
Semua terkejut dengan tindakan Zac, kenapa Zac malah menembakkan pistolnya pada sasaran yang tidak mereka kenal.
"Anaakkuuu!!! Beraninya dia menembak anakku!!! Ada masalah apa ini!!!" Teriak ayah Xuan.
"Aaaaa!!!!! Anakkuuuu kau tidak boleh matiiiii anakku satu-satunyaa....!!!" Ibu Xuan menjerit kemudian tak sadarkan diri karena melihat kondisi anaknya yang mengenaskan. Gia memegangi ibu Xuan dan terduduk di lantai.
"Astaga apa yang telah kau lakukan Zac...." Bisik Gaby perlahan pada dirinya sendiri.
"Kenapa anak itu malah menembak ke sini!" Kesal Gia dan marah.
Tentu saja tak hanya Gia dan keluar Xuan yang kesal, Douglas pun juga merasa di tantang, ada apa, kenapa.
"Ada urusan apa bocah itu menembak ke sini!" Geram Douglas dengan wajah penuh amarah.
Daisy yang melihat anaknya bersikap tak terbaca dan tak bisa di prediksi, seolah memiliki rencananya sendiri tentu saja semakin membuat Daisy linglung ada apa sebenarnya.
Namun, pandangan mata Daisy kemudian tertuju pada gadis cantik yang sedang memegangi jas, jas itu tak asing bagi Daisy, karena ia tahu itu adalah milik Zac, Daisy tahu karena dari logo jas yang terlihat. Logo khas keluarga Haghwer.
Setiap pakaian yang Keluarga Haghwer kenakan adalah pakaian rancangan eklusif, khusus untuk keluarga Haghwer dan tak ada yang menyamai, bukan hanya itu seluruh pakaian yang di gunakan Keluarga Haghwer memiliki simbol keluarga mereka.
Daisy meratapi dirinya sendiri apakah anaknya juga memiliki perasaan pada gadis yang seharusnya tak ia cintai? Gadis dari anak seorang wanita yang sangat ia benci.
Tiba-tiba dengan cepat pula sebuah pistol telah terfokus pada Zac, itu adalah Jhonder.
Seperti yang Ben lihat, Douglas memberikan perintah mata pada Jhonder untuk menembak.
Sedangkan keluarga Xuan tidak terima anaknya mati di hadapan mereka dengan mengenaskan, akan memberikan perhitungan pada orang yang telah menembak anaknya.
Ruangan seketika di penuhi teriakan, amarah, darah dan saling melemparkan pandangan dendam serta kebencian.
Jhonder siap menembak, dengan cepat Ben naik ke atas meja seolah terbang ke arah Zac, dan kemudian menutupi tubuh Zac.
"TUAN!!!" Teriak Traver.
Kini Ben benar-benar menutupi tiga orang, itu adalah Zac, di depan Zac adalah Carlos, dan paling depan adalah anak perempuannya itu adalah Zay.
Ben menjadikan tubuhnya tameng untuk anak-anaknya.
"DOORRR!!!"
"DOORRRR!!!"
"DOOORRRR!!!"
__ADS_1
3 kali tembakan di balas dengan 3 kali tembakan. Jhonder melepaskan peluru 3 kali ke arah Zac.
"BEEEEENNNNN!!!!" Daisy berteriak histeris.
Traver pun langsung mengarahkan senapannya pada Jhonder.
"DOORRR!!!"
"DOOORRR!!!"
2 kali tembakan tepat di dahi Jhonder membuat Jhonder langsung ambruk terlentang di atas lantai.
Semuanya terjadi begitu cepat, hanya hitungan tak lebih dari sepertian kian detik, semua adu cepat dan adu tangkas, jika saja Traver tak memiliki kecepatan dan insting yang tepat tentu saja seluruh keluarga Haghwer pasti telah tewas di tembakki oleh Jhonder.
"MENA HUBUNGI MEDIS DAN BAWA CASEY SERTA PARA PENGAWAL MASUK SEKARANG!!!! CEPAT!!!" Teriak Traver dari headphone di telinganya.
Para pengawal milik Douglas pun sudah berdatangan, Traver berdiri memegangi senapan dan mengambil satu pistol lagi berdiri paling depan untuk menjaga keluarga Haghwer.
Daisy merosot tak bisa lagi berdiri, ia merangkak maju untuk datang ke arah Ben. Pakaiannya menyentuh darah yang mengalir di seluruh lantai, kemudian tangannya menutup luka di punggung Ben.
