Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 254


__ADS_3

Zac tersenyum melihat Gaby yang begitu kejam mengatakan hal itu pada dirinya.


"Kau selalu mengatakan semuanya dengan jujur dan polos." Kata Zac.


Zac kemudian mendekat lagi pada Gaby.


"Kau mengatakan bahwa kau membenci nya kan? Jadi, aku akan melakukannya lebih dari yang kemarin, sampai kau tidak bisa mengungkapkan kenikmatan yang kau rasakan hanya dengan suaramu, sampai seluruh tubuhmu pun ingin bergetar karena kenikmatan yang fatal. Aku akan membuatmu ketagihan dengan melakukannya denganku, ketagihan hanya denganku, bahkan aku akan membuatmu gila agar kau memintanya sendiri. Aku akan membuatmu, hanya merasa nikmat denganku." Zac membelai bibir Gaby dengan jempolnya.


"Aku akan membuat kenikmatan itu merusak akal mu dan membuatmu gila, hingga kau lupa bahwa kau memegang belati di tanganmu untuk menusukku, hingga kau melupakan belati itu, dan ingin merasakan kenikmatan yang ku berikan." Kata Zac dengan tenang dan dingin.


Mata Zac menatap tajam bagai elang pada Gaby, seketika Gaby menjadi menciut dengan tatapan Zac. Bagaimana Zac bisa tahu tanpa melihatnya.


Dengan cepat Zac menarik Gaby, dan membaringkan ke atas ranjang, Belati itu pun terlempar ke lantai.


"KLAAANGGG!!!"


Suara Belati perak itu membuat Gaby terkejut.


"Gaby... Apa kau tahu caranya menusukkan belati?" Tanya Zac yang sudah berada di atas tubuh Gaby.


Gaby masih terdiam dan terpaku, matanya sedikit berair dan ingin menangis.


"Kau tahu? Kau harus memiliki tenaga yang besar, agar belati itu bisa menembus tubuhku. Karena jika kekuatanmu tidak kuat, kau hanya akan melukai pergelangan tanganmu." Kata Zac mendekatkan wajahnya pada wajah Gaby.


"Lalu kau harus fokus tempat mana yang akan kau tusuk." Bisik Zac dan mengulum telinga Gaby.


Gaby hendak memberontak, namun dengan cepat, Zac memegang kedua tangan Gaby dan mencengkramnya.


"Setelah kau tahu tempat mana yang ingin kau tusuk, arah kan belati itu dan tusuk dengan seluruh kekuatannmu agar belati itu masuk sangat dalam, karena jika belati itu tidak menusuk dalam, maka orang itu tak akan mati."


Zac berbicara sembari membuka kancing baju Gaby dengan salah satu tanganya, dan kedua tangan Gaby naik di cengkram dengan satu tangan Zac.


"Lalu..." Kalimat Zac tertahan, ketika saat itu ia melihat bekas-bekas merah di payudaraa Gaby.


Zac kemudian melihat dengan dingin pada Gaby.


"Lalu... Kau harus mencabut belati itu dengan tenaga yang cukup. Kau harus ingat, saat kau menariknya, darah pasti akan muncrat dan mengenai wajah serta tubuhmu." Kata Zac dengan suara dingin.


Kemudian Zac bangun dan duduk. Gaby melihat Zac, ia tak tahu kenapa Zac mundur, kini mereka saling pandang.


Di rasa Zac berhenti dan tak ingin melakukannya, Gaby bangkit dan menutup kancing bajunya.


Zac masih memandang dengan dingin pada Gaby.

__ADS_1


"Kau tahu... Gaby. Aaron benar-benar ingin membuatmu kesulitan." Kata Zac.


"Ke... Kenapa?" Tanya Gaby.


"Melihat apa yang dia lakukan padamu, tentu saja aku ingin segera meremukkan tulangnya, namun yang paling membuatku bersemangat adalah, aku ingin membuatmu tak berdaya di bawahku, sampai kau tak bisa merasakan tulang mu sendiri. Aku berikan waktu 1 jam untuk mandi dan membersihkan diri, jika kau belum siap juga, aku yang akan memandikanmu. Jangan harap kau bisa tidur dengan nyenyak untuk 3 hari ke depan. Karena bekas itu, kau akan merasakan siksaan yang tak akan bisa kau bayangkan." Kata Zac bangkit dan keluar dari kamar.


******


Di mansion Haghwer, semua komandan pasukan sedang melapor pada Ben, tentang semua kekuatan yang sudah mereka miliki.


Ben mendengar dengan baik, saat itu ada Rudolf juga Traver berdiri di samping Ben.


Rudolf juga memberikan informasi jika pasukannya telah bertambah lagi, itu semua karena, setelah gencatan senjata di cabut, Rudolf membabi buta berperang untuk mengambil para pasukan mafia lain, menjarah harta milik mafia lain, dan menambah kekuasaan wilayah.


