
Derreck bangkit dan mencengkram jas milik Ben.
"Dimana Paman Gustav!" Geram Derreck.
Ben melepaskan cengkraman tangan Derreck dan menepisnya, lalu Ben mengangkat tubuh Daisy yang bersimpuh di lantai masih tidak percaya.
Ben menaruh Daisy di sofa dan kemudian melihat ke arah Derreck.
"Dia aman, Traver menyembunyikannya dengan keamanan khusus." Kata Ben.
Ben kemudian melihat ke arah Daisy, tangan dan jemari Daisy gemetar hebat, bahkan tubuh Daisy bergetar.
"Cukup untuk hari ini, aku akan bawa Daisy. Traver hubungi Gavriel dia harus memeriksa kondisi Daisy."
"Tetap saja, jangan berani-berani membawanya! Aku yang akan tetap melindungi Daisy bahkan dari ayahku." Kata Derreck.
Ben membuang nafasnya muak.
"Berhenti sampai di sini, lihat kondisi Daisy, dia harus di periksa." Kata Ben pada Derreck.
Derreck melihat Daisy, tatapan kosong, tubuh gemetar dan juga tubuh yang bergetar hebat.
"Dia adikku, aku yang akan mengurusnya."
"Kau tidak akan mampu melawan Mark Waldorf!!" Ancam Ben.
Derreck mulai goyah dan terduduk di sofa.
"Benarkah... Mereka tidak menginginkanku..." Kata Daisy kemudian.
Derreck dan Ben seketika melihat ke arah Daisy, dengan tatapan kosong Daisy bertanya.
"Apa mereka tahu, bagaimana aku menjalani hidupku selama ini? Apa mereka benar-benar akan memburu dan membunuhku jika mereka tahu aku masih hidup?" Daisy mendongak melihat Ben yang masih berdiri, air mata Daisy mengalir tanpa bisa di bendung.
Ben hanya diam dan merasa bersalah, seharus nya ia memberitahu pada Derreck tentang semua ini di belakang Daisy, ia tidak berfikir jernih ketika menyangkut Daisy, ia termakan emosi sesaat karena Derreck membuat Ben cemburu.
"Aku akan menjagamu Daisy..." Derreck maju dan hendak meraih tangan Daisy.
Namun dengan cepat Daisy berdiri di samping Ben.
"Kau juga tidak menginginkanku waktu itu?" Tanya Daisy.
Wajah Derreck kebingungan.
"Maaf Daisy, waktu itu usiaku masih sangat muda, dan aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Aku hanya fokus pada semua yang harus ku pelajari tentang menjadi pewaris, aku benar-benar menyesal, aku tidak mengetahuinya lebih cepat. Seandainya saja saat itu aku tahu..."
"Jika kau tahu apa kau akan menyelematkanku?" Tanya Daisy menyela.
__ADS_1
"Apa kau akan menyelamatkan hidupku dan mengunjungiku di kota S? Apa kau memiliki keberanian itu?" Tanya Daisy menantang Derreck.
Derreck hanya diam.
"Tidak kan? Kau tidak memiliki keberanian untuk melawan ayahmu, bahkan selama 2 tahun ini, aku melihat bagaimana kau selalu tunduk pada perintah ayahmu. Jadi, tidak perlu mengandai-andai." Kata Daisy.
"Tapi kali ini aku akan melindungimu Daisy!!!" Teriak Derreck.
"Kalau begitu hubungi ayahmu, katakan jika kau ingin merawatku dan katakan padanya kau akan melawan nya sampai akhir untuk mengurusku, aku ingin melihat apakah kau benar-benar akan melindungiku, sebagai kakak." Kata Daisy.
Ben terkejut melihat Daisy menantang Derreck tanpa rasa takut.
Derreck pun hanya diam.
"Kau tidak berani Derreck. Kau tidak memiliki nyali pemberontakan. Jadi, biarkan aku pergi bersama Ben, dan aku anggap sekarang kita tidak lagi memiliki hutang. Anggaplah hutang nyawa yang kau sebutkan itu, aku sudah membalasnya selama 19 tahun ini."
Derreck menggertakkan giginya dan meremas kedua jemarinya.
Ben saat itu merangkul Daisy dari samping dan membawa Daisy pergi.
Casey tak bisa melakukan apapun.
Di dalam perjalanan pulang, mobil beriringan mengawal, Daisy melihat Mansion milik Derreck yang semakin jauh menjadi semakin kecil dan tak terlihat lagi.
Sedangkan Ben sendiri hanya duduk diam dengan postur tegap, melihat ke depan, dia tahu dan paham Daisy perlu waktu untuk menetralkan perasaannya lagi.
Mobil terus berjalan memecah ramainya jalanan ibu kota, Negara K. Dalam perjalanan itu Daisy membuka perban Ben dan membersihka darahnya, serta mencuci luka Ben dengan alkohol agar tak infeksi.
Dengan terampil Daisy membalut kembali tangan Ben dengan perban yang baru.
"Kau yang seharusnya di periksa kenapa jadi aku yang di obati." Kata Ben kagum pada ketrampilan kekasihnya.
