Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 250


__ADS_3

Pada saat perjalan menuju Mansion, Moran segera memberitahukan semua yang telah ia dengar pada Zac, apa yang menjadi rencana Gia, dan apa yang sudah ia dapatkan. Moran pun memberikan sebuah sample bunga berwarna ungu yang di masukkan ke dalam plastik, lalu memberikannya pada Zac.


"Sepertinya itu racunnya. Ada beberapa bunga lagi di sana, tapi aku hanya bisa mengambil itu. Di sebuah pondok kecil yang di jaga para pengawal, Gia menanam berbagai macam bunga beracun." Kata Moran.


Sayangnya saat itu, ketika Moran masih bercerita, mata-mata Zac yang ada di helikopter satunya mengalami kejang hebat, dan mulutnya berbusa.


Para pengawal kemudian menghubungi Yaron sebagai komandan yang ada di helikopter satu lagi bersama Zac.


"Tuan Zac, mata-mata kita di racun." Kata Yaron.


Kemudian Zac melihat ke arah Moran.


"Percepat, kita bergegas, dan periksa kakek Moran. Selagi itu hubungi Paman Gavriel!" Perintah Zac.


Kemudian helikopter pun menambah kecepatan untuk kembali ke Mansion.


Sesampainya di Mansion, nafas kakek Moran mulai sesak.


"Panggil medis sekarang!" Teriak Zac.


Zac kemudian memapah Moran untuk ke kamar.


Mulut Moran mulai terlihat membiru, dadanya mulai semakin sesak.


Zac menidurkan di ranjang, dan Moran memegang tangan Zac lalu meremassnya.


"Zac... Berjanjilah... Kaa... Kau akan menjaga Gaby... Di.. Dia adalah... Haruss.. Menjadi... Keluarga Murder. Jika... Aku tak adaa... Gaby... Harus menjadi... Penerus Murder."


"Kakek tidak akan kemana-mana, kau akan selamat." Kata Zac sibuk memiringkan tubuh Murder ke sisi kiri dan menyangga punggung Moran dengan bantal.


"Bagaimana paman Gavriel?" Tanya Zac pada Yoran.


"Sebentar lagi tiba tuan." Kata Yaron.


Kemudian Zac berdiri dan melihat jendela, Gavriel belum juga datang, Zac kemudian melihat ke arah Moran lagi. Sikap Zac nampak panik namun wajahnya tetap terlihat tenang.


Tak berapa lama Gavriel pun akhirnya tiba, pria itu langsung berlari ke atas dengan tas peralatannya, sesampainya di kamar, Gavriel langsung memeriksa sang ayah.


Gavriel melihat pupil ayahnya, dan memeriksa perut serta bibir dan lidah sang ayah.


"Bagaimana gejala awalnya." Tanya Gavriel.


"Kakek sesak nafas, namun mata-mata milikku mengalami kejang dengan mulut berbusa lalu meninggal." Kata Zac.


Gavriel kemudian menyuntikkan obat dan memasang infus.


Tak lupa ia mengambil sample darah, beberapa perawat dan dokter lainnya akhirnya juga sudah berdatangan, dengan membawa alat-alat yang di perlukan, para perawat itu mendorong peralatan monitor dan segala macam dengan ukuran-ukuran yang cukup besar.


"Semua keluar, aku akan menguras lambungnya." Kata Gavriel memakai sarung tangan dan masker.


Kemudian Zac dan Yaron keluar, dan menunggu di luar sedangkan Gavriel bekerja di bantu beberapa perawat dan dokter.


******

__ADS_1


Di pulau Tanpa Nama, Gia dan rombongan tiba di mansion, saat itu Mena sudah berdiri di depan pintu menyambut kedatangan Gia.


Heiden melirik pada Mena yang menundukkan kepalanya, dengan angkuh dan sombong Gia pun masuk lebih dulu lalu di ikuti Mena.


Sedangkan di belakang, Gaby masih melihat mansion besar yang menjulang tinggi, banyak kenangan yang begitu menyiksa namun juga kerinduan pada sang ayah meski ayahnya kejam padanya.


"Kau mau berjalan-jalan sebentar?" Tanya Aaron.


"Tuan Aaron, Nona Gaby harus istirahat." Kata Charles.


Kemudian Aaron menatap dingin pada Charles.


"Sejak kapan bawahan sepertimu menjadi lancang dan tak tahu aturan, kau mau memerintah ku?!" kata Aaron.


"Aaron... Bukan begitu, Charles hanya takut aku kelelahan." Kata Gaby.


Aaron diam dan memperhatikan Gaby.


"Baiklah... Kita jalan-jalan sebentar..." Ajak Gaby.


Kemudian Gaby dan Aaron pun berjalan beriringan hendak ke taman belakang, namun Charles mengikuti mereka, itu membuat Aaron semakin meradang.


"Apa kau mau ikut berkencan juga!" Kata Aaron mencengkram krah kemeja Charles hendak memukul, tangannya sudah melayang mengambil ancang-acang.


"Aaron!!" Kata Gaby menahan tangan Aaron.


"Sudahlah... Tidak perlu marah." Kata Gaby.


"Jika nanti Gaby sudah menjadi istriku, kau tidak akan ku ijinkan menjadi pengawal pribadinya." Ancam Aaron.


"Sudah ayoo..." Ajak Gaby.


