Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 266


__ADS_3

PERINGATAN! EPISODE INI MENGANDUNG KETIDAKNYAMANAN, KALIAN BISA SKIP~


Daisy kemudian mengusap dahi Ben yang berkeringat sangat banyak.


"Ya... Ini benar-benar aku, kau tidak berhalusinasi." Kata Daisy.


Saat mendengar kalimat Daisy bahwa dirinya tak berhalusinasi, Ben langsung mendorong tubuh Daisy dan memutarnya cukup keras, Ben langsung melahap bibir Daisy, menciumnya, menyedotnya dan menghisapnya dengan rakus.


Daisy berfikir dan cukup takut, karena tanpa obat perangsang saja, Ben sulit untuk di puaskan, ia takut, Ben berubah menjadi iblis yang tak mengenal puas.


Gia yang melihat itu tentu saja merasa marah, namun tubuhnya tak bisa bergerak karena diikat dengan kuat oleh Mena.


"Beeenn... Lihat aku Benn... Aku yang seharusnya kau ciumm... Hhmbbb... Beeenn....!!" Teriak Gia frustasi.


"BRAAKK!!!"


"BRAAKKK!!!"


Gia menggerakan kursinya karena sangat tertekan, dia pun juga merasakan rangsangan yang kuat, namun tersiksa tak ada yang menyentuhnya.


Gia semakin marah ketika melihat Ben yang dengan kasar dan sangat bergairah menyobek pakaian Daisy dan menghisapp payudara Daisy dengan rakus dan kasar, seolah Ben sudah memuncak dan tak dapat di kendalikan lagi.


Saat itu juga Daisy melihat ke arah Gia dengan tatapan kepuasan dan kemenangan, tatapan Daisy yang sangat dingin dan merendahkan Gia, seolah Daisy sedang menunjukkan bahwa Ben hanya untuknya seorang, Daisy ingin menunjukkan bahwa dialah Nyonya Haghwer.


Daisy kemudian meremas rambut dan kepala Ben ketika Ben masih memainkan payudaraa Gaby dengan kedua tangannya yang kekar dan berotot, di tambah dengan hisapan kuat Ben membuat Daisy menengadahkan kepala dan menggigit bibirnya pelan.


"Hmmhh... Aaahh... Beennn... "


Tak hanya sampai di situ, Ben dengan kasar menarik rok dan underware milik Daisy dan membuangnya ke lantai.


Ben tanpa ragu dan dengan rakus langsung menyesap bagian intim milik Daisy, begitu kuat dan memainkan lidahnya di sana, hingga suara hisapan itu di dengar oleh Gia.


"Aaahhh Beeenn... Beeenn... Beeennn, tindakan mu itu membuatku gilaaaa!!!!" Gia frustasi dan sangat marah.


"Sialaaann... Dasar kau pelacuurrr. Daisy Bodohh..!!! Kembalikan Ben padaku!!! Kau merebutnya darikuuuu!!!" Teriak Gia dengan marah, wajahnya sudah merah dan tubuhnya berkeringat sangat banyak.


Alih-alih mendengarkan Gia, Daisy justru sedang menikmati hisapan Ben di area yang membuatnya makin menuju puncak kenikmatan, Daisy meremas dan menjambak rambut Ben, pada akhirnya tubuh Daisy menegang dan mencapai orgasmeenya.


"Aaaahh Nghgghhh Beeenn...!!!" Pekik Daisy sembari mengapitkan kedua kakinya di kepala Ben.

__ADS_1


Ben kemudian menciumi tubuh Daisy dan meninggalkan bekas-bekas merah di sana, pandangan sayu Daisy tertuju pada Gia yang mulai gila, dia terangsangg sangat kuat namun tak ada yang menyentuhnya.


"Rasakaan siksaannya... Kau menginginkan suamiku, dan kau yang menjadikannya seperti ini, maka hanya aku yang dapat ia sentuh dan hanya aku yang boleh memuaskannya, kau hanya akan menjadi wanita gila." Kata Daisy lemah.


Ben kemudian berdiri di tepi ranjang dan melepaskan kemejanya, tubuh kekar itu, dan sebuah tonjolan besar dari balik celananya yang ketat membuat Gia semakin ingin di sentuh oleh Ben.


"Beeenn... Kasihani akuu... Sentuh aku sebentar sajaa... Ingatlah dulu aku yang menyelamatkanmuu.... Ayo Benn... Hisap aku sebentar sajaaa.. Ingatlah, dulu kau selamat karena aku, jika bukan aku, kau akan mati .." Kata Gia.


Ben berjalan pelan menuju pada Gia sembari membawa selimut putih yang besar.


"Bermimpilah dan nikmati saja suara kami yang erotiss." Kata Ben kemudian menutupi tubuh Gia dengan selimut tersebut.


Ben tak ingin wanita manapun melihat tubuhnya, apalagi, ketika Ben telanjangg.


Ben pun kembali menuju pada Daisy yang tersenyum puas, kemudian Ben membuka celananya.


"Maaf Daisy... Mungkin ini akan lebih kasar dari biasa..." Bisik Ben di telinga Daisy dan mengangkat tubuh Daisy di atas pangkuannya.


Ben kemudian mendorong miliknya masuk dengan dorongan yang kuat dan satu kali hentakan kasar.


"Aaaaghh...!!!" Daisy memekik keras, desahaan nikmat bercampur dengan rasa sakit.


"OOOGHHH....!!!" Ben mendesah ketika miliknya sudah masuk dan terasa seperti di remas oleh milik Daisy.


"PLAAAKK!!!" Ben kemudian memukul pelan pantaat Daisy.


