
Beberapa hari kemudian....
Daisy duduk sendirian di depan meja makan yang ada di dalam kamarnya, setiap pagi Daisy bangun dengan menatap jendela yang kian membuatnya bosan.
Beberapa pelayan mengantar sarapan.
"Mena, masih belum selesai dengan pekerjaannya?" Tanya Daisy.
"Maaf Nona, saya dengar kepala pelayan sedang memiliki tugas penting dari Tuan Ben."
"Apa Mena sering melakukan tugas penting dan keluar mansion?"
"Cukup sering Nona."
Daisy mengangguk tanda mengerti. Daisy menatap segala macam hidangan di hadapannya. Sarapan sendirian, tanpa memiliki teman mengobrol, dan tidak melakukan kegiatan apapun, hari-harinya selalu monoton, akhirnya membuat Daisy semakin stress.
Apalagi sudah satu minggu, Daisy juga tidak melihat Ben, selama itu pula Ben tidak menyentuhnya.
Daisy merasa hatinya sedikit nyaman ketika hubungannya dengan Ben terakhir kali, Ben memperlakukannya dengan lembut dan penuh dengan rayuan.
Terakhir ketika Ben hendak pergi dari kamar Daisy, kalimat yang sangat damai di ucapkan dengan lembut.
"Kau harus sembuh lebih dulu, akhir-akhir ini aku banyak pekerjaan, jadi jangan merencanakan sesuatu untuk kabur." Kata Daisy mengulangi kalimat Ben kala itu sembari memutar garpu untuk menyendok spageti.
Setelah sarapan selesai, Daisy keluar dari kamarnya dan menuruni tangga.
Walaupun Daisy cukup merasa tenang tanpa ada Ben yang membuatnya kelelahan secara fisik dan batin, namun hal itu juga membuatnya kesepian.
Pagi itu Daisy berkeliling, ia melihat beberapa interior mansion telah berubah, perbaikan yang sangat cepat, bahkan taman pun juga berubah, rerumputan dan jalan setapak berubah dengan suasana baru.
"Apa yang membuat semuanya berubah?" Kata Daisy sedang berjalan-jalan mengingat bahwa setiap area yang berubah adalah tempatnya dan Ansella bertengkar.
"Astaga... Aku baru ingat, apa Tuan Ben benar-benar merubahnya hanya karena wanita itu datang? Dia benar-benar mysophobia parah." Kata Daisy menutup mulutnya.
Kemudian Daisy melihat lebam-lebam di tangan dan lengannya yang semakin memudar.
Daisy memikirkan sesuatu, mengapa Ben mau menyentuhnya.
"Aahh... Tidak perlu memikirkan sesuatu yang aneh. Kau kelewat batas Daisy jika mengira itu adalah sesuatu yang spesial." Kata Daisy melanjutkan berjalan kaki.
Kakinya berhenti berjalan ketika dia melihat Ben, jantung nya berdesir panas, pria yang sudah lebih dari satu minggun tidak ia lihat. Pria yang sudah lama tidak menyentuhnya entah itu kasar ataupun lembut.
Pria itu berdiri bersama Traver dan salah satu pria yang belum pernah Daisy lihat, mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu dengan sangat serius. Ben masih seperti biasa ia sangat tampan dengan memakai setelan serba hitam.
__ADS_1
"Mungkin dia menyukai warna hitam atau putih? Aku mulai sadar kemeja yang ia pakai kebanyakan berwarna hitam dan putih, hanya beberapa kali saka aku melihatnya memakai kemeja merah hati atau donker." Kata Daisy pelan.
Ben berdiri dengan wajah serius, postur tubuhnya tinggi dan tegap, meski otot-ototnya yang keras tersembunyi dari balik kemeja namun ketika pria itu menggerakan tangan dan bahunya sedikit saja seolah menjadi gerakan yang menarik.
Daisy memandang i jemari kuat Ben, jemari-jemari Ben yang panjang, itu adalah jemari yang selalu menyentuhnya.
"Apa yang aku pikirkan." Kata Daisy dan hendak berpaling pergi.
Ben melihat Daisy hendak pergi, dengan langkah panjang ia menarik tangan Daisy.
Tubuh Daisy mundur menimpa tubuh Ben yang keras dan kuat.
Daisy memasang wajah terkejut dan dada nya berdebar, ketika ia menengok dan memandang wajah Ben yang sudah lama tak ia lihat.
"Kau bosan?" Tanya Ben.
Daisy hanya diam.
"Jika kau bosan aku sudah memikirkan sesuatu, para pengawal akan mengantar mu ke rumah tradisional di kota S, aku memperbaiki rumah itu karena hampir rubuh, di Kota S cuaca tidak menentu, hujan panas membuat rumah mudah lapuk dan berjamur, tapi tenang saja aku tetap mempertahankan bentuk semula dari rumah itu, hanya beberapa di ganti dengan bahan baku yang lebih bagus. Kau tidak penasaran?"