Kemudian Gaby memberikan kode anggukan pelan pada Charles bahwa ia akan baik-baik saja.


Pada akhirnya Charles terpaksa mundur.


Aaron dan Gaby berjalan ke taman belakang, dan Aaron memerintahkan para pengawal untuk pergi.


"Gaby..."Kata Aaron.


"Mm?"


"Apa kau ingat, saat aku bilang padamu, bahwa aku akan melindungi mu dan membuatmu bahagia?"


"Ya... Itu sewaktu kita masih anak-anak." Kata Gaby.


"Tapi janji itu benar-benar serius. Aku berhutang penjelasan padamu kan, kenapa saat remaja aku pergi tanpa berpamitan." Kata Aaron.


Kemudian mereka duduk di kursi di bawah rindangnya pohon besar.


"Aku menggantikan tugas ayahku, dia meninggal karena sakit, dan seluruh tugas bisnis serta tugas organisasi kemafiaan di serahkan padaku, aku benar-benar tidak sempat untuk menyelinap, namun ada suatu ketika aku mendatangi pantai yang pernah kita kunjungi bersama, dan aku mendengar bahwa kau melarikan diri dari Mansion karena perjodohan dengan Xuan Yuan, lalu tentang perselisihan ibumu dengan keluarga Zac, maka dari itu aku memberanikan diri dan mengambil resiko untuk membantu keluarga Scoot. Kau tahu sendiri, Zac telah memenggal kepala ayahmu, dan sekarang ibu mu kekuarangan kekuatan karena pasukannya di bantai habis-habisan, aku bersedia mendukung dan memberikan kekuatan pada keluarga Scoot, namun dengan syarat kau harus menjadi istriku. Maaf untuk perjanjian itu. Ibumu sudah sangat frustasi karena kehilangan ayahmh." Kata Aaron.


Gaby masih diam dan mencerna setiap perkataan Aaron.

__ADS_1


"Apakah... Ibuku akan menjadi mafia? Aku melihat ibu menjadi sosok yang berbeda, dulu dia lembut, sekarang seperti manusia dingin yang membuat jarak denganku." Tanya Gaby.


"Itu karena ibumu berfikir keras bagaimana caranya membalas dendam dengan keluarga yang memiliki kekuasaan dan kekuatan yang besar. Ibu banyak pikiran." Kata Aaron mencuci otak Gaby.


"Lalu apakah ibu akan membunuh mereka semua?"


"Untuk itu aku tidak tahu, tapi ibumu benar-benar memendam rasa dendam yang dalam karena, suaminya telah di bunuh oleh Zac. Kau harus percaya padaku dan pada ibumu."


"Aku... Juga membenci Zac. Aku sangat membencinya." Kata Gaby menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Aaron kemudian menyingkap rambut Gaby yang sudah mulai panjang, namun ia terkejut, karena ada begitu banyak bekas tanda merah di tubuh Gaby.


"Sialan." Kata Aaron dalam hati.


Kemudian, Aaron memutar dagu Gaby perlahan untuk melihatnya.


"Apa yang sudah Zac lakukan padamu. Gaby." Kata Aaron.


Gaby terdiam dan melihat ke arah Aaron dengan mata basah.


"Katakan padaku, apa yang sudah Zac lakukan padamu!" Kata Aaron sedikit lebih keras.


"Dia... Dia... Sudah..." Gaby tak bisa melanjutkan kalimatnya, bibirnya bergetar dan ia menggigitnya, air matanya mengalir deras.


Aaron mengambil nafas panjang dan dalam, namun kemudian membuangnya dengan menahan amarah.


"Dengarkan aku Gaby, kau harus masuk ke sana lagi." Kata Aaron.


"Apa?!!!" Gaby terhenyak dengan kalimat Aaron yang tiba-tiba justru ingin mengembalikan Gaby.


"Hanya kau yang bisa di percaya, jika kekuatan kami tidak dapat menembus pertahanan mansion milik Zac, kau lah nantinya yang harus bergerak untuk membalas dendam atas kematian ayahmu, kau harus meracuni Zac.


"Tapi... Aku tidak mau kembali padanya, aku tak mau kembali ke mansion itu, aku membenci Zac!! Aaron, aku tidak mau ke sana." Kata Gaby meremass kemeja dan jas Aaron.


Tatapan Gaby memohon dan ia benar-benar tak ingin kembali.


Aaron membuang nafasnya pelan dan memeluk Gaby, ia juga tak ingin Gaby pergi kembali ke sisi Zac, namun Aaron tahu kekuatan mereka belum cukup untuk bisa melawan Zac apalagi jika Zac mendapat bantuan dari keluarga Haghwer.


Namun, satu-satunya cara untuk membunuh Zac adalah memasukkan seseorang yang paling di percaya untuk menusuknya, itu akan jauh lebih menyakitkan.


"Kita harus bicarakan ini dengan ibumu Gaby. Nanti malam kita akan berunding untuk masalah ini."


"Aku tidak mau kembali." Pinta Gaby dengan menangis.


Kemudian Aaron melepaskan pelukannya dan menganggukkan kepala pelan.


"Kau ingin membalas dendam pada Zac bukan?" Kata Aaron.


"Aku ingin sekali, dendam dan kebencianku sangat dalam." Kata Gaby.


"Jadi, mari kita lakukan bersama-sama." Kata Aaron menangkupkan kedua tangannya di pipi Gaby.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2