Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 147


__ADS_3

Carlos sontak berdiri dari kursinya, ia pun melihat ke arah Daisy, apakah Daisy mendengarnya. Matanya panik dan dadanya berdegup dengan cepat. Darahnya mendidih naik ke atas ubun-ubun.


Di rasa Daisy masih tidur, Carlos sedikit menjauh dari Daisy dan menuju ruangan lain yang masih berada di kamar Daisy.


"Dengan siapa aku bicara, benarkah, kau menemukan pria bernama Ben?!" Kata Carlos dengan suara rendah.


"Sa... Saya Gia, benar, saya menemukannya. Dia terluka di perut."


"Seperti apa ciri-ciri pria itu."


"Dia... Terluka parah, dia memiliki tembakan di perutnya, dan saya sudah membantunya mengoperasi perut, katanya jika saya menyebutkan anda harus membawa dokter Gavriel, kalian akan mempercayai saya, ah dan satu lagi, pria itu sangat tampan, tampan sekali..." Kata Gia.


Carlos menelan ludahnya, saat wanita itu menyebutkan tampan, Carlos langsung percaya, sesungguhnya Ben adalah pria dengan wajah yang tampan, jika ada yang tidak menyukai nya itu akan mustahil.


"Berikan alamatmu." Kata Carlos.


"Saya ada di pulau terpencil."


"Pulau terpencil? Bersebelahan dengan pulau Maladewi?"


"Ya anda benar, saya ada di Pulau Palm, yang bersebelahan dengan pulau Maladewi.


"Apakah pulau mati yang tak berpenghuni itu? Pulau tanpa nama"


"Sebenarnya bukan pulau mati, hanya saja penduduknya sangat sedikit dan miskin, kami menyebut pulau kami adalah Pulau Palm."


"Terserah lah, aku akan ke sana."


"Baik kalau begitu temui saja aku di..."


Belum sempat Gia menyelesaikannya, Carlos sudah menyela.


"Orang ku sudah menemukan titik lokasi mu sekarang berada, tetap tunggu di situ, sampai aku ada di sana, dan jangan pernah sekali-kali menipuku, kalau tidak, dipastikan kau tidak akan pernah bisa melihat matahari lagi."


Carlos menutup ponselnya, dan dengan secepat kilat ia akan pergi sebelum orang lain menemukan Ben.


Sedangkan Gia termangu termenung serta syock berat dengan kalimat balasan dari Carlos, pertama pria itu mengancamnya, kedua Gia kebingungan bagaimana pria itu bisa langsung tahu titik lokasinya sekarang, padahal Gia tak memberikan alamatnya.


Gia menutup gagang telfonnya dan keluar dari kotak telefon dengan mata kosong, serta berjalan dengan lamban.


Saat itu Gia sadar jika hari sudah mulai petang, ia seharusnya pulang untuk menengok Ben yang sedang sekarat, namun ia tak bisa pergi kemanapun, karena ancaman Carlos.


"Apakah dia akan baik-baik saja, apakah dia sekarat, dan akan mati?" Tanya Gia pada dirinya sendiri.


Setelah menelfon Carlos mendekati Daisy, dan hari itu sudah mulai malam.


Malam itu juga Daisy membuka matanya perlahan, dan Carlos tersenyum di dekat Daisy.


"Dimana... Aku..." Tanya Daisy, kepalanya masih pusing.

__ADS_1


"Ada di rumah orang tuamu." Kata Carlos.


Daisy pun ingat semuanya, dan matanya membulat.


"Ben!!! Dimana Ben!!!" Teriak Daisy berharap ia mendengar kabar baik dengan mencengkram mantel Carlos.


Carlos diam dan menelan ludahnya.


"Maaf Daisy, kami belum menemukannya."


Daisy lemah, air matanya mengucur deras.


"Aku akan mencarinya sendiri aku tidak percaya dengan kalian semua!!!" Teriak Daisy dan mencabut infusnya.


"Daisy! Tenanglah tubuhmu masih lemah, daripada itu, temuilah Zac dan Zay, mereka pasti merindukanmu." Bujuk Carlos dengan menekan kedua lengan Daisy dengan lembut.


Carlos melihat wajah dan mata sayu Daisy yang penuh air mata, ia tak tega melihat Daisy seperti itu, tapi sekali lagi, ketamakan dan keserakahan Carlos jauh lebih dominan.


"Aku akan mencari tahu dan menyisirnya lagi, kau tunggu di sini bersama anak-anak." Kata Carlos membelai kepala dan rambut Daisy dengan lembut.


"Kau benar, aku harus menemui anak-anak."


Sebelum Daisy melangkah, Beatrice dan Mena telah masuk ke dalam kamar Daisy membawa Zac dan Zay.


"Anakku..." Kata Daisy mengulurkan kedua tangannya dan menerima anak-anaknya dari Beatrice.


"Anakku..." Daisy memeluk mereka dengan pelukan besar yang lembut.


