Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
SEASON 1 END LANJUT KE SEASON 2


__ADS_3

Malam itu bukan hanya pernikahan Daisy dan Ben yang bahagia.


Namun, juga hubungan Daisy dengan kedua orang tuanya pun membaik. Mark serta Beatrice tidak melanjutkan lagi perceraian mereka.


Mark Waldorf bercerita panjang lebar pada Daisy, Beatrice serta Derreck dan Ben.


Bahwa, sebenarnya Mark hanya takut memiliki anak perempuan, ia takut anak perempuannya akan mengalami hal serupa seperti adiknya.


Setelah semua masalah terselesaikan, akhirnya keputusannya adalah mereka sepakat untuk mencoba membangun lagi sebuah keluarga dengan lembaran baru.


Daisy senang, kini ia memiliki keluarga yang menyayanginya.


Beatrice pun bersyukur Mark Waldorf, pria yang dulu ia kenal kini sifat penyayang dan hangatnya telah kembali lagi.


Derreck juga sudah sangat bahagia melihat semua masalah menjadi terselesaikan dan berakhir baik.


Sedangkan Ben, berjanji akan memburu Paulo Redges sebelum pria itu membuat masalah.


Malam itu juga, Mark serta Beatrice dan Derreck berpamitan mereka harus segera kembali ke aktifitas sebenarnya, banyak urusan yang harus di selesaikan terutama yang berurusan dengan bisnis.


"Ayah, Ibu, Kakak, akhirnya aku bisa memanggil kalian dengan rasa syukur. Aku bersyukur memiliki keluarga." Kata Daisy.


Semua tersenyum dan merasa bahagia, ini adalah awal yang baru. Awal keluarga yang akan di jalin lebih kuat dan hangat.


"Jaga dirimu, hubungi ayah jika terjadi sesuatu." Kata Mark mencium kepala Daisy.


"Ibu pulang ya..." Beatrice mencium pipi Daisy dan memeluk Daisy.


"Hubungi aku juga kalau kau ada masalah dengan Ben, pulang lah sewaktu-waktu." Kata Derreck tersenyum.


"Hei...!!!" Ben berteriak.


Semua orang tertawa melihat Derreck dan Ben masih saja seperti kucing dan tikus.


Traver sendiri sedang berjalan-jalan di luar bersama Casey, mereka saling berpamitan, dan mereka resmi tetap menyembunyikan hubungan mereka dari siapapun.


Setelah kepergian keluarga Daisy, Resort pun menjadi terasa sunyi dan sepi.


"Semua orang sudah pergi... Rasanya sepi sekali." Kata Daisy.


Ben kemudian menggendong Daisy untuk menuju kamar.


"Kau ingin malam pertama setelah pernikahan?" Goda Daisy yang ada dalam gendongan Ben dengan memutar telunjuknya di dada Ben.


Ben tersenyum kecil merasa geli Daisy menggodanya seperti itu.


"Aku hanya ingin mengatakannya, jangan terlalu keras karena bayi nya akan sakit." Kata Daisy dengan suara malu-malu dan menggoda.


Ben kemudian membaringkan tubuh Daisy ke atas ranjang.


"Kau harus istirahat, Gavriel tidak ada di sini, akan bahaya jika kau kelelahan. Sepanjang hari kau juga hanya sibuk bersama para tamu." Kata Ben.


"Kau tidak ingin melakukan malam pertama?" Kata Daisy.


Ben tertawa kecil dan mencubit pipi Daisy pelan.


"Tidak. Ayo ganti baju untuk tidur." Ajak Ben.


Daisy kemudian duduk dan merasa aneh, ia melihat Ben pergi menuju ruangan lain untuk mengganti pakaian.


Daisy berdiri dan mengejar Ben.


"Kau benar tidak ingin melakukan nya?" Tanya Daisy lagi.


"Tidak sayang, aku khawatir dengan masa kehamilanmu, aku tidak ingin membuat kesalahan lagi." Kata Ben.


"Tapi..."


"Kemarilah, aku akan membantumu mengganti pakaian." Kata Ben.

__ADS_1


Daisy menurut saja, sedang Ben telaten melepaskan gaun pesta Daisy dan memakaikan baju tidur pada Daisy.


"Aku berencana untuk tinggal di sini sampai kelahiran anak kita." Kata Ben.


"Benarkah?" Tanya Daisy.


"Mm... Kau menyukainya kan?"


"Aku memang suka pantai, sepanjang hari aku akan puas bermain di pasir, apalagi pantai ini sangat indah."


Ben kemudian memeluk Daisy dari belakang dan mencium tengkuk leher belakang Daisy.


"Terimakasih sudah mengandung anakku." Kata Ben.


"Ini juga anakku..." Kata Daisy.


"Tapi, kau akan memiliki perubahan tubuh nantinya, banyak wanita merasa sayang jika mereka hamil, banyak wanita tak mau bentuk tubuhnya berubah karena hamil." Kata Ben.


"Aku memang ingin memiliki anak denganmu, aku tidak masalah dengan bentuk tubuhku asalkan kau juga tidak mempermasalahkannya."


"Tentu saja aku tidak akan mempermasalahkannya, kau akan tetap menjadi istri tercantikku." Kata Ben memeluk Daisy dengan erat.


"Jadi mari kita tidur." Ben menggendong Daisy menuju ranjang.


******


Pagi hari dengan sinar mentari yang sempurna menyongsong dengan berani, saat itu cuaca begitu cerah.


Ben menggapai sisi setiap ranjang dengan mata terpejam, dan sadar bahwa Daisy tak ada di sana.


