
Gavriel sudah selesai di tangani, ternyata luka si kepalanya tidak terlalu serius.
Saat itu Gavriel sudah selesai mandi, dan Zay sedang sibuk memperhatikan dan memutar lalu membolak balikkan botol-botol obat yang harus Gavriel minum.
Tiba-tiba Gavriel memeluk Zay dari belakang dan mengecup pelan leher Zay, lembut dan dalam.
"Aku merindukanmu." Kata Gavriel.
"Rambutmu basah." Kata Zay meringis.
"Kau sedang apa?" Tanya Gavriel.
"Obatnya banyak sekali, tadi dokter bilang kau harus minum obat sebelum tidur, obat yang mana?" Tanya Zay sibuk membaca botol-botol obat.
"Obat yang ini." Gavriel kemudian mencium bibir Zay dengan lembut dengan menyentuh dagu Zay mengarahkan padanya.
Gavriel masih memeluk Zay dari belakang, dan pelukan itu begitu lembut dan hangat.
"Kau belum berjanji padaku." Kata Zay mendorong Gavriel pelan.
"Tentang?" Tanya Gavriel.
"Tidak akan kembali menjadi mafia dan fokus menjadi dokter lagi." Kata Zay.
Gavriel kemudian melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang.
Zay menyusul dan duduk timpuh di hadapan Gavriel dengan wajah imut.
"Jangan menatapku dengan wajah itu." Kata Gavriel.
Zay semakin membuat wajah imutnya.
Gavriel tersenyum dan menarik tubuh Zay kepelukannya, mereka terjatuh di atas ranjang dengan saling berpelukan.
"Aku belum bisa pastikan itu." Jawab Gavriel.
"Kalau kau tetap melanjutkannya, aku akan pergi." Kata Zay hendak bangkit dan melepaskan diri dari pelukan Gavriel.
"Baiklah. Aku janji." Kata Gavriel dengan cepat.
Zay terdiam dan akhirnya tersenyum puas.
__ADS_1
"Tapi, beritahu alasannya." Kata Gavriel.
Zay terdiam.
"Aku harus tahu alasannya kenapa kau tidak mengijinkanku menjadi mafia."
"Aku lelah." Kata Zay.
"Lelah?"
"Perang yang tak ada habisnya, terluka, mental yang hancur, perasaan takut yang tak boleh di perlihatkan, kesedihan mendalam, lalu amarah yang timbul, dan balas dendam belum lagi banyak korban jiwa yang mati, dan aku lelah menunggu mu kembali dari peperangan, seperti saat aku lelah tanpa kasih sayang ayahku, aku ingin hidup layaknya pasangam normal yang saling mencintai dan hidup normal, aktifitas yang normal, jalan-jalan normal, aku sudah cukup merasakan bagaimana hidup di keluarga mafia, dan aku membencinya, sebaik ayah melatihku menjadi mafia, aku tak ingin memakai didikannya. Aku membenci pertarungan dan membenci mafia." Kata Zay memeluk Gavriel.
Gavriel menghela nafasnya panjang dan memeluk Zay dengan erat.
"Apapun kemauanmu, asal kau tidak pergi dariku, mari kita saling komunikasikan semua yang kau inginkan dan kita akan mencari solusinya. Aku berjanji akan menurutimu Zay." Kata Gavriel mencium kepala Zay.
Zay tersenyum dan semakin erat memeluk Gavriel.
******
Pulau Tanpa Nama~
Heiden kembali di Mansion Pulau Tanpa Nama, ia menghadap pada Gia yang sedang duduk santai menyesap alkohol.
"Tuan Douglas mati terpenggal Nyonya. Tapi, dari mimik wajah dan gesturnya Tuan Zac tak berniat membunuh Tuan Douglas namun, Tuan Ben memprovokasinya." Kata Heiden.
Gia tersenyum puas.
"Untuk apa Ben datang dan memprovokasinya? Ada alasan apa?" Tanya Gia.
"Belum ada kepastian Nyonya. Saya rasa ini dendam pribadi atau hanya rasa benci Tuan Ben pada Tuan Douglas." Kata Heiden.
"Ku kira Douglas pintar, ketika kau membongkar bahwa aku dan Charles sedang ingin menggulingkannya, tapi dia dengan mudah nya percaya padamu hanya dengan kau membongkar, rahasiaku dan Charles." Kata Gia.
"Kau sudah bekerja keras Heiden untuk mengambil kepercayaan Douglas. Agar kau bisa meracuninya." Kata Gia.
"Terimakasih Nyonya."
"Lalu bagaimana Charles." Tanya Gia.
"Sepertinya Tuan Zac sudah percaya pada Charles Nyonya. Tapi kali ini pertaruhannya sangat besar, kita kehabisan pasukan Nyonya dalam peperangan ini. Saya juga punya firasat buruk, bahwa Charles akan berbalik berkhianat pada kita. Mata-mata yang saya kirimkan untuk mengawasi Charles, menangkap gerak-gerik Charles bahwa dia menyukai Nona Zay." Kata Heiden.
