Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 118


__ADS_3

Tak berapa lama Gavriel sudah datang dan langsung menuju ruangan Ben.


Saat itu Ben hanya berdiri menatap langit-langit luar yang begitu cerah melalui jendela besarnya yang membentang di hiasi tirai yang besar menjuntai ke bawah.


Ben berdiri dengan memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana dengan sudah menggulung kemeja dan mengendurkan dasinya.


Sudah lebih dari 3 tahun Ben tak pernah meminum alkohol, bahkan sejak Ben memutuskan membawa Daisy pindah ke maladewi dan melangsungkan pernikahan di sana hingga melahirkan di sana.


"Kau akhirnya memanggilku?" Tanya Gavriel yang baru sampai dan berdiri di ujung pintu ruangan Ben.


Ben menengok sekilas tanpa memberikan argumen apapun dan kemudian melihat langit kembali.


"Setelah kau mengabaikan ku, bahkan tak mengundangku di pernikahanmu, kenapa tiba-tiba memanggilku." Kata Gavriel berjalan dan duduk di kursi .


Ben kemudian duduk juga di kursi.


"Ada yang aneh dengan Daisy." Kata Ben.


"Aneh?" Tanya Gavriel.


"Katanya dia kehilangan dirinya, Daisy mengatakan sesuatu yang membuatku mengingat diriku di masa lalu." Kata Ben.


"Tentang kehilangan dirinya? Kekosongan hati?" Sambung Gavriel yang sudah paham tentang kepribadian Ben.


Ben mengangguk.


"Dan dia mengatakan bahwa dirinya merasa kesepian." Kata Ben.


Gavriel diam dan mendengarkan dengan baik.


"Katanya kehidupannya monoton." Lanjut Ben lagi.


Ben merasa sangat sedih mendengar Daisy mengatakan semua itu padanya, berbeda dengan dulu, Ben tentu tak akan menghiraukan apa yang di katakan Daisy, yang Ben inginkan hanyalah Daisy ada di sampingnya dan menjadi tahanan ranjangnya.


Namun, selama ini Ben selalu berusaha untuk membuat Daisy nyaman agar Daisy semakin ingin bersamanya, Ben berusaha selalu mewujudkan segala yang Daisy inginkan meski Ben berjuang mati-matian merubah sifatnya.


"Aku mati-matian menahan diri dan merubah semua watak burukku demi agar Daisy nyaman di sampingku, aku berusaha sekuat mungkin agar Daisy tak merasa kecewa padaku lagi." Kata Ben.


"Baiklah, sekarang sepertinya aku tahu yang kau maksud, Daisy sedang berada di vase peralihan." Kata Gavriel.


"Peralihan?"


"Ya, perubahan hormon. Saat awal hamil, Daisy juga terpengaruh dari hormon, dia sensitif, gampang marah, sedih dan tersinggung, sekarang mungkin Daisy merasa bosan, jenuh, dan merindukan dirinya yang dulu, wanita setelah melahirkan akan mengalami perubahan drastis pada tubuhnya, tak lagi sama seperti dulu lagi. Untuk Daisy untungnya bentuk tubuhnya kembali seperti dulu lagi, dia masih langsing, tapi perutnya, kulitnya, dan mentalnya tak lagi sama dengan yang dulu. Daisy sedang merasa jenuh dengan kegiatan monoton, kegiatan berulang-ulang dan terus menerus. Berikan dia kebebasan sedikit agar memiliki waktu untuk dirinya sendiri." Kata Gavriel.


"Daisy juga mengatakan itu, katanya dia membutuhkan waktu untuk sendiri beberapa hari dan menikmati waktunya yang sendiri." Kata Ben.


"Mmm... Jika boleh aku akan memeriksa Daisy. Itu jika boleh, karena kau marah padaku dan tak mengundangku ke pernikahanmu, karena aku menyukai Daisy dan kau pasti masih kesal waktu itu aku memiliki niat benar-benar ingin menjaga Daisy dan menjaga anakmu belum lagi aku mengaku bahwa akulah ayah dari anak yang di kandung Daisy."


"Kau bisa memeriksanya." Kata Ben.

__ADS_1


"Apa?" Gavriel sontak menengok ke arah Ben.


"Haruskah kuulangi." Kata Ben malas.


"Kau sungguh-sungguh?!" Gavriel terkejut.


Ben mengangguk.


"Ada banyak perubahan besar dalam dirimu, kau tidak memiliki paranoid lagi?" Tanya Gavriel.


"Tidak, bahkan Daisy sudah sering pergi keluar masuk mansion sendirian, aku percaya sepenuhnya padanya." Kata Ben.


"Kau masih meminum obatmu?" Tanya Gavriel.


"Tidak bahkan sudah sejak lama, ketika Daisy memutuskan untuk kembali aku tidak meminum obatku lagi, mungkin karena Daisy juga melahirkan anak-anak yang pintar dan lucu, sehingga aku menjadi lebih lembut." Kata Ben.


