
Setelah kepergian Rudolf dan Ben, Traver menyisir wilayah bagian timur, dan memeriksa kediaman Daisy.
Rumah sudah terbakar habis membuat Traver memiliki pekerjaan tambahan untuk membangun replika rumah milik Daisy seperti semula lagi.
Tak hanya itu, Traver juga menggelontorkan sejumlah uang santunan yang banyak untuk membangun kembali fasilitas di wilayah barat dan juga di berikan pada korban meninggal dan luka-luka.
Saat itu, setelah mendapat perintah, Mena bergegas menuju gedung Pemerintah Negara K untuk melakukan negosiasi dan memberikan sejumlah uang tutup mulut, akhirnya pemerintah sepakat untuk menyembunyikan apa yang terjadi, mereka merilis berita resmi jika ada serangan dari beberapa kelompok yang menginginkan kemerdekaan mereka sendiri, namun semua sudah terkendali.
Di Kota Z, Gavriel sudah menunggu dengan cemas, ia tidak dapat duduk tenang, dan mondar-mandir di dalam mansion, dan berulang kali keluar ke halaman untuk mengecek.
Setelah menunggu cukup lama, iring-iringan mobil pun tiba, para pengawal mulai berlarian dan berjaga.
Ben keluar dari mobil di susul Daisy serta Rudolf.
"Biar ku bantu." Kata Rudolf.
Ben segera memandang dingin.
"Aku masih sanggup, bahkan untuk duel dengan mu."
Gavriel yang melihat kedatangan Ben segera berlari.
"Kau... Terluka parah di kepala, bisa-bisanya tetap nekat naik pesawat beberapa jam, aku bisa datang ke Kota S atau setidaknya di sana ada dokter juga."
"Tidak ada dokter sebaik dirimu, dan aku ingin di obati di mansion." Kata Ben berjalan.
"Tapi ini berbahaya..." Kata Gavriel.
"Aku sering melewati bahaya, nama belakangku adalah bahaya." Kata Ben.
"Astaga..." Keluh Gavriel karena keras kepala Ben.
"Obati Daisy dulu." Ben kemudian masuk ke dalam mansion.
"Sa... Saya tidak terluka saya hanya butuh mandi."
Gavriel mengangguk tanda mengerti.
"Saya akan memastikan setelah anda selesai membersihkan diri." Kata Gavriel.
Para pelayan juga sudah tanggap, mereka melayani Daisy dan mengawalnya naik keatas.
__ADS_1
Ben sendiri sudah berada di dalam kamarnya, ia kemudian menuangkan minuman whiskey dan menyesap, Gavriel menyiapkan alat-alat yang sudah di seterilkan.
"Nona Daisy, menolak ia ingin membersihkan diri lebih dulu."
"Hmm..." Kata Ben duduk di sofa dan menaruh whiskeynya di meja.
Saat itu Ben memakai kemeja putih, bajunya telah banyak dengan bekas lumuran darah, dan membuka kemejanya, pria itu sedikit meringis ketika lengannya yang terluka karena terkena serempetan peluru mengenai bajunya.
"Aku tidak suka memakai kemeja warna putih, karena hal ini." Kata Ben.
"Kenapa? Kau takut citra mu yang kebal akan luntur, karena darah yang membekas di kemeja putih?" Graviel mulai mengoleskan kapas menggunakan penjepit yang sudah di basahi dengan cairan antiseptik dan menyeka darah yang sudah mengering di pelipis Ben.
Perawat yang menemani Gavriel melakukan tugasnya dengan baik, ia melayani Gavriel dengan cekatan.
Tak berapa lama Rudolf pun masuk.
"Aku baru saja mengunjungi narapidana kita." Kata Rudolf dan melihat Gavriel sedang membersihkan luka Ben.
"Aku memeriksa CCTV, Blaze berusaha untuk mengeluarkan John, tapi dia justru salah mengeluarkan Billy. Ada apa dengan Billy? Kenapa menyiksanya sampai tidak berwujud seperti itu wajahnya. Astaga, Traver seperti memiliki dendam pribadi padanya." Tanya Rudolf.
Gavriel mengulurkan tangan dan perawatnya memberikan beberapa alat untuk melakukan jahitan di kepala Ben.
"Tidak perlu, aku menyukai rasa sakit." Kata Ben.
"Baik lah Tuan keras kepala." Kata Gavriel dan mulai menjahit sedikit demi sedikit dan sepelan mungkin.
"Billy menentang ku dan Traver memberikan pelajaran, pelayan yang lain sudah di buang ke penangkar hiu, Traver mengatakan jika mereka sudah tidak seru untuk menemaninya bermain, ku pikir Traver masih bermain-main dengan Billy, karena ia belum membunuhnya... Sshhh!" Kata Ben sembari sedikit mendesiss karena tusukan Gavriel.
