Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 138


__ADS_3

Saat semua pengawal mati terbakar hidup-hidup dalam pikiran Daisy hanya satu, bahwa ia harus cepat pergi, ia tak ingin anak-anaknya menjadi yatim piatu.


"Traver lebih cepat!!!" Teriak Daisy.


Saat itu Daisy melihat jilatan api yang berkobar seperti tak ingin melepaskan mobil yang ia tumpangi.


Seolah api itu juga memiliki jiwa dan masih kelaparan lalu ingin mengejar Daisy untuk di makan.


Traver menginjak pedal gas nya lebih dalam dan menerjang apapun yang ada di hadapannya, debu benar-benar memghalangi pandangan matanya, membuat mobil seketika berhenti ketika Traver merasa mereka sudah aman.


Nafas Daisy naik turun dan ketakutan, berulang kali ia melihat ke arah belakang apakah api itu masih akan menyerang mereka.


Pada akhirnya, Traver pun memutar otak lagi, kemana ia akan membawa Nyonya nya pergi agar selamat.


Kemudian sebuah ide ada di kepalanya.


"Nyonya... Kita harus menyeberangi pantai yang ada di ujung sana untuk bisa ke pulau sebelah, di sana ada kapal besar, dan anda naiklah bilang bahwa anda adalah istri dari Tuan Ben.


"Kau tidak akan menemaniku?" Tanya Daisy.


Daerah itu tidak akan terpikirkan oleh Paulo Redges, karena itu adalah daerah yang di takuti Paulo Redges.


"Kenapa?" Tanya Daisy.


"Karena anak Paulo Redges, Vanda Betrando, yang di bunuh Tuan Ben, di buang di sana, dan itu membuat Paulo Redges trauma."


Daisy mengangguk ia harus cepat meninggalkan Pulau Maladewi agar bisa lebih cepat bertemu dengan anak-anaknya, meskipun hatinya begitu berat, meninggalkan Ben suaminya.


Daisy berlari pergi, ia melihat ke belakang, dimana Traver berdiri masih berjaga, Daisy juga melihat ke arah Resort dimana Ben berada, Daisy sangat menyesal namun, ia tahu bahwa ia harus cepat menemui orang tuanya dan anak-anaknya.


Di tempat lain, Ben sedang mencoba bertahan, dari serangan-serangan kapal-kapal tak berpenghuni.


"Bagaimana jika kita tembakkan misil Tuan..." Tanya salah satu pahlawan.


"Masih belum, kita akan tembakkan saat waktu yang tepat datang."


"DUUUAAAARRRR!!!" Salah satu bom mengenai bagian sisi luar Resort.


"Sial..." Kata Ben kesal.

__ADS_1


Maladewi adalah pulau yang sangat berarti, dan Resort juga telah mengukir begitu banyak kenangan bagi Ben namun semua itu Paulo Redges hancurkan membabi buta dengan menyerang menggunakan kapal-kapal tak berpenumpang.


Hingga akhirnya kapal-kapal tak berpenumpang itu tak bisa lagi melaju ke depan, karena terbentur karang, dan beberapa kapal masih menembaki pulau maladewi.


Semua orang ketakutan dan mencoba kabur, namun mereka tak bisa karena telah terkepung, bahkan ada beberapa pengunjung dan turis yang masih terperangkap di pulau Maladewi, mereka berteriak histeris hingga ada yang pingsan karena saking takutnya.


Tiba-tiba serbuan ski boat datang dari ujung pantai, dan itu sangat banyak, sudah di pastikan mereka adalah para penyerang, mereka adalah pengawal Paulo Redges.


Sebuah kapal besar pun melaju dengan cepat, dan Paulo Redges berdiri di atas kapal dengan menyedekapkan tangan dan memakai kaca mata hitam.


Saat itu Paulo Redges sedang memimpin semua anak buahnya untuk menyerang Pulau Maladewi.


"Tukang banyak gaya!" Kata Ben malas dan memeriksa pistolnya.


"Semuanya bersiap penyerangan." Kata Ben memberikan perintah.


"Baik Tuan." Kata para pengawal melalui earphone mereka.


Ski Boat yang begitu banyak akhirnya menepi di pinggir pantai, ada banyak juga yang langsung menerjang pasir pantai, dan para pengawal itu berjumlah lebih dari 500 orang.