"Benar aku boleh?" Wajah Daisy berbinar, ia merasa senang karena telah sekian lama tak melihat rumah yang sangat ia rindukan.
Bagi Daisy melihat rumah itu sama seperti melihat ibu dan neneknya, berbagai kenangan ada di dalam rumah itu, dan ketika ia masuk ke dalam rumah peninggalan ibunya, suasana di dalam rumah dan halaman terasa hidup. Daisy merasa ibu dan neneknya masih hidup dan beraktifitas seperti biasa. Semua tempat, semua sisi rumah memiliki kenangan yang sangat banyak dan kenangan itu begitu mahal baginya.
Hanya saja, kenangan indah itu tercampur dengan kehidupan buruk Daiay yang mengerikan bersama ibu dan kakak tirinya.
"Masuklah, dan bersiap, para pengawal akan menunggumu di depan." Kata Ben.
"Terimakasih Tuan Ben." Kata Daisy tersenyum dan berlari masuk menuju mansion.
Ben kembali memasang wajah serius dan dingin, untuk melanjutkan pembicaraan yang tertunda.
"Tidak biasanya kau berbicara panjang lebar, kau banyak berubah." Kata Rudolf Gama.
"Aku masih sama, tidak ada yang berubah."
"Tuan, wanita yang akan menemani anda adalah salah satu agen terlatih, dia satu anggota dengan Mena di pusat pendidikan dulu." Kata Traver memberikan tab nya pada Ben dan menunjukkan fotonya.
Ben mengangguk.
"Apa Mena sudah mengatakan jika aku tidak suka di sentuh walaupun itu sandiwara." Kata Ben.
"Sudah Tuan, 3 pengawal wanita yang akan melindunginya sudah cukup mempertegas jika anda memperlakukannya dengan spesial." Kata Traver.
__ADS_1
Ben hanya diam.
"Pengawal yang memakan umpan ku, dia adalah bawahan mafia yang mengaku sebagai dirimu, 3 orang menelan pil racun yang dia sembunyikan di bawah lidahnya dan 3 orang lagi memilih untuk terus diam, walaupun kami telah menyiksa mereka dengan berbagai macam." Kata Rudolf.
Wajah Ben serius dan dingin, dalam benaknya ada salah satu orang yang sangat ia curigai.
"Tapi ada yang aneh dari mereka. Beberapa memiliki jari kelingking yang terpotong, beberapa juga memiliki tatto-tatto yang bahkan hampir menutupi seluruh bagian tubuhnya." Kata Rudolf.
Ben menarik nafasnya panjang, dan kemudian memberikan perintah pada Traver.
"Traver hubungi Yamaguchi, pastikan dia datang nanti malam, atau kita yang akan ke jepang. Tapi aku tetap menaruh kecurigaanku pada seseorang yang sangat ingin ku habisi sejak dulu." Kata Ben.
"Baik Tuan Ben."
"Ben, hari juga kau harus ikut memeriksa bahan obat-obatan yang baru saja turun, seperti biasa ada seseorang yang mengacau." Kata Rudolf menekan tengkuknya.
"Aku pikir kau sudah menyingkirkannya." Kata Ben.
"Ya, kau tahu kan, Blaze sudah lama bekerja untuk kita, tidak mungkin aku begitu saja menyingkirkannya, kecuali dia bermain-main dengan kesetiaan."
"Tunggu setelah Daisy pergi, aku akan memeriksanya." Kata Ben.
Saat itu Daisy telah bersiap dan para pengawal sudah berjaga. Daisy turun dari tangga dengan tampilan yang sangat cantik.
Ben sudah lebih dulu berjalan ke depan, dimana mobil-mobil mercedez benz berwarna hitam berjejer di halaman mansion, untuk mengawal Daisy. Ben pun sudah berdiri di dekat mobil, ia lalu membukakan pintu untuk Daisy.
"Bersenang-senanglah, kau tidak takut naik pesawat tanpa aku kan."
"Banyak pengawal yang menemaniku." Kata Daisy yang sudah duduk di dalam mobil.
"Mungkin sebaiknya aku mencarikan pengawal wanita untukmu." Kata Ben serius.
Daisy merasa canggung apakah ia harus berpamitan atau tidak namun Ben tiba-tiba sudah menutup pintu mobil, ada sedikit ruang hampa di hati Daisy, mengapa Ben tiba-tiba seperti menjaga jarak dengannya.
Ben diam memperhatikan mobil-mobil beriringan berangkat, hingga mobil-mobil itu menghilang tak lagi terlihat.
"Sangat sulit melepaskan nya pergi sendiri. Kenapa dia harus berdandan secantik itu. Ck..."
"Tuan, apakah saya harus mengirimkan pengawal wanita?"
"Tidak perlu, mereka sudah cukup di percaya."
Traver menunduk tanda mengerti.
__ADS_1
Rudolf sendiri melihat Ben yang menurutnya telah banyak berubah.
bersambung