Daisy hanya diam dan masih sibuk, setelah rapi, Daisy pun bernafas lega.
"Selesai, tanganmu sudah beres. Apa itu tidak sakit?" Tanya Daisy.
Ben menggelengkan kepalanya pelan.
"Tuan Ben, Dokter Gavriel sedang berada di luar negeri menemui orang tuanya." Kata Traver tiba-tiba menyahut dan membuka pembatas mobil.
Ben membuang nafas kesal.
"Dia dokter khusus, kenapa pergi tidak memberikan kabar lebih dulu, apalagi ini situasi urgent."
"Tidak perlu Ben, aku tidak perlu di periksa, aku baik-baik saja." Kata Daisy memegang lengan Ben dengan lembut.
"Tapi kau gemetaran..." Kata Ben khawatir.
__ADS_1
"Itu adalah respon yang wajar ketika kita mengetahui sesuatu yang di luar nalar akal manusia, aku sekarang baik-baik saja, aku hanya butuh sandaran dan pelukan." Kata Daisy menyandarkan kepalanya di lengan besar Ben.
Traver paham dan kemudian berbalik lalu menutup sekat mobil.
Ben merangkul Daisy dari samping dan menaikkan dagu Daisy, perlahan Ben mencium bibir Daisy dengan lembut, hingga perlahan kecupan mesra itu menjadi lebih dalam dan Ben melummat bibir Daisy, membuat suara-suara kecupan-kecupan bibir mereka menjadikan rangsaangan kuat bagi masing-masing tubuh mereka.
Ben kemudian menarik tubuh mungil Daisy ke atas pangkuannya.
"Oh astaga!!" Pekik Daisy yang tak siap dengan gerakan itu.
Kini Daisy telah duduk di atas paha Ben, senyuman dan kilatan licik di mata Ben begitu bersemangat.
"Aku bilang aku hanya butuh sandaran, kenapa jadi seperti ini?" Kata Daisy.
"Aku tidak bisa menahannya, ini pertama kalinya kau menyerahkan dirimu."
"Aku tidak menyerahkan diriku, aku hanya ingin sandaran dan pelukan."
Ben hanya tersenyum.
"Aku merindukanmu." Kata Ben.
Telunjuk Ben menyentuh dada Daisy, dan mulai turun dan terus turun hingga membuat baju Daisy ikut turun hingga batas lengan, dan bagian dadanya terbuka.
Daisy menutup matanya menikmati setiap inc sentuhan telunjuk Ben, kemudian dada Daisy membusung ketika jari telunjuk Ben berhenti dan memutar-mutar pelan serta lembut di atas tonjolan dada Daisy yang berwarna pink, dan kedua telapak tangan Daisy menekan dada bidang Ben.
Dengan cepat, sesuatu yang keras milik Ben telah menjadi besar dan bergejolak ingin keluar, Daisy yang duduk di atas paha Ben, memiliki posisi yang pas dan Daisy mulai menekannya dengan bagian sensitifnya, itu membuat Ben semakin panas.
Ben mencium dada Daisy dan mengecupnya.
"Kau belajar dari mana..." Kata Ben kemudian menggigit kecil puncak dada Daisy.
"Sshh... Ngghh... Aku belajar dari kerinduan..." Kata Daisy berbisik di telinga Ben, dan meremas rambut Ben dengan jemarinya.
Perlahan jemari Daisy membuka ikat pinggang Ben, dan sesuatu yang besar telah keluar seperti tiang yang menantang. Daisy masih sangat ingat, benda besar dan panjang itu sulit untuk di puaskan.
"Darimana kau mendapatkan keberanian ini..." Kata Ben menatap tajam mata Daisy, lalu menekan dagu Daisy dengan jarinya yang besar, untuk melihat nya.
"Entahlah. Bukankah aku selalu berani padamu, aku tak pernah takut padamu... Tapi, kau memang mengerikan saat marah. Kau juga mengerikan ketika ingin di puaskan." Kata Daisy jemari lentiknya memegang barang besar milik Ben.
"Aarghh....!" Ben memejamkan mata. Otot-otot wajah Ben menegang, rahangnya terlihat garis-garis kuat yang menonjol. Ben semakin terangsangg.
Tentu saja Ben tidak mau kalah, ia tidak suka di dominasi, ia ingin menjadi yang mendominasi, tangan kekar dan besar milik Ben kemudian masuk ke dalam area sensitif milik Daisy lalu menggosok nya pelan.
Daisy menggelinjang, tubuh mungilnya membusung, matanya terpejam dan kemudian dengan terampil gerakan tangan Ben membuat Daisy semakin panas, tak cukup dengan itu Ben membuka dan merobek pakaian Daisy, Ben mulai bermain-main dengan dada Daisy yang padat menggunakan mulut dan lidahnya, sedang tangannya masih aktif membuat Daisy kelimpungan di bagian sensitif Daisy.
"Tahan suara mu sayang, atau mereka akan mendengarnya, dan memiliki khayalan serta fantasi terhadapmu, aku benci ada pria lain memikirkan fantasi tentang dirimu." Kata Ben kemudian melanjutkan mengulum dada Daisy secara bergantian.
__ADS_1
Bersambung~