"Ini akan sakit, kau yakin tidak butuh anestesi tidak hanya kepala yang harus di jahit, luka di lenganmu juga cukup dalam?" Tanya Gavriel.
Ben mengambil whiskey dan meminumnya.
"Ini anestesi terbaik." Kata Ben menunjukkan dan mengangkat gelas whiskeynya.
"Apa Traver memiliki gangguan. Dia suka menyiksa orang? Berbeda denganmu yang tidak mau di repotkan menculik atau menahan tawanan, kau lebih suka membunuhnya langsung, tapi Traver, dia sangat suka menawan dan menyiksa orang, dia akan merasa puas ketika menyileti kulit manusia. Apa itu sebabnya kau tidak membunuh John saat itu untuk memberinya mainan baru?" Kata Rudolf.
Ben mengingat bagaimana pertama kali ia bertemu dengan Traver di mansionnya, anak muda itu adalah satu-satunya yang berhasil dan berani membobol pertahanan mansionnya tanpa melalui orang dalam.
"Jika Blaze bisa meledakkan Satelit milikku, itu karena dia sudah sedikit banyak mengetahui sistem di dalam pertahananku, dia juga keluar masuk Mansion. Traver berbeda, dia tidak pernah menyentuh bangku pendidikan, sama sepertiku. Namun, dia mampu membobol pertahanan keamanan milikku, dan berani menyelinap masuk, nilai plus yang aku sukai darinya adalah dia psikopat, dari caranya melumpuhkan musuh, dan membunuh, saat dia dapat masuk ke dalam mansion, aku melihat hampir seluruh pengawalku seperti daging cincang, dia sama seperti aku. Awalnya aku hanya penasaran dan membiarkan nya masuk, tapi setelah melihat aksinya, aku menjadi tertarik untuk merekrutnya berdiri bersamaku."
"Ya, tentu saja kalian cocok, karena kalian para penderita gangguan mental." Gavriel menusuk lagi dan menarik jahitan, lalu mengikatnya.
__ADS_1
"Sshh... Itu kasar." Kata Ben merasakan nyeri di kepalanya.
"Karena kau seharusnya melakukan terapi denganku, sedikit demi sedikit kau tidak akan kecanduan dengan obat lagi, aku tahu akulah yang meresepkan obat itu, tapi aku tidak bisa terus-terusan memberikannya padamu, kau bisa gila sungguhan jika terus menerus menelan obat itu." Kata Gavriel sembari melanjutkan jahitan di lengan Ben.
"Sejujurnya, sudah lama aku bisa tidur, dan tidak terlalu sering meminumnya, aku juga tidak bermimpi buruk."
"Benarkah? Sejak kapan?" Gavriel terkejut sembari masih fokus pada lengan Ben.
Ben mengingat-ingat lagi.
"Aku lupa kapan tepatnya, ku pikir, apa karena aku terlalu banyak mengeluarkan tenaga." Kata Ben sedikit menutupi wajahnya dengan menunduk membenarkan duduknya.
"Tenaga? Kau berperang dengan siapa?" Tanya Rudolf.
"Apa Daisy menjadi tempat melampiaskan tenagamu." Kata Gavriel dengan cepat dan tertawa, lalu menyimpul jahitan.
Gavriel telah menyelesaikan tugasnya, dan perawat mulai membereskan semua peralatan.
Ben hanya diam dan menyadari sepertinya memang sejak Daisy ada, Ben tidak mengkonsumsi obatnya terlalu sering.
"Coba tidur lah dengan Daisy, siapa tahu kau akan benar-benar bebas dari obat-obatan." Kata Gavriel.
"Aku tidak suka tidur dengan orang lain."
"Itu lah yang memperparah, kau kesepian, tidak ada yang menghangatkanmu, jika kau tidur dengan Daisy, kau akan lebih nyenyak, cobalah." Bujuk Rudolf.
"Tidak akan ada bedanya, aku tidak mau tidur dengan siapapun." Kata Ben.
"Coba saja Ben, seandainya Daisy tahu kau sering mengigau karena bermimpi buruk, sepertinya dia juga bukan tipe yang akan meninggalkanmu." Kata Rudolf.
"Dia pernah kabur dariku, dan dia membenciku."
"Dia memiliki alasan, itu karena kau juga menutup diri, dan terlalu dingin, aku melihat sejak ada Daisy, kau banyak berubah." Bujuk Gavriel.
"Cerewet sekali. Pergilah kalian aku mau mandi!" Kata Ben berdiri.
"Baiklah, kepalamu yang keras jangan sampai terkena air dulu." Kata Gavriel.
Rudolf tertawa mendengar Gavriel mengejek Ben, dengan alibi agar kepala nya tidak terkena air, kemudian Rudolf pergi, diikuti oleh Gavriel serta perawatnya.
Bersambung
__ADS_1