Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 219


__ADS_3

"Tidak apa-apa..." Kata Zay kemudian duduk dan memakai lagi pakaiannya.


"Jangan pakai itu, aku engap melihatnya." Kata Charles kemudian pergi.


Zay masih bingung kenapa Charles pergi, namun beberapa saat kemudian Charles memberikan kemejanya.


"Pakai itu dulu."


Zay melihat kemeja warna hitam di pangkuannya.


"Aku juga butuh celana."Kata Zay.


"Tidak mungkin kau pakai celanaku, tunggu sampai besok pagi, aku akan menanyakan pada Nona Gaby, apakah ada baju yang bisa kau pakai." Kata Charles.


"Jadi namanya Gaby?"


Charles kemudian berdiri dan pergi.


"Kau bisa tidur di sini atau ke kamar yang lain, ada banyak kamar di mansion." Kata Charles kemudian yang ada di ruangan santai.


Zay turun dari ranjang dan masuk ke walk in closet, ia mengganti pakaiannya, saat keluar Zay hanya memakai kemeja yang sedikit kebesaran membuat Charles yang tengah sibuk membereskan gulungan kertas gambar denah miliknya, serta tabletnya mendadak terjatuh.


Mata Charles tertuju pada Zay yang nampak lebih feminim dan seksi.


"Aku tahu aku cantik, kau tidak perlu terkejut seperti itu." Kata Zay berlenggang pergi dan naik ke atas ranjang.


"Aku akan tidur di sini, aku tidak mungkin berjalan-jalan ke luar kamar dengan berpakaian seperti ini." Lanjut Zay.


Charles kemudian memfokuskan dirinya kembali pada barang-barang yang berjatuhan di lantai.


"Astaga... Dia benar-benar... !! Apa dia tidak sadar jika sedang di kamar pria, apa dia tidak belajar dari pengalaman, bahwa semua pria adalah monster." Kata Charles menggerutu.


"Kau akan tidur dimana?" Tanya Zay merebahkan diri kemudian memiringkan tubuhnya melihat ke arah Charles.


"Aku akan tidur di kamar sebelah." Kata Charles tanpa melihat ke arah Zay.


"Baiklah." Kata Zay.


"Kau tahu? Kau sembrono Zay." Kata Charles berdiri sembari menggenggam tablet dan kertas gulungannya.


"Kenapa?" Tanya Zay.


"Sudahlah. Kau tak akan mengerti." Charles menelan ludahnya kasar melihat tampilan Zay yang seksi, kemudian Charles memilih pergi dan memalingkan pandangannya.


Ketika Charles keluar, ia melihat Zac sudah ada di depan pintu kamarnya berdiri dengan menyedekapkan tangan.


"Asstagaa!!! Kau mengagetkanku, kau seperti hantu!!!" Pekik Charles.


"Kau yang mematikan sensor alarm mansion?" Kata Zac.


"Errr... Itu... " Charles memijat tengkuk lehernya.

__ADS_1


"Minggir." Perintah Zac.


"Ada apa? Kenapa aku harus miinggir?"


"Aku tahu adikku menyusup ke mansion ku."


"Kau tahu?!!" Pekik Charles dengan mata mendelik.


Zac diam dan hendak masuk.


"Jika kau tahu kenapa kau hanya diam saja."


"Aku mempersilahkan dia bermain-main, aku juga memberitahu pada pengawal yang tersisa, agar mereka pura-pura tak melihat Zay, saat aku perintahkan pengawal mematikan alarm mansion, ternyata sensornya sudah mati, jadi aku tahu itu adalah kau." Kata Zac.


"Maaf, ku pikir penyusup itu suruhan Tuan Douglas." Jawab Charles.


"Kau tak membunuh adikku kan." Lanjut Zac.


"Mana mungkin... Aku hanya sedikit keras membantingnya, dan dia sedang tidur di dalam." Kata Charles.


"Kau mau kemana?" Tanya Zac.


"Tidur di kamar sebelah. Bilang pada adikmu untuk selalu berhati-hati dengan pria, semua pria adalah monster." Sahut Charles sembari berlalu pergi.


Zac menyunggingkan sudut bibirnya, ia paham apa yang di maksud Charles, ia tahu adiknya memang cantik.


Kemudian Zac masuk, dan Zay ternyata sudah tidur dengan posisi yang seksi, apalagi Zay hanya memakai ****** ***** serta kemeja yang sedikit kebesaran.


Zac kemudian duduk di samping ranjang, ia memandangi sang adik dan mengusap dahi adiknya.


"Maaf, selama ini kita tidak benar-benar seperti saudara, kita sibuk dalam pendidikan menjadi mafia, tapi aku selalu menyayangimu Zay. Kau datang kesini pasti karena memdengar aku keluar dari Marga Haghwer. Zay kita hidup di lingkungan mafia, aku juga akan aktif menjadi mafia dengan jalanku sendiri, ini adalah keputusan yang sudah ku ambil, jadi tidak perlu membujukku untuk kembali, seperti hal nya ayah, ketika masih muda dia memiliki jalan yang dia mau, aku pun juga." Kata Zac.