"Ben...Pergerakan Gege Vamos sangat cepat, anak muda itu terampil, sebisa mungkin harus membuatnya berpihak pada kita, yang ku takutkan, Gia bergerak cepat dengan mengajak Gege Vamos ke pihaknya." Kata Rudolf Gama.


"Aku juga berfikir seperti itu, Gege Vamos lincah dalam peperangan, aku melihatnya, dalam waktu semalam dia sudah menguasai beberapa wilayah." Kata Ben.


"Tuan, saya dengar pasukan milik Tuan Zac juga sudah mendapatkan kekuasaan Negara bagian Negara Timur Tengah, sepertinya pada akhirnya, Tuan Gege Vamos dan Tuan Zac akan adu kekuasaan di Negara Timur Tengah."


Ben berfikir sejenak.


"Katakan pada Zac untuk menarik semua pasukannya yang ada di Negara Timur Tengah." Kata Ben pada Traver.


"Pasukannya akan bentrok dengan pasukan Gege Vamos, untuk saat ini, jangan sampai mereka bersitegang, karena lawan dan musuh sesungguhnya yang harus di bereskan lebih dulu adalah Gia dan Aaron Vince." Kata Ben.


"Baik Tuan Ben. Lalu, saya mendapatkan pesan dari Mena, jika Mena berhasil membujuk Heiden sang pengawal pribadi Gia untuk menemaninya pergi, lalu kabarnya, Nona Gaby di kembalikan pada Tuan Zac untuk membunuh Tuan Zac menggunakan belati atau pun racun yang sudah di racik oleh Gia." Kata Traver.


"Kabarkan itu pada Zac." Perintah Ben.


"Baik Tuan."


Tak berapa lam, tiba-tiba Zay pun datang, Ben nampak senang Zay tiba-tiba lebih dulu mendatanginya.


"Ayah aku ingin bicara." Kata Zay.


Ben mengangguk dan mengisyaratkan untuk semua orang pergi.


Setelah mereka semua pergi, Zay duduk berhadapan dengan Ben.


"Ayah langsung saja, aku tidak mau menikah dengan Gege Vamos."


Ben diam dan masih menunggu apa yang akan Zay katakan lagi.

__ADS_1


"Sebenarnya... " Zay menggosok-gosok jarinya karena gugup di depan ayahnya.


"Sebenarnya... Aku memilih untuk... Aku... Menjalin hubungan dengan Gavriel, dia membantuku dalam penyembuhan trauma karena,... Saat itu aku patah hati dengan Carlos." Kata Zay.


"Patah hati?"


"Ayah kan tahu, aku mencintai pria brengsek itu, tapi pria itu ternyata berbohong dan hanya menjadikanku alat balas dendam, aku patah hati." Kata Zay.


"Hanya itu?" Tanya Ben.


Zay menatap ayahnya.


"Kau hanya patah hati?" Tanya Ben lagi.


"Iya memangnya apa lagi?"


Ben mengangguk pelan dan paham, bukan hal mudah bagi seseorang untuk mengungkapkan trauma pelecehaan bahkan pada orang tuanya sendiri.


"Aku akan berbicara pada ibu mu." Kata Ben.


"Tapi... Ayah terlihat tidak terkejut? Tentang aku mengatakan hubunganku dengan Gavriel, apakah ayah tidak menentangku? Bukankah ayah tahu, usia ku dan Gavriel, lalu background Gavriel yang pernah menyukai ibu."


Ben kemudian menyandarkan punggungnya dan menyedekapkan tangan.


"Aku tahu dunia berisi tentang apa, lebih dari yang sekedar kau ketahui. Jadi, jika aku diam dan tak menenantangnya, berarti kau bisa lakukan dan melanjutkannya, tapi satu hal Zay, jika nantinya kau tak mencintai Gavriel katakan sejujurnya."


"Aku... Mencintainya." Kata Zay kemudian.


Ben menatap lekat-lekat anak perempuannya. Cukup lama Ben terdiam dan hanya melihat pada Zay yang gugup.


"Kemarilah." Kata Ben.


Kemudian Zay mendekat dengan rasa cemas dan khawatir, ia takut dirinya akan di pukul.


Namun, ternyata Ben berdiri, Zay menutup matanya cemas, Ben kemudian memeluk Zay dengan lembut, dan membelai kepala anaknya.


"Seharusnya ku lakukan ini sejak dulu. Kau pasti bisa melewati semuanya. Patah hati mu atau apapun itu, kau pasti akan sembuh." Kata Ben dengan wajah datar.


Zay mendadak menangis, ia tak percaya ayahnya memeluknya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, ayahnya yang dingin, otoriter, dan kaku, ayahnya yang sangat terlihat garang dan hanya membuat sepajang hidupnya menderita karena pendidikan militer.


Zay kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang ayahnya. Zay menangis tersedu di pelukan sang ayah yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Ternyata begini rasanya di peluk seorang ayah." Kata Zay menangis.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2