Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 43


__ADS_3

Ben akhirnya sampai di hotel, dengan segera Ben membersihkan tubuhnya. Sedangkan Daisy merasa bahwa ia masih ingin tidur di rumahnya. Wajahnya sedikit malas dan cemberut. Daisy duduk di sofa sembari melihat ke arah luar, pemandangan malam yang hanya terlihat lampu-lampu menyala yang temaram.


Lebih dari satu jam Ben baru keluar dari kamar mandi, berulang kali ia masih merasa mencium bau amis di tubuhnya dan selalu masuk lagi ke kamar mandi, pada akhirnya ia menyemprotkan beberapa botol parfum mahal ke seluruh tubuhnya.


Saat itu Ben mengenakan handuk kimono berwarna grey dan mendekati Daisy, pria itu langsung mencium leher Daisy dengan lembut, namun Daisy reflek menghindar, membuat Daisy sendiri pun terkejut, ia sedang melamun dan mengumpati Ben, dan tanpa sadar ia menghindari Ben, lalu pandangan mata mereka saling bertemu.


"Kau menghindariku." Kata Ben.


"Sa... Sa...Ya..."


Ben kemudian berdiri, menegakkan tubuh besarnya di depan Daisy, dan meremas tengkuknya.


"Apa karena berita tentang pernikahanku. Aku tidak ingin menjelaskan apapun, tapi ini demi kebaikanmu."


Daisy menggigit bibirnya dan hanya diam.


"Seharusnya anda setia dengan calon istri anda, sikap anda ini hanya akan menyakiti perasaannya, meskipun anda menyembunyikan saya, tetap saja anda telah mengkhianatinya." Kata Daisy.


Dengan cepat Ben menumpukan lututnya di sofa dan meraih kepala Daisy, Ben mencengkram kepala Daisy dan melumaat mulut Daisy, lalu menciumi leher Daisy membuat Daisy memberontak.


"Lepaskan!!!" Teriak Daisy.


Daisy menendang Ben dan memukul Ben, bahkan karena gerakan Daisy yang tak terkontrol, tangannya menampar pipi Ben.


PLAAKKK!!!


Mata Daisy mendelik, nafasnya berderu dengan jantungnya, ia menelan ludahnya, ia tahu Ben akan murka setelah tindakannya.


Ben membuang nafasnya pelan dan memandangi Daisy yang emosi, alisnya mengernyit dan matanya menyipit.


"Apa kau cemburu?" Kata Ben.


"Maaf?" Tanya Daisy.


"Kau cemburu dengan wanita itu?"


"Tidak! Bagiku tidak penting anda menikah atau tidak, tapi akan lebih baik jika saya tidak ada di antara kalian!!" Kata Daisy.


Ben kemudian mencengkram rahang Daisy.


"Aku yang menentukan semuanya, terutama untuk hidupmu."


GLUUUURRRR!!! samar-samar terdengar suara besar yang menggelegar.


Ben segera memutar tubuhnya dan melihat ke arah luar melalui jendela besarnya, pandangan yang terlihat jauh membuat api nampak kecil, dan asap mengepul, sudah di pastikan itu adalah ledakan Boom.


Tak berapa lama Traver pun mengetuk pintu, dan Ben dengan langkah cepat membuka pintunya, Daisy melihat wajah cemas dan khawatir Ben, seketika membuatnya tidak tenang.


"Dimana lokasinya." Tanya Ben.


"Rumah Nona Daisy Tuan. Sepertinya, ada yang membocorkan informasi, jika Zaya bukan kekasih anda yang sebenarnya dan pernikahan anda palsu."


Sontak mendengar itu membuat Daisy berdiri dan mendelik, ia memandangi Ben juga Traver, 3 pasang mata kini saling menatap, bahkan Daisy pun tidak bisa mencerna dengan kalimat Traver saat menyebutkan jika wanita itu bukan kekasih Ben yang sesungguhnya, belum lagi tentang pernikahan Ben yang palsu.


"Suruh pengawal memeriksa jalan sampai ke landasan, dan bawa Daisy pergi dari sini." Perintah Ben.


"Baik Tuan." Kemudian Traver pergi.


Sedangkan Ben dengan cepat berpakaian, Daisy kebingungan melihat perilaku Ben yang mendadak seperti sangat khawatir, karena baru kali ini ia melihat wajah Ben yang biasanya tenang menghadapi apapun sekarang terlihat tegang dan cemas.


"Tu... Tuan... " Daisy belum selesai, Traver telah datang menemui Ben kembali.


"Tuan, landasan pesawat masih aman, tapi radar satelit mendeteksi ada beberapa aktifitas yang mencurigakan melalui laut." Kata Traver.


"Jalanan."

__ADS_1


"Bersih Tuan."


Ben menyiapkan pistol emasnya, dan mengecek peluru di dalamnya, suara-suara yang di timbulkan pistolnya membuat Daisy bergidik.


"Bawa Daisy pergi dari sini Traver." Perintah Ben.


"Baik Tuan. Mari Nona Daisy."


Daisy masih bimbang, dan bingung, ia tidak tahu harus apa, dan menurut saja saat Traver mengajaknya.


Di perjalanan, tepatnya lorong hotel, Daisy melihat ke arah belakang.