Setelah berbicara, Zac diam sejenak kemudian mencium kening sang adik.


Kemudian Zac bangkit dan ia pun keluar dari kamar Zay.


Sedangkan Zay setelah kepergian Zac, ia membuka matanya, ternyata Zay belum tidur awal nya ia hanua pura-pura tidur untuk mengagetkan kakaknya namun ternyata ia sendiri yang di buat terkejut dengan kalimat sang kakak.


Zay pun meremas selimut setelah mendengar kalimat dan pernyataan Zac, dia justru semakin membenci gadis yang membuat Zac harus meninggalkan keluarga Haghwer.


Zay menggigit giginya sendiri, ia geram dan tidak terima bahwa kakaknya yang ia sayang, dan baru akan berkumpul kembali, lebih memilih pergi karena gadis itu.


******


Pagi hari dengan matahari yang gagah telah menyongsong tinggi, Daisy sudah di kejutkan dengan kepergian Zay yang tanpa pamit, hanya selembar kertas Zay menuliskan nya di atas meja.


Bahwa, Zay ingin mengunjungi kakakknya.


Buru-buru Daisy berlari ke ruangan lantai bawah, ia membawa kertas itu ke hadapan Ben.


"Hubungi Zac, apakah Zay benar-benar ada di sana." Kata Daisy.

__ADS_1


Ben melihat ke arah Traver.


"Nyonya, semalam saya yang telah memberikan izin pada Nona Zay secara diam-diam, tenang saja, Nona Zay ada di mansion milik Tuan Zac, para pengawal juga diam-diam melindungi Nona Zay, kami mendapatkan informasi dari pasukan bayangan yang mengikuti Nona Zay, bahwa Nona berhasil masuk ke dalam mansion." Kata Traver.


"Untuk apa dia ke sana!" Geram Daisy.


Tak berapa lama Gavriel yang sedang memeriksa Ben menyuntikkan obatnya dengan sedikit kasar.


"Hey... Jika kau khawatir kau ke sana saja, tidak perlu aku yang menjadi sasaran." Kata Ben.


Sedangkan Gavriel masih diam tak menjawab, ia kesal karena ternyata omongan dan segala pembicaraannya dengan Zay tadi malam tak di indahkan oleh Zay, Gavriel menyuruh Zay untuk istirahat namun ternyata Zay justru pergi.


"Drrrt.... Drrtt..." Ponsel Gavriel bergetar.


Gavriel melihat dan itu adalah dari Zac.


"Ini dari Zac."


"Angkat-angkat!" Bisik Daisy dengan panik.


"Ya... Ada apa Zac."


"Paman bisa kah kita bertemu?" Tanya Zac.


"Baiklah, aku juga ingin bertemu denganmu." Kata Gavriel.


"Aku akan pergi ke mansion milik paman."


"Tidak... Aku yang akan ke mansion mu."


"Tapi di sini banyak pasukan Douglas, mereka semakin bertambah, apa paman bisa ke sini dengan menyusup?"


"Hahahah.... Apa kau sedang meremehkanku Zac?" Kata Gavriel tertawa.


"Bukan begitu paman. Aku tahu paman siapa, tapi puluhan tahun paman memegang alat operasi dan stetoskop. Aku hanya khawatir." Kata Zac.


"Apa perlu para tikus-tikus itu paman musnahkan? Selama ini aku hanya malas saja untuk berperang dan sedang menikmati kedamaian, tapi jika kau tidak percaya, pamanmu ini bisa melakukan hal yang tidak kau percayai itu, kaumelukai hati paman, paman jadi ingin menunjukkannya." Kata Gavriel.


"Bukan begitu paman tapi taiklah, aku menunggu paman." Kata Zac.


"Pakai sedikit kekuatan saja, jangan berlebihan. Jangan pamer juga pada Zay." Kata Ben.


Traver menahan tawa nya, dan Gavriel melihat ke arah Traver.


"Yahh... Aku sebenarnya malas pada kekerasan, tapi apa boleh buat, aku juga harus terlihat keren, karena ada seseorang yang tidak percaya bahwa sebenarnya aku juga hebat, di dunia mafia ataupun kedokteran."


"Keturunan Murder, yang pensiun dan tidak mau lagi menyentuh lingkaran mafia apakah akan kembali aktif?" Kata Rudolf yang baru saja tiba.


"Demi sang pujaan Tuan Rudolf." Kata Traver.


"Ya terserah, tapi aku sebagai keturunan Murder hanya tak ingin di remehkan oleh siapapun, ku pikir pasukan Douglas lawan yang cukup baik setelah Murder tertidur lama." Sambung Gavriel.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2