Carlos melihat Daisy yang memeluk anak-anaknya, kini ada sesuatu yang harus Carlos lakukan, ia pun akhirnya memutuskan untuk berpamitan.


"Karena Daisy sudah sadar, kalau begitu saya permisi Nyonya Beatrice." Kata Carlos.


"Ya... Kau juga harus istirahat, terimakasih sudah menjaga anakku."


"Bukan masalah bagi saya." Kata Carlos tersenyum dan pergi.


Carlos pun pergi dengan langkah panjang dan lebar, hingga mantelnya berterbangan.


Saat itu, Carlos langsung menghubungi pengawalnya untuk mempersiapkan penerbangan ke pulau tanpa nama.


Dalam perjalanan itu, Carlos berfikir berulang-ulang, apakah tindakannya kali ini tepat, apakah ia akan bisa menerima konsekuensinya.


Namun, ketamakan Carlos yang telah menyetir pikirannya.


Pesawat pribadi terbang melintasi pulau-pulau, dan Carlos berfikir, jika ia bergerak sekarang tidak akan ada yang tahu, mereka akan berfikir Ben telah mati dalam pertempuran itu, tidak akan ada yang mencurigainya, jika sebenarnya Carlos lah yang akan membunuh Ben.


"Dia masih selamat? Seberapa besar lukanya? Jika orang lain yang menghubungiku, bukankah artinya lukanya cukup parah?"


"Tapi, kenapa tidak menghubungi Traver atau Rudolf?' Tanya Carlos pada dirinya sendiri berfikir begitu dalam dan termenung.

__ADS_1


*****


Di pulau Maladewi Traver dan Rudolf masih sibuk dengan banyak nya mayat yang harus mereka urus, sementara mereka tidak lagi menyisir mencari Ben, karena sudah sangat banyak pengawal yang mereka kerahkan untuk mencari, belum lagi di tambah pengawal milik Mark dan juga Dereck.


Belum lagi, semua mayat itu harus di urus permasalahan dengan kelyarga dan status mereka, banyak keluarga yang memibta tebusan dengan sejumlah uang yang cukup besar.


Bagi Rudolf uang bukan menjadi masalah, yang terpenting para keluarga yang ditinggalkan tak membuat repot saja perkara ini.


Karena saking sibuknya, mereka tak bisa merasakan jika ponselnya bergetar, dan saat malam telah datang, Traver serta Rudolf duduk di tepi pantai dengan mendesahkan nafas mereka masing-masing.


Akhirnya pembersihan pulau Maladewi sudah mencapai 50% dan sisanya akan di kerjakan besok lagi.


Traver dan Rudolf kemudian memeriksa ponsel mereka masing-masing namun kemudian memasukkannya lagi.


Tidak ada kecurigaan dari mereka, nomor yang telah menghubungi mereka berkali-kali, dan mereka sibuk pada pikiran masing-masing.


"Haah... Gavriel apakah sudah kembali?" Tanya Rudolf.


"Sepertinya keluarganya masih sangat kolot Tuan, sulit bagi Tuan Gavriel untuk melepaskan diri dari keluarganya saat pulang ke London, dan ketika dia kembali ke sana, ayahnya pasti mencegah Tuan Gavriel pergi lagi."


"Apakah masih sama permasalahannya?"


"Bagi keluarga Tuan Gavriel, melewati pernikahan saat usia matang adalah penghinaan, dan saya dengar Tuan Gavriel masih dalam pertemuan perjodohan dari hari ke hari."


Rudolf mengangguk pelan.


"Bukankah, akhir-akhir ini sebelum Gavriel pergi, dia ada di rumah Ansella." Rudolf mengeluarkan cerutunya.


"Maaf Tuan Rudolf, saya tidak membawa pemantik, Tuan Ben tak pernah merokok." Kata Traver.


"Santai saja, aku membawanya sendiri." Rudolf kemudian melemparkan pemantiknya pada Traver, dab Traver menangkapnya dengan satu tangan.


Kemudian Traver memantikkannya dan Rudolf menghisap cerutunya.


Rudolf menghela dan membuang asapnya.


"Ben juga sudah berhenti minum sejak ada Daisy."


"Benar Tuan. Ngomong-ngomong tentang masalah Tuan Gavriel yang bersama dengan Ansella, apakah ada sesuatu?" Tanya Traver.


Rudolf pun menghembuskan asapnya lagi.


"Kau pikir aku tidak tahu permasalahan Ben dan Daisy, mengenai Marry Anne?" Kata Rudolf.


"Ya... Tuan." Kata Traver terkejut.


"Kau pikir aku menganggap Ben saudara ku adalah semata-mata hanya nama dan julukan saja? Bahkan aku tahu apa ukuran ****** ********, aku pernah mengendap-endap memeriksannya di almari." Kata Rudolf tertawa kecil.


Traver mengangguk pelan, ia tahu Rudolf sedang mengenang masa-masa bahagia dan kelucuannya tingkahnya pada Ben yang dingin dan kaku.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2