Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 84


__ADS_3

Malam itu Lewis bergegas menemui Mark Waldorf, tanpa mengetuk pintu dan langsung membuka pintu.


Saat itu Mark Waldorf sedang melakukan Rapat di perusahaannya dengan para pemegang saham dan petinggi perusahaan, dia menekankan bahwa harus siap kapan saja jika akan ada penyerangan dari Benjove Haghwer.


"Tuan Mark Waldorf ini sangat penting." Kata Lewis dengan wajah tegang dan keringat menetes di pelipisnya.


"Baik rapat malam ini selesai." Kata Mark Waldorf.


Kemudian semua orang meninggalkan ruang rapat.


Lewis menyerahkan tabletnya pada Mark Waldorf.


"Datanya belum terkirim semua, hanya sebagian saja, tapi saat saya membuka data-data yang terkirim, saya justru menemukan informasi itu Tuan."


Mark Waldorf melihat dengan mata membulat, semua urat matanya berubah menjadi merah, tangannya mencengkram kuat tablet milik Lewis.


"Apakah ini adalah informasi yang akurat." Kata Mark dengan suara bergetar.


"Jika di lihat dari rumah sakitnya itu adalah milik Dokter Gavriel, dia tidak akan pernah memalsukan dokumen dan informasi mengenai Sample DNA dan sebagainya karena reputasi rumah sakitnya akan di pertaruhkan."


"Jadi Sunny atau Daisy itu adalah anak yang seharusnya sudah mati." Kata Mark geram.


"Tuan, mungkinkah Benjove menyembunyikan Gustav karena informasi ini, dia menggali informasi ini dari Gustav?" Kata Lewis.


"Jadi semua ada garis benang merahnya... Ha... Ha.. Ha.. Sialan Benjove itu!!! Hubungi Beatrice, aku harus memberinya pelajaran..." Perintah Mark.


"Nyonya Beatrice sedang berada di Inggris Tuan."


"Pastikan jika dia kembali langsung kurung di dalam kamarnya, jika dia mengetahui informasi ini pasti dia akan segera berlari menemui pada anak itu."


"Tapi Tuan, sebenarnya sayasedikit curiga dan merasa ada yang ganjil, apakah sebenarnya Nyonya Beatrice mengetahui ini?"


"Maksudmu, apakah Beatrice yang memanipulasi? Dia yang merencanakan agar anak itu tetap hidup?" Kata Mark.


"Sebenarnya, saya pikir ada situasi yang aneh, saat itu Nyonya Beatrice menghilang ketika keadaan Mansion sedang mengadakan pesta ulang tahun Tuan Muda Derreck, dan anda melacak lokasi Nyonya Beatrice sedang ada di Kota S. Saat itu Kota S belum menjadi kota yang maju seperti sekarang, Nyonya Beatrice mengatakan akan membeli wilayah itu dan memperbaiki perekonomiannya, tapi anda percaya karena saat itu kota S memang terisolir, dan Daisy dia tumbuh besar di Kota S bersama mantan pelayan pribadi Nyonya Beatrice. Bukankah ini ganjil?" Kata Lewis.


"Jadi, maksudmu bisa jadi, pelayan pribadi Beatrice bersekongkol untuk menyelamatkan anak itu?"


"Benar Tuan."


"Lalu bayi siapa itu, bayi siapa yang telah kita kubur pada usia 6 bulan." Kata Mark mendelik.


"Sepertinya, jika firasat saya benar, ada kemungkinan dari awal sejak di lahirkan Nyonya Beatrice memang sengaja menukar nya dengan bayi orang lain Tuan. Tapi ini hanya dugaan saya, Nyonya Beatrice lah yang mengetahui apa yang telah beliau lakukan selama ini."


"BRRAAKKK!!!" Mark memukul meja dengan emosi yang kuat.


"Tok... Tok... Tok..." Seorang sekretaris mengetuk pintu ruangan rapat.


"Tuan ada tamu, beliau menunggu di kantor anda." Kata sekretaris itu.


"Siapa malam-malam begini." Tanya Mark.

__ADS_1


"Katanya namanya adalah Ben."


Mata Mark Waldorf mendelik.


Segera setelah mengetahui nama itu Mark berdiri dan berjalan dengan langkah panjang menuju ke kantornya, Lewis mengikuti Mark dari belakang.


Mark membuka pintu kantornya, dan di sana Benjove telah duduk di sofa, di belakangnya ada Traver.


Mark masuk di ikuti oleh Lewis, pria paruh baya yang masih bugar itu membenarkan jasnya dan duduk di sofa pula, kini mereka berhadapan.


"Apa yang membawamu kemari?" Kata Mark.


"Berikan padanya Traver." Kata Ben.


Kemudian Traver melemparkan sebuah kepala tanpa tubuh di atas meja, dan itu menggelinding tepat di depan Mark.


Dengan sigap Mark berdiri, Lewis maju dan menjaga Mark.


"A... Ap... Apaa.. Yang kau lakukan...!!" Mata Mark mendelik ia merasa mual.


Darah berceceran di atas meja.


"Aku akan memanggil polisi, kau... Kau juga Ketua Serikat Mafia Gelap, bagaimana kau melakukan ini semua, mereka akan menghukum dan mengasingkanmu!!!"


