
Gavriel melanjutkan tugasnya, ia menuju kamar Daisy, saat itu Daisy sudah selesai membersihkan diri dan memakai dress nya sebatas paha.
Gavriel menelan ludahnya melihat kulit putih yang bening serta kecantikan Daisy yang bercahaya.
"Pantas saja dia mengurungnya, kalau aku jadi dia bukan hanya mengurungnya, aku bahkan tidak akan pernah keluar dari mansion dan memilih menemaninya sepanjang hari." Kata Gavriel pelan.
"Tuan Gavriel... Apakah Tuan Ben baik-baik saja." Kata Daisy dengan wajah panik menghampiri Gavriel.
"Tenang saja, itu hanya luka kecil baginya." Kata Gavriel.
Kemudian Gavriel dan Daisy duduk di sofa.
"Luka kecil? Apa Tuan Ben pernah mengalami luka yang lebih parah? Menurut saya itu bukan hanya luka kecil karena Tuan Ben terkena pukulan di kepala dan peluru yang menyerempet lengannya."
Gavriel mulai melakukan pemeriksaan pada Daisy, ia mengeluarkan alat-alatnya, menemprlkan stetoskop nya di dada Daisy, hingga di rasa Daisy tidak memiliki masalah Gavriel pun kembali membereskan alat-alat pemeriksaan di bantu perawat.
"Dia pernah tertusuk di perutnya, itu sangat dalam, saat itu dunia mafia sedang sangat gaduh dan belum ada Keamanan Mafia Gelap, meskipun saat itu luka di perut Ben sangat parah, dia masih kuat untuk bertarung. Saat itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengan dia dan Rudolf, bahkan sebelum ada Traver. Malam itu hujan turun sangat lebat, Rudolf dengan panik membawa Ben yang sudah berlumuran darah, wajah Ben sudah pucat, namun dia masih saja bisa mengatakan jika dirinya adalah pria yang tidak akan pernah bisa mati dengan mudah. Makin lama kami makin akrab, aku mengerti dia sangat dingin, kasar, dan tidak mau di atur, tapi itulah dia." Kata Gavriel tersenyum.
Daisy menunduk lalu ia mengatakannya dengan malu.
"Apakah anda terkena masalah ketika saat itu saya meminjam ponsel anda untuk menghubungi seseorang agar dia membantu saya melarikan diri?"
"Aku sudah tahu dari awal, jika kau menghubungi Tuan Dereck, saat itu aku memeriksa nomornya."
"Lalu kenapa anda hanya diam..."
"Aku sengaja, aku hanya ingin melihat bagaimana sikap Ben ketika kau kabur, aku penasaran ingin melihat ekspresinya." Kata Gavriel tertawa.
"Tapi Tuan Ben tidak memukul anda bukan?" Kata Daisy.
Gavriel tersenyum.
"Dia tidak akan memukulku selama aku tidak menyentuh dan mengambil miliknya, karena dia tahu, dia tidak bisa di periksa oleh dokter lain."
"Tapi... Dia bahkan tega melihat Mena di pukul."
Gavriel tersenyum.
"Mungkin aku harus mengatakannya, sebenarnya Ben memiliki kepribadian yang rumit, dia tidak bisa di tebak. Dia juga memiliki trauma di masa lalu, entahlah, yang jelas jangan pernah menyulut emosinya."
"Apakah... Menyangkut..."
BRRAAKK!
Daisy belum sempat menyelesaikan kalimatnya dan terputus karena Ben masuk.
"Apa ada masalah?" Tanya Ben berdiri di depan Gavriel dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Gavriel kemudian tersenyum dan berdiri.
"Tidak ada, kalau begitu aku pulang, hubungi aku jika sesuatu terjadi, aku akan mengirimkan obatnya melalui perawatku."
__ADS_1
Ben hanya diam dan mengangguk pelan.
Setelah Gavriel pergi beserta perawatnya, Ben duduk di samping Daisy.
"Ada yang sakit?" Tanya Ben.
Daisy menggeleng dan melihat luka di kepala Ben serta lengan Ben.
"Apa itu akan baik-baik saja?"
Ben mengangguk.
"Gavriel dokter yang hebat."
"Apa akan membekas?"
"Kenapa? Kau takut wajah ku yang tampan memiliki bekas luka dimana-mana?"
"Bu... Bukan... Begitu maksud saya Tuan. Sa... Saya... Hanya, ingin tahu apakah akan menimbulkan bekas, dan apakah anda memiliki bekas luka yang lain."
Ben tersenyum menyunggingkan sudut bibirnya.
"Gavriel pasti menceritakan sesuatu yang tidak penting."
Daisy menunduk dan meremas kedua tangannya.
