Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 42


__ADS_3

Daisy menarik nafasnya dan membuang pelan, ia buru-buru berdiri dan langsung mematikan tv nya. Segera setelah itu yang ia pikirkan hanyalah ingin mencari suasana yang tenang, kemudian Daisy keluar, ia melihat di halaman masih banyak para pengawal yang berjaga.


Daisy pun berniat untuk mencari udara, dengan keluar rumah dan berjalan-jalan di sekitar, namun ketika ia keluar tiba-tiba di kejutkan beberapa wanita paruh baya dan para tetangga nya sudah berkumpul di depan rumahnya.


Memang, kawasan itu kini terlihat lebih bersih karena bangunan-bangunan lama telah di ganti gedung bertingkat untuk di jadikan rumah susun, Pemerintah menertibkan semua bangunan dan merobohkannya, dan hanya rumah Daisy yang masih tetap berdiri.


"Waa... Benar itu Daisy..."


"Jadi benar, itu Daisy..."


Semua berkumpul dan mereka menunjuk-nunjuk Daisy, sontak membuat Daisy gugup dan kaku.


Para pengawal segera berjaga dan melindungi Daisy.


"Daisy... Kemana saja kauuu... " Seorang wanita paruh baya bertanya denga lembut dan hendak mendekat.


"Aahh... Nyonya Rose." Kata Daisy.


Kemudian Daisy mendekat, dan memberitahu pada para pengawal.


"Tidak apa-apa saya mengenalnya, dia Nyonya Rose." Kata Daisy pada para pengawal.


Kemudian para pengawal membuka jalan bagi Daisy yang sebelumnya mereka membentuk seperti benteng pertahanan untuk melindungi Daisy.


"Nyonya Rose... Anda baik-baik saja? Bagaimana kabar anda." Tanya Daisy.


"Seharusnya akulah yang menanyakan kabarmu, setelah di bawa oleh Geraldo bagaimana kabarmu, kami tidak lagi mendengar kabar berita tentang dirimu dengan benar, semua kabar simpang siur, katanya kau menjadi simpanan, katanya kau menjadi budak, katanya kau..." Nyonya Rose segara menutup mulutnya dan berubah menjadi canggung, dia kelepasan.


Daisy tersenyum getir kemudian ia memeluk Nyonya Rose.


"Aku baik-baik saja Nyonya Rose." Kata Daisy.


"Mana jalangg ituu... Apa kah dia akhirnya kembali!!!!" Teriak seseorang dari jauh.


Wanita paruh baya itu berteriak dengan membawa gagang sapu, dan mendekat lalu dengan cepat memukuli Daisy.


BUGGH


BUGGH


BUUGGH


"ARGHHH... Ada apa Nyonya...." Kata Daisy melindungi dirinya.


Sedangkan Nyonya Rose juga memeluk Daisy dari pukulan-pukulan yang di layangkan oleh wanita paruh baya tersebut.


Para pengawal langsung sigap melindungi Daisy, sebagian menangkap wanita paruh baya itu.


"Apa-apaan kau Emma!!!" Teriak Rose dengan wajah mendelik.


Keadaan menjadi sangat kacau dan ribut, semua berteriak dan menyoraki, dan akhirnya setelah benar-benar menenangkan pikiran serta mendengarkan dengan baik, Daisy sadar bahwa mereka semua tidak menyukainya, mereka menyorakinya.

__ADS_1


"Daisy kembalikan anakku Briiann!!!!" Teriak Emma dengan keras sembari menangis.


"Bagaimana bisa kau membuatnya mati demi dirimu, dan kau bahkan tidak pernah muncul sekalipun meski saat pemakamannya, anakku Brian selalu mengatakan jika dia menyukai mu namun, apa yang sudah kau lakukan padanya!!! Kau membodohinya agar dia mau menyelamatkanmu, dan dia mati karena mu, jahatnya dirimu dengan kejam meninggalkan mayatnya begitu saja dan tak pernah sekalipun kau kesini untuk menengok!!! Daisy... Kau manusia iblis!!!" Teriak Emma menangis meraung-raung.


Seketika jantung Daisy seolah berhenti, kakinya lemas dan tidak sanggup berdiri. Nafasnya sesak, dan keringat dingin mengucur deras, hampir saja ia jatuh ke jalan namun dengan sigap seseorang telah menahan tubuhnya.


Daisy berbalik dan melihat pria itu adalah Ben, dia berada tepat di belakang Daisy dan memeluk Daisy.


Tatapan Ben yang dingin membuat semua orang mendadak merinding.


"Siapa dia..."


"Bukankah dia yang ada di berita tv..."


"Itu adalah pria yang segera akan menikah, dia pebisnis sukses..."


"Jadi benar Daisy adalah simpanan?"


"Jadi benar Daisy adalah budak?"


"Apakah Daisy menjual tubuhnya juga seperti kakak tirinya?"


Semua orang tetangga Daisy berkumpul dan saling melempar pertanyaan tanpa memikirkan perasaan Daisy, mereka tidak sadar suara mereka bahkan terdengar sangat keras.


Emma kembali meradang ketika semua orang hanya bergosip dan tidak berani langsung menunjuk Daisy.


