Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 245


__ADS_3

Malam hari di Mansion milik Ben sudah begitu sibuk dan ramai para pengawal serta para pelayan sudah selesai menghias dan mengatur semua ruangan untuk acara makan malam. Semua terlihat cukup mewah dengan nuansa yang klasik.


Zay masih ada di kamarnya, ia sedang memakai pakaian yang sudah di sediakan oleh Alexa, perancang pribadi keluarga Haghwer.


Sedangkan Daisy dan Ben sudah siap, pakaian Daisy begitu anggun dan pas di tubuh rampingnya, mereka semua sudah ada di ruang tunggu.


Saat itu, Gavriel, Derreck, serta Rudolf juga hadir untuk acara makan malam tersebut.


"Aku jauh-jauh dari Atlanta kemari, katanya akan ada acara makan malam spesial. Apa yang spesial?" Tanya Derreck pada Rudolf dan Gavriel.


Mereka bertiga berdiri memakai setelan jas yang mewah dan nampak keren, dengan memegang gelas alkohol masing-masing.


"Entahlah, Daisy yang menghubungiku, aku coba bertanya pada Ben, pria itu hanya diam." Kata Rudolf menunjuk pada Ben dengan masih memegang gelas.


Gavriel hanya diam dan meneguk beberapa kali alkohol di gelasnya. Ini pertama kalinya Gavriel ingin minum.


Ketika Zay turun dengan mengenakan gaun putih menawan, seketika membuat Gavriel terpaku, matanya terus tertuju pada Zay yang nampak sangat cantik.


Dada yang sintal terekspose seksi, sedangkan bahu kecilnya begitu memikat, rasanya Gavriel ingin menerkam dan membawanya ke dalam kamar, lalu menggigitnya dengan lembut, seperti menggigit marsmellow yang kenyal.


Gavriel meneguk segelas alkoholnya sekali tenggak, rasanya mendadak suhu tubuhnya naik.


Lalu Gavriel menatap Zay kembali.


"Kau menatap keponakanku seperti binatang buas, seolah kau ingin memakannya. Tatapanmu mengerikan." Kata Derreck pada Gavriel.


Rudolf hanya nyengir.


Beberapa menit kemudian, iring-iringan mobil pun datang terparkir dengan rapi.


Mobil-mobil hitam itu berjajar rapi di depan mansion.


Semua pengawal turun dan membuka salah satu mobil paling besar dan mewah.


Itu adalah Gege Vamos. Pria muda yang usianya sama dengan Zay dan Zac, Mafia yang juga di segani, dan memiliki kekuatan yang cukup tangguh, keluarga Vamos bukanlah sembarangan, meski masih di bawah keluarga Haghwer.


Gavriel mulai melirik pada Daisy, ia mulai membaca situasi, Gavriel menaruh gelasnya di meja dan menyedekapkan tangan.


"Sepertinya akan menjadi masalah besar, apakah Daisy masih belum tahu, jika Ben melakukan perjanjian denganmu? Tentang Zay dan pasukan Murder. " Bisik Rudolf pada Gavriel.


"Derreck juga belum tahu." Kata Gavriel.


Rudolf mengangguk pelan.


Saat itu Traver berdiri di sebelah Zay untuk menjaga Zay.


Ben dan Daisy menyambut Gege Vamos.


"Selamat datang, aku terkejut kau meminta bertemu untuk makan malam." Kata Ben.


"Saya juga terkejut jika istri anda menerima baik permintaan berkunjung saya ke mansion milik kalian. Ini penyambutan yang meriah." Kata Gege Vamos.

__ADS_1


"Kita harus saling mengenal dan mendukung." Kata Daisy tersenyum.


Kemudian Gege Vamos melihat ke arah Zay dan tersenyum.


"Tentunya, anak anda sangat mirip dengan anda, di sini begitu banyak pria lajang, apakah anda tidak takut Nyonya Daisy." Kata Gege Vamos bercanda dan melihat ke arah Zay.


"Tentu saja takut, jadi aku ingin segera melihat Zay memiliki pasangan agar ada yang menjaganya."


Semua orang terkejut dan langsung melihat ke arah Daisy.


"Saya jadi merasa terpanggil Nyonya Daisy, bagaimana bisa saya melewatkan gadis secantik Nona Zay. Semoga kali ini saya yang mendapatkan berkah itu. Izinkan saya...." Kata Gege Vamos mengulurkan tangannya pada Zay.


Kemudian dengan ragu Zay menerima uluran tangan Gege Vamos, lalu Gege Vamos mencium punggung tangan Zay.


"Selain ingin berkunjung ke mansion, sebenarnya kau lah yang paling ingin ku temui Nona Zay, sejak pertama kali melihat mu di Rumah Sakit AS itu, aku selalu memikirkan dirimu. Betapa kau sangat cantik, bahkan semua bidadari akan kalah dengan kecantikanmu."


Zay, diam dan wajahnya nampak canggung, ia kemudian melirik ke arah semua orang termasuk Gavriel yang pandangannya mulai dingin.


Akhirnya Zay hanya bisa tersenyum canggung.


"Sebaiknya kita mengobrol di dalam, sepertinya makanannya sudah siap." Kata Daisy mengajak semuanya.


Kemudian Semua orang duduk di meja makan yang panjang dan mewah, para pelayan saling berbaris dan menyajikan makanan pembuka.


Posisi duduk paling ujung adalah Ben, lalu di samping kirinya adalah Daisy, di lanjutkan Zay, di samping kanan adalah Gege Vamos dan di lanjutkan Rudolf, lalu Derreck dan terakhir Gavriel.


