
Grant Achatz, Acara Makan Malam\~
Acara makan malam akhirnya tiba, Ben dan Daisy memakai setelah senada.
Ben begitu gagah dan tampan, penampilannya tak memiliki kesan tua ataupun sudah paruh baya. Benar-benar terlihat masih muda dengan tubuh yang terawat dan kekar.
Sedangkan Daisy, terlihat sangat anggun dan cantik, tubuhnya yang masih ramping tak memperlihatkan bahwa sebenarnya dia sudah memiliki 2 anak.
Wajah Daisy sebening mutiara yang begitu indah, tubuhnya yang di balut dengan nuansa biru laut dan putih sangat pas dan cocok dengan kulitnya, rambut panjangnya di hiasi dengan beberapa jepit rambut berkilauan.
Ben merasa sangat bersalah karena Daisy masih belum mengetahui yang sebenarnya, tentang dan maksud serta tujuan makan malam itu.
Akhirnya mereka sudah sampai lebih dulu di Grant Achatz, tempat paling mewah dan paling mahal untuk acara makan malam saat itu.
Ben serta Daisy di sambut dengan hormat, dan di antarkan ke meja yang sudah di reservasi lebih dulu.
Traver berdiri di belakang mereka untuk berjaga dan memonitori para pengawal yang berjaga di luar untuk selalu waspada.
"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Zay anak perempuan ku..." Kata Daisy meraih lengan suaminya gembira.
Saat itu Traver berdiri di belakang Ben dan juga Daisy merasa sangat bersalah karena mereka membohongi Daisy, tentang fakta pertemuan itu.
Kemudian tak berapa lama di susul oleh Dereck yang di temani Casey di belakangnya, pria tampan yang masih terlihat muda itu masih saja sendiri belum memiliki pendamping.
Lalu Dereck duduk di dekat Ben.
"Kau tidak membawa pasangan?" Tanya Ben.
"Ini acara keluarga, aku menikmati acara ini, karena akhir-akhir ini kita jarang berkumpul." Kata Derreck.
"Tapi bukankah seharusnya kau sudah siap untuk menikah." Kata Daisy.
"Jika kau menunda-nunda pernikahan dan berniat melajang, aku berfikir jika kau masih mencintai istriku." Sahut Ben.
"Kau memang gila, dia adik kandungku." Sahut Derreck tak mau kalah.
Ben tertawa di ikuti Derreck, sedangkan Daisy cemberut melihat humor suaminya yang tak masuk akal.
"Bagaimana bisnismu?" Tanya Ben sembari menyesap air putih.
"Lancar, hanya ada beberapa ganjalan, ada seorang pebisnis yang sedikit brutal, di luar aturan, dan selalu ingin menarik perhatian." Kata Derreck.
"Siapa?" Tanya Ben.
__ADS_1
Namun saat itu tiba-tiba situasinya menjadi aneh, meja mereka ternyata berdekatan dengan meja seseorang yang juga telah melakukan Reservasi.
Sesuatu terjadi, Daisy mendadak kehilangan senyumannya, karena pertemuannya dengan seseorang yang membuat amarah serta dendamnya kembali bangkit.
Wajah itu, wajah yang tak pernah Daisy lupakan, meski telah berubah menjadi lebih cantik, meski telah menjadi sosok bidadari yang bersinar, namun tetap saja bagi Daisy wanita itu tetaplah wanita busuk meski wajahnya telah berubah menjadi lebih cantik, wajah yang tak kan pernah membuat Daisy lupa.
Itu adalah, wajah seorang wanita yang meminta Daisy untuk melepaskan Ben, agar dia bisa mencintai Ben, wajah yang meminta Daisy untuk meminta beberapa menit meminjamkan suaminya padanya.
Wajah yang paling Daisy benci hingga ke ubun-ubunnya, karena wanita itu berani mencium bibir Ben.
Bagi Daisy, wanita di hadapannya itu adalah wanita rendahan.
Dialah Gia, yang baru saja tiba bersama Douglas seketika hanya berdiri mematung.
Gia memakai setelan pakaian yang mewah berwarna hitam dan merah dengan mengikuti lekuk tubuhnya yang ramping dan sensual. Dadanya yang besar menyembul sempurna seolah memperlihatkan betapa seksi dan sensual nya dia.
Beberapa tanda yang di buat suaminya di tutupi dan di poles dengan make up sedemikian rupa hingga menyerupai kulit langsatnya yang bening.
Dada dan nafas Daisy mulai bergemuruh. Tangannya mengepal sempurna. Daisy bangkit dari tempat duduknya dan di susul Ben serta Dereck.
Gia serta Douglas pun masih berdiri, mereka semua saling tatap dan saling pandang.