"Daisy!" Pekik Ben ketakutan.


Ben dengan cepat memakai kaos oblong berwarna putih dan bergegas keluar.


Pria itu membuka pintu dengan cukup keras dan berlari menuruni anak tangga.


Ben bertemu Traver.


"Dimana Daisy!" Tanya Ben dengan tegang.


"Sedang mandi di pantai Tuan, Nona Daisy bersama Mena." Kata Traver.


Ben menutup mata dan merasa lega.


"Keamanan saya tingkatkan lagi Tuan, tidak perlu khawatir."


"Kerja bagus, aku akan menyusulnya." Kata Ben.


"Baik Tuan."


Ben kemudian menyusul dimana Daisy sedang mandi di pantai.


Saat itu Daisy masih memakai dress nya, dan tidak mengganti pakaian dengan baju renang.


"Kau tidak pakai baju renang?" Kata Ben.


"Aku tidak berniat mandi di pantai, tapi setelah kaki ku masuk dan terkena air tiba-tiba saja seluruh tubuhku sudah basah kuyup."


Ben tertawa mendengar jawaban Daisy.


"Mena kau masuk saja biar aku yang menemaninya." Kata Ben.


"Baik Tuan."


Kemudian Ben mengambil handuk yang ada di tangan Mena.


"Kemarilah, aku akan membawamu ke tempat paling enak untuk mandi di pantai." Kata Ben.


"Dimana?" Tanya Daisy sembari berjalan menuju pada Ben.

__ADS_1


"Ada." Kata Ben memakaikan handuk pada Daisy.


"Kau benar-benar tidak mau memakai baju renang?" Tanya Ben.


Daisy menggelengkan kepala.


"Terlanjur begini, lanjutkan saja." Kata Daisy tertawa.


Ben pun tertawa dan merangkul bahu Daisy sambil berjalan ke suatu tempat.


Setelah beberapa langkah perjalanan, dan akhirnya Daisy bisa melihat sebuah cekungan karang yang besar layaknya kolam renang, yang terhubung langsung dengan laut pantai.


"Astaga... Apakah ini... Kenapa ada cekungan di karang seperti ini."


"Kau bisa berenang dengan baik, itu lebih enak dan bersih dari pasir." Kata Ben.


"Aku sukaaa....!!!" Teriak Daisy dan melepaskan handuk lalu langsung menyeburkan dirinya.


Ben tertawa, ia seperti melihat sosok anak kecil yang riang di dalam diri Daisy.


Kemudian Ben pun ikut melepaskan kaosnya dan berjalan masuk ke dalam cekungan karang untuk bergabung dengan Daisy.


Perlahan Ben memeluk Daisy dari belakang.


"Ini menyenangkan." Kata Daisy tertawa sumringah.


Ben menangkap kedua pipi Daisy dengan tangan kekarnya dan sedikit demi sedikit Ben mencium bibir Daisy.


Ciuman yang lembut, ciuman yang sangat dalam dan haus.


Daisy menerima ciuman Ben, dan tiba-tiba tangan Ben turun dan meremas kedua gunung kembar milik Daisy.


"Ssshh...." Daisy mendesah dan melepaskan ciuman Ben.


"Ben....Sss...."


Ben masih terus meremas dengan kedua tangannya pada dua gunung kembar milik Daisy.


"Ben... Bagaimana jika ada orang yang datang."


"Tidak akan ada orang yang datang. Tempat ini tidak untuk umum, dan para pelayan tidak akan seenaknya berani datang kemari." Kata Ben menciumi leher Daisy.


"Ben.... Ssss...."


Saat itu tangan Ben melucur kebawah dan menarik underware milik Daisy turun.


Daisy menelan ludahnya, sentuhan tangan Ben sangat terasa pada bagian sensitifnya membuat Daisy menggigit bibirnya dan mendesahh kuat.


Tak sampai di sana, Ben juga merasa sangat haus, ia ingin namun tetap harus menahan diri.


Ben mengeluarkan sesuatu dari dalam celananya, ia harus memasukkannya dengan sepelan mungkin agar tidak menyakiti anaknya. Pikirnya begitu.


Kemudian Ben mengarahkannya pada bagian milik Daisy, dan perlahan memasukkannya.


Mereka masih saling berdiri berhadapan, Ben mengangkat satu kaki milik Daisy dan memasukkannya perlahan.


Saat milik Ben masuk, seluruh bagian sensitif Daisy langsung berkedut merasakan kenikmatan luar biasa. Begitu pula milik Ben, yang justru terasa semakin keras dan membesar serta berkedut-kedut.


Ben tetap menahan diri, meskipun kesulitan dengan segala kebringasan yang ada di dalam jiwanya.


Lalu perlahan, Ben menggendong Daisy dan memompa dengan perlahan, Daisy merangkulkan kedua tangannya ke leher besar Ben dan mereka saling berciuman.


Kaki mungil Daisy melingkar sempurna di pinggul Ben, Pria berotot itu memegangi tubuh Daisy dengan kedua tangannya yang berurat.


Daisy memeluk dan meremas rambut Ben, sembari mendesahhkan suara-suara kenikmatan, hingga tubuhnya bergetar hebat.


Ben sendiri merasakan klimakss luar biasa, dan cairan miliknya pun bercampur dengan air pantai yang ada di kolam itu.


Tinggi air setara dengan perut Ben, membuat air yang ada di sana berbunyi sensual ketika Ben dan Daisy saling memandu kenikmatan satu sama lain.

__ADS_1


"TAHANAN RANJANG SANG MAFIA" SEASON 1 END LANJUT KE SEASON 2


__ADS_2