"Ini sempit dan milikku seperti di remas... UGH..." Kata Ben mendesaahh berulang kali.


Ben kemudian membaringkan tubuh Daisy di atas ranjang dengan menyilang, membuat rambut panjang Daisy terjun ke bawah.


Suara derit ranjang yang cepat membuat Gia semakin frustasi, dia menangis dan sangat tak berdaya, kemudian Gia membanting tubuhnya hingga jatuh ke atas lantai.


"BRRUUUGGGG!!!" Tubuhnya jatuh di lantai bersama dengan kursinya, tangannya berusaha menggapai bagian sensitifnya, gesekan pada tali membuat tangan-tangan dan tubuhnga terluka serta berdarah, dan selimutnya pun sudah terbang, kini ia bisa melihat bagaimana kuatnya Ben memompa tubuhnya pada tubuh Daisy.


"Beeenn... Kau jahaattt... Kau sangat tega padaku Benn... Setelah aku menyelamatkanmu.... Inikah pembalasanmu padaku Beennn... Ingatlah kita pernah dekat ..." Kata Gia menangis dan memegang bagian senstifnya sendiri.


Gia semakin tersulut, tubuhnya semakin panas, karena tontonan di depannya, ia melihat bagaimana kuatnya Ben dalam posisi itu.


Kemudian Ben memutar tubuh Daisy untuk menungging, Ben memasukkannya lagi, hingga otot-otot tubuh Ben menonjol dan terlihat tegang.

__ADS_1


Rahang Ben terlihat menguat, dengan otot-otot wajah serta kepala yang seolah saling berusaha untuk mencapai puncak yang paling diinginkannya.


"AAAHHH... AAAHH... AAHHH..." Gia memasukkan jarinya dalam miliknya sendiri dan melihat adegan gratis di depannya, Gia sangat putus asa, dia gila, dia membayangkan Ben sedang menyentuhnya.


Gia sedang membayangkan bahwa di atas ranjang itu adalah dirinya.


"Mmmmggbb... AAAH... Nghhh... Beenn... " Daisy tak kalah kuat dengan suara desahaan-desahaannya yang terus menerus tak bisa berhenti.


Gia tersadar dengan suara desahaan Daisy, ia tak bisa lagi menahannya, ia mencapai kenikmatan dengan tangan dan sentuhannya sendiri, namun itu semua tak cukup, semakin Gia mencoba memuaskan dirinya sendiri itu justru semakin membuat Gia frustasi, ia ingin di sentuh oleh Ben, ia ingin di remukkan tulangnya oleh Ben.


Namun, pada kenyataannya, Ben bahkan tak melihat dirinya sama sekali.


Gia menangis ketika hanya bisa melihat punggung kekar berotot Ben yang masih terus menerus memompa dirinya di tubuh Daisy.


"Beenn.. Kau jahaat... Aku menyesal menyelamatkanmu.... Hahahaha.... Tapi, kau juga pasti hanya pura-pura, sebenarnya kau mencintaiku kaan... Hihihihihi..." Tubuh Gia semakin lemah pikirannya semakin kacau. Ben mulai Gila.


"Tidaak... Beenn ayo kita selesaikan sekarang... Sayangku... Kau pernah menyentuhku kaann, kau pernah ingin tidur denganku... Aku ingat itu... Kita hampir saling memuaskaann... Jangan berbohong dan membohongi istrimu... Aku ingattt itu... Kita pernah saling mencintai." Kata Gia meracau tidak jelas, ia kehilangan kesadaran antara kenyataan dan obesesi mimpinya.


"Jangan dengarkan dia Daisy... Dia gila." Kata Ben terengah hampir mencapai klimakss.


"Aku... Tahu... Tapi... Keluarkan saja... Dia... Aku muak dengannya." Kata Daisy yang juga sudah hampir mencapai puncaknya lagi.


"UUGHH!!" Ben menggeram karena ia telah sampai di tingkat paling nikmat.


"Hhmmhhh...!!!" Daisy juga memeluk Ben dengan erat, tubuhnya bergetar hebat, kakinya mengerat di pinggul Ben.


Ben masih akan melanjutkannya lagi, karena obat perangsang itu masih menguasai dirinya, namun sebelum itu ia harus membereskan Gia, dan Ben memakai pakaiannya lebih dulu.


"KALIAN MENGACAK-ACAK RANJANGKU... ITU HARUSNYA MENJADI RANJANG MILIKKU DAN DIRIMU BEN... " Kata Gia.


Ben pun kini sudah berdiri di depan Gia, saat itu Gia masih terikat, melihat Ben datang senyuman Gia sumringah. Gia pikir Ben akan menyentuhnya.


"Akhirnyaa... Akhirnya kau datang dan melihatku.. Beenn... Akhirnya, kau pasti tidak puas dengan istrimu, aku bisa memuaskanmu sayang... Tidak seperti istrimu yang payah di atas ranjang." Gia berada di posisi miring merangkak pelan dengan kursinya.


Lalu lidahnya maju dan menjilat jari kaki Ben, Ben pun tersenyum dingin.


"Kakiku bahkan jijik dengan lidahnmu." Kata Ben kemudian menginjak kepala Gia dengan kakinya yang besar dan berotot.


"Dengarkan aku baik-baik Gia. Tanpa dirimu pun saat itu, aku bisa menolong diriku sendiri. Aku adalah Benjove Haghwer. Kau jangan merasa tinggi karena berhasil menolong seorang Benjove, kau hanyalah bagian dari sekumpulan sampah dan parasit penghisap, aku kasihan pada anakkmu, bagaimana jika dia tahu kau yang seperti ini. Menjijikkan." Kata Ben menatap dengan mata dingin dan kejam bagai iblis.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2