Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 78


__ADS_3

Mobil masih melaju namun saat itu mereka tidak tahu, jika Ben dan Daisy sedang melakukan sesuatu yang mendebarkan.


Hingga sebuah guncangan pelan membuat kepala Daisy terbentur kaca jendela.


Ben kemudian mengetuk sekat.


"Menepi dan berhenti sebentar." Perintah Ben.


Kemudian mobil pun perlahan mengurangi kecepatan dan melambat, mereka mengambil lajur untuk berhenti dan iring-iringan mobil itu secara bersamaan berhenti di suatu tempat.


Para pengawal yang ada di mobil, semuanya keluar dan berjaga.


Sedang Daisy yang semakin panas dan telah merasakan orgasmeenya berkali-kali dari permainan kecil tangan Ben di area sensitif Daisy mulai tidak bisa menahannya lagi, apalagi lidah serta mulut Ben tidak hanya tinggal diam dan terus menerus membuat hisapan-hisapan sensuall.


"Benn..." Kata Daisy meremas rambut dan kepala Ben.


Kemudian Ben menaikkan tubuh Daisy agar Daisy dapat memasukkan benda miliknya ke dalam milik Daisy.


"Kali ini kau yang memimpin." Kata Ben.


"Bagaimana... Bagaimana aku bisa?" Kata Daisy ragu.


"Kau bisa. Masukkan sekarang." Kata Ben.


Kemudian dengan sedikit mengangkat pantatnya, Daisy memasukkan benda keras yang tegak berdiri nan besar itu ke dalamnya.


Daisy mengigit bibirnya, dan dia kesusahan karena itu sangat besar.


Baru sampai di ujung, Daisy mengambil nafas, namun dengan cepat tangan besar Ben menurunkan pantat dan pinggul Daisy, membuat seluruhnya pun masuk ke dalam Daisy.


Daisy seketika mendongak, tubuhnya tersentak kuat, dan membulatkan matanya, ia terkejut karena semuanya masuk sangat dalam penuh dengan rasa kenikmatan luar biasa.


"Aaahh...." Kata Daisy mendesahh pelan sembari menutup mulutnya.


"Enak?" Tanya Ben dengan berbisik di telinga Daisy dan mengulumnya.


"Yeaah..." Kata Daisy.


"Mulai bergerak pelan." Kata Ben menyentuh kedua pantat Daisy.


Daisy pun mulai bergerak, tangan Ben meremas pantas Daisy, sedangkan tangan satunya meremas dan bermain di dada serta area sensitif Daisy.


"Nghh... Aaahh... Oohhh... Hmmmmhh...." Erangann Daisy semakin tertahan, Daisy berusaha sekuat tenaga dan sekeras mungkin agar suaranya tidak keluar.


"Kau sangat cantik Daisy." Kata Ben memamdangi Daisy.


"Daisy dengan cepat menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Jangan memandangiku seperti itu, aku sangat malu."


Ben kemudian menurunkan kedua tangan Daisy dari wajah.

__ADS_1


"Aku ingin melihat mu, kau benar-benar cantik."


"PLAAKKK!!!" Ben kemudian memukul pelan pantat Daisy.


"Nghhh...." Daisy mengerang lagi, bukan kesakitan yang ia rasakan, namun justru dorongan rangsangann kenikmatan yang lebih kuat dan ingin di puaskan.


Daisy semakin liar, ia mendapatkan ritme dan irama yang membuatnya mabuk, akhirnya Daisy merasakan orgasme nya lagi, tubuh indahnya melengkung sempurma dan memarik kepala Ben ke dalam dadanya dengan memeluk erat.


"Ooohh.... Aahhhh.... Oohhh..." Kata Daisy dan langsung menggigit bibirnya, ia tidak mau seseorang mendengarnya.


"Kerja bagus sayang. Sekarang serahkan sisanya padaku." Kata Ben.


Ben menekan tombol, dan kursi mereka pun menjadi alas tempat tidur, Daisy tercengang.


"Kenapa tidak dari tadi?" Kata Daisy.


"Agar aku bisa merasakan kau yang menjadi liar di atasku." Kata Ben membalik tubuh Daisy berada di bawahnya.


Ben langsung mendorong miliknya dan memompa tenaga serta pinggul nya maju dan mundur, gerakan Ben sangat terbatas karena ruangan yang tidak memungkinkan baginya, namun semua itu tetap bisa membuat Daisy merasakan kenikmatan lagi.


Ben mencumbbu Daisy dengan lembut, dan pada akhirnya Ben pun mengeluarkan benihnya di dalam Daisy dengan erangan yang di tahan.


"Gggrrmmmm...." Geraman Ben dalam dan tubuhnya menguat, sentakan-sentakan kuat pun membuat Ben menaruh milik nya lebih dalam lagi di milik Daisy.