"Bagaimana dengan Tuan Ben."


"Jangan khawatir Nona, Tuan Ben akan menyusul."


"Tapi... Sebenarnya ada apa... Mengapa rumahku? Ada apa dengan rumahku? Lalu kenapa pernikahannya palsu?"


GLLUUUURRR BOOOMM DUUAARRRR!!!!


"AAAAAA....!!!!" Teriak Daisy melindungi kepalanya. Traver juga melindungi Daisy.


Banyak pengunjung juga menjerit, dan berlarian menyelamatkan diri.


Kali ini bangunan hotel seperti akan runtuh, serbuk-serbuk lembut berjatuhan, Daisy masih melihat ke arah belakang, Ben belum juga menyusul.


"Aku tidak bisa Traver!!!" Teriak Daisy.


Kemudian Daisy berbalik, dan berlari kembali menuju ke arah kamar hotel milik Ben.


"Nona bahaya!!!" Teriak Traver.


Daisy berlari dan terus berlari, rambut panjangnya melayang seolah-olah menari di udara, saat itu Ben telah memakai pakaian lengkap ber jas, tinggal memakai mantelnya dan melihat Daisy kembali ke kamar.


Dengan wajah terkejut Ben mencengkram lengan Daisy.


"Kenapa..." Tanya Ben.


"Sa... Saya... Tidak bisa pergi tanpa anda." Kata Daisy.


"Apa!!!" Ben mendelikkan mata besarnya yang mengerikan.


"Sa... Saya... Tidak tahu, tapi saya tidak bisa tanpa anda."


"Seharusnya ini momen penting untukmu pergi dariku, kau selalu mengatakan bahwa kau membenciku setengah mati, dan berharap aku mati. Sekarang kau justru tidak rela pergi tanpa aku." Kata Ben.


"Entahlah!!! Yang jelas mari kita bersama-sama Tuan Ben, sebenarnya ada apa ini Tuan!!" Kata Daisy.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan." Kata Ben.


"Tapi, saya tidak mau berpisah dengan anda." Kata Daisy.


Ben memijit pelipis nya, tak berapa lama Traver datang.


"Maafkan saya Tuan."


"Tidak masalah, pastikan para pengawal memberi perlindungan jalan."


"Baik Tuan."


Ben kemudian menggandeng Daisy dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya membawa pistol.


Segera Traver mengawal Ben serta Daisy, dari belakang sembari mengontak para pengawal melalui earphone.


Para pengunjung lain sudah berhamburan menyelamatkan diri, sedangkan Ben dan Daisy baru saja sampai di loby.

__ADS_1


"DOOORRR!!!"


"DOORRR!!!"


"DDODODDODODORRR....!!!"


Tembakan beruntun dan membabi buta menembaki loby.


Terlihat para pengawal Ben yang jumlah nya tidak terlalu banyak sedang berjuang menghalau mereka yang tiba-tiba saja sudah berada di depan hotel.


"Traver, bagaimana tidak bisa terdeteksi!!!"


Traver menghubungi pengawal pengawas untuk antariksa, yang memantau satelit.


"Tuan, satelit milik kita di ledakkan."


Ben menggertakkan giginya.


DOOORRR... DOOOORRR...DOOORRR....


Pengawal Ben mulai terdesak dengan jumlah penyerang yang terlalu banyak.


"Sial, pengawal tidak akan bisa bertahan dengan jumlah mereka."


"Saya sudah memberikan sinyal merah Tuan."


PRRAANNGGG!!!


PRAANGGG!!!"


Tembakan mulai mengenai lift dan semakin mendekat ke arah mereka.


Ben kemudian memakai mantel besarnya yang ada di bahunya.


"Berpegang padaku erat-erat." Perintah Ben pada Daisy.


Ben kemudian mengulurkan pistolnya menggunakan tangan kiri, sedang tangan kanannya mendekap Daisy.


"Traver kawal." Kata Ben.


Traver mengeluarkan pistolnya dan mengambil 1 senapan dari salah satu pengawalnya yang tewas.


Kemudian Traver maju lebih dulu dan diikuti oleh Ben, para pengawal lain pun melakukan tembakan perlindungan.


DOOORRRR!!! DOOORRRR!!!!


DOODOODDOODDOORR!!!!


Tembakan saling menyerang, mobil telah rusak, dan para penyerang semakin mendesak.


DOOOORRR!!!


DOOORRRR!!!


Saat berjalan keluar, Ben melihat banyak tembakan melayang mengenai para pengawalnya.


Dan mata jeli Ben melihat salah satu peluru menargetkan Daisy. Ben memutar tubuh nya untuk melindungi Daisy dan memeluk Daisy.


SREETTTT!!!! Peluru itu menyerempet lengan kekar Ben.


"Sshhh...!" Ben menggeram.


Daisy melihat ada sesuatu yang tidak beres kemudian ia mendongak dan melihat lengan Ben telah berlumur darah


" Tu... Tuan... Anda berdarah..."

__ADS_1


Mata Daisy seketika ber air, belum lagi ia benar-benar sedang merasakan seolah-olah berada di tengah-tengah neraka, berada di antara hidup dan mati, melihat Ben terluka pikirannya menjadi kalut dan takut.


bersambung


__ADS_2