
Zaya berpamitan pada yang lain jika ia hendak pergi ke toilet, ia mengambil lajur lorong di dekat pria yang yang memberikannya minuman.
"Terimakasih untuk minumannya." Kata Zaya.
"Hanya hadiah kecil."
"Sepertinya saya harus ke toilet. Tapi sebelum itu bolehkah saya tahu siapa anda?"
"Saya John Lansky."
"Aahh... Tuan John..." Kata Zaya tersenyum.
"Apakah anda perlu saya temani?"
"Jika tidak keberatan, dan jika tidak merepotkan anda, karena mendadak kepala saya pusing." Kata Zaya memijit kepalanya.
John Lansky kemudian melirik ke arah para pengawal Zaya yang berada agak jauh dari Zaya, mereka masih di tempat semula.
"Saya meninggalkan para pengawal saya di sana, saya agak sesak dengan pengawalan yang berlebihan, jadi saya menyuruh mereka agar tetap berada di sana." Kata Zaya tersenyum.
John Lansky tersenyum kemudian menunjukkan jalannya.
Di sebuah lorong yang panjang, pria itu berjalan di belakang Zaya dengan tenang. Ketika Zaya hendak masuk ke dalam toilet, John segera membekap mulut Zaya dan menyeretnya keluar, Zaya tidak bergerak dan pasrah ia ingin tahu apa yang akan pria itu lakukan pada dirinya.
Sedangkan Mena dan pengawal wanita lainnya masih memantau dari kejauhan.
John Lansky menyeret Zaya masuk ke dalam ruangan vip, dan melemparkan Zaya ke atas ranjang.
John melepaskan ikatan dasinya dan membuangnya lalu ia juga melepaskan beberapa kancing bajunya.
Zaya merasa kepalanya semakin berputar.
"Astaga... Efeknya sangat kuat." Kata Zaya.
DRRRR.... DDDRRR.... Ponsel John bergetar dan ia menerimanya.
"Bagaimana?" Tanya John.
"Sudah di konfirmasi, wanita yang bersama Ben saat ini adalah kekasihnya, namanya Zaya, aku juga sudah mendapatkan informasi jika Ben tidak memiliki wanita lain selain beberapa nama wanita yang melayani nya hanya sebatas orall dan tidak lebih."
"Kau yakin wanita ini benar-benar kekasih pria itu?" Kata John.
"Aku yakin."
"Baiklah aku akan menyelesaikannya sekarang."
John kemudian mematikan ponselnya, lalu ia mendekat, naik ke atas ranjang dan menekan rahang Zaya dengan tangan besarnya.
__ADS_1
"Aku tidak sabar ingin melihat Ben hancur, jika setelah ini Ben tidak menerima mu lagi sebagai kekasihnya, datanglah padaku, aku akan memikirkan tempat yang bagus untuk mu di sisiku, tapi tidak untuk menjadi istriku, karena sebenarnya kau bukan seleraku." Kata John Lanksy.
"Apa mau mu..." Kata Zaya lemah tubuhnya mulai lemas dan tidak dapat bergerak.
"Mauku? Kau menanyakan mauku?" John mendekatkan wajahnya di wajah Zaya.
"Mau ku adalah merusak tubuhmu, dan menghancurkan Ben." Bisik John Lansky.
"Kau... Tidak akan pernah bisa menghancurkan Ben." Kata Zaya lemah.
"Hahaha...Itulah kalimat yang selalu ku dengar. Sebentar lagi, kau akan menikmatinya, aku akan memberikan kepuasan padamu, tapi sebelum itu kita harus pergi dari sini, helikopter sudah menanti kita." John kemudian menggendong Zaya.
"Brengseekk... Jangan sentuh aku..." Kata Zaya lagi.
"Astaga... Kau bahkan tidak bisa berteriak, kenapa kau masih susah-susah membuang energi yang masih tersisa. Simpan saja." Kata John menaruh Zaya di sofa.
Kemudian John membuka jendela kamarnya, lalu kembali mengangkat Zaya dan menggendongnya di bahu dengan satu tangan memegang Zaya dan satu tangannya lagi meraih tali yang sudah terulur kebawah.
BRRAAKKK!!!
"Nona Zaya!!!" Teriak Mena.
Mena masuk tepat waktu.
Saat itu John sedikit lagi dapat keluar dari jendela namun, para pengawal langsung menarik John kembali ke dalam kamar.
Namun, Zaya masih berada di tangan John, saat itu kondisi Zaya sudah lemah ia tidak sanggup berdiri, dengan cepat John mengambil pistol dari pinggangnya dan mengarahkannya pada kepala Zaya.
"Berlutut kalian semua dan buang senjata kalian!" Kata John.
Zaya kemudian duduk lemas di lantai, John mencengkram rambut Zaya, sembari menodongkan pistol di kepala Zaya.