"Kau menyuruh Lucy meretas dan mencuri data kami di perusahaan, aku berhak membela diri, ternyata tanganku terpeleset saat memegang pedang dan justru mengenai kepala nya, aku tidak sengaja melakukannya." Kata Ben tersenyum licik, wajahnya gelap.


Mark menjadi gemetar, ia berfikir Ben adalah orang gila.


"Kau pasti sudah mendapatkan informasi nya kan? Tentang putrimu yang kau kira sudah kau bunuh." Kata Ben.


Mark menelan ludahnya kasar.


"Aku tahu informasi itu sudah di sampaikan padamu, meski hanya separuh yang terkirim, tapi sekretarismu itu sangat teliti, melihat kalian tidak terkejut, pasti kalian sudah tahu sebelum aku datang kemari. Jadi, keadatanganku kemari adalah, jangan coba-coba menyentuh Daisy-ku. Kau paham?" Kata Ben.


"Ap... Apa?"


"Awalnya kau ingin mencuri data perusahaanku, pasti kau mengira aku menyembunyikan Gustav karena ingin menyerang bisnismu. Jadi kau ingin menyerang bisnisku lebih dulu, tapi yang sebenarnya adalah aku sedang menyelidiki status Daisy."


Mark melotot dan geram, emosinya naik pitam.


"Ya Mark. Dia kekasihku. Dia adalah wanitaku, kau tidak boleh menyentuhnya, hubungan darah kalian terputus sejak kau mengatakan akan membunuhnya, dan jangan coba-coba mendekati Daisy dengan alasan apapun atau berikutnya adalah kepalamu akan terguling." Kata Ben.


"Traver, kita pulang." Lanjut Ben berdiri dan meninggalkan ruangan itu bersama Traver.


Tanpa menunggu jawaban dari Mark, Ben pergi.


Setelah kepergian Ben, Mark bergidik dengan ancaman itu, bahkan ia juga marah, karena Ben meninggalkan kepala Lucy di ruangannya.


Mark mual berulang kali dan ia muntah, kemudian para pengawal pun bergerak untuk menyingkirkannya dan membersihkan ruangan itu.


******

__ADS_1


Pagi telah menyongsong, namun Daisy masih terlelap dalam pelukan hangat seorang pria yang saat jtu tak memakai baju. Dada bidang yang kuat dan beririt membuat Daisy merasa aman dan semakin nyaman.


Suara ponsel yang bergetar akhirnya membuat mata Daisy terbuka perlahan.


Pandangan pertamanya tertuju pada wajah tampan yang sedang terlelap memeluk tubuhnya, tangan kuat dan berotot melilit perutnya dengan posesif seolah tak boleh pergi dari sisinya.


Daisy pun mengecup kedua mata Ben dengan lembut.


Namun, ponsel yang sedari tadi bergerak membuat Daisy penasaran, ia pun berusaha sepelan mungkin melepaskan diri dari kungkungan tubuh besar Ben.


Setelah lepas, ia melihat siapakah yang menghubunginya.


Ternyata itu adalah Dokter Gavriel.


"Ya Dokter Gavriel..." Kata Daisy.


Mendengar Daisy mengatakan Gavriel mata Ben terbuka.


"Mena sudah bisa keluar dari rumah sakit, dia ada di mansion bersamaku, kau tidak akan pulang ke mansion?"


"Astaga saya senang sekali, bagaimana anda mengatakan itu, saya pasti akan segera pulang ke mansion, berjanjilah anda tetap di sana bersama Mena, saya akan datang dengan kecepatan yang tinggi." Kata Daisy semangat.


"Jangan Khawatir, saya justru akan khawatir jika anda mengebut, pelan-pelan dan sampailah di sini dengan selamat."


"Terimakasih Dokter Gavriel sampai bertemu di mansion." Kata Daisy sembari menutup ponselnya.


Saat Daisy meletakkan ponselnya Ben seketika menarik tubuh mungil Daisy untuk tidur dan memeluknya erat.


"AAaakk... Ben... Astaga... Kau mengagetkanku..." Kata Daisy.


"Kau sangat bersemangat?" Kata Ben menindiih tubuh Daisy.


"Mena sudah kembali ke Mansion, bagaimana aku tidak semangat." Kata Daisy girang.


"Benarkah." Kata Ben menatap kedua mata Daisy dengan senyum canggung, tidak bisa di pungkiri, bahwa Ben selalu merasa cemburu jika Daisy berbicara santai dengan pria lain.


Ben semakin terobsesi dengan Daisy.


"Ya, baru saja dokter Gavriel menghubungiku."


Ben mengangguk pelan, namun perasaannya berkecamuk dalam perang batin, antara apakah dia harus melarang Daisy lebih dekat dengan Gavriel ataukah membiarkannya saja.


"Tapi.... Kapan kau pulang?" Tanya Daisy mengalungkan kedua tangannya di leher besar Ben.


"Aku pulang saat kau sudah tidur dengan lelap." Kata Ben.


"Jam berapa tepatnya?"


"Tepatnya adalah hari ini dari pada membahas kapan aku pulang, aku ingin memakanmu."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2