
Saat itu Yaron mulai terdesak, Yaron terjatuh dan tersungkur karena kalah dengan Heiden, Charles datang untuk menolong Yaron.
Dengan cepat, Charles menghujamkan belatinya, namun sayang dia meleset dan justru, membuat celah bagi Heiden untuk membalas.
Tangan Heiden sangat cepat dan gerakan tubuhnya juga cepat.
"JLEEBBB!!!"
Heiden menusukkan pisau belatinya di perut Charles.
"Aag....!!!" Darah kental keluar dari mulut Charles sangat banyak.
Tak hanya itu, darah juga mengucur banyak dari perutnya.
Yaron yang tersungkur melihat itu lalu mengambil pistolnya namun ketika Yaron membidikkan pada Heiden, Heiden justru memutar tubuh Charles sebagai tameng untuknya.
Pandangan Yaron tertutup punggung Charles, Yaron kemudian mengambil pisau belatinya, dan ia bangkit.
Heiden semakin menusukkan pisaunya pada Charles lebih dalam lagi.
"ZZLEEBB!!!!"
"Aaagggh..." Charles melemah, darah mengucur ke tanah begitu banyak.
"Charles!!" Teriak Zac yang saat itu masih melawan Aaron.
"Kau masih memikirkan orang lain, padahal dirimu sendiri saja butuh pertolongan." Kata Aaron.
"Sialan!" Geram Zac menahan pedang yang terhunus pada wajahnya.
Gavriel sendiri sudah semakin lemah, matanya mulai kabur ketika melihat Charles telah di tusuk oleh Heiden. Dalam hatinya, ia berfikir apakah ini akhir dari kejayaan Keluarga Haghwer dan yang lainnya.
Perlahan mata Gavriel mulai menutup.
"Paman Gavriel tetaplah sadar!!!" Teriak Zac.
"Siaaall..." Zac mulai geram.
"Pikirkan dirimu sendiri bodoh!!!" Teriak Aaron.
"Hyyaaaa!!!!" Zac marah dan mendorong Aaron mundur.
"BUUGGG!!!" Zac kemudian menendang perut Aaron dan Aaron terungkur mundur, ia terjatuh hingga tubuhnya membentur tanah.
******
Di mansion milik Gege Vamos, helikopter tengah mendarat, dan sudah keluar dari Pulau Kematian.
Zay masih terus uring-uringan dan marah pada Gege Vamos, hingga mereka bertengkar di atap, tepat di tempat pendaratan Helikopter.
"Untuk apa kau ikut campur!" Teriak Zay.
"Zay... Kau akan mati jika ada di sana, mereka yang ada di sana memiliki kekuatan berperang di atas level mu." Kata Gege Vamos.
"Aku yakin aku bisa, dan sekarang kau membawa ku pergi, bagaimana keadaan Gavriel!! Kau tidak tahu apapun dan merusak semuanya!!!" Teriak Zay pada Gege Vamos.
Gege Vamos menahan lidahnya untuk tak mengatakan apapun, ia mengangguk pelan dan terima apapun yang Zay katakan.
"Masuklah." Ajak Gege Vamos.
"Tidak mau! Aku harus kembali dan membawa Gavriel pulang."
"Kau tidak boleh kembali."
"Gavriel sekarat, apa kau memang berniat membuat Gavriel mati!!" Teriak Zay.
__ADS_1
Mendengar perkataan Zay Gege Vamos sangat terluka. Apalagi saat itu deru helikopter membuat suasana semakin panas dan ramai.
"BRRAAKKK!!!" Gege Vamos menendang helikopter.
"Matikan mesinnya bodoh!" Teriak Gege Vamos melampiaskan amarahnya pada pengawalnya, ia tak mungkin marah dan memukul Zay.
Gege Vamos kemudian menarik nafasnya pelan, ia menetralkan emosinya, dan salah satu pengawal pun datang.
"Tuan Gege, para pengaploud Video Nona Zay sudah kami bunuh, dan Pasukan Mafia rendahan juga sudah di bunuh di lokasi mereka, semuanya sudah di bersihkan. Lalu orang-orang yang sudah melihat video tersebut juga sudah kami singkirkan, mayat mereka kami buang di laut." Kata Pengawal itu.
Gege Vamos memicingkan matanya, ia mendelik pada sang pengawal, bahwa tidak seharusnya si pengawal mengatakan hal itu.
"Apa?" Zay yang mendengar nya jelas terkejut.
Gege diam.
"Apa yang pengawal mu maksud? Video tentangku? Kau tahu tentang itu? Tentang masalah video itu? Apa kau tahu? Apa mereka para pengaw tahu video itu? Apa mereka para pengawal juga sudah melihat? Para pengawalmu melihatnya?"
Gege Vamos mendekat pada Zay, ingin menyentuh tangan Zay dan menjelaskan namun Zay mundur dan tidak mau di sentuh.
"Aku pastikan pengawalku tidak ada yang berani melihat, mereka menjalankan tugas dengan profesional, kau bisa memotong lidahku jika aku berbohong padamu Zay."
"Lalu... Bagaimana denganmu? Apa kau melihatnya." Tanya Zay, air matanya meleleh.
"Aku berusaha untuk memusnahkannya Zay, aku berusaha menekan setiap video yang selalu teraploud dan menghapusnya."
"Aku tanya apa kau melihat ku, di video itu?"
Gege Vamos diam.
