Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 67


__ADS_3

"Dia terluka karena di serang, dan di temukan di bawah laut oleh kakaknya saat di bawa ke Rumah Sakit, kondisinya sangat mustahil, dan selama ini dia bisa hidup karena alat bantu, tapi kakaknya tidak pernah putus asa, akhirnya keajaiban datang, namun setelah bangun dari Koma ternyata dirinya menolak untuk mengingat dan menyebabkan trauma serta distorsi otak. Namun dia bisa mendengar siapapun yang berbicara padanya. Aku harap anda mau mengobrol dengannya." Kata Gavriel.


"Ke... Kenapa harus saya?" Tanya Sunny canggung dan cemas.


"Sejujurnya anda sangat mirip dengan seseorang, dan suara anda terkadang memiliki suara yang sama dengan orang itu jadi saya hanya berharap meski kemungkinannya kecil, semoga Mena bisa memiliki semangat untuk hidup."


Gavriel kemudian meninggalkan Sunny di ruang perawatan itu.


Sejenak Sunny memandangi Mena yang hanya terbaring dengan pandangan mata kosong, wajahnya sangat pucat dan terlihat tidak memiliki semangat untuk berjuang hidup. Rasa bersalah semakin menghantui Sunny.


"Me... Menaa..." Kata Sunny suaranya tercekat dan ia menangis sembari memegang tangan Mena.


"Aku benar-benar minta maaf...." Sambung Sunny.


"Maafkan aku..."


Sunny memegang tangan Mena begitu erat. Air mata nya tak henti-henti nya mengalir.


"Mena... Bisakah kau mendengarkanku? Aku... Benar-benar menyesal... Kenapa kau bisa sampai seperti ini..."


Sunny mengingat lagi kenangan masa lalu ketika saat itu berada di laut, ia yakin Casey mengatakan laporannya pada Derreck jika semua pengawal yang di pimpin Casey untuk menyelam telah habis di bantai oleh pengawal Ben. Jadi kenapa Mena bisa terluka sangat parah? Itulah yang membuat Sunny terusik.


"Ja.. Jadi... Apakah... Kau seperti ini agar aku bisa pergi? Apakah... Kau melawan semua pengawal milik Tuan Ben?" Kata Sunny mengeratkan genggamannya.


"Aku mohon Mena... Bangunlah... Dan mari kita bicara, mungkin ada sesuatu yang membuatku sudah mengambil keputusan yang salah. Jika ada seseorang yang terluka, itu berarti keputusan ku memang salah."


Sunny menundukkan kepalanya dan dahinya bersandar di tangan Mena yang ia genggam.

__ADS_1


"Mena... Maafkan aku... Mena... Bahkan kau lebih setia padaku, aku harap Tuan Ben tidak membuat mu kesulitan, aku berharap dia mau menerima mu, aku takut sekali... Semoga Traver pun tidak akan mendapatkan hukuman dari Tuan Ben atas kesalahanku yang telah menyeretmu untuk berkhianat dan melepaskan kesetiaanmu padanya." Kata Sunny sesenggukkan.


"Mena.... Aku Daisy... Bangunlah..."


Ketika Sunny mengungkap jati dirinya dan menangis serta menyesali semua keputusan yang telah ia ambil pada Mena, di luar pintu yang terbuka sedikit telah berdiri Ben dan Gavriel, serta Traver yang merasa sangat cemas atas pengakuan Sunny pada Mena.


Ben berdiri menyandarkan punggungnya pada dinding di samping pintu ruangan perawatan sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Pandangan matanya lurus ke depan begitu dingin dan Gavriel menatap cemas pada Ben, sedang Traver tubuhnya mulai bergidik, baru kali ini dia merasakan ketakutan yang tak biasa.


Tidak ada yang membuat Traver takut di dunia ini kecuali, kehilangan adiknya, dan satu hal yang paling tidak ia inginkan, itu adalah kekecewaan Benjove padanya.


Yang jelas pandangan Gavriel, dan Traver pada Ben adalah pandangan 1 pikiran bahwa, Sunny mengungkap jati dirinya yang sebenarnya pada Mena, bahwa dia adalah Daisy, dan mereka seolah menanti jawaban dan sikap dari seorang Benjove.


Namun, Ben sendiri tidak terkejut, karena dia lebih tahu bahkan hanya melalui nafas Sunny, Ben sudah bisa merasakannya jika Sunny adalah Daisy.


Ben kemudian pergi meninggalkan tempat itu di ikuti oleh Traver, Ben menuju tempat yang lebih tenang, akhirnya Ben berada di belakang Rumah Sakit, ruangan yang memiliki jendela besar untuk melihat pemandangan yang cukup indah dengan hujan gerimis yang masih mengguyur dan angin yang menerpa sepoi-sepoi.


