
Malam di Pulau Tanpa Nama, Gia, Heiden, Aaron dan juga Gaby duduk di ruang keluarga, mereka akan mendiskusikan rencana tentang balas dendam.
"Kenapa Charles tidak di ajak?" Tanya Gaby.
"Charles bersama Zac cukup lama, dan aku melihat gerak-geriknya berbeda, tidak seperti dulu." Kata Gia.
"Tapi, ibu... Apa kau baik-baik saja?" Tanya Gaby.
Gia kemudian tersenyum dan membelai kepala anaknya.
"Maaf... Kau pasti bingung, aku tidak menyapamu seharian ini dan sibuk dengan urusanku sendiri, tapi aku bahagia kau sudah kembali." Kata Gia.
Gaby mengangguk pelan.
"Jadi apa rencananya." Tanya Gia.
"Aku sudah menghitung kemungkinan terburuk, meskipun kita memiliki banyak dukungan mafia kelompok rendahan, itu tidak bisa berpengaruh besar, kita tahu sebesar apa kekuatan keluarga Haghwer, di tambah ada pasukan dari Rudolf Gama, lalu pasukan Murder yang juga sangat kuat." Kata Aaron.
"Kata lainnya adalah, pasukanmu tidak akan mampu?"
"Aku katakan dengan jujur, iya. Aku bersedia bergabung denganmu dan membantu kekuatanmu, tapi aku tidak bisa menjamin kita akan menang dalam peperangan dengan keluarga Haghwer."
"Lalu bagaimana sebaiknya?"
"Lakukan dengan beberapa rencana, kita tak mjngkin hanya dengan rencana adu kekuatan. Jika kau seruju, kita kirim Gaby kembali pada Zac lagi." Kata Aaron.
"Tidak akan!" Kata Gia.
Gaby meremass jemarinya, ia pun juga tak ingin kembali.
"Dengarkan dulu..." Kata Aaron.
Gia kemudian meredam emosinya.
"Zac percaya pada Gaby, ketika kita tak mampu mengalahkan Zac, maka Gaby dapat menjadi senjata kita untuk membalas dendam, dia akan meracuni Zac. Itu akan jauh lebih menyakitkan saat Zac di khianati dan di tusuk oleh wanita yang dia cintai." Kata Aaron.
Gia kemudian melihat ke arah Gaby.
"Bagaimana pendapatmu Gaby?" Tanya Gia.
Gaby masih diam.
"Nanti malam, tepat pukul 12 malam hari dimana gencatan senjata di cabut, jadi ibu ingin segera melakukan penyerangan pada keluarga Hgahwer jika pasukan ibu sudah terkumpul. Bagaimana Gaby."
"Aku... Akan memikirkannya." Kata Gaby.
Gia mengangguk pelan.
"Pikirkan dengan baik Gaby, dan pikirkan balas dendamu. Ayahmu di sana pasti sangat berharap padamu." Kata Gia.
Aaron hanya diam dan melihat ke arah Gaby, dalam hati Aaron sejujurnya ia sangat menginginkan Gaby, namun setelah ia mengetahui bahwa Zac telah mengambil keperawaanan Gaby lebih dulu, Aaron menjadi tak berminat, kini ia hanya ingin menggunakan Gaby sebagai alat atau bidak caturnya untuk menghabisi keluarga Haghwer, dan tentu saja Aaron menginginkan kedudukan sebagai pemimpin Mafia, atau Ketua Perserikatan Mafia.
"Aku lelah, bolehkah aku kembali ke kamarku?" Tanta Gaby.
"Tentu." Kata Aaron.
"Istirahatlah dengan baik sayang." Kata Gia tersenyum.
__ADS_1
Gaby pun keluar dan pergi ke kemarnya, ia duduk di depan meja rias dengan termenung melihat pantulan dirinya sendiri melalui cermin.
Gaby menarik nafas panjang dan air matanya menetes lagi.
Kemudian ia ingat Moran menyisipkan sesuatu, dan membuka laci mejanya.
Gaby melihat dengan memegangnya, perlahan dan memutarnya.
"Apa ini? Samacam alat apa?" Tanya Gaby.
"TOK TOK TOK!!!" Pintu di ketuk.
Gaby langsung memasukkan alat itu ke dalam kotak ya lagi, dan menghapus air matanya, lalu membuka pintu.
Ternyata itu adalah Aaron, pria itu tersenyum.pada Gaby.
"Boleh kita bicara sebentar?" Tanya Aaron.
Gaby mengangguk tanda setuju dan mempersilahkan Aaron untuk masuk.
Aaron pun duduk di tepi ranjang dan melihat kamar Gaby, matanya tertuju pada sebuah foto pantai yang sering mereka kunjungi.
"Seandainya waktu bisa di putar ulang dan aku tidak pernah menghilang, lalu aku melamarmu lebih dulu, akankah kau menerima lamaranku?" Tanya Aaron.
Gaby duduk di samping Aaron.
"Mungkin iya." Kata Gaby.
"Gaby, aku janji, setelah balas dendam kita selesai, aku akan menikahimu." Kata Aaron memegang tangan Gaby.
