
Gaby merasa semakin tak nyaman dengan gelagat Xuan Yuan, kemudian ia pun memutuskan untuk pergi ke toilet.
"Ibu, aku ke toilet sebentar." Bisij Gaby pada ibunya.
Gia mengangguk dan tersenyum.
Xuan Yuan yang sudah mengincar Gaby pun ikut berdiri.
"Saya juga izin ke toilet sebentar." Kata Xuan.
"Baiklah, kalau kau luang jaga Gaby." Kata Douglas pada Xuan.
"Baik Tuan Douglas." Kata Xuan.
"Panggil aku ayah, kita akan menjadi keluarga." Perintah Douglas lagi.
"Baik ayah..." Xuan tertawa dan diikuti yang lainnya.
Kemudian Xuan pun diam-diam mengekor pelan di belakang Gaby yang tak sadar bahwa dirinya sedang di ikuti.
Zac melihat Gaby pergi, sementara ia juga tak bisa tenang saat Xuan menyusul Gaby, kemudian Zac memutuskan untuk menyusul.
Zac berdiri, dan Daisy pun mendongak.
"Mau kemana?" Tanya Daisy.
"Ke toilet sebentar." Jawab Zac.
Zac berjalan menuju toilet menyusul Gaby, toilet wanita dan pria berbeda, namun Zac dengan berani akan menunggu di depan toilet wanita.
Tak ada seorang pun di sana, bahkan kebaradaan Xuan tak ada.
Beberapa menit berlangsung, Zac merasa janggal, kemudian ia nekat masuk ke dalam kamar mandi.
"Gaby... Kau di dalam?" Tanya Zac.
Tak ada sahutan Zac lantas pergi keluar dengan cemas, ia pergi mencari kemana Gaby berada.
Hingga Zac berlarian di koridor panjang, Grant Achatz memiliki bangunan yang mewah dan besar laksana kastil, saat itu Zac berada di lorong taman belakang, sedikit gelap dan remang-remang.
"Tidak... Lepas..." Sebuah teriakan terdengar di telinga Zac.
"Jangan... Ku mohon..."
Zac yakin itu adalah suara Gaby.
Zac pun berlari menuju arah suara itu, saat itu Zac melihat Gaby sudah tersudut di sebuah lorong kecil yang gelap, Xuan dengan memaksa ingin memeluk dan mencium Gaby.
Zac dengan segera maju dan menarik krah kemeja Xuan.
"BUUUGGGG!!! BUUUGGGG BUUGGGG BUGGG !!!" Berulang kali Zac memukuli Xuan dengan sangat keras.
"Beraninya kau menyentuhnya dengan tangan kotormu, beraninya kau mencium dengan mulut berdosamu!!!" Geram Zac.
"BUUGGG!!!" Sebuah hantaman keras pun dilayangkan pada hidung dan mulut Xuan.
__ADS_1
Hingga hidung Xuan mimisan, dan gigi depan Xuan copot.
Gaby menangis dan menutup mulutnya.
Zac kemudian siap ingin memukul Xuan lagi.
"Cukup....! Aku salah! Maafkan aku!!!" Teriak Xuan dan menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.
Zac mengatur nafasnya kembali, amarahnya meradang hingga meluap di kepalanya.
Dengan gentle, Zac melepaskan jas nya dan memakaikannya pada Gaby.
"Kau masuk lebih dulu..." Kata Zac.
"Tapi..." Zay khawatir Zac akan memukuli Xuan sampai mati.
"Masuk!" Kata Zac dengan suara lebih keras.
Gaby pun masuk dengan menggunakan jas milik Zac yang menggantung di bahu nya untuk menutupi tubuhnya.
Setelah kepergian Gaby, Zac menarik krah milik Xuan.
"Katakan pada keluargamu kau tidak ingin melanjutkan perjodohan ini, atau kau akan mati." Tiba-tiba dengan berbisik Zac juga mengeluarkan pistolnya dan menodongkannya di perut Xuan.
Dengan cepat Xuan menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Katakan juga bahwa kau sedang bermain-main dengan Gloria, kau menyukai wanita nakal seperti Gloria, kau tidak ingin menikah dengan gadis polos yang tidak tahu apapun. Kau paham!" Ancam Zac.
"Ba... Baik sa... Saya paham... Ta... Tapi jangan bunuh saya.... Saya mohon lepaskan saya...." Kata Xuan.
"Aku akan masuk, dan menunggumu mengatakan itu, ingat aku mengawasimu." Ancam Zac lagi.
"Pecundang." Kata Zac.
Zac memang sama persis dengan Ben sang ayah, namun Zac jauh lebih sarkas dan lebih berani dalam melontarkan kalimat hinaan.
Xuan pun ketakutan, dengan tergopoh Xuan mundur karena ia tak ingin terlibat dengan Zac.
