolah membuat para wanita menjadi buta sesaat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2