
"Aku mencurigaimu berselingkuh bukan karena tak ada alasan." Kata Daisy.
Ben diam.
"Sudah lebih dari 3 tahun kau tidak mau menyentuh ku, selama itu aku tidak peka, ku pikir kau terlalu sibuk, namun beberapa kali aku mencoba memprovokasimu, tapi kau tetap menolak tak mau menyentuhku."
"Benarkah? Kapan kau memprovokasiku?" Tanya Ben.
"Kau tidak tahu?"
Ben menggelengkan kepala.
"Benarkah kau tidak tahu?"
"Aku tidak tahu, kau sengaja melakukan provokasi."
"Saat aku mengusulkan mandi bersama dan telanjangg, saat aku memakai pakaian baju tidur yang tipis namun pada akhirnya kau tidur di kamar anak-anak." Kata Daisy.
"Aaa..." Ben mengingatnya.
"Jadi itu yang di sebut provokasi?" Kata Ben sedikit tersenyum.
"Kenapa?" Tanya Daisy.
"Sejujurnya, saat itu aku memang terangsangg jadi aku buru-buru pergi dan tidur di kamar anak-anak, tapi murni karena aku memiliki sekss yang sangat besar padamu, apalagi kau semakin cantik, aku tak tahu kalau saat itu kau sedang melakukan provokasi." Ben akhirnya tertawa.
"Kenapa dengan tertawamu?" Kata Daisy.
"Aku tidak tahu itu dinamakan provokasi, bagiku provokasi itu seperti ini."
Tangan besar Ben meluncur kebawah dan membelai bagian sensitif Daisy.
"Provokasi, agar istriku terangsangg." Kata Ben.
Daisy sedikit menahan senyumannya.
"Aku telanjangg di depanmu, itu juga provokasi bukan?" Daisy menahan desahann setiap kali tangan Ben menelusup masuk dan keluar.
"Ya, aku memang tergoda dan bergegas pergi, tapi aku tidak tahu maksudmu, jika kau memegangnya... Mungkin akan menjadi berbeda." Bisik Ben.
"Memegangnya?" Tanya Daisy.
Ben mengambil tangan kecil milik Daisy dan mengarahkannya pada benda milik Ben yang telah menegang.
Daisy memutar duduknya dan memegang benda besar itu, sabun yang tercampur air membuat seluruh tubuh mereka licin.
"Apakah seperti ini baru di namakan provokasi?" Tanya Daisy.
__ADS_1
Ben menatap wajah istrinya dan tersenyum, sesekali ia memejam kan mata.
"Ya... Kau sedang memprovokasiku, apa kau akan siap dengan tubuh mu yang seperti itu, apa masih ada sisa tenaga?" Tanya Ben.
"Mungkin satu kali putaran lagi." Kata Daisy.
Ben tertawa.
"Bukankah kau membenci aku yang seperti iniii..." Ben memejamkan mata, rahangnya menguat merasakan ketegangan luar biasa yang ingin di puaskan.
Daisy masih menggosok tangannya di bagian benda milik Ben.
Daisy naik dengan menahan tubuhnya menggunakan kedua lututnya dan kemudian berpegang pada bahu Ben, karena lututnya masih lemas.
"Dulu aku membencinya, tapi sekarang aku justru haus dan merindukannya." Bisik Daisy di telinga Ben.
"Sejak kapan kau kecanduan?"
"Sejak kau tak pernah menyentuhku." Kata Daisy.
"Jadi kau tidak akan marah dan tidak akan meninggalkan ku jika aku melakukannya lagi dan lagi sepanjang hari?" Tanya Ben.
Daisy menggelengkan kepala.
"Aku menyukainya. Lakukanlah lagi dan lagi.... Keluarkan semua tenagamu, keluarkan semua kemampuan mu sayang..." Bisik Daisy dan menggigit telinga Ben.
"Kau tidak boleh menyesalinya... Istriku." Kata Ben memegang pinggul Daisy.
Ben tersenyum, kedua tangannya menelusuri setiap lekuk tubuh istrinya yang licin karena sabun.
Semakin licin tubuh mereka semakin terasa sangat bagus.
Ben membuka kedua paha Daisy untuk duduk di atas pahanya, dan memasukkannya.
Daisy memeluk leher besar Ben dan mendongak merasakan setruman hebat yang kembali menyengatnya.
Saat Ben menggoyangkan pinggulnya, setiap sel syaraf Daisy mulai bangkit dan tubuhnya kian membara.
Suara air di dalam Bathup yang berkecipak jatuh ke lantai membuat mereka semakin panas.