"Jika kau tak mau, tak apa-apa, aku akan tetap mengusahakan apapun untuk membalaskan dendam kalian." Kata Aaron.
Namun, setelah Gaby memikirkannya, ia tahu keluarga Haghwer bukanlah keluarga sembarangan akhirnya Gaby mengangguk.
"Aku akan lakukan itu, racun apa yang harus ke berikan pada Zac." Tanya Gaby.
Aaron melihat ke arah Gaby.
"Ibu mu yang akan memberitahu tentang itu, tapi sebelum kau kembali, aku ingin memberikan sesuatu..." Kata Aaron kemudian mengeluarkan sebuah kalung beruluran kecil.
"Apa... Ini?" Tanya Gaby.
"Jangan lepaskan kalung ini, karena ada pelacak di dalamnya. Jadi, aku akan segera tahu, jika terjadi sesuatu padamu." Kata Aaron.
"Aku akan memakaikannya."
Gaby mengangguk dan menyibakkan rambutnya yabg sudah sepanjang bahunya.
Aaron memasangnya, namun hal yang tak di duga oleh Gaby, Aaron mencium leher leher Gaby.
Sebuah ciuman dan menghisapnya, hingga dalam. Menimbulkan bekas merah di leher Gaby.
"Aaaron..." Gaby hendak mendorong Aaron pergi.
Namun, tenaganya tak cukup kuat, Aaron kemudian mendorong Gaby berbaring di atas ranjang.
"Gaby... Katakan padaku... Bahwa kau masih mencintaiku." Kata Aaron.
__ADS_1
"Kita akan membalas dendam bersama, dan Zac harus mati." Lanjut Aaron memastika bahwa Gaby benar-benar akan melakukan itu.
"Aku akan membunuh Zac, aku pastikan akan membunuhnya dengan tanganku sendiri." Kata Gaby.
"Pintar... Kau tahu Gaby... Rasa amarah, rasa dendam dan rasa bencimu tidak boleh berkurang sedikitpun untuk Zac." Kata Aaron membelai pipi Gaby.
Jemari Aaron perlahan terus turun, dan telunjuknya turun pada salah satu buah dada Gaby, jari itu menelusup masuk dan hendak memegang bagian atas payudara Gaby, saat itu Gabg memejamkan matanya dan meremass lengan Aaron.
"Gaby... Aku mencintaimu..." Bisik Aaron.
"TOK!! TOK!! TOK!!!"
"TOK!! TOK!! TOK!!!"
Terdengar ketukan pintu yang mengejutkan dan berulang ulang.
"Nona Gaby, Nyonya Gia memanggil anda." Kata Charles.
Aaron semakin menaruh dendam pada Charles, kenapa pria itu selalu memganggunya.
"Aaron... Aku harus menemui ibuku." Kata Gaby.
Kemudian Aaron bangkit dan mengulurkan tangannya membantu Gaby untuk berdiri.
"Ayo, pasti ibu mu akan memberitahu bagaimana kau harus menggunakan racun itu." Kata Aaron.
******
Di mansion Zac, malam itu Gavriel sudah selesai melakukan tindakan pada sang ayah.
Gavriel dan Zac duduk bersama, di belakang mereka ada Yaron.
"Jadi, Gia memiliki banyak tanaman beracun." Kata Gavriel setelah mendengar semua cerita Zac.
"Iya, Kakek Moran telah melihat semuanya."
"Tidak heran, jika Gia bisa membuat racun karena bisa meracik obat, dan membuat obat, dari tumbuh-tumbuhan, saat dulu kami menyelamatkan Ben, aku juga melihat banyak tanaman obat. Gia benar-benar sangat berbahaya. Ingat Zac, ketika peperangan berlangsung, jangan lengah, Gia pasti akan menggunakan segala jenis obat beracun."
Zac mengangguk pelan.
"Beberapa menit lagi, gema gencatan senjata akan di cabut, dan peperangan akan di legalkan, aku akan bersiap jika mereka memutuskan untuk menyerang." Kata Zac.
Gavriel serta Zac terus mengobrol, dan benar saja, saat tengah malam tiba, Ben sebagai Ketua Perserikatan Mafia telah mengumumkan melalui video singkatnya, bahwa Bulan Gencatan Senjata telah di cabut. Sekarang mereka akan memasuki bulan peperangan dan adu kekuasaan untuk mencari mafia yang paling kuat lagi.
"Tuan Zac... Anda harus melihat ini." Kata Yaron menyerahkan tabletnya.
Zac pun melihat tabletnya, dan memandang pada Yaron dengan wajah penuh ketegangan.
"Ada apa?" Tanya Gavriel.
Zac masih diam, ia tak tahu apakah ia harus memberitahu pada pamannya, atau pada ayahnya lebih dulu.
Ternyata, Gia mengirimkan sebuah foto, dan foto itu memperlihatkan bahwa Gia sedang melihat sebuah video, dari foto tersebut tahu itu Gia sedang menonton video apa. Itu adalah video sang adik. Zay. Video yang Carlos buat saat menyandra adiknya.
Foto itu mengandung pesan bahwa, jika Gia akan melakukan sesuatu dengan video tersebut.
Bersambung~
__ADS_1