"DOOORR...DOOORR...DOOOORRR!!!!" Pengawal Paulo memulai menembaki Resort milik Ben.


Ben kemudian pergi mengambil senjatanya di dalam kamar, sebuah senapan laras panjang dengan rentetan peluru panjang.


Ben kemudian menaruh senapannya di jendela kamar, dan membidikkan para pengawal satu demi satu.


"DOR!!"


"DORR!!!"


"DORR!!!"


"DORRR!!!"


Dengan tangan cekatan Ben terus menembaki para pengawal tepat sasaran, bidikannya akurat dan selalu mengenai para pengawal, tak ada peluru yang terbuang sia-sia.


Namun, hingga 30 menit berlangsung para penyerang terus merengsak masuk, dan para pengawal Ben terdesak mundur.


Penyerangan semakin membabi buta, para pengawal Paulo maju dengan arogan dan tak terorganisir, mereka merusak, membakar, dan memukul semua yang ada di hadapan mereka.

__ADS_1


Hingga akhirnya para pengawal Ben habis dan kalah telak, namun Ben tak menyerah, ia melihat dari jendela Traver sedang menuju padanya namun jaraknya masih terlalu jauh.


Pandangan mata Ben seperti elang yang sangat marah.


"Apa dia meninggalkan istriku!" Geram Ben.


Tak lama kemudian para penyerang mulai memasuki dan merusak Resort.


Ben terkepung di antara pengawal-pengawal Paulo Redeges yang siap membunuhnya, sialnya pistol Ben hanya tersisa dua peluru, dan pria itu masih bersembunyi di dalam kamarnya.


Tak berapa lama para pengawal kian mendekati persembunyiannya. Terdengar langlah-langkah derap kaki dan kerusuhan memukul dan mendobrak pintu atau berteriak seperti preman.


Semakin lama semakin terdengar jelas, langkah-langkah puluhan bahkan ratusan pengawal telah berada di dekat kamar Ben.


Ben dengan cepat keluar dari kamarnya, ia memanjat keluar dan kemudian berjalan melalui balkon ke balkon, ia mengendap-endap dan akhirnya sampailah di atas gedung gudang penyimpanan Barang.


Ben kemudian turun dengan cara bergelantung dari satu balkon menuju balkon lain, dengan meloncat dan berguling.


Pistol emas Ben masih berada di pinggangnya, namun ketika Ben hendak melompat lagi, pistol emasnya terjatuh ke bawah, pistol itu tergeletak di atas rerumputan.


"Sial!" Geram Ben.


Kemudian dengan cekatan Ben mendobrak Pintu gudang, suara itu membuat para pengawal yang sudah mengobrak abrik kamar Ben mendengarnya, mereka pun keluar melihat dari arah jendela.


Para pengawal melihat Ben masuk ke dalam sebuah ruangan melalui pintu balkom, dan para penyerang utu pun berbondong-bondong keluar dari kamar dan menuju gedung gudang penyimpanan.


"Cariii sampai dapat!!!" Teriak Paulo Redges dengan berkacak pinggang.


Saat itu Paulo Redges sedang duduk di depan meja panjang, di sana terhidang beberapa makanan meski masih setengah matang, karena para koki dan pekerja serta pelayan berhenti bekerja dan pergi meninggalkan Resort ketika tahu Pulau Maladewi akan di serang.


Di tempat lain, ratusan pengawal sudah mengepung bangunan gudang, dan puluhan pengawal yang sepertinya adalah ketua atau komandan mereka pun mendobrak pintu besar gudang tersebut.


Gedung Gudang memiliki 2 lantai, gedung itu besar dan tertata rapi, untuk penyimpangan barang-barang entah tak terpakai ataupun barang-barang yang masih terpakai.


Beberapa pelayan masuk membawa kayu.


"PYAAARRR!!!" Salah satu pengawal memukul rak piring dan semua piring pun jatuh ke lantai membuat pecahan piring tersebar kemana-mana.


"Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga... Sepintar-pintarnya kau bersembunyi... Kau pasti akan mati juga!" Kata Paulo Redges yang tiba-tiba sudah berada di gedung gudang tepat di antara para pengawalnya yang mengepung gudang tersebut dimana Ben berada.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2