"Ya... Kau bahkan tidak memberitahuku bahwa Daisy melahirkan."


"Aku memanggil dokter wanita. Aku menentang dokter pria yang akan melihat tubuh istriku apalagi... Istriku akan melahirkan..." Kata Ben canggung.


"Ya, aku tahu meski kau tak memanggilku dan tak memberitahu, aku tahu semua, karena kami para dokter memiliki ikatan organisasi." Kata Gavriel.


Ben mengangguk.


"Jadi, dimana Daisy." Kata Gavriel.


"Ada di kamar. Kau periksa dia setelah selesai kau bisa menemuiku lagi di sini."


"Kau tidak khawatir aku akan melakukan sesuatu pada Daisy?"


"Melakukan apa? Kalau kau ingin, sudah kau lakukan sejak dulu. Temui dia periksa apa ada yang salah dengan istriku, ku harap dia cepat kembali seperti biasanya." Ben benar-benar murung dengan keadaan Daisy.


Gavriel mengangguk dan berjalan, namun baru beberapa langkah ia berbalik.


"Kau tidak sedang mengujiku kan? Aku masih sangat membutuhkan kepalaku, karena selepas dari sini aku ada jadwal operasi." Kata Gavriel.


Ben melihat dengan dingin.


"Periksa istriku dan kembali kesini!" Perintah Ben dengan datar dan dingin.


"Oke... Baik." Kata Gavriel tertegun.


Gavriel pun naik ke kamar dimana pintunya sudah terbuka.


Di sana terlihat Daisy sedang duduk sendirian di kursi balkon, Gavriel mengetuk pintu pelan dan Daisy menoleh.


"Aku boleh masuk?" Tanya Gavriel.


"Masuk dan tutup pintunya kembali Gavriel, aku terganggu dengan suara berisik para pelayan yang mondar-mandir." Kata Daisy dingin.

__ADS_1


"Oh... Baik." Kata Gavriel menutup pintu.


Daisy kemudian duduk di tepi ranjang, ia siap untuk di periksa.


"Aku tidak sakit." Kata Daisy.


"Aku tahu itu, kau baik-baik saja. Kau bugar dan sehat." Kata Gavriel.


"Tapi, jiwaku sepertinya sedang tersesat." Lanjut Daisy.


Gavriel mengeluarkan peralatannya dan tertawa kecil mendengar penuturan Daisy.


"Kau hanya sedang dalam masa peralihan." Kata Gavriel.


"Peralihan?" Tanya Daisy.


"Hormon mu tak stabil, apalagi kau habis melahirkan dan menyusui." Lanjut Gavriel menekan dada Daisy dengan stetoskopnya.


Saat tangan sedikit lebih dekat pada dadanya, tiba-tiba jantung Daisy berdetak dan berdegup aneh, Daisy sontak melihat ke arah Gavriel.


Tanpa sengaja Gavriel pun melihat ke arah Daisy, tatapan mereka saling mengikat.


"Ada apa?" Tanya Gavriel.


"Ti..Tidak ada... Sepertinya ini bukan masa peralihan, ada sesuatu yang aneh." Daisy memalingkan wajahnya, ia tak tahu setan apa yang ada dalam tubuh dan pikirannya.


Sedangkan Gavriel sendiri mengakui bahwa dirinya masih saja memikirkan Daisy, siapa yang tak akan terpikat dengan Daisy, wanita cantik yang begitu istimewa.


Gavriel selesai memeriksa Daisy.


"Aku akan memberikan vitamin." Kata Gavriel.


Daisy mengangguk, mereka sama-sama canggung, namun mereka hanya tetap diam membisu.


Ketika Gavriel merapikan peralatannya, sesuatu terjatuh dan buru-buru Daisy ingin membantu, namun tangan mereka saling bertabrakan, mereka sama-sama saling berjongkok di samping ranjang.


Wajah mereka begitu dekat, jantung Daisy berdesir, tubuhnya memanas, sedangkan Gavriel seperti manusia yang tak berdaya di hadapan malaikat yang penuh daya pikat.


Gavriel langsung terpikat begitu saja, tanpa sadar wajah dan kepala mereka sedikit lebih dekat dan lebih dekat.


Hanya beberapa inc, bibir mereka hampir saja menyatu, tidak ada yang benar-benar sadar, tidak ada yang benar-benar ingin berhenti, setan dalam diri mereka lah yang saling berbisik mengatakan untuk terus lanjut.


Daisy menelan ludahnya, tangannya meluncur tanpa sadar bertengger di pipi Gavriel.


"Gavriel, sepertinya aku sudah gila." Kata Daisy.


Gavriel tersadar dengan kalimat Daisy dan memilih dengan cepat untuk mundur, pantattnya terhempas di lantai dan sejenak Gavriel menutup mata menyadari apa yang baru saja mereka lakukan.


Gavriel menelan ludahnya, ia bersyukur petaka itu tak berlanjut, jika dia benar-benar mencium Daisy, kepalanya pasti akan hilang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2