__ADS_1
"Aku berusaha keras agar terlepas dari Douglas, dia memiliki tubuh yang sangat sehat, racun-racun yang ku campurkan di makanannya sangat lamban bereaksi, karena racun itu memang di desain tak berasa dan tak tercium, efeknya lama namun, sangat fatal. Aku berusaha memprovokasinya agar melakukan peperangan dengan Zac, aku tahu dia akan mati karena reflek tubuhnya sudah mulai berkurang, sebelum instingnya sadar bahwa aku meracuninya, dia harus cepat mati, dan Zac telah memenggal kepala Douglas, sekarang Gaby pasti akan kembali ke sini karena membenci Zac, Aaron akan menjadi suami Gaby. Masalah Charles yang menjadi abu-abu, seharusnya aku tahu lebih awal. Bagaimana jika kita tarik Charles kembali, agar Charles ada di pengawasan kita, kita butuh pasukan lebih, pasukan Brandon cukup kuat." Kata Gia.
"Baik Nyonya dan selamat Nyonya anda sudah berhasil menyingkirkan Tuan Douglas." Lanjut Heiden
"Butuh perjuangan untuk lepas darinya. Lalu bagaimana Vanya Belando?"
"Saya membuang jasadnya ke laut." Kata Heiden.
"Cih... Dia dengan bangga ingin mendapatkan Ben, dia kira dia siapa. Ben adalah milikku. Saat Aaron dan Vanya Belando datang untuk menggabungkan kekuatan mereka dengan Douglas, Vanya sangat percaya diri meminta imbalan untuk memiliki Ben. Aku sangat benci wajahnya, kau pintar Heiden, bisa membuat mereka berbalik dan bekerja sama dengan kita, kau pintar membujuk mereka, jika mereka tidak mau bergabung dengan kita dan justru melaporkan pada Douglas saat itu kita benar-benar akan hancur. Dan kau juga sigap langsung membunuh Vanya Belando, hanya aku yang bisa memiliki Bem, kali ini target kita adalah Daisy." Kata Gia menyesap kembali alkoholnya.
"Bagaimana dengan Moran Nyonya." Tanya Heiden.
"Bunuh dia. Tua bangka tak berguna. Dulu dia adalah mafia kuat, namun dia begitu naif, hanya karena memikirkan Douglas. Padahal, dia masih punya satu anak lagi. Benar-benar pilih kasih." Kata Gia tersenyum mengejek.
"Baik Nyonya. Lalu, Aaron Vince sudah menagih janji, dia akan mendatangkan pasukannya untuk anda dan menjaga anda di Pulau Tanpa Nama, namun dengan syarat bahwa saat Aaron Vince membawa pasukannya, Gaby sudah ada di mansion untuk menikah dengannya."
"Benar juga karena rencana untuk menghabisi Douglas, pasukan kita sudah berkurang banyak, namun Douglas mati. Itu nilai plus sekali. Sekarang aku butuh kekuatan. Bagaimana caranya merebut Gaby dari Zac?" Tanya Gia.
"Saya akan hubungi Charles segera Nyonya." Lanjut Heiden.
Kemudian Heiden pun berbalik hendak pergi.
"Heiden." Panggil Gia lagi.
"Ya Nyonya."
"Lenyapkan Yana Scoot, dia sudah tak berguna. Biarkan dia berkumpul dengan kakak tirinya, Douglas Scoot." Kata Gia.
"Segera Nyonya." Kata Heiden pergi.
Gia kemudian tersenyum.
"Douglas, maaf, aku meracunimu, membuat reflek tubuhmu menurun, membuatmu tak bisa bergerak lincah, maaf, karena sebenarnya, aku sudah muak padamu. Heiden adalah orangku, dia berpura-pura menjadi sekretaris pribadi yang sangat setia padamu, tapi sebenarnya, aku sudah membangun pasukan lebih dalam dengan akar yang kuat tanpa sepengetahuanmu. Terimakasih, karena kau sudah mengambil semua harta milik Yana Scoot, sekarang adik tirimu itu tak berguna lagi, kalian akan segera berkumpul di alam baka. Mari bersulang." Kata Gia menyesap alkoholnya.
Namun, tak di sadari oleh Heiden, Moran sudah mendengarkan semua pembicaraan Gia dan Heiden.
"Tidak sia-sia aku berpura-pura, hingga datang ke sini, untuk Zac tidak membunuhku. Sepertinya Zac juga sadar, jika aku tidak benar-benar ingin berbalik arah, sepertinya informasi ini sudah cukup aku harus segera memberitahu Zac. Dasar cucu sialan, jika bukan karena cucuku, aku tidak akan berbuat sejauh ini.." Kata Moran.
Dengan gesit Moran pun memanjat lagi balkon demi balkon dan turun, mengelabui beberap pengawal.
"Astaga mansion ini tak ada sensor sama sekali. Menyedihkan. Anakku, kau benar-benar hidup menyedihkan, kau tak pintar dalam urusan mafia, semoga kau tenang di sana." Kata Moran.
__ADS_1
Bersambung~