Zac kemudian pergi lebih dulu, ia berjalan dengan mengatur nafasnya lagi karena amarahnya yang menyaksikan tangan kotor Xuan menyentuh kulit mulus Gaby.
"Sial." Umpat Zac.
Tak berapa lama Zac masuk lagi, ia melihat Gaby yang sudah melepaskan jasnya dan di taruhnya di pahanya.
Zac melirik sekilas dan kemudian duduk di samping ibunya lagi.
"Kemana jas mu pergi?" Tanya Daisy berbisik.
"Basah." Jawab Zac asal.
Meja makan Ben saat itu memang lebih hening, hanya Zay yang merasa gembira sedang yang lain diam seribu kata.
Sedangkan meja milik Douglas lebih banyak Douglas dan Gia bercengkrama dengan keluarga Xuan, mereka terlihat akur dan akrab.
"Jadi kapan kalian menikah." Tanya Zac tiba-tiba memecah keheningan di meja mereka.
__ADS_1
"Uhuukkk.... Uhuk.... Uhuuukk!!!" Daisy seketika tersedak, hingga dadanya sakit, dan air matanya keluar.
"Ibu... Baik baik saja?" Tanya Zac khawatir.
"Sayang kau baik-baik saja?" Tanya Ben.
Zac mengulurkan kain lap mulut berwarna putih, Daisy menyambar dengan kasar dan tatapan kesal pada Zac.
"Pertanyaan yang bagus Zac, dari tadi ayah dan ibu serta paman hanya diam saja, meja kita seperti tak ada penghuninya. Aku ingin menikah dengan Carlos secepatnya." Zay menjelaska dengan sumringah.
"Bukankah seharusnya kalian menjalani nya dulu, jangan terburu-buru menikah." Sahut Derreck.
"Paham aku kenapa paman berkata seperti itu, Paman kan tidak pernah jatuh cinta, tak pernah pacaran, menikah juga tidak mau, jadi paman tidak akan pernah mengerti bagaimana orang jatuh cinta." Kata Zay cemberut.
"Paman justru lebih tahu bagaimana rasanya lika liku percintaan." Kata Derreck sembari meminum sampanye.
"Pokoknya aku ingin cepat menikah, benarkan Carlos?" Tanya Zay merangkul lengan Carlos.
"Jika itu yang kau mau, aku tidak keberatan." Kata Carlos tersenyum.
Ben menarik nafasnya, menahan gumpalan hitam yang semakin pekat di dalam dada dan hatinya, berulang kali Ben meminum air putihnya, bahkan steak mahal di hadapannya pun Ben tak menyentuhnya.
Tangan Daisy semakin gemetaran mendengar anaknya begitu terpikat dan bucin akut pada Carlos.
"Zay, bisa jelaskan bagaimana pekerjaanmu." Lanjut Ben.
"Ayah tak perlu khawatir sebentar lagi aku akan menjadi presdir di perusahaan milik ayah di AS... Semua itu karena kerja keras yang sudah ku lakukan." Kata Zay.
"Ku dengar, kau bergabung dengan mafia hitam." Kata Ben lagi.
Zay berhenti menyendok makanannya, dan terdiam.
Carlos melihat ke arah Ben dengan tatapan dingin.
"Bisakah kita makan dengan tenang, jangan merusak suasana acara makan malam ini ayah?" Kata Zay dengan wajah dingin.
"Jadi, benar kau bergabung dengan mereka? Apakah untuk menentang ayah? Kau tahu bahwa ayah adalah orang yang paling keras untuk menenggelamkan Mafia hitam." Kata Ben.
Zay kemudian melemparkan sendoknya di atas piring.
"Pranggg!!!" Suara sendok dan piring saling membentur.
Daisy melihat ke sisi meja lain, yang juga terkejut mendengar suara itu.
"Zay pelankan..." Kata Daisy.
"Jaga sopan santunmu Zay... " Kata Derreck sembari kemudian menyesap sampanye.
"Atau, kau sudah merencanakan sesuatu dengan pacarmu untuk mengibarkan bendera perang." Kata Ben masih teguh pada pertanyaannya.
"Benn... sudahlaaahh..." Kata Daisy menasehati.
Zac sendiri mulai merasa muak, ia juga sedang memperhatikan ketika Xuan mulai masuk dengan perlahan dan menutupi wajahnya dengan menunduk.
"Astaga... Xuan anakku... Ada apa dengan wajahmu... Siapa yang sudah melakukan ini padamu!!!" Teriak sang ibu.
__ADS_1
Semua yang ada di meja Ben melihat ke sisi meja Douglas. Pria muda itu, terlihat begitu berantakan, wajahnya penuh memar merah bahkan giginya pun copot.
Bersambung