Kemudian Mena memberikan perintah dengan isyarat pada pengawal yang lain untuk berlutut dengan mengangkat tangan dan membuang senjata.
TAK TAK TAK TAK.... Suara sepatu berjalan dengan intonasi yang pelan dan santai, semakin dekat dan semakin mendekat, John menelan salivanya dan melirik ke arah pintu.
TAK... TAK... TAK... TAKK...
Namun ketika suara sepatu yang berjalan semakin dekat, tiba-tiba langkah kaki itu berhenti, membuat John semakin mendelik untuk memastikan siapa yang akan datang.
TAK...TAK...Langkah kaki berjalan lagi dengan pelan dan seseorang pun menyembul dari balik pintu dengan mantel besar dan kedua tangannya berada di saku, di belakangnya Traver berdiri tegap dengan wajah datar dan juga dingin.
Sudut bibir John Lanskey berkedut, ia menatap dengan mata membulat, tangannya semakin kuat mencengkram rambut Zaya, dan pistolnya benar-benar menekan kepala Zaya.
"Aaarghh...." Zaya merasa sakit.
"Di sini kau rupanya... Aku mencari mu dimana-mana..." Kata Ben melihat Zaya.
__ADS_1
Mena melirik Ben dan Traver.
"Ben... Kau mendekat satu langkah, kepala pacar mu akan pecah." Kata John.
"Jadi... Kenapa itu kau John Lansky." Kata Ben menaikkan satu alisnya.
"Kau pikir kau hebat Ben!!!" Teriak John.
"Ya... Terserah bagaimana mau menilaiku hebat atau tidak tapi aku selalu bisa menghancurkan segala yang menghalangiku, jadi apa tujuanmu tidak perlu basa-basi denganku." Kata Ben.
"Kau mencari siapa yang telah menjual namamu bukan? Sayangnya kau tidak akan pernah menemukannya karena dia adalah mafia paling kuat, bahkan dia tidak akan terkalahkan meski kau bekerja sama dengan mafia-mafia lain!!!" Teriak John
"Jadi... Apa kau juga tergabung di dalamnya." Kata Ben santai.
Tak berapa lama Rudolf Gama dan Carlos menyusul, mereka berada di belakang Ben dan juga Traver.
"John..." Panggil Carlos tidak percaya.
"Astaga... Apakah mafia-mafia sedang bergejolak dan melakukan pemberontakan." Kata Rudolf Gama.
"Sepertinya kita tidak dapat menyerahkannya pada Serikat Keamanan Mafia Gelap, jika kita ingin tahu jawabannya." Kata Ben.
"DIAMM KALIAN SEMUAA!!! Kalian tidak tahu bagaimana mafia kecil seperti kami bisa bertahan tanpa di injak, kalian semua tidak tahu rasanya kehilangan, aku bekerjasama dengan seorang mafia yang sangat kuat yang akan menguasai dunia, dia berjanji akan memberikan kami mafia-mafia kecil tempat yang layak. Kalian akan hancur."
"Astaga... Omong kosong apa ini, apa mereka sedang mengumpulkan pasukan. Siapa yang kau sebut dia? Mafia dari mana dia?!" Kata Carlos.
"Kalian semua tidak akan pernah menang!!!" Teriak John.
"Jangan pernah mengatakan tentang kehilangan, karena kau tidak tahu bagaimana orang lain menjalani hidupnya, otakmu pendek karena kau hanya melihat 1 sisi. Kau sekecil kotoran kuku pun tak pernah tahu bagaimana kami bisa sampai sejauh ini." Kata Ben mengeluarkan pistolnya dari balik jasnya
"Letakkan senjata mu atau aku akan membunuh pacarmu!!!" Teriak John Lansky.
"Sayangnya dia bukan pacarku, dan kau akan mendekam di ruang bawah tanahku." Ben mengulurkan pistolnya, tangannya panjang yang kuat dan kokoh, matanya yang serius membidik, membuat semua orang menjadi ngeri, apakah tembakan akan tepat sasaran ataukah akan meleset.
"Jangan macam-macam, aku akan benar-benar menembaknya!!!" Teriak John.
"Kau tidak cukup berani melakukannya, itulah sebabnya kau menjadi mafia yang kecil." Kata Ben.
DOOOOORRRR!!!"
BRAAKKKK!!! Pistol John terlepar jauh.
"AAAARRGGHHHH!!!!"
Ben menembak tepat di tangan John, ia tidak bisa memegang pistolnya lagi.
"Astaga... Apa dia dewa, bahkan dia memiliki bidikan yang hebat, tepat di tangan John yang memegang pistolnya, jika itu aku, pasti telah mengenai kepala wanita itu." Kata Carlos.
__ADS_1
"Itulah kenapa Ben di juluki setengah dewa dan iblis." Kata Rudolf pada Carlos.
bersambung