
Ben serta yang lainnya menunggu di depan gerbang Resort miliknya.
Pulau Maladewi cukup luas dan itu adalah pulau milik Ben, beberapa daerah nya di sewakan untuk umum, namun ada daerah yang khusus dan private di miliki oleh Ben.
Tak berapa lama iring-iringan mobil pun berhenti, mereka adalah para pengawal yang membawa Paulo Redges beserta putrinya, Vanya Belando.
Paulo turun bersama putrinya dan kemudian hendak menyapa Ben yang berdiri di barisan depan.
Rudolf serta Carlos menatap tajam.
Belum sempat Paulo menyapa, Derreck dan juga Mark menyusul Ben.
Paulo menggerakkan cuping telinga, ia terkejut melihat Mark Waldorf di sana.
Ben pun juga menyadari jika Derreck serta ayahnya bergabung.
"Aku merasa ada yang tidak beres, dan tidak akan membiarkan siapapun merusak hari bahagia adikku." Kata Derreck pada Ben.
Paulo tertawa.
"Meskipun aku berniat balas dendam pada Ben, yang telah memutilaasi anakku dengan sangat kejam dan membuangnya ke laut, tapi hari ini aku benar-benar tulus ingin mengucapkan selamat pada Ben dan istrinya." Kata Paulo Redges.
"Aku tidak perlu basa basimu. Aku hanya penasaran apa niatmu sampai kau tidak membawa pengawal dan hanya bersama putrimu, jadi aku mengijinkan para pengawalku membawamu dengan selamat ke hadapanku." Kata Ben dingin.
Tatapan Ben begitu tidak menyenangkan, Ben tahu Paulo bukan orang yang begitu saja mudah memaafkan, dia pria pendendam dan sangat dengki.
"Daisy tidak perlu menerima ucapan selamat dari pembunuh kakek dan nenek serta bibi nya." Kata Mark Waldorf kemudian.
Ben, Derreck, serta semua yang ada di sana kecuali Paulo Redges, terkejut dengan kalimat Mark Waldorf.
"Ayah? Apa maksudmu?!" Kata Derreck tegang.
"Paulo Redges telah membantai seluruh keluargaku, menyebabkan orang tuaku tewas mengerikan, sedangkan adikku gila sampai seumur hidupnya bahkan dia mati dengan perasaan ketakutan, setelah itu dia mengambil seluruh akta tanah milik keluarga Waldorf terdahulu. Adikku memang tidak dapat bersaksi, namun aku telah menggali banyak bukti yang menunjukkan Paulo Redges lah tersangka nya." Kata Mark Waldorf.
Rudolf tersenyum sadis.
"Ternyata kau sangat keji dan licik."
"Sampah." Kata Carlos.
"Ku dengar mempelai nya sangat cantik, aku tak tahu jika dia ternyata anakmu, Mark. Ohya, lagi pula aku membunuh keluargamu karena aku sangat kesal padamu karena kau menikahi Beatrice, tapi ku dengar Beatrice akhirnya akan menceraikanmu, aku sudah menunggunya sejak dia memutuskan menikah denganmu, ternyata penantianku terjawab juga." Kata Paulo Redges.
"Bermimpilah! Aku tidak akan pernah bercerai dengan Beatrice! Lagi pula jika dia meninggalkanku, dia tidak akan pergi padamu!!!" Teriak Mark Waldorf.
"Yah, mengocehlah Mark, karena aku tahu Beatrice sudah mengajukan perceraian! Dan untukmu Ben, aku akan menghantuimu, bahkan jika aku kalah dalam pertarungan balas dendamku padamu, aku akan terus menjadi iblis yang mengutuk mu, agar kau di tinggalkan oleh orang yang kau kasihi."
__ADS_1
"Kau sudah menyelesaikan omong kosongmu?!" Jawab Ben tegas.
Vanya Belando terhenyak, sedari pertama melihat Ben dia sangat terpukau dan terpikat, Vanya langsung jatuh cinta pada Ben.
"Ayah, aku mau memiliki dia." Bisik Vanya pada Paulo.
Kemudian Paulo pun tersenyum getir.
"Sebentar lagi dia akan menjadi milikmu Vanya, dia akan bertekuk lutut di hadapanmu, dan meminta menjadi pasanganmu, karena aku berjanji akan membunuh siapapun yang ada di dekat Ben." Kata Paulo dengan wajah bengis.
Paulo Redges memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, perut besarnya seperti akan meledak karena terlalu besar.
"Aku ingin sekali mengempeskan perut bulatmu, sayangnya hari ini adalah hari yang suci bagiku, aku tidak mau mengotori tanganku." Kata Ben acuh.
"Aku datang untuk memperingatkanmu, bahwa siapapun yang ada di dekatmu kini akan mati, dan tanpa terkecuali istrimu, ku dengar kau akan memiliki anak, semoga saja kalian bisa bertemu sebelum aku membunuhnya." Kata Paulo.
"Jangan sekali-sekali memiliki pikiran untuk membunuh putriku, jika kau berani, langkahi dulu mayatku, aku tidak akan pernah membiarkan mu mendekati putriku, dan aku akan membunuhmu lebih dulu karena kau telah membantai keluargaku, dan tentunya jauhi Beatrice, dia adalah masa lalu yang telah kau sia-siakan dan Beatrice telah memilihku!!!" Teriak Mark.