Tangan Daisy penuh darah bahkan pakaiannya dan juga wajahnya, tubuhnya juga gemetar seperti kedinginan, wajahnya pucat pasi di sertai air mata yang terus mengalir.
"Beeenn... Beennn... Jangan bercanda, bangunlah...!!!" Daisy terus memanggil suaminya.
"Ayaah.... Aaayaahh kenapa kau lakukan ini.... Bangun ayah... Ayah... Kenapa kau lari dan menjadikan tubuhmu sebagai tameng."
Zay masih berdiri mematung dan Carlos juga masih tak fokus ada apa sebenarnya.
Derreck dengan cepat menarik Zay dari Carlos yang sedang lengah, namun tak bisa, ternyata Carlos tetap lebih dulu sadar dan kembali menodongkan pistolnya pada Zay.
Saat itu Zay hanya seperti patung yang menangis melihat semua ruangan di penuhi darah ayahnya.
"Aaa... Ayah.... Ayahhh...." Kata Zay lemah.
Gia pun melihat bagaimana Ben tak sadar kan diri di pelukan anaknya, ia kemudian membuang muka dan melihat ke arah Douglas yang sudah melihat dirinya lebih dulu dengan tatapan dingin.
Kemudian Douglas menarik istrinya untuk berdiri.
"Kau sedih? Cinta pertamamu sudah mati?" Kata Douglas.
"Cinta pertama?" Tanya Gaby.
Gia hanya diam.
__ADS_1
"Ibu... Jadi cinta pertama ibu adalah Tuan Benjove? Tuan Benjove Haghwer? Pria yang kau selamatkan itu?" Teriak Gaby dengan membulatkan matanya.
Zac mendengar itu dan melihat ke arah Gaby, ia tak mungkin salah dengar. Lalu Zac bertanya pada sang ibu.
"Ibu.... Apa itu benar? Kau mengenal mereka?" Tanya Zac terkejut campur tak percaya.
Daisy diam dan masih menangis wajah dan tubuhnya penuh darah suaminya. Daisy tak ingin membahas itu sekua yang ada di pikirannya sekarang ialah membawa Ben pergi menyelematkannya san membawa keluarganya kembali ke Negara K, Daisy ingin anak-anaknya pulang ke Negara K. Daisy berharap semua ini hanya mimpi, Daisy masih berharap semua malapetaka ini hanyalah mimpi.
Tak berapa lama Mena, Casey dan para pengawal berdatangan, mereka semua terkejut jika separah itu dan melihat Tuan mereka terkapar. Mereka saling berhadapan dengan pengawal Douglas.
Melihat itu Carlos terus berjalan keluar dengan tetap menodongkan pistolnya di kepala Zay.
"Lepaskan adikku!!!" Teriak Zac.
"Carlos kau lihat Ben, sedikit saja, kau dulu adalah teman baik Ben, sekarang dia sekarat, lepaskan Zay, mari kita bicarakan lagi, apa maumu." Bujuk Derreck.
Mena dan Casey tak bisa berbuat apapun karena Carlos masih menempelkan pistolnya di kepala Zay, mereka tak ingin membuat kesalahan, Tuan Ben yang sekarang terkapar sudah menjadi pukulan berat bagi mereka semua.
"Kau tanya aku mau apa?" Tanya Carlos.
"Ya, aku akan menurutimu tapi lepaskan keponakanku." Kata Derreck.
"Kalau begitu bagaimana jika bertukar, serahkan Daisy padaku." Kata Carlos.
Semua orang terdiam. Tak ada yang bisa menjawab. Terkejut dan tak bisa menerima itu.
"Hahahahah.... Zay, lihatlah tak ada yang menyayangimu... Mereka semua memilih kau yang mati daripada menyerahkan ibumu!!" Teriak Carlos sembari tertawa.
"Bawa aku.... Bawa aku tapi lepaskan Zay..." Kata Daisy kemudian.
Zac terkejut, begitu pula semua orang.
"Tidak!!!" Teriak Derreck.
"Ibuuu!!!" Zac pun sangat merasa berat mendengar kalimat ibunya.
"Tidak akan ku serahkan Daisy padamu!!!" Teriak Derreck.
"Lepaskan anakku, dan aku akan ikut denganmu!!!" Teriak Daisy dengan suara bergetar.
Derreck meremas wajah dan rambutnya.
Tak berapa lama ambulan dan tim medis datang bersama Gavriel yang kebetulan Gavriel juga sedang berada di AS.
__ADS_1
Bersambung