Traver yang mengikuti Ben tiba-tiba bersujud di belakang Ben.


"Anggap kepala saya untuk menebus kepala adik saya." Kata Traver lagi.


Ben masih berdiri membelakangi Traver dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana, mantelnya yang besar berkibar pelan terkena angin dingin.


"Aku sudah tahu sejak awal, jika adikmu yang telah membantai semua pengawal Amfibi milikku." Kata Ben.


Ben memang sengaja menyuruh Gavriel agar dokter itu membawa Sunny menemui Mena. Ben tahu Sunny sangat mudah kasihan dan luluh hatinya, Ben tahu Sunny atau Daisy belum memiliki cukup kekuatan untuk bisa mengelabui dan menekannya, lalu Ben pun mengajak Traver agar Traver bisa mendengar sendiri kesaksian dari orang yang mengalaminya.


"Tapi... Kenapa...Selama ini... Anda... Hanya diam Tuan, bahkan anda selalu menanyakan kabar adik saya." Traver menatap punggung besar Ben, dengan mata yang membulat.

__ADS_1


"Mena, dia spesial. Dia sangat berbakat dengan segala hal mengatasi masalah. Waktu itu ketika aku ikut menyelam denganmu, aku bisa langsung menebak dari semua bubuk mesiu yang bercampur dengan air, dan peledak yang di gunakan, itu adalah taktik dan alat serang milik Mena, semua serangan yang Mena lakukan dapat ku baca dengan mudah, ketika aku melihat salah satu mayat pengawalku yang masih utuh. Dia di tusuk di beberapa tempat dengan sasaran yang tepat, lalu menggunakan biji bom yang pernah ku berikan padanya, dan aku juga menemukan belati miliknya tersangkut di tubuh komandan Amfibi."


"Apa....!!!" Traver semakin terkejut, karena ia tidak pernah tahu jika Mena menerima Biji Bom dari Tuannya sebagai alat serangnya, yang paling parah adalah Belati Mena menancap di tubuh komandan Amfibi.


"Di lain sisi aku memang merasa di khianati namun, di sisi yang lain pula, itu bisa menjadi evaluasi bagi para pengawal ku jika mereka masih bisa di kalahkan, dengan jumlah sebanyak itu, Mena melawan mereka sendirian, itu pun dengan gerakan sangat terbatas di dalam laut, entah Mena akan sampai mana jika itu ada di daratan. Kau telah membentuk Mena sebagai mesin petarung yang tangguh Traver." Kata Ben.


"Tuan Ben..." Traver mulai kebingungan, keputusan apa yang akan Ben ambil.


"Berdirilah." Perintah Ben pada Traver.


"Tuan... Saya... Benar-benar minta maaf..." Kata Traver.


"Berdirilah." Ben kemudian memutar tubuhnya melihat pada Traver yang masih bersujud di bawah kakinya.


"Tapi Tuan..."


"Aku percaya dengan kesetiaanmu, tapi untuk Mena aku akan pikirkan lagi. Sejak awal Mena selalu menuruti Daisy daripada menurutiku." Kata Ben menyedekapkan tangannya.


"Saya benar-benar minta maaf Tuan, Mena sepertinya memiliki sesuatu yang membangkang, saya akan mendidiknya lagi." Kata Traver sembari berdiri dan menundukkan kelapa.


"Itu bisa kau pikirkan lain kali, tapi yang jelas dia bisa sangat setia untuk Daisy. Lalu untuk hari ini, bagaimana perkembangan penyelidikanmu tentang Sunny."


"Saya memang akan mengabarkan sesuatu yang sudah anda ketahui jika Nona Sunny memang Nona Daisy. Pertama teman-teman Akselerasi yang ada di luar negeri palsu. Teman-teman yang ada di kelas Akselerasi hanya karangan dan mereka semua telah menerima sejumlah uang lalu setelah itu di perintahkan untuk mengganti nama, kewarganegaraan dan operasi plastik. Mereka di buat oleh Derreck dan keluarga Nona Sunny juga palsu. Tuan Derreck memang mengambil profil kedua orang tua Sunny yang memiliki anak perempuan yang telah meninggal, dan membuat seolah-olah Sunny adalah anak mereka dengan memalsukan data. Foto-foto yang di ambil di luar negeri dengan nuansa jaman sekolah dan waktu kecil pun di sisipi beberapa editan."


Ben mengangguk tanda mengerti.


"Jadi semua sudah jelas beserta buktinya dan juga Sunny telah mengungkapkan dirinya sendiri."

__ADS_1


"Lalu ada 2 hal yang paling penting Tuan Ben. Ini mengenai rumah Nona Daisy yang kita iklankan, serta adik Tuan Derreck yang di kabarkan meninggal." Kata Traver.


Bersambung


__ADS_2