"Gavriel dokter yang pintar dan paling kompeten, luka yang ada di tubuhku bisa menghilang berkat bantuannya, jika tidak ada dia, seluruh tubuhku sudah memiliki banyak bekas luka. Kau pasti akan takut." Kata Ben.
"Mungkin saja, saya tidak akan takut." Kata Daisy.
"Kenapa?" Pelan-pelan Ben mendekatkan wajahnya, tangannya terulur maju meraih rahang Daisy dengan lembut.
"En... Entahlah... Mungkin saya hanya tidak takut saja."
"Kau tidak pernah takut denganku, aku melihat dari sorot matamu." Bisik Ben.
Hidung Ben dan Daisy sudah saling bersentuhan, Ben hendak mencium Daisy, meraih rahang Daisy dengan lembut agar wajah Daisy lebih dekat, menggunakan tangannya yang kekar.
"Entah kenapa, aku sangat cemas." Kata Ben.
"Tentang apa Tuan?"
"Ketika peluru-peluru itu ada di sekitarmu, rasanya aku tidak sabar ingin sekali membereskan mereka semua dengan cepat, seandainya kau bisa mengecil aku hanya perlu memasukkan mu ke dalam saku."
Daisy tiba-tiba tertawa, membuat Ben tersentak.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Terkadang anda seperti anak kecil yang manja." Kata Daisy.
Ben kemudian mengecup bibir Daisy dengan lembut, sangat lembut, dan meraih rahang serta pipi Daisy dengan lembut, ibu jari Ben mengusap pelan pipi Daisy.
__ADS_1
Ciuman Ben semakin dalam, lidahnya merengsak masuk. Dada dan tubuhnya semakin memanas.
Tangan Ben perlahan turun dan menyibak rok Daisy naik. Dengan lembut Ben membelai paha Daisy.
Daisy mundur dan mendorong tubuh Ben.
"Tuan... Anda masih sakit." Kata Daisy.
"Lalu? Kau takut aku tidak perkasa seperti biasanya?"
"Tidak bukan itu, nanti lukanya terbuka lagi." Kata Daisy malu.
TOK TOK TOK!!!
Pintu di ketuk.
"Masuk." Kata Ben.
Kemudian Traver masuk.
"Tuan maaf, saya mendapatkan informasi dari pasukan gelap milik kita yang mengikuti Blaze secara diam-diam, dan menemukan lokasi persembunyiannya, ternyata Pete, ada di sana, dia mengkhianati kita juga."
Ben menyunggingkan senyuman sinisnya.
"Mereka tidak tahu berhadapan dengan siapa. Apakah semua yang sudah ku berikan kepada mereka semua masih kurang?" Kata Ben.
"Tuan... Saya dengar El Joa menjanjikan kekuasaan baru di negara bagian utara tepatnya di negara salju, untuk Pete dan Blaze, mereka mendapat masing-masing satu wilayah."
Ben tersenyum sinis lagi.
"Aku tahu Pete dan Blaze bodoh, tapi melihat ini aku yakin mereka lebih bodoh dari yang aku pikir, Negara Salju bagian Utara sebagian telah menjadi daerah kekuasaanku, dan aku menyembunyikan fakta ini dari siapapun, hanya sekali libas wilayah mereka bisa ku dapatkan. Aku sangat kecewa pada Pete, seharusnya dia bisa sepertimu Traver, tapi aku semakin yakin bahwa ternyata tidak ada yang bisa menjadi sepertimu. Apa Rudolf sudah tahu?"
"Tuan Rudolf baru saja meninggalkan mansion tuan, dia belum tahu."
"Kalau begitu katakan pada para petinggi Mafia, siapapun yang ingin melakukan kerjasama suruh mereka untuk datang ke mansion. Nanti malam, aku harus memastikan siapa yang memihakku dan siapa yang memihak El Joa."
"Baik Tuan."
"Lalu bagaimana dengan berita hari ini." Tanya Ben.
Traver melirik Daisy.
"Sebenarnya, foto anda dan Nona Daisy tersebar." Kata Traver menyerahkan tab nya.
Ben menerima nya dan memicingkan mata, moodnya menjadi tidak senang.
"Seharusnya jika mereka ingin bergosip, cari fotoku yang lebih bagus. Kenapa saat ada telur ceplok di atas kepalaku! Sialan." Kata Ben.
Sedangkan Daisy sendiri kebingungan, antara ia harus tertawa dengan sikap Ben dan bahagia karena berita tentang pernikahan palsu Ben dengan Zaya sudah hilang, ataukah dia harus sedih karena sekarang banyak orang yang mengetahui hubungannya dengan Ben.
Daisy merasa sangat sedih, seolah para media dan berita di Negara K sangat tanggap, lambat tahun mereka pasti juga akan tahu jika dirinya pun hanya pelacuur milik Ben.
__ADS_1
bersambung