
FLASHBACK
Ben terbatuk dan tiarap di atas pasir, darah mengucur dan dengan cepat mengering bercampur dengan pasir, dengan tertatih Ben mengambil pistol dari salah satu mayat pengawal Paulo Redges dan kemudian memeriksanya, pistol itu masih terisi dengan peluru yang penuh.
Ben tertatih kembali berjalan di hamparan pasir, tubuhnya terasa begitu berat karena energi yang kian hampir habis, di tambah luka di perutnya di tambah luka-luka yangbada di sekujur tubuhnya.
Dengan gemetar menahan sakit, tubuh Ben mulai memucat karena darah sudah begitu banyak terbuang.
Ben kemudian menyembunyikan satu pistolnya di pinggang.
Di tengah perjalanan Ben terjatuh dan nafasnya tersengal. Ben ingin memastikan bahwa Daisy selamat, ia memikirkan satu tempat yang mungkin akan Daisy lewati yaitu pulau di sebelah Maladewi.
Ben bukan pria yang sabar menunggu, ia tak percaya Paulo Redges mampu meluluhlantakkan Pulau Maladewi, ia pikir Traver pun sudah mati, karena pengawal yang Paulo bawa begitu banyak.
Setelah beberapa tahun berlalu, Ben kira Paulo tak akan menyerang, ternyata Paulo menyerang ketika Ben sedang mengalami beberapa konflik dan sedang tidak siap dalam pertahanannya di Maladewi.
Tak ada kata menunggi bagi Ben. Sehingga Ben tak mau membuang-buang waktunya dan lebih memilih untuk mencari Daisy.
Namun, tubuh Ben semakin lemah, Ben terjatuh dan terbaring di atas rerumputan yang masih tumbuh di antara pasir-pasir.
Ben bernafas lega ia berbaring di rerumputan semak belukar dan pasir putih. Nafasnya tersengal tak beraturan, banyak luka di tubuhnya.
Ben melihat pemandangan yang menyakitkan mata dan hatinya dengan berbaring pada gedung yang masih terbakar.
Luka akibat tembakan Paulo di perut Ben terasa semakin panas, tangannya pun sudah semakin gemetar tak kuat lagi menahan darah.
"Haisshh!!! Aaaggghhhh...!!!"
Ben berbaring di atas pasir dengan kesakitan, ia mendengus dan menekan perutnya menggunakan kedua tangannya.
Kemudian Ben mencoba lagi berdiri, pria itu terhuyung-huyung dan membungkukkan punggungnya, meski pelan Ben berlari tergopoh menjauh dari gedung sambil menahan darah yang terus keluar dari perutnya.
Ben terus berlari tak beraturan di antah berantah, pulau Maladewinya yang masih belum ia benahi, di dalam pulau Maladewi terdapat semak-semak liar dan belum sempat Ben garap kembali.
Lama Ben berlari hingga tubuhnya semakin memutih dan pucat menahan sakit karena tembakan dan darah yang semakin tak terkendali.
Akhirnya sampailah ia di perbatasan pulaunya namun, bukan pulau itu yang Daisy datangi, Ben mendatangi Pulau yang lain di dekat Pulau Maladewi. Pulau tanpa nama yang kabarnya terasingkan dan terisolir dari apapun, pulau yang rumornya adalah pulau buangan.
Ben akhirnya berjalan dan menyeberangi pantai. Pulau Maladewi dan pantai pulau tanpa nama berseberangan dan pantainya menjadi satu.
Ada beberapa nelayan yang sedang menangkap ikan, Ben bersembunyi dan kemudian mengendap endap, ia melihat sebuah gubuk yang terbuat dari rotan dan tumpukan ijuk.
Ben pun mengambil sebuah mantel usang yang sudah penuh tambalan, mantel itu berada di atas jemuran di belakang gubuk nelayan tersebut.
__ADS_1
Ben menerka, dan menilai, ia belum pernah pergi sejauh ini dan melihat-lihat, hanya saja ia tahu bahwa pulau itu adalah milik seseorang yang menyembunyikan identitasnya, yang jelas pemilik pulau tersebut pastilah juga seorang mafia.
Ben berjalan dan terus berjalan meski tubuhnya kian lemah, ia akhirnya sampai di bagian padat penduduk meski tak begitu banyak orang namun cukup ramai.
Ben menerka sepertinya ia berada bukan di kota besar, hanya pemukiman miskin di tepi pantai.
Ben kemudian melihat sebuah minimarket kecil, ia pun membenarkan mantelnya untuk menutupi darah dan luka di perutnya.