"Jadi kau melihatnya. Sampai mana kau melihatnya." Tanya Zay lagi dengan suara bergetar.
"Maafkan aku Zay." Kata Gege Vamos memalingkan pandangannya tak sanggup melihat Zay menangis
"Kau melihat seluruh videoku?" Tanya Zay lagi.
Gege Vamos memang sudah melihat semua isi video Zay.
Tubuh Zay terasa lemas dan ambruk, dengan cepat Gege memeluk Zay.
"Jangan merasa sendiri Zay, masih banyak orang yang menyayangimu, mereka akan melindungimu termasuk aku." Kata Gege.
"Kau pasti menganggapku sebagai lelucon kan, kau pasti menganggapku sebagai mainan pria, wanita kotor yang tak pantas hidup, wanita yang justru menikmati pelecehan. Bukankah kau mencari istri yang bersih dan dari keluarga baik-baik." Kata Zay menangis dan menutup wajahnya.
"Zay... Berhenti berfikiran seperti itu. Aku sudah membunuh semua orang yang sempat melihat video mu, jadi tidak akan ada yang membuka mulut lagi." Kata Gege Vamos.
Kemudian Gege Vamos memapah Zay untuk masuk.
Gege memberikan perintah pada para pelayan untuk membantu Zay membersihkan diri dan memberikan semua yang Zay perlukan.
Kemudian Gege hendak pergi.
"Kau mau kemana?" Tanya Zay lemah.
"Aku akan membawa Gavriel pulang, aku akan menjemputnya untukmu." Kata Gege Vamos.
Kemudian Gege Vamos pergi untuk kembali ke Pulau Kematian menjemput Gavriel.
******
Selain itu di mansion Zac, siang itu Gaby baru bisa bangun, setelah semalaman di hajar habis-habisan dengan semua kenikmatan yang bahkan Gaby tak bisa menahannya.
"Jam berapa ini..." Kata Gaby hendak bangun.
"Aaak... Sakit sekali..." Kata Gaby memegangi pinggulnya.
__ADS_1
"Kenapa matahari terik sekali." Gaby berusaha menarik jam tangannya di atas meja.
"Astaga... Sudah sangat siang!" Gaby memekik dan memperhatikan sekitarnya.
"Mereka pasti berperang!" Kata Gaby.
Segera Gaby berniat turun dari ranjang.
"GEDEBUUG!!!" Gaby terjatuh di lantai tak kuasa menahan sakit, di pinggul dan ***********, sedangkan kakinya terasa sangat lemah.
"Aaakkk!!!"
"Zac benar-benar kejam, dia sengaja membuatku seperti ini." Kata Gaby.
Gaby kemudian merambat sedikit demi sedikit, ia harus berendam air panas lebih dulu agar melemaskan semua syarafnya.
Sedikit demi sedikit, Gaby merambat dan berhasil sampai di kamar mandi, ia tak ingin meminta tolong pada para pelayan, ia malu, apalagi tubuhnya di penuhi cap warna merah, perbuatan dari Zac.
Setelah bathup terisi penuh air hangat Gaby langsung masuk dan merasa lega, benar-benar membuat sel syarafnya mengendur dan rileks.
Beberapa menit, dan Gaby tidak ingin berlama-lama ia harus pergi ke Pulau Kematian, dengan cepat ia menyelesaikan mandinya dan memakai pakaiannya.
Namun, ketika ia sudah keluar dari kamar, seorang pengawal menemui nya di depan.
"Nona Gaby anda mau pergi?" Tanya Pengawal tersebut.
"Iya... Bisa kah seseorang mengantarku." Kata Gaby.
"Tentu Nona, tapi sebelum itu, ada yang ingin bertemu dengan anda."
"Siapa?"
"Mari." Kata pengawal itu.
Kemudian Gaby mengikutinya, pintu pun di buka.
Terlihat Moran sudah membuka mata, meski ia masih terlihat lemah.
"Masuklah Nona. Tuan Moran ingin berbicara dengan anda." Kata pengawal itu.
Gaby sebenarnya harus cepat pergi untuk mengejar waktu yang sudah terbuang, namun ia tak ada pilihan lain selain mendengarkan dulu apa yang akan Moran katakan.
"Kemarilahh..." Kata Moran lemah.
Gaby pun mendekat.
"Ambillah ponsel di sana." Kata Moran.
Gaby melihat ke arah meja yang di tunjukkan Moran, lalu memgambil ponsel itu.
Setelah Gaby mengambilnya, ia pun menyerahkan pada Moran.
Moran menggelengkan kepala.
"Kau buka ponselnya, dan aku akan mengarahkanmu harus kemana." Kata Moran.
"Ada apa? Aku harus segera pergi."
"Kau boleh pergi, setelah kau mendengar itu, karena aku yakin pandanganmu akan berubah setelah kau mengetahui kebenarannya."
"Apa ini jebakan atau hasutan? Aku tahu kalian membenci ibuku." Kata Gaby.
"Dengarlah dulu, ini tak mungkin bisa di rekayasa atau semacamnya, kau mengenal suara ibumu jauh lebih baik dari orang lain. Melihatmu seperti ini. Aku tahu, rekaman yang ku berikan padamu, paati belum kau dengarkan." Kata Moran lemah.
Gaby pun kemudian dengan ragu memutar apa yang sidah di arahkan oleh Moran, ia memencet putar rekaman, dan kemudian Gaby mulai mendengarkan apa isi rekaman itu.
__ADS_1
Bersambung~