"Kenapa harus bertanya!!! Semua sudah ada di depan mata, apa yang harus di pertanyakan!!! Jelas-jelas Daisy telah menjadi pelacurr dan membuat anakku Brian mati!!! Dia tega meninggalkan Brian!!!" Teriak Emma.


"Buu... Bukaan... Bu... Bukan seperti itu..." Kalimat Daisy lemah dan dan air matanya mengalir, tenggorokannya sakit karena menahan semua lara yang ada dalam dada.


Semua orang bersorak dan memojokkan Daisy, membuat Daisy semakin lemah untuk berdiri.


"Traver, bereskan mereka semua." Kata Ben dan hendak membawa Daisy masuk.


Namun, sebelum masuk, Ben melihat seseorang melemparkan telur pada Daisy, dengan sigap Ben segera menyembunyikan tubuh mungil Daisy dalam pelukannya.


PLUUKKK!!! Telur itu pecah tepat mengenai kepala Ben.


"Tu... Tuan..." Daisy mendelik melihat telur itu meleleh dan turun hingga ke bahu mengotori jas yang di pakai Ben.


"Tuan Ben." Kata Traver khawatir.


"Cukup ingatkan aku, bahwa mereka adalah sekumpulan wanita tua yang tidak dapat memegang senjata." Kata Ben.


"Jika saja saat ini mereka memegang senjata dan bukannya telur atau gagang sapu, akan lebih mudah bagiku." Lanjut Ben lagi.


"Mereka tidak dapat menggunakan senjata Tuan. Mereka ibu-ibu yang lemah." Kata Traver menenangkan Ben.


"Tapi ibu-ibu lemah juga bisa membuat Daisy terluka, kau harus tahu bagaimana membereskannya." Kata Ben.


"Tu... Tuan... Jangan lukai mereka dan jangan memarahi mereka, saya mohon, sebenarnya mereka adalah orang-orang baik." Pinta Daisy.

__ADS_1


"Jadi? Apa? Kau memintaku memberikan mereka hadiah karena telah melemparkan telur dan tepat sasaran. Bagus sekali! Lemparan jitu! Begitu?" Tanya Ben pada Daisy, sembari membawa Daisy masuk sedangkan Traver di bantu para pengawal lain tetap berada di luar untuk menstabilkan kegaduhan.


"Tapi telur itu hendak di lempar pada saya, bukan pada Tuan."


"Lalu menurutmu, aku akan rela mereka melemparkan telur itu padamu!"


Ben masuk ke dalam rumah, dan pengawal menutup pagar.


Ketika itu Daisy sudah lebih dulu masuk dan di susul Ben.


JEDUGG!!!


Mendengar suara keras yang mengagetkan Daisy sontak berbalik, dan melihat Ben menutup mata menahan emosinya. Kepalanya terbentur tiang pintu, dia tidak memperhatikan dengan cermat, karena fokus melihat ke arah Daisy.


"Tu... Tuan Ben... Hati-hati!! Kaki anda terlalu panjang sehingga rumah ini tidak cukup dengan tinggi tubuh anda." Kata Daisy mendatangi Ben dengan membawa handuk kecil.


"Apa aku juga haru memotong kaki ku? Jadi semua ini salahku. Oke." Kata Ben sembari melihat handuk kecil yang di bawa Daisy, dengan memincingkan matanya.


"Apa itu."


"Handuk Tuan, untuk mengelap telur yang ada di kepala anda, lalu saya akan mengompres dahi anda dengan es." Kata Daisy.


"Singkirkan! Itu terlihat buruk!" Perintah Ben dengan wajah tidak suka.


Ben menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Ben benar-benar menahan kesabarannya yang bahkan sudah siap meledak setara dengan nuklir, dia memiliki penyakit mysophobia dan sekarang tubuhnya seperti lengket dengan banyak kotoran menempel di tubuhnya.


Tak berapa lama Traver pun datang.


"Tuan... Saya sudah mengurus semuanya." Kata Traver sembaei menyembunyikan pistolnya di belakang pinggang.


Daisy mendelik.


"Apa anda membunuh mereka semua!!!" Teriak Daisy.


"Itu bagus." Kata Ben.


"Saya memberikan konpensasi untuk mereka semua, terlebih untuk ibu dari pria yang bernama Brian. Dia meminta uang 2 milyar."


Daisy menggigit bibirnya dan menundukkan kepala, tidak percaya orang-orang itu bahkan memeras Traver dengan uang yang banyak.


"Mereka baik. Itu katamu Daisy, tapi pada akhirnya tujuan mereka hanyalah uang sebagai penutup mulut." Kata Ben.


Daisy hanya diam dan membisu, tubuhnya membatu.


"Traver bantu aku ke hotel, aku harus segera membersihkan diri, sebelum kepala ku meledak dan menembakki mereka semua." Kata Ben berdiri, namun dengan gerakan cepat Ben segera duduk lagi sembari melihat atap dia takut kepalanya akan merusak atapnya.


Sedangkan Traver yang lebih berhati-hati sudah sigap selalu membungkukkan tubuhnya sedikit.


Ben melihat itu.


"Kau seperti nya sudah cukup terbiasa dengan rumah ini." Kata Ben.

__ADS_1


"Maafkan saya Tuan, cukup lama saya harus merombak beberapa bagian rumah ini, jadi tubuh saya sudah cukup terbiasa." Kata traver.


bersambung


__ADS_2