Mereka semua menikmati makanan sembari di selingi obrolan biasa namun tiba-tiba Gege Vamos pun menyinggung masalah Zay.


"Tuan Ben, mungkin ini terlalu mendadak. Tapi, saya benar-benar tidak bisa jika hanya berdiam diri. Mengingat saya dan Zay memiliki usia yang sama, dan saya sudah terpikat dengan Zay sejak pandangan pertama, jadi saya ingin mengajukan lamaran pernikahan untuk Zay. Saya ingin menikahi Zay, menjadikannya istri saya, dan menjadikannya anggota keluarga Vamos." Kata Gege Vamos.


"Maa.. Maaf." Kata Zay, kedua mata Zay nampak kosong, pikirannya tiba-tiba juga kosong.


Kemudian pelayan mengambil sendok yang jatuh itu.


Semua orang yang melihat ke arah Zay kemudian juga beralih melihat ke arah Gege Vamos, termasuk Gavriel.


"Ehemm...!" Ben terbatuk dan tenggorokannya terasa serak lalu ia pun minum.


Berbeda dengan Daisy, dia justru terlihat senang dan bersemangat, Daisy terus tersenyum dan melirik pada Ben, agar Ben menanggapi lamaran tersebut.


"Sepertinya masalah lamaran pernikahan ini harus di bicarakan secara matang." Kata Ben.


Semua orang menjadi tegang, namun Daisy bersemangat dan terus memberikan kode pada Ben.


"Kita juga harus bertanya pada Zay." Kata Ben.


Saat itu tubuh Zay sudah gemetaran, mendengar kalimat pernikahan, ia menjadi gugup, keringat dinginnya mulai mengalir, dan pikirannya kembali pada masa lalu dimana semua kenangan buruk tentang rencana pernikahan bersama Carlos menjadi peperangan berdarah, tak hanya itu, pelecehaan yang di berikan Carlos pun masih belum sembuh.


"Sa... Sa... Saya... Saya... Harus ke kamar mandi." Kata Zay gemetaran.


Kemudian Zay berdiri dan terlihat terhuyung.

__ADS_1


"Permisi saya ada telfon." Kata Gavriel mengangkat ponselnya.


Semua orang pun kembali pada topik.


"Apa yang membuat seorang Gege Vamos ingin menikahi keponakanku." Tanya Derreck.


"Dia cantik, dari keluarga baik-baik, Anda pasti juga tahu bahwa keluarga Vamos selalu mencari pendamping dari keluarga baik-baik, dan tentunya seorang gadis yang baik juga."


"Kau tidak tahu, apa yang sudah keponakanku alami?" Kata Derreck.


"Derreck!" Pekik Daisy tersenyum getir.


Kemudian Daisy berdiri dan mengajak Derreck, memberikan kode agar Derreck ikut bersamanya.


"Permisi." Kata Derreck.


Gege Vamos pun kemudian melanjutkan mengobrol dengan Ben dan Rudolf mengenai topik mafia.


Sedangkan di ruangan lain, Zay menyangga tubuhnya yang gemetaran dengan menggunakan kedua tangannya yang ramping.


Perlahan Gavriel memeluk bahu Zay, membuat Zay terkejut dan memekik.


"Tidakk!!!"


"Ssstt... Ssttt...!! Ini aku Zay." Kata Gavriel menanangkan Zay.


Wajah Zay sudah penuh dengan air mata.


"A... Aku tidak mau... Aku takut... Aku tidak mau dengan dia." Kata Zay panik.


"Sstt... Iya... Iya... Tenangkan dirimu Zay, tenang. Tarik nafas pelan-pelan."


"Kau tahu kan, dia dari keluarga Vamos, keluarga yang selalu menilai martabat wanita harus sangat bersih tanpa celah! Bagaimana bisa di melamarku, aku yang begitu kotor." Kata Zay panik matanya mulai tidak bisa di kendalikan, membelalak dan melihat ke sana dan kemari.


"Zay... Zay... Tenang."


"Ayo kita pergi Gavriel. Aku takut, hanya kau yang tahu bagaimana sebenarnya aku, bagaimana jika Gege Vamos menyelidiki ku, bagaimana jika dia tahu apa yang sudah ku alami dengan Carlos, lalu mengatakan pada ibu dan ayah, bahwa aku adalah... Akuu... Sudahh... Aku menikmati pelecehan itu, aku wanjta buruk."


Melihat Zay semakin panik dan menangis, Gavriel menangkupkan kedua tangannya pada pipi Zay dan langsung mencium bibir Zay.


Ciuman yang dalam dan mesra, sangat panas dan membara.


Zay kemudian membalas ciuman itu, ia merasa harus mengalihkan perhatiannya dari kepanikan yang menganggungnya dan membuatnya ketakutan.


Zay memeluk Gavriel, dan menekan tubuhnya pada tubuh Gavriel.


Gavriel kemudian melepaskan ciumannya, namun Zay belum puas.


"Tidak... Belum cukup, aku belum bisa tenang. Berikan lagi." Pinta Zay.


Gavriel kemudian mencium Zay lagi, tubuh mereka saling menekan dan menghimpit, Gavriel kemudian mendorong Zay hingga menempel pada dinding. Ciuman itu sangat panas dan membara, tanpa sadar tangan Gavriel mulai membelai payudaraa Zay dari luar, dan masih di batasi gaun milik Zay.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain, Daisy serta Derreck sedang menuju ruangan tersebut.


Bersambung~


__ADS_2