Namun para pengawal di luar sudah tahu, mobil yang sedikit bergoyang, dan samar-samar mendengar erangann serta desahaan atau rintihan Daisy, membuat mereka cukup berdebar, semua pengawal pria memasang punggung mereka pada mobil yang mereka jaga dan mengawasi sekitar.


"Sepertinya akan menjadi malam panjang." Kata Traver.


"Tuan, saya mengkhawatirkan seseorang yang sedang memata-matai kita sejak kita keluar dari kediaman Derreck Waldorf." Kata salah satu komandan pengawal.


"Biarkan saja dulu, jika kita sudah sampai di mansion baru tangkap saja dia."


Tak berapa lama Ben membuka jendela sedikit, dan Traver mendatangi Ben.


"Ya Tuan."


"Kita lanjutkan perjalanan, pulang ke mansion." Perintah Ben.


"Baik Tuan."


Daisy menyandarkan tubuhnya di dalam pelukan Ben, dan jas milik Ben menutupi tubuh mungil Daisy.


Perjalanan di lanjutkan, dan malam kian sepi dengan ketenangan yang senggang tanpa lalu lalang mobil.


"Akhirnya apa kau akan kembali menetap di mansion?" Tanya Daisy sembari masih memejamkan matanya.


Ben mengelus pelan rambut Daisy.


"Mmm..." Jawab Ben dengan tenang.


"Jadi? Apakah aku akan tetap menjadi tahanan mu?" Tanya Daisy.

__ADS_1


Ben memandangi Daisy.


"Kau tetap tahananku, kau adalah tahanan ranjang yang ku cintai. Tidak ada yang boleh menyentuhmu, bahkan jika itu hanya sehelai rambutmu, bahkan jika itu hanya menyentuh nafas yang kau buang, karena aku telah jatuh cinta pada tahanan ranjangku sendiri. Kau adalah kekasihku." Kata Ben mencengkram rahang Daisy dengan lembut lalu mengecup nya.


Daisy tersenyum.


"Aku senang mendengarnya, semoga kita juga bisa berbagi ranjang." Kata Daisy.


"Mulai sekarang, kita akan tidur dengan ranjang yang sama." Kata Ben dengan wajah tanpa ekspresi, namun pikirannya melayang pada sesuatu yang tak Daisy ketahui, Ben masih memiliki berbagai pendaman lara dan trauma.


Mobil mulai masuk bergantian dan berurutan ke dalam mansion milik Benjove, semua pelayan juga sudah menanti, mereka akan memberikan salam pada Daisy.


Daisy keluar dengan mengenakan Jas milik Ben, dan di gendong oleh Ben.


"Ini memalukan aku benar-benar tidak berani menatap semua orang." Bisik Daisy di leher Ben.


"Aku menyembunyikan wajahmu sayang, ingat kau harus menebus nya, kau berhutang padaku." Kata Ben santai.


"Bukankah aku begini gara-gara siapa? Kau merobek pakaianku. Kau tahu itu, pakaian kesayanganku." Kata Daisy.


Kali ini Daisy pura-pura sudah tidur, Daisy merasa malu karena pakaiannya robek, tentu saja meskipun ia memakai jas milik Ben, itu tidak cukup menyembunyikan pakaiannya yang robek karena ulah Ben, itu di sebabkan jas yang di pakai Daisy tetap kedodoran, jadi Ben mennggendong Daisy dan menutupinya.


Ben masuk ke dalam mansion, semua pelayan menyapa sembari membungkuk.


"Selamat datang kembali Tuan Ben dan Nona Daisy. Kami sangat senang dan bersyukur."


Ben memberikan isyarat pada Traver.


"Nona Daisy sedang tidur, kalian bisa kembali." Kata Perintah.


"Baik Tuan."


Kemudian Ben mengajak Daisy menuju kamarnya, dan membaringkan Daisy ke atas ranjang besar miliknya.


Daisy kemudian membuka matanya.


"Apakah tidak ada yang menyadari?" Kata Daisy.


Ben tersenyum kecil.


"Apa yang kau takutkan, kau Nyonya di sini."


"Tetap saja aku malu!!!" Kata Daisy melihat pakaiannya yang robek tak layak pakai.


"Haruskah kau membalas budimu sekarang?" Tanya Ben sembari melepaskan jas dan pakaian Daisy dengan lembut.


"Tu... Tu... Tunggu dulu... Ka... Kau masih ingin melakukannya?" Tanya Daisy.


Ben kemudian turun dari ranjang dan melepaskan baju serta celananya.


"Dia belum tuntas." Kata Ben memberikan isyarat pada sesuatu yang susah di puaskan telah berdiri dan membesar.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2