Ben kemudian menarik krah baju Paulo dengan mencengkram sangat keras.
Ben kemudian menghembuskan nafasnya kesal.
"Sayangnya aku benar-benar tidak boleh menodai hari suci ini."
"Bagaimana jika aku yang memenggal kepalanya?" Tanya Carlos.
"Tidak, siapapun jangan menumpahkan darah di hari suci ini, karena itu akan menjadi kutukan pernikahanku, itu tidak boleh terjadi. Traver, antarkan orang-orang ini ke bandara dan suruh mereka pergi dari pulau Maladewi." Perintah Ben.
"Baik Tuan." Kata Traver.
Kemudian Ben masuk, di ikuti oleh semuanya kecuali Mark Waldorf yang masih memandang bengis pada Paulo.
Saat semua sudah kembali ke dalam, Beatrice sudah diam-diam mendengarkan di suatu tempat yang tersembunyi, awalnya ia hanya ingin mencari Derreck namun ternyata justru mendengar pembicaraan mereka.
Beatrice menutup mulutnya dan kemudian menghapus air matanya, ia teringat bagaimana Mark menolak bercerai dengannya.
Ternyata, yang membuat Mark menjadi pria yang tak lagi ia kenali, karena pembunuh keluarganya adalah Paulo Redges, mantan kekasih Beatrice.
Di dalam ruangan, Ben kemudian berhadapan dengan Derreck serta Mark Waldorf mereka berbicara dan membahas masalah keluarga Mark Waldorf yang telah di bantai.
"Aku sudah memburunya bertahun-tahun, aku bahkan kehilangan diriku sendiri karena terobsesi ingin membunuhnya dan membalas dendam padanya, namun dia sangat pintar bersembunyi."
"Bukan sangat pintar, kau lah yang bukan tandingannya, jangan coba-coba untuk membalas dendam padanya sendirian, dia bukan tandinganmu, jika kau butuh kekuatan, aku akan membantumu."
"Kenapa? Bukankah kau membenciku." Kata Mark Waldorf.
__ADS_1
"Karena, aku mendengar mu kau tidak akan membiarkan siapapun menganggu pernikahan putrimu, dan juga tidak akan membiarkan siapapun menganggu putrimu." Kata Ben.
"Sejujurnya, aku bukan orang yang cepat memaafkan begitu saja, aku pria pendendam, aku tak sabaran dan juga tak suka merendahkan harga diri, namun kau sudah memiliki inisiatif untuk mengakui Daisy adalah putrimu, jadi aku begini karena Daisy."
Mark hanya diam.
"Ayah... Dengarkan nasehat Ben, kau sebentar lagi akan memiliki cucu, apa kau tidak ingin menggendongnya, jangan buat dirimu mati sia-sia. Ben benar, Paulo Redges bukan tandingan kita." Kata Derreck.
Mark Waldorf pun mengangguk.
"Tapi... Aku belum tenang jika belum membalas dendam padanya."
"Serahkan semuanya padaku, setelah melewati masa tenang pernikahan, aku akan bergerak."
"Baiklah aku setuju." Kata Mark.
"Lalu, setelah pesta ini selesai, cobalah untuk berbicara pada istriku." Perintah Ben.
"Aku tahu sejak awal aku sudah memikirkannya." Kata Mark Waldorf.
Setelah pembicaraan itu, Ben beserta Derreck dan Mark kembali bergabung dengan yang lainnya untuk menikmati pesta pernikahan.
Hingga malam pun tiba, dan pantai yang awalnya bersinar karena matahari, kini berubah menjadi begitu indah karena sinar lampu kuning yang menyorot remang-remang begitu banyak di sepanjang pantai.
Pesta akhirnya berakhir, dan kini waktunya semuanya beristirahat, para undangan pun sudah pulang meninggalkan pulau Maladewi.
Namun, di ruangan tengah, di sana berdirilah Mark Waldorf serta Daisy yang sudah saling bertatap wajah.
"Terima kasih sudah datang dan merestui kami." Kata Daisy canggung.
"Aku tahu ini terlambat tapi..." Mark Waldorf tiba-tiba berlutut di lantai.
Sikap Mark seketika membuat Daisy syock dan sontak duduk di lantai di hadapan Mark.
"Maafkan aku...." Kata Mark menundukkan kepala nya dan kemudian menangis.
Daisy terkejut melihat Mark bersimpuh sembari menangis.
"Maafkan aku... Aku sangat takut memiliki anak perempuan karena... Karena adik perempuanku menjadi gila hingga menjadikannya mati. Semua itu karena dia melihat pembunuhan dan pembantaian yang ada di keluarga kami." Kata Mark Waldorf.
"Jangan bersimpuh seperti ini..." Kata Daisy ingin mengangkat tubuh ayahnya.
"Tolong maafkan aku... Aku benar-benar bodoh, ku pikir semua anak perempuan akan seperti adikku yang sangat lemah, aku sangat tidak tega padanya karena sepanjang hidupnya dia tersiksa, jalan satu-satunya yang ada di dalam pikiranku adalah membunuhmu agar kau tidak merasakan penderitaan di dunia." Kata Mark menangis.
Daisy pun ikut menangis mendengar Mark bercerita.
__ADS_1
Bersambung