Nafas Ben mulai keluar dengan keras, dan rintihan khas seorang pria mulai memenuhi ruangan, tak mau kalah Daisy merapatkan pahanya dan menjepitnya lebih kuat, tangannya mencengkram rambut dan kepala Ben, suara desahaan dan nyanyian kenikmatan melantun mertu dari kedua mulut mereka yang memenuhi kamar mandi.
Seperti musik merdu dan instrumen erotiss yang membara bagaikan kobaran api yang kian membesar karena nafsuu yang terus di tahan dan menumpuk setiap saat di dalam tubuh mereka yang tak bisa lagi di tahan.
Pikiran Daisy tiba-tiba kembali melayang pada foto Ben yang bersama seorang wanita cantik dengan tubuh yang bagus.
Itu adalah pose yang sangat erotiis, Daisy pikir, bukan saatnya dia harus membahas foto itu, Daisy sedang menikmati rasa hausnya dan sedang menyirami dahaganya selama 3 tahun lebih di abaikan.
__ADS_1
Kali ini Daisy akan diam dan menyimpannya untuk beberapa waktu. Daisy tak mau terlibat pertengkaran lagi dengan Ben setelah semua akhirnya dia capai.
Pada akhirnya satu kali putaran menjadi beberapa kali putaran, dan beberapa kali hujaman serta dorongan kuat, semua itu justru membuat mereka seperti sedang berbulan madu, Ben bahkan mengangkat tubuh Daisy ke atas meja marmer dan membaringkan di sana hingga memberikan kepuasan luar biasa bagi Daisy.
Dan kalimat Ben yang akan selalu Daisy ingat adalah.
"Kau tidak akan pernah puas jika tidak denganku, tidak akan pernah ada pria yang bisa menandingi keahlianku untuk memuaskanmu, jadi jangan sekali-kali untuk mendapatkan nya dari orang lain, bahkan jika kau hanya sekedar memikirkannya, kau tidak boleh, atau aku akan menghukummu hingga kau sekarat seperti ini."
Nafas Daisy memburu dengan cepat, semua cairan seolah tumpah ke bawah dari bagian sensitifnya. Ben sangat terampil.
Daisy pun juga yakin, setelah ia merasakan bagaimana terampil dan kuatnya Ben, di pastikan ia tak akan pernah ingin membayangkan pria lain, karena ia tahu tak akan ada yang bisa menandingi permainan Ben, tak akan ada yang mampu menyaingi kekuatan Ben apalagi ketrampilan Ben dalam memuaskannya.
Daisy akhirnya menyerah, ia tak bisa lagi melanjutkan serangan berkobar-kobar Ben dan meminta untuk berhenti.
"Aku sudah tidak bisa, sudah mati rasa... Semuanya mati rasa..." Pinta Daisy.
"Ini yang terakhir." Kata Ben dengan penuh dorongan yang kuat.
Urat-urat di semua tubuh Ben bermunculan, otot-otot Ben di seluruh tubuhnya juga menonjol, mereka semua mendidih dan membakar tubuh Ben.
Dengan gerakan yang lebih cepat Ben mengakhirinya dengan menggeram keras dan dalam, serta mendorongnya jauh lebih dalam lagi.
Hingga untuk beberapa saat Ben menunggu agar semuanya lebih tenang, dan mencabut benda miliknya.
"Terimakasih istriku... Kau yang terbaik." Kata Ben membelai wajah Daisy yang penuh peluh dan keringat.
"Bagaimana ini, apakah kita akan mandi lagi?" Tanya Daisy dengan lemah dan mata sayu.
"Aku akan memandikanmu, aku janji tidak akan lagi ada putaran selanjutnya." Kata Ben.
Daisy tersenyum dengan kode mata tak percaya.
"Aku berjanji..." Kata Ben terkekeh.
Kemudian Daisy mengulurkan kedua tangannya, Ben pun menggendong Daisy dan mengangkatnya dari meja marmer besar itu.
Kali ini Ben benar-benar memandikan Daisy dan memakaikan baju untuk Daisy, lalu membawanya keluar dari kamar mandi.
"Akhirnya aku keluar dari kamar mandi, jadi kita seharian akan ada di dalam kamar?" Tanya Daisy.
Ben tersenyum.
"Kita seperti pasangan baru yang sedang kasmaran, apakah para pelayan menyadarinya." Kata Daisy lagi.
"Biarkan saja." Kata Ben menurunkan Daisy di atas ranjang.
Namun, pandangan Daisy tertuju pada obat yang ada di atas nampan, itu adalah obat yang tak asing baginya, obat yang paling ia benci. Seketika senyuman dan wajah bahagia Daisy menghilang lalu melihat ke arah Ben dengan penuh rasa kesal.
__ADS_1
"Sayang..." Ben memanggil istrinya dengan lembut, ia tahu perasaan apa yang kini ada di dalam hati Daisy. dan hendak menjelaskannya.
Bersambung