"Kau bahkan tak berkedip, apakah kau masih memiliki impian bersamanya? Jika kau menatapnya lebih lama lagi, sepulang dari sini, kau akan menerima siksaan yang lebih menyakitkan." Bisik Douglas pada Gia.
Kemudian dengan cepat, Gia membuang pandangannya lalu duduk dimana Douglas juga duduk, mereka duduk berdampingan.
Kemudian Daisy duduk dengan marah.
Daisy masih sangat ingat bagaiamana Gia mencium Ben dan itu membuatnya sangat marah.
"Tenang sayang, Zay akan segera datang, dia akan takut jika kau memasang wajah yang berkerut-kerut." Bujuk Ben dan membelai punggung serta tangan istrinya.
Derreck sendiri hanya tersenyum dan meneguk sampanye nya, ia melihat reaksi adiknya yang sangat ketara.
"Kau wanita yang elegan dan bermartabat Daisy." Sahut Derreck kemudian.
"Wanita martabat dan elegan manapun akan menjadi bar-bar dan mengamuk ketika ia tahu dan melihat bahwa suaminya di goda wanita lain apalagi sampai di cium." Geram Daisy.
Mereka berbicara sembari berbisik-bisik halus, dengan ekspresi biasa agar tak ketara.
Ben kemudian mengusap tangan dan menggengam tangan Daisy lagi dengan erat.
“aku juga terkejut bertemu dengan pria itu di sini.” kata Derreck.
__ADS_1
“Kau mengenalnya?” Tanya Daisy.
“Dia pebisnis yang ku ceritakan tadi, caranya sedikit brutal dan memaksa.” Ujar Derreck.
"Siapa yang memesan meja ini?" Tanya Daisy pada Traver.
"Mena Nyonya, dan sekarang Mena sedang berjaga di atap bersama para pengawal mereka." Kata Traver.
"Kenapa harus berjaga di atap?" Tanya Daisy menoleh pada Traver.
"Kita tidak tahu hal apa yang ada di luar, Mena adalah penembak jitu, bersama anggotanya dia akan mengamankan keluarga, karena banyak anggota keluarga kita di sini Nyonya." Kata Traver menjelaskan.
Daisy menghembuskan nafasnya yang artinya "Terserah sajalah".
"Zay belum datang juga..." Kata Daisy sedikit cemberut.
"Sabar sayang, dia pasti akan datang..." Kata Ben.
"Pasti sedang di perjalanan, anak perempuan dandan lebih lama..." Kata Derreck juga menenangkan.
Di luar Zac sudah tiba dengan mobilnya sendiri, namun ia melihat seorang gadis yang sangat ia kenal, bahkan beberapa meter ia sudah mencium bau gadis itu, bau yang khas dan wangi yang sudah sangat Zac kenali. Itulah Gaby.
Saat itu Gaby sedang membenarkan gaun dan heels yang ia pakai, lekukan tubuhnya terlihat jelas, belahan pahanya cukup tinggi, dengan bahu dan lengan yang ramping seolah Zac ingin sekali menggigitnya pelan dan mengulummnya atau memberikan bekas merah dengan menyesapnya berkali-kali.
Kulit putih itu seolah membuat Zac merasa tersakiti karena begitu saja di ekspose dan di pertontonkan di hadapan semua pria yang memandanginya.
Rambut Gaby di berikan pemanis jepit rambut yang mewah berkilauan. Zac pun perlahan mendekat.
"Jadi, ibumu yang sakit di rawat di sini?" Tanya Zac dengan suara rendah penuh ancaman.
Tubuh Gaby mendadak merinding, kemudian ia memutar tubuhnya, dan melihat Zac, Gaby mendongak, meski ia memakai heels tinggi namun tetap saja tinggi tubuh Zac masih tidak terkejar.
Zac kemudian membungkuk dan berbisik di telinga Gaby.
"Kau... Membohongiku 2 kali." Kata Zac membungkuk sembari menyembunyikan kedua tangannya di saku celananya.
"Saa... Saya..."
Zac tidak mau mendengarkan Gaby, matanya kemudian berpaling dari Gaby dan Zac melewati Gaby begitu saja, tentu hal itu langsung membuat Gaby merasakan nyeri di ulu hatinya. Zac mendadak acuh tak acuh.
Zac berjalan perlahan masuk ke dalam ruangan, dan diikuti oleh Gaby di belakangnya, Gaby berjalan perlahan agar dapat memberi jarak antara mereka.
Zac kemudian duduk di meja keluarganya, dan Gaby duduk di meja keluarganya yang telah di pesan.
__ADS_1
Jhonder menatap pada Zac, dan menerka-nerka.
Bersambung