Saat Ben memasuki Minimarket tersebut ternyata di dalamnya juga memiliki klinik sederhana.
Ben mendatangi kasir.
"Dokter." Kata Ben dengan menahan sakit.
"Ya?" Tanya Kasir itu malas, ia menaikkan kakinya di atas meja kasir.
Ben melihat wanita itu merokok dan mengunyah permen karet, serta memainkan ponselnya.
"Apa ada dokter di Klinik ini?" Tanya Ben.
"Tidak... Klinik nya tutup, tidak laku." Kata wanita itu dengan tidak sopan.
Ben kemudian mendesahh merasakan perutnya semakin nyeri.
"Apa di klinik itu masih memiliki Hecting?" Tanya Ben ke kasir lagi.
"Apa itu?" Tanya Kasir itu mengunyah permen karetnya.
"Buka saja kliniknya!" Perintah Ben marah.
"Hey bung... Kau pikir kau siapa menyuruh-nyuruh!" Kata Kasir tersebut.
Ben kemudian mengeluarkan pistolnya setelah menahan kesabarannya sejak ia datang.
"Buka Kliniknya dan berikan Hecting set!!!" Geram Ben dengan mata tajam dan menodongkan pistolnya
Ben memaksa kasir tersebut untuk memberinya hecting set, guna menjahit luka di perutnya.
Sang pegawai minimarket yang malas-malasan seketika sigap di sertai perasaan takut, ia penasaran melihat Ben yang memiliki penampilan sangat lusuh, Ben memiliki wajah pucat serta keluar keringat dingin yang banyak.
Setelah sang kasir kembali, ia membawa Hecting dan menaruhnya di atas meja bersama whiskey, desinfektan, serta kapas, dan beberapa perlengkapan lainnya sesuai instruksi dan perintah Ben.
Ben pun melepaskan jam tangan mahal nya.
__ADS_1
"Beli rumah sederhana beserta mobilnya menggunakan ini." Kata Ben.
Kasir itu melongo.
Ben kemudian menarik nafa.
"Jam mahal, kau bisa cek di internet, ini asli." Kata Ben lagi dengan kesusahan sembari mendenguskan nafasnya dari hidungnya karena menahan sakit.
Kasir itu masih saja melamun apakah perkataan orang di hadapannya ini benar ataukah orang di hadapannya ini hanyalah penipu ataukah yang paling parah apakah orang di hadapannya adalah orang gila.
"Bungkus!" Perintah Ben tak sabar sedikit memaki.
"Ini tuan, apakah anda ingin menambah k*ndom serial rasa terbaru, kami sedang ada diskon." Kata kasir tersebut.
"Persetan!" Ucap Ben marah.
Kemudian Ben hendak pergi dengan membawa belajaannya namun sang kasir menahannya.
"Tuan apa anda perlu bantuan saya?" Kata pegawai itu.
Ben menelan ludahnya dan berbalik melihat wajah wanita itu.
"Beri aku beberapa uang untuk mencari tempat penginapan." Kata Ben.
"Aku tidak punya uang, aku sudah memakainya untuk berjudi, tapi aku bisa membantumu bagaimana jika kau menginap di penginapan milik kakak laki-laki ku, sudah lama tidak di huni, ku pikir dia sudah mati, apa kau mau?" Kata wanita itu.
Ben mendesahkan nafasnya, tubuhnya makin lemah. Tak ada pilihan lain, lagipula Ben sedang tak bisa memilih sesuatu sesuai kemauannya.
"Apa saja yang penting aku bisa menginap malam ini." Kata Ben.
Kemudian wanita kasir itu membawa Ben ke bagian belakang, di belakang minimarket ternyata terdapat penginapan yang jauh dari kata mewah, namun masih layak untuk di gunakan.
"Kakek itu akan mengantarkanmu, bilang saja kau teman kakakku." Kata Wanita kasir itu.
Ben berjalan membungkuk karena menahan perutnya dan tergopoh.
Ben pun akhirnya berdiri di hadapan sang kakek, dan benar-benar menemui sang kakek yang sedang membersihkan sepedanya.
"Permisi, aku teman dari kakak wanita kasir di dalam, apakah aku bisa menggunakan kamar temanku." Kata Ben bersuara senormal mungkin.
"Kau bilang temannya, bahkan kau tak tahu nama mereka." Kata kakek tersebut tanpa melihat ke arah Ben.
Ben hanya diam, dan terus menahan kesabarannya karena sakit nya mulai kian meradang.
__ADS_1
Bersambung