Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 267


__ADS_3

Ben kemudian keluar dan melihat Mena masih berjaga di sana, saat itu ia melihat Traver baru saja tiba.


"Tuan Ben." Kata Traver.


"Kau baru datang?" Tanya Ben.


"Asap perangsang baru memuai dan menghilang, saya baru bisa mengumpulkan para pengawal Gia yang masih terangsangg, saya mengumpulkan mereka di penjara bawah tanah mansion ini, sepertinya Douglas membangun Mansion ini dengan sangat teliti, cukup sulit menembus kode ruang bawah tanah." Kata Traver.


"Waktu yang sangat pas, berikan Gia sebagai makanan untuk mereka, Gia pasti juga menyukainya, mereka akan saling memuaskan satu sama lain." Kata Ben.


"Baik Tuan Ben." Kata Traver kemudian melihat ke arah Mena.


Mena menjadi salah tingkah ketika Traver melihatnya dengan tatapan tajam.


"Sangat berbahaya sekarang ada di sekitar Tuan Ben." Kata Traver.


"Aku ke sini karena Nyonya Daisy membutuhkanku, Nyonya Daisy melihat situasinya menjadi buruk dari GPS yang terpasang di cincin Tuan Ben, dan dia juga memantau dari cctv satelit. Meski selama ini Nyonya Daisy hanya diam, Namun kali ini Nyonya tak mau diam lagi dan harus mengambil tindakan, Gia sudah sangat meresahkan semuanya." Kata Mena.


"Setelah ini kembalilah, bersembunyi dimanapun, dan jangan muncul beberapa hari, jika Tuan Ben tahu, tidak hanya dirimu, tapi aku juga tak akan selamat. Kau seharusnya bisa menahan diri." Kata Traver tegas.


"Traver apa aku harus memberi perintah lagi!" Kata Ben dari dalam kamar karena Traver tak kunjung masuk.


"Maaf Tuan. Tidak." Kata Traver masuk dan diikuti Mena.


Saat itu Daisy sudah berdiri dan memakai selimut yang ia lilitkan di seluruh tubuhnya. Daisy melihat bagaimana Gia berkali-kali menggeliat karena menahan haus akan sentuhan untuk di puaskan.


Saat itu Traver membuka ikatan Gia, dengan cepat Gia langsung ingin berlari menerkam Daisy, namun dengan cepat Ben menghadang, Mena juga langsung berdiri di hadapan Daisy untuk melindungi sang Nyonya.


Traver menahan tubuh Gia yang sudah berantakan dan babak belur, ada banyak darah di sekujur tubuhnya.


Daisy menatap dingin dan memandang Gia dengan tatapan hina.

__ADS_1


"Aku ingat, aku sudah tawarkan persaudaraan, dan aku juga sudah menawarkan pelukan untukmu ketika aku menjemput Ben, tapi kau menolaknya dengan mentah-mentah dan justru meminta suamiku sebagai kekasihmu. Kau di beri hati, minta jantung. Ku pikir ketika aku bertemu dengan mu di Restoran itu, kau berubah menjadi wanita berkelas, tapi pada kenyataannya, wanita rendah tetaplah menjadi wanita rendahan."


"KAULAH YANG RENDAHAN!!! KAU TIDAK AKAN BAHAGIA. JIKA AKU MATI, AKU AKAN SELALU MENGHANTUIMU, DIAM-DIAM AKU AKAN MENCUMBU TUBUH BEN DAN BERCINTA DENGANNYA."


"Sayangnya, aku tidak akan membuatmu mati Gia, aku hanya akan terus menyiksamu, di ruang bawah tanah. Penjara bawah tanah yang di buat oleh suami mu sendiri. Di alam baka, suami mu pasti puas, jika ia tahu orang yang telah meracuninya kini ada di penjara yang ia buat."


Mata Gia membulat, bagaimana Ben tahu.


"Kau terkejut? Apa yang tidak aku tahu. Aku Benjove Haghwer." Kata Ben dingin.


"Ya... Pasti gara-gara si pelayan brengsek itu!!!" Teriak Gia melihat ke arah Mena.


"Bawa dia pergi." Perintah Ben pada Traver.


Kemudian Traver pun membawa Gia pergi.


"TIDAAK AKU TAK MAU PERGI, AKU TIDAK MAU, AKU INGIN BEN, JIKA TAK BISA CUKUP AKU INGIN MEMANDANG WAJAH MU BEN, JANGAN USIR AKU, BEEENNN AKU MENCINTAIMU BEENNN, HAHAHHAHA... BEEENNN KAU PASTI JUGA MENCINTAIKU KAAAN BENNN, KAU HANYA BERPURA-PURA BEENN... LIHATLAH DAISY, JIKA SETIAP BEN PERGI DIA PASTI AKAN MENEMUIKU DI SINI UNTUK MEMINTA KEPUASAN, BEN AKAN SELALU TERINGAT PADAKUUU....!!! DAISY BRENGSEEKK!!!! KAU BURUK DALAM SEGALANYA... KAU TAK TAHU APAPUN TENTANG OBAT YANG SUDAH KU BERIKAN PADA BEEENN, DIA AKAN MENJADI MILIKKUUU!!! INGAT KATA-KATAKUUU, BEENN AKAN MENJADI MILIKKUUU!!!!" Teriak Gia hingga Gia pergi dari ruangan itu.


"Mena besok temui aku. Ada yang harus kita bicarakan, dan kita pulang sekarang, persiapkan baju untuk istriku, aku tidak ingin melakukannya di sini, mansion ini tidak cocok dengan aura ku." Kata Ben pergi berlalu lebih dulu, tanpa melihat pada Daisy.


Mena sendiri sadar, ini pasti tentang Heiden, sedang Daisy, cukup merasa aneh, tingkah Ben, seperti seseorang yang lain baginya, setelah melakukan hubungan tubuh dengannya.


Daisy kemudian membuang rasa curiganya, ia pun memikirkan bahwa Ben mungkin memang kurang nyaman berada di mansion milik Gia dan Douglas.


Di sisi lain, Zac dan Gaby masih ada di kamar mansion milik keluarga Haghwer di wilayah Pulau Kematian.


Mereka masih bergulat satu sama lain, Gaby dengan sabar menenangkan Zac yang masih di pengaruhi asap perangsang, Gaby dengan sabar dan tenang menerima apapun yang Zac lakukan padanya.


Bagaimana pun yang Zac ingin kan Gaby memberikannya. Bukan hanya sekedar di atas ranjang, bahkan Zac melakukannya hingga di beberapa tempat, entah itu di kamar mandi atau pun di ruangan lain di kamar tersebut.


Berbeda dengan Ben, Zac tak bisa mengontrolnya.

__ADS_1


Zac tahu, stamina Gaby masih sangat lemah, namun, ia tak bisa mengontrolnya saat di pengaruhi hal itu, apalagi sudah sejak lama Zac benar-benar seperti di penjara dalam kondisi impotenn tentu saja, hal ini sebagai bagian juga dari dalam dirinya untuk meluapkannya.


"Aaahh... Aaahhh... Aaahh....!!!" Gaby berulang kali telah mencapai puncak kenikmatan.


Berkali-kali pula Zac telah membuang sperm nya di luar, ia tak akan membuangnya di dalam, ia tak ingin Gaby hamil.


"Mungkin kita akan tinggal di sini beberapa hari lagi." Kata Zac terengah sembari meremass payudaraa Gaby.


Saat itu mereka sedang melakukannya di depan meja rias, Gaby memandangi dirinya yang berdiri di depan kaca, melihat kondisi tubuhnya yang sudah sangat berantakan, begitu banyak cap merah yang baru dan lama.


"Zac... Aku tak bisa bertahan lagi." Kata Gaby matanya mulai sayu.


"Sebentar lagi Gaby... Aku butuh kau... Beberapa putaran lagi, aku janji." Kata Zac.


"Zac... Oohhh.... Zaaccc.... !!!" Gaby meremas tepi meja, kaki nya berjinjit karena puncak kenikmatan yang menyerangnya lagi, tubuh Gaby bergetar hebat dan tubuhnya ambruk di atas meja.


Sedangkan Zac masih memompa dengan sangat cepat, pahanya yang berotot dan berurat menonjol bagai lukisan paling erotiss yang begitu indah dan terlihat kuat.


"Gaby... Ooogh!!!" Zac mengeluarkan benda miliknya dan memuntahkan cairan putih di atas punggung Gaby.


"Sial... Masih tidak mau tenang." Kata Zac melihat miliknya masih saja berdiri.


"Ini tidak akan cukup." Kata Zac kemudian menggendong Gaby.


"Aaah... Zac mau kemana lagi?" Tanya Gaby.


"Kita harus mandi lagi dan melakukannya lagi di air." Kata Zac.


"Apa!" Mendadak wajah Gaby menjadi pucat.


Terakhir kali Gaby ingat, saat mereka melakukannya di bak mandi, saat di dalam air, Gaby benar-benar di buat tak berdaya, karena air